
Mars sudah masuk kedalam arena, yang menjadi lawannya kali ini adalah Archer, sang pelatih. Dia sedang mendapat hukuman karena kelalaian dan kebodohannya mengikuti rencana Samantha. Archer sudah memperingatkan agar tidak selalu mengikuti keinginan gadis itu.
Dengan menghilangnya Samantha pun memberikan efek jera pada Mars, mereka saat ini sedang duel tanpa senjata. Para murid lain sedang menonton diluar arena. Duel seperti ini sudah sering diadakan tiap seminggu sekali untuk menguji kekuatan setiap orang. Setiap penantang boleh menentukan peraturannya, dan penerima tantangan di perbolehkan untuk menolak di awal tapi dilarang mundur dari kesepakatan yang telah disepakati oleh kedua belah pihak, berbeda dengan penantang yang boleh mengundurkan diri sebelum duel dilaksanakan.
Mars sudah siap dengan kuda-kudanya, sorot mata tajam tak akan membiarkan dirinya lengah. Pelatih lain yang menyaksikan dari lantai atas juga fokus pada keduanya. Meskipun kekuatan mereka tidak seimbang, tapi duel tanpa senjata selalu dianggap imbang di dalam arena.
“Kau marah?” tanya Mars saat mereka sedang berputar dalam ring.
“Ya, tak perlu kau tanyakan kemarahanku.” Sahut Archer dengan wajah tanpa ekspresi.
“Baiklah, meskipun aku belum pulih. Aku akan mengalahkanmu!”
Pertarungan ini hanya mengandalkan ilmu bela diri. Mars yang lebih cepat memang lebih unggul, namun teknik yang digunakan Archer jauh lebih baik dibandingkan Mars. Beberapa lebam di wajah menghiasi wajah Mars. Luka tembaknya nampak memunculkan darah lagi.
Meskipun para penonton merasa ngeri pada pemandangan didepan mereka, namun tak bisa dipungkiri ini adalah duel yang seru. Mars terus mengelak dengan gerakan cepat, namun Archer tetap selalu bisa memukulnya.
“Kau menyerah?” Tanya Archer pada Mars yang sudah tergeletak dengan darah merembes di baju bagian punggungnya.
“No! Aku masih mampu!” Mars bangkit berdiri dengan kaki berdiri kuat.
“Okey, setidaknya bertahanlah hingga waktu habis!” balas Archer sengit, siap dengan tendangan yang melesat cepat ke perut bagian atas Mars.
Pelatih lain yang melihat ini tak kuasa menghentikan pertarungan. Bagaimanapun mereka tau ada emosi pribadi yang melandasi pertarungan ini. Mereka hanya terus menonton pertarungan yang mulai dipenuhi jejak darah.
Mereka tahu jika keduanya tak akan mau berhenti sebelum salah satu tumbang. Dan ego mereka terlalu tinggi untuk mengaku kalah atau mengalah. Bahkan Mars sudah tak kuat lagi berdiri tegak dengan badan membungkuk, menahan nyeri di perut dan punggungnya.
Mars mengangkat pandangannya pada sang pelatih yang terlihat masih ingin menghajarnya, ia menyunggingkan bibirnya meludahkan darah dalam mulut. Tangannya siap meluncurkan tinjunya. Archer yang melihat kegigihan anak muda didepannya juga tak segan membalas pukulan.
Hingga diwaktu terakhir, Mars tumbang dengan tak sadarkan diri. Archer menyuruh orang untuk mengangkat muridnya itu, ia berlalu meninggalkan arena. Langkahnya langsung membawanya menuju keruang pemantauan. Disana Sage sedang terus melacak jejak keberadaan Samantha.
“Masih belum menemukan jejaknya?”
“Nihil! Sepertinya yang membawa Samantha juga seorang mutan. Tidak ditemukan jejak apapun. Namun dari investigasi ditemukan adanya pergerakan mutan di sekitar tempat terakhir Samantha berada.” Sage yang memang bisa mendeteksi jejak mutan pun cukup dibuat kesulitan.
__ADS_1
“Apa dia berbahaya?”
“Entahlah, namun dapat dipastikan jika itu bukan ulah Rosgard. Kaupun tahu jika berita kehilangan Samantha bocor begitu kita mencarinya. Dan dia juga langsung mengerahkan anak buahnya untuk mencari. Dunia jadi kacau karena pencarian ini melibatkan banyak mutan!” Archer mengangguk, ia juga tahu jika banyak mutan berkeliaran diluar sana.
“Bukankah mereka memiliki Elgan, apakah ia akan lebih cepat mengetahui keberadaan Samantha karenanya?” ini yang Xavier khawatirkan, jika Elgan ikut dalam pencarian ini, jelas akan mudah untuk menemukan keberadaan Samantha.
“Tidak! Tidak ada terdengar keikutsertaannya, kau tahu Elgan tak mudah di kendalikan. Mungkin Rosgard kesulitan dengan mutan itu!” bukan rahasia lagi jika Elgan mempunyai kesakitan jiwa.
“Kupikir, meski begitu Elgan malah harus di waspadai. Tindakannya tidak bisa di tebak!” Archer tak pernah menyukai mutan itu, entah karena apa, tapi ia merasa ada yang aneh dengan mutan itu.
Sage maupun Archer memang pernah berhadapan langsung dengan Elgan, saat itu Elgan hanya anak berusia tujuh tahun yang menjadi boneka Rosgard. Namun, dapat dilihat dari mata hitam kelam anak itu jika tersimpan rahasia yang tak tersentuh. Membuat orang disekitarnya merasakan kedinginan.
“Tenang saja, jika satelit tidak menemukan keberadaan Samantha, aku dan Xavier akan bergerak langsung untuk mencari jejak keberadaannya!” yakin Sage yang mengerti kekhawatiran temannya itu.
Dapat dilihat dari jejak emosi pada mata laki-laki itu, Archer sudah seperti kakak untuk Samantha, wajar jika ia yang paling marah ketika mengetahui jika Samantha menghilang.
“Kau melampiaskan amarahmu pada Mars?” tak mendapat sahutan dari Archer, Sage melanjutkan, “kau tahu jika anak itu juga merasa bersalah, kaupun tahu jika anak itu memiliki emosi berbeda terhadap Samantha!”
Sementara Mars saat ini telah sadar, lukanya sedang dibalut kembali karena perban sebelumnya sudah penuh darah. Tim medis juga penyembuhan merasa prihatin dengan keadaan Mars, ia sudah terluka dan makin terluka dengan banyak memar ditubuhnya. Archer, laki-laki itu benar-benar marah.
“Kau harus menjaga lukamu tetap kering!” peringatan dari perawat hanya mendapat respon anggukan dari Mars.
Laki-laki itu memejamkan matanya, entah apa yang sedang dipikirkannya ia terlalu lelah untuk bangkit. Ia mengistirahatkan badannya diruang pengobatan.
Hingga langit gelap menggantikan siang, Mars baru terbangun dari tidurnya. Ia memutuskan untuk kembali ke kamarnya. Namun langkahnya berbelok menuju ke kandang kuda di luar ruangan. Ia menghampiri River, kuda kesayangan Samantha. Mengambil rumput untuk memberi River makan, namun kuda itu menolak.
“Kau tak lapar? Pemlikmu kan galak! Ia akan marah jika tau kau manja seperti ini!” ucapnya yang entah dimengerti atau tidak oleh River.
“Aku ingin mencarinya, namun dengan lukaku ini, aku tidak bisa!” kesal Mars pada dirinya sendiri.
Mars duduk diatas jerami kering, ia saat ini hanya bercahayakan lentera kecil di tiang kandang. Mars mengingat lagi kejadian semalam, Mars yakin jika orang-orang yang dihadapinya bukanlah mutan, mereka hanya orang yang menjalankan bisnis dunia bawah.
Dari informasi yang didapatnya semalam membuat Sage lebih mudah melacak orang-orang yang terlibat dalam human trafficking, namun yang harus dibayarnya adalah kehilangan Samantha.
__ADS_1
Kedok yang digunakan para pelaku human trafficking juga terbongkar oleh badan intelijen. Karena mencuatnya kabar itu, membuat para pelaku jadi kalang kabut. Ditambah pencarian Samantha juga membuat para mutan keluar kepermukaan. Dunia sedang kacau diluar sana.
Kota Inggris yang tenang, berubah sedikit kacau dengan banyaknya kasus yang tiba-tiba muncul. Kematian akibat serangan mutan juga lumayan merepotkan mereka. Bahkan Ayah Samantha pergi ke Inggris begitu mendengar kekacauan di negara ini.
“Hei apa yang kau lakukan, dude?” tanya Brian yang ikut berdiri di sebelah River, mengusap kepala kuda itu yang mendapat respon ketidaksukaan dari River.
“Hei kuda ini agresif sekali!” protes Brian karena dari dulu tak pernah bisa menunggangi kuda milik Samantha.
“Dia tahu kau agresif terhadap wanita, dia tidak ingin kau sentuh!” ejek Mars pada temannya itu.
“Cih!” Brian berdecih kesal, lalu ikut duduk diatas jerami.
“Kau memikirkan Samantha?”
Mars hanya menjawab dalam diam, ia sedang mencari cara agar bisa keluar dari sini. Karena jelas masa hukumannya berlangsung hingga sebulan kedepan, ia tak boleh meninggalkan House of Talent apapun alasannya.
“Tenang saja, Paman Sage akan mencari jejak Samantha dengan instingnya. Jika satelit tak menemukan jejak gadis itu, maka insting Paman Sage pasti bisa menemukannya!” ya! Yang dikatakan Brian memang benar, Paman Sage adalah pencari jejak mutan yang terhebat dengan kemampuan otaknya yang seperti komputer itu.
“Kenapa Xavier tidak bisa terhubung dengan Samantha?” pertanyaan ini juga menjadi pertanyaan banyak orang yang mencari keberadaan Samantha.
“Ya, aku juga bingung. Samantha dan Xavier sering terhubung, apakah mungkin seorang mutan yang lebih kuat yang menculik Samantha?!” tanya Brian dengan suara keras hingga mengagetkan para kuda, kuda-kuda jadi memekik Karena suara Brian.
Brian menutup mulutnya, ia juga terkejut. Ia tidak berniat berteriak seperti tadi, ia hanya terlalu antusias dengan pemikirannya. Mars hanya menggeleng berlalu meninggalkan Brian, Brian mengejar langkah temannya itu, namun naas ia tak memiliki kekuatan seperti Mars.
“Hei, meski sakit kau tetap cepat sekali!” gerutu Brian kesal.
___________
**Penulis akan sangat menghargai setiap like dan komen yang di berikan pembaca, karena dengan ketersediaan kalian untuk meninggalkan jejak di cerita ini membuat penulis lebih bersemangat lagi 😉.
terus ikuti kelanjutan dari novel ini yah
happy reading 😘**
__ADS_1