
Seorang laki-laki berusia sekitar 32 tahun, sedang menyusuri jalanan menuju sebuah bar club, yang selalu ramai pengunjung di setiap malamnya. Matanya menyorot tajam dengan banyak jejak luka memar diwajahnya.
Dia duduk di sudut gelap dengan segelas wine dan dua botol penuh wine yang siap mengisi gelas kosongnya. Semua orang di sini sudah sangat mengenalnya, karena hampir setiap malam laki-laki itu akan duduk di sudut gelap dan minum hingga Hangover lalu pulang.
“Hi Joe!” Sapa seorang bartender yang baru saja berganti shift dengan temannya.
Joe hanya menanggapi dengan mengangguk, ia menegak habis minuman dalam gelasnya. Menghabiskan malam hingga ujung batas kesadarannya. Berjalan sempoyongan akan keluar dari bar, seseorang mencoba membantunya berjalan. Namun Joe menolak dan meneruskan langkahnya. Ia seorang mutan yang dapat mengendalikan gaya gravitasi, jadi bukan hal sulit untuk membuat dirinya tetap bisa berjalan hingga sampai kerumahnya.
Mengabaikan beberapa orang yang melihat kearahnya, atau mungkin mencibirnya karena selalu pulang dalam keadaan Hangover. Dia masuk kedalam lift apartemen bersamaan dengan beberapa orang yang ia kenali sebagai penghuni apartemen itu juga.
Beberapa bisikan terdengar jelas ditelinganya. Itu pun sudah jadi hal biasa yang tak lagi dapat menggangunya. Bisikan seperti,
“Jangan dekati dia, dia pembunuh!”
“Ayah macam apa yang berusaha membunuh anaknya sendiri.” Atau yang lebih banyak lagi,
“Hei dia hanya seorang pemabuk yang memiliki anak cacat, dia bahkan ingin membunuh anak itu.”
Joe sudah biasa mendengar gosip yang beredar disekitar apartemennya, dia menjadi orang paling ingin dihindari oleh mereka. Joe tidak peduli, ia telah mati rasa setelah kematian istrinya.
Dulu Joe adalah pria yang baik dan ramah, ia seorang pemilik perusahaan periklanan yang cukup sukses, ia menikahi seorang gadis cantik yang begitu baik dan bertutur kata lembut. Mereka hidup bahagia, sang istri pun juga mengetahui jIka suaminya adalah seorang mutan. Kebahagiaan itu semakin lengkap ketika mereka mengetahui akan menjadi orangtua.
Ting
Suara lift yang terbuka menunjukkan nomor lantai lima, Joe keluar dari lift yang membuat orang-orang didalamnya menghela napas lega. Pria mabuk itu membuka pintu apartemennya lalu masuk dan hampir tersungkur, menatap keadaan kamar yang masih tertata rapi seperti terakhir kali istrinya masih ada.
Tersenyum pilu menghampiri kulkas untuk mengambil air mineral. Menegak air dalam botol hingga tumpah mengenai bajunya. Meletakkan kembali botol minum itu lalu duduk di depan perapian. Melepas mantelnya lalu melemparkannya ke sofa di sebelah kirinya. Menyandarkan kepalanya mencoba meredam rasa pusing efek dari minuman tadi.
Joe merasakan kekosongan dalam kehidupannya, bahkan peninggalan satu-satunya dari sang istri juga tak bisa mengisi kekosongan itu. Istrinya memberinya seorang putra tampan yang begitu menggemaskan, namun setelah istrinya meninggal karena proses melahirkan yang begitu sulit, Joe tak lagi ingin melihat wajah anak itu yang begitu mirip dengan ibunya.
__ADS_1
Sempat berusaha membunuh anak itu, Joe pada akhirnya berakhir dengan merawat sang putra meski tanpa sedikitpun ingin menyayanginya.
“Dia tidak ada lagi di sini sayang, dia sudah pergi.” Gumamnya seperti sedang mengigau.
“Dia akan bahagia tanpa ku, kau senang bukan?!” Masih meracau dengan ucapan tidak jelas ia tanpa sadar meneteskan air mata.
Masih dengan mata terpejam erat, ia terus saja meracau hingga jatuh terlelap di sofa. Pria malang yang terkenal kejam bahkan di kenal seorang pembunuh itu adalah sosok lemah yang mungkin tak lagi ingin hidup di dunia ini.
Sky putranya itu adalah hal berharga yang juga jadi pelampiasan atas kehilangannya. Wajahnya terus membuatnya terbelenggu dalam luka, membuatnya begitu merindu hingga tak sanggup menerima kenyataan.
Joe tak pernah benar-benar ingin membunuh Sky putranya yang berharga. Ia hanya ingin Sky tidak hidup bersama ayah yang tidak berguna sepertinya. Ia tidak ingin jika nanti Sky hidup tanpa cahaya seperti dirinya.
Kejadian saat Sky jatuh dari lantai lima apartemen-nya memang dengan sengaja ia lakukan, itu karena ia memang bisa mengendalikan gravitasi membuat Sky mendarat perlahan tanpa terluka parah. Ia selama ini tidak pernah menunjukkan rasa sayangnya juga karena ingin putranya itu menganggapnya sebagai orang jahat.
Ia hidup bagai mayat hidup yang bernyawa namun dengan kekosongan jiwa. Tak lagi mengurus perusahaannya, ia menyuruh seseorang untuk mengurusnya. Joe hidup dengan luka parah dalam hatinya. Ia sengaja memberi tanda pada Xavier agar laki-laki itu menemukan Sky dan membawanya pergi.
Sky memiliki sayap berwarna hitam, yang menunjukkan secara terang-terangan identitasnya sebagai mutan. Joe tidak ingin jika anak itu hidup diantara manusia yang akan membenci dan menjauhinya. Joe ingin mengamankan peninggalan terakhir paling berharga dari istrinya itu agar tidak merasakan ancaman dari manusia.
Rencananya untuk memberi tempat yang paling tepat untuk putranya telah selesai, sekarang tinggal rencana untuk mengakhiri hidupnya yang tak lagi berharga.
Keputusan bodoh yang sudah dibuatnya ini mungkin akan disesalinya. Namun, Joe percaya jika suatu saat nanti, setidaknya Sky akan menjadi kuat dan bisa melindungi dirinya sendiri.
Joe terbangun ketika mentari pagi menyorot dari kaca jendela dan menggangu tidurnya. Joe memegang kepalanya yang terasa pening dan berat.
Berjalan menuju kamar mandi untuk membasuh wajahnya. Dapat dilihat bayangan seseorang dengan wajah berantakan karena sudah lama tidak bercukur janggut dan kumisnya. Meninggalkan kamar mandi dan kembali ke kamar lalu membaringkan tubuhnya di atas ranjang.
Tangannya meraih foto sang istri dan disisi belakang foto itu adalah foto Sky yang baru berusia dua tahun. Joe tersenyum mengusap foto itu dengan sayang.
“Maaf, maafkan Ayah!” air mata menetes bersamaan dengan kata terakhir yang akan menjadi akhir dari hidupnya.
__ADS_1
Joe duduk dan membuka dokumen yang tergeletak di atas ranjangnya. Menandatangani dokumen tersebut lalu meraih botol obat penenang di atas nakas.
Menegak habis pil dalam botol kecil itu tanpa air, ia merebahkan badannya menunggu saat-saat terakhir dalam hidupnya dengan mengenang ingatan tentang kebersamaannya dengan sang istri. Bagaimana saat istrinya selalu membuat sarapan sebelum ia bangun, dan saat sang istri merajuk kala ia sibuk dengan pekerjaannya.
Ingatan manis itu membuat sudut bibirnya terangkat, ia beralih untuk mengingat wajah putranya yang jarang tersenyum, meski anak itu tidak menangis ketika ia menendang atau melempar benda pada Sky dengan sengaja. Ia tersenyum miris kerana sungguh itupun juga melukai perasaannya. Joe melakukan itu agar Sky tidak mencarinya atau menangisi kepergiannya. Jika Sky membencinya itu akan lebih baik, ia tak ingin anak itu sedih akan kepergiannya.
Joe berakhir sendirian tanpa siapapun disisinya. Ia meninggal dengan rasa lega karena setidaknya tak ada yang akan tersakiti lagi.
Surat dalam dokumen yang ia tandatangani sebelum kematiannya di temukan oleh sang asisten yang memang selalu datang untuk melaporkan urusan perusahaan pada pria malang itu. Pengurusan kematian juga ditangani oleh sang asisten dengan sedih, karena tak menyangka kehidupan bosnya akan berakhir seperti ini.
Berita kematian sampai ditelinga Xavier. Laki-laki itu merasa perlu untuk memberi tahu pada Sky. Dan tanggapan yang ditunjukan oleh anak berusia tiga tahun itu sesuai dengan apa yang di inginkan Joe.
Sky tak beraksi, ia bahkan acuh saja. Xavier meninggalkan Sky sendirian dalam kamarnya. Tanpa diketahui oleh siapapun, Sky merasa terluka begitu dalam dengan apa yang didengarnya. Bagaimanapun Anak itu tahu jika ada rasa sayang yang tidak pernah ditunjukkan oleh sang ayah.
Sky merasa sedih namun tak bisa mengekspresikan perasaannya, ia tak apa jika dipukul sang ayah, ia bahkan tak menangis ketika di lempar barang. Sky belum mengerti kenapa ayahnya selalu marah dan memukulnya, tapi itu lebih baik dari pada terpisah jauh lalu tiba-tiba ada kabar jika ayahnya telah pergi. Sky merasa benar-benar sendirian sekarang.
Saat Sky dirawat dalam Healing Chamber dalam waktu dua bulan, berita kesembuhannya disampaikan oleh Xavier pada Joe. Xavier marah saat Joe menjatuhkan Sky dari lantai lima apartemen. Tapi, begitu mengetahui maksud dari Joe, beberapa hari setelah kejadian itu, Xavier membuat janji pada Joe akan merawat Sky dan membantu anak itu dan membantu memperbaiki sayap yang tidak berfungsi dengan baik. Dan janji lain untuk tidak memberitahukan kebenarannya pada Sky.
Samantha mengetahui jika Sky baru saja kehilangan ayahnya, gadis itu mengumpat senang karena akhirnya orang jahat yang telah melukai Sky telah mati. Samantha juga berjanji akan melindungi Sky mulai saat ini.
Entah apa yang bisa dilakukannya, mungkin mengajarkan untuk kabur dari House of Talent ketika senggang atau mencuri data untuk bersenang-senang. Semoga otak polos Sky tidak tercemar oleh kenakalan Samantha.
‘Bocah berusia tiga tahun itu akan dalam bahaya jika berdekatan dengan gadis nakal seperti Sam'
Itu yang dipikirkan oleh Archer, Mars yang baik saja bisa jadi pembangkang gara-gara Sam. Apakah Sam harus diusir dari House of Talent? tidak! Gadis itu kesayangan Archer dan Xavier ... Bahkan Profesor Shin juga mulai menyukainya, dan berniat menjadikannya asisten tetap. Gadis tukang mengumpat itu cukup pintar dan bisa menjadi hiburan dikala penat. Eh, apa profesor Shin berpikiran sama dengan Archer tentang Monyet cerdas tukang mengomel?
___________
**Penulis akan sangat menghargai setiap like dan komen yang di berikan pembaca, karena dengan ketersediaan kalian untuk meninggalkan jejak di cerita ini membuat penulis lebih bersemangat lagi 😉.
__ADS_1
terus ikuti kelanjutan dari novel ini yah
happy reading 😘**