Lost Princess

Lost Princess
Theft


__ADS_3

"Mom, kau sakit?" Illona mengecek keadaan ibu mertuanya.


"Aku baik, hanya saja merasa sedih. Anak-anakku berada jauh dariku, dan aku tidak mengetahui keadaannya!" Margareth menatap foto yang sedang dipegangnya.


Bagaimana dia tidak khawatir, saat ini situasi sangat kacau sedangkan suami dan anak-anaknya berjuang dalam perang. Hanya Leonel yang bertahan di sisinya sebagai penjaga, para menantu dan cucu-cucunya juga hanya bisa menunggu kepulangan mereka, dan berharap keluarga Windson bisa berkumpul lagi secara utuh.


"Grandma, are you okey?" Abigail memeluk neneknya khawatir.


Wajah kecilnya memerah hampir menangis, dia juga merindukan ayahnya. Sekarang dirinya hanya bisa bermain di dalam ruangan tanpa boleh keluar. Abigail bingung, kenapa semua orang dewasa pergi berperang sedangkan para wanita harus di rumah.


"I'm okey, baby!" Margareth mengusap rambut cucunya sayang.


Setiap dia melihat Abigail, dia selalu teringat oleh sosok Samantha kecil. Warna matanya juga hampir sama, hanya saja Samantha kecil jauh lebih cerdas dan nakal. Dia tidak cengeng seperti Abigail yang akan selalu menangis saat permintaannya tidak dituruti.


"Uncle, kau baru saja keluar. Apakah ada mutan yang menyerangmu?" Neil sudah menodong Leonel dengan pertanyaan setelah dirinya memasuki pintu, hingga sepanjang lorong menuju kamar Margareth.


"Tentu, tapi aku berlari menghindarinya!" Leonel memiliki luka sayatan dari cakaran mutan di lengannya, tapi dia menyembunyikan dengan baik.


"Kau memang keras kepala! Aku sudah memperingatkanmu agar tidak keluar tadi?" Neil menceramahi uncle-nya.


Keduanya masuk ke kamar Margareth, bersamaan dengan suara celotehan Abigail yang memekakkan telinga. Leonel tersenyum menatap wajah Mommy-nya. Wajah tuanya selalu nampak sedih akhir-akhir ini.


Terlalu banyak kekhawatiran yang melandanya. Pertanyaannya hanya satu, kapan dunia ini akan kembali damai? Atau kapan perang ini berakhir? Yang lebih menakutkan adalah apakah semua ini akan kembali seperti sebelumnya?


Kekuatan di garda depan sedang dalam guncangan. Beberapa manusia atau mutan tewas demi mempertahankan wilayah. Siapapun pemenangnya, yang jelas terlalu banyak korban berjatuhan.


"Apakah ada kabar dari kakakmu?" Illona menodong Leonel dengan pertanyaan sama seperti putranya tadi.


"Tidak ada, mereka masih sibuk. Tapi aku yakin mereka masih aman. Dan aku pergi ke markas untuk mengambil beberapa senjata yang kita perlukan untuk perlindungan di sini!" Leonel duduk di sofa single dekat jendela.


Illona yang mengerti jika mereka akan membicarakan hal serius, dia segera mengajak Abigail dan Neil keluar dari ruangan itu. Menyisakan Margareth, Nattalie, Kimberly dan Leonel dalam ruangan tersebut.


"Aku besok akan pergi membawa sisa pasukan bersamaku!" Leonel menatap mereka semua meyakinkan.

__ADS_1


"Tidak bisa, kau ingat ucapan Daddy, dia menyuruhmu menjaga kami di sini, bukan berkeliaran melawan mutan yang tidak terkendali!" Nattalie tidak menyetujui hal itu.


Suasana kota tidak jauh menyeramkan dari medan perang, beberapa manusia bersenjata melawan mutan yang mencoba mengusik penduduk. Ditambah virus yang merebak membunuh mereka yang terinfeksi secara cepat.


Beberapa orang memilih bersembunyi dengan sisa persediaan makanan yang ada. Tidak ingin keluar kecuali para penjaga dan pihak keamanan yang bertugas di setiap wilayah.


Leonel tidak punya pilihan lain selain memberitahukan informasi yang di dapatnya. Dia sebenarnya hanya ingin memberitahu jika misinya telah berhasil.


"Jasper ada di kota ini!" Leonel menatap para wanita itu dengan tersenyum yakin.


"Kau serius? Lalu kenapa dia tidak kembali?" Margareth berdiri tertatih menghampiri putranya.


"Aku tidak tahu Mom. Tapi percayalah, dia pasti punya alasan. Untuk itulah aku akan mencarinya!"


Leonel memberikan gambar dari cctv yang berhasil merekam Jasper meski hanya dari samping. Dari semua cctv yang terpasang di setiap sudut kota, hanya satu yang berhasil menangkap gambarnya!


"Kenapa kau tidak pulang, nak?" Margareth mengusap gambar itu dengan air mata yang telah membasahi pipinya.


"Dia sedang mencoba menyelesaikan misinya!" Leonel menatap Nattalie yang pasti masih mengingat hal itu.


"Yah, aku yakin dia pasti telah menemukannya. Dan saat ini mungkin dia sedang mencoba menyelamatkannya!" Leonel tidak tahu pasti, tapi dia sangat mengenal kakaknya itu.


"Jasper!" panggil Margareth terbaru, putranya itu belum mau menikah sebelum menemukan adik bungsunya.


Leonel menceritakan tentang kedatangan Jasper semalam, dia juga memberitahu tujuannya ke markas tadi, untuk mengecek sel DNA pada potongan rambut yang dihadiahkan Jasper padanya.


"Aku akan berdoa, semoga dia selalu dalam lindungan Tuhan!" Kimberly cukup mengenal baik Jasper karena suaminya Delwyn selalu bercerita tentangnya.


"Aku juga ingin menjadi kakak yang bertanggung jawab, izinkan aku pergi mencari Jasper mom!" Rasa rindunya terhadap Samantha juga sangatlah besar, dia merasa ikut bertanggung jawab sebagai kakaknya.


Margareth bimbang, akankah dia mengirim satu lagi putranya yang tersisa dalam bahaya. Lagi pula Margareta juga belum yakin apakah Jasper benar-benar telah bersama Samantha, atau mungkin malah belum dalam tahap itu.


Dia yakin Jasper pasti telah memiliki rencana, putranya itu selalu bertindak dengan rencana matang. Kemudian matanya melihat pada Leonel yang masih menatapnya penuh harap.

__ADS_1


"Tolong jangan memaksa, aku tidak ingin kehilanganmu!" Dengan berat hati Margareth memutuskan hal itu, dia tidak berani menatap manik kecewa dari putranya.


"Baiklah!" Tanpa disangka Leonel akan mengatakan hal itu.


Leonel pergi dari ruangan tanpa sedikitpun menunjukkan rasa kecewanya. Dia sudah menduga semuanya akan sulit, untuk itulah dia memilih mencari secara diam-diam saat malam.


Leonel akan bersikap seperti biasanya, dan akan mengunci pintunya rapat saat malam hari. Semuanya tidak mendeteksi ada hal yang berbeda. Kecuali Neil, dia tahu ada yang di sembunyikan uncle-nya.


Tapi dia tetap diam, karena untuk pertama kalinya dia melihat ada semangat berkobar dari mata laki-laki itu. Seperti sebuah harapan telah ditemukannya dari kotak Pandora yang selama ini terkunci rapat.


Leonel tidak bekerja sendiri, dia mengkoordinasikan pada anak buahnya untuk membagi tugas. Sebagian tetap berjaga di lingkungan hotel, sedangkan yang lain ikut bersamanya.


"Lapor tuan, markas sedang dibobol. Kita harus segera kembali!" Laporan dari anak buahnya membuat Leonel geram, dia segera kembali menuju markas.


Siapa yang bisa masuk dan membobol markas yang terkunci rapat dan banyak alat perlindungan. Bahaya jika mereka mengambil senjata yang tersimpan di dalamnya. Banyak jenis senjata ciptaan para ahli yang masih tersimpan aman di sana. Kini, jika itu diambil, maka akan lebih sulit untuknya melindungi keluarganya.


Langkahnya cepat mengendarai pesawat kecil yang hanya bisa menampung satu orang itu. Beberapa anak buahnya mengikuti di belakang.


Leonel menyiapkan senjata sebelum masuk untuk menangkap sang pencuri. Sayangnya semua tidak menunjukkan keberadaan siapapun di dalam.


Leonel segera menuju ruang pengawasan. Tidak menemukan jejak karena sepertinya sistem mereka telah diretas. Jenius mana yang berhasil memecahkan kode perlindungan yang telah dirancang Jasper. Hampir mustahil ada yang berhasil, kecuali …


"Cek, barang apa saja yang hilang!" Perintahnya ingin memastikan sesuatu.


"Lima senjata khusus telah dicuri tuan!" Anak buahnya menunjukkan data dari ruang penyimpanan.


"Apa tujuam mereka mengambil alat ini!" Tidak ada yang bisa menjawab pertanyaannya.


Salah satunya adalah alat ciptaan Jasper yang difungsikan untuk menyebarkan asap beracun. Dan jangkauannya cukup luas. Apa yang ingin dilakukan sang pencuri dengan alat ini?


____________________________


***terimakasih untuk pendukung setia Samantha. sudah mengikuti cerita lost princess sampai di bab ini. semoga betah sampai akhir y

__ADS_1


jangan lupa like n komentar 😉***


__ADS_2