
Samantha terganggu oleh rasa lapar yang seakan memaksanya keluar dari alam mimpi. Dia menegakkan badannya masih dengan mata tertutup, hingga akhirnya terbuka dan melihat kearah jam yang melingkar manis ditangannya.
Satu jam, ia terlelap hingga satu jam dan rasanya matanya masih ingin tertutup dan menyelami alam mimpi. Kemudian Samantha teringat jika profesor menyuruhnya menunggu diruang lab ini.
Matanya menelusuri ruangan lab, namun tak menemukan keberadaan siapapun disini selain orang-orang yang berada dalam tabung seperti orang mati. Samantha berdiri dan membuat peregangan, jujur saja Samantha merasa badannya jadi kaku karena akhir-akhir ini hanya duduk didepan layar laptop dan menulis banyak hal rumit yang menyebalkan.
Setelah merasa badannya rileks, ia mengambil tab-nya. Saat akan melangkah keluar dari ruangan itu, ia mendengar suara ketukan.
Tok, tok, tok.
Suara itu terdengar sangat pelan, namun terus terdengar hingga membuat Sam penasaran. Ia memutuskan untuk mengecek dari mana suara itu berasal, langkahnya pelan dan matanya menyusuri ruangan sedangkan telinganya menajamkan pendengaran.
Setelah mengikuti arah suara, ia sampai di bagian tengah baris ketiga Healing Chamber. Suara itu berasal dari salah satu tabung itu, Samantha mendekati tabung yang mengeluarkan suara halus ketukan yang konstan.
Matanya melebar begitu melihat sosok yang menatapnya dari dalam tabung. Sama seperti saat Mars dulu, Samantha terlihat antusias. Ia mendekatkan wajahnya ke tabung kaca itu. Mencoba melihat jelas sosok didalamnya.
Samantha dapat melihat jika sosok didalam sana adalah sosok anak kecil yang mungkin berusia sekitar tiga tahun. Tangannya menempel disisi kaca tepat di depan wajah mungil yang masih menatapnya. Suara ketukan tadi dibuat oleh tangan kecil yang saat ini masih terangkat dekat dengan kaca.
Samantha memperkenalkan namanya pada anak itu, ia masih sama bodohnya dengan Samantha kecil yang memperkenalkan dirinya pada Mars kecil yang saat itu masih didalam tabung.
Menyadari jika sosok dalam tabung menatapnya bingung, Samantha menyadari kekonyolannya. Ia melihat layar diatas tabung anak kecil itu, detak jantung normal dengan semua yang terlihat sangat baik. Samantha ragu ingin mengeluarkan anak kecil itu. Ia takut jika anak kecil itu belum siap untuk keluar dari tabung.
Samantha menatap kasihan pada anak kecil itu, ia memamerkan senyumnya pada sosok dalam tabung. Wajahnya tak begitu jelas karena tertutup cairan hijau itu, Samantha mendekatkan lagi wajahnya pada kaca tabung.
Melihat kearah ketukan yang mulai dilakukan lagi oleh tangan mungil itu, Samantha menirukan apa yang dilakukan anak kecil dalam tabung. Mereka berdua menyukai kegiatan mengetuk kaca seakan mereka sedang berkomunikasi lewat ketukan itu.
Hingga mereka berdua tak menyadari ada seseorang melihat apa yang mereka lakukan dengan kerutan didahinya.
“Hei, kalian menyukainya?” suara itu menghentikan gerakan tangan mereka, suara itu mengalihkan fokus mereka.
“Prof, dia sepertinya ingin keluar!” seru Samantha antusias.
“Ya, kita akan menunggu Xavier datang.”
Profesor Shin mengecek kondisi anak dalam tabung itu melalui layar diatasnya. Dia tersenyum pada Samantha, memberitahu jika memang saatnya.
__ADS_1
Xavier tiba setelah beberapa menit, ia melihat mengusap kepala Samantha saat melewatinya. Melihat pada anak kecil dalam tabung yang terlihat sudah sangat ingin keluar dari sana.
“Kau beruntung bisa melihatnya keluar untuk pertama kali, kau ingat saat dulu Mars pertama kali keluar?” tanyanya pada Samantha yang mengangguk mengiyakan.
“Apa dia seperti Mars, butuh bantuan chip dikepalanya?” tanya Samantha yang belum mengerti kenapa Xavier mengingatkan tentang Mars.
“Tidak, dia punya keistimewaan lain. Kau siap untuk terkejut, kuharap kau tidak akan membahas tentang ketelanjangannya seperti dulu!” Samantha tersipu, ia mengingat saat Mars baru keluar dalam keadaan telanjang.
“Tenang, aku sudah membawa baju kali ini,” ujar Profesor Shin yang menambah rona merah diwajah gadis itu.
“Kau siap?” tanya Xavier yang diangguki Samantha.
Sama halnya dengan saat Mars dulu, Xavier mencabut selang oksigen yang membuat anak itu bergerak gelisah mencari udara. Dinding kaca itu terbuka, air hijau meluber keluar menampilkan sosok mungil yang menggemaskan.
Tapi ada yang berbeda yang membuat Samantha terkejut, ia bahkan menutup mulutnya yang hampir saja berteriak. Dia benar-benar dibuat terkejut dengan adanya sayap mungil berwarna hitam yang berada di punggung anak itu.
Samantha menoleh kearah Xavier yang sedang tersenyum kearahnya. Ia kembali menatap pada sosok kecil itu yang sudah terbungkus kain yang menyembunyikan ketelanjangannya.
“Kau tidak tahu malu, menatapku hingga matamu akan lepas ketika aku telanjang!” suara mungil itu membuat Samantha malu, dulu ia yang bilang seperti itu pada Mars, tapi kini malah anak itu yang ganti mempermalukannya.
Namun, ia harus mendapatkan penolakan karena anak kecil itu berlari mendekat kearah Xavier. Itu mengundang gelak tawa hingga Profesor Shin juga tak kuasa menahan tawanya.
“Dia hanya mengenalku dan Archer disini. Kau membuatnya takut gadis bodoh!” Samantha memanyunkan bibirnya.
Ia mengikuti langkah Xavier yang juga diikuti oleh anak kecil itu. Samantha masih sangat ingin memeluk sosok kecil itu, ia ingin melihat lebih dekat sayap mungil dipunggungnya.
Mereka saat ini sedang menunggu anak itu selesai mandi dan berganti pakaian. Samantha menunggu sambil mengisi perutnya yang sudah meronta-ronta ingin di isi dari tadi. Sedangkan anak itu dibawa oleh Profesor untuk dibantu dibersihkan dan dicek kesehatannya.
“Dia mutan? Atau iblis? Jika malaikat kan sayapnya putih,” tanya Samantha yang mendapatkan lemparan pulpen dikeningnya.
“Dia mutan! Namanya, Sky” jawab Xavier menggeleng karena Samantha sempat menganggap anak itu iblis.
Xavier kemudian menceritakan saat ia pertama kali menyelamatkan anak itu dari pembunuhan yang dilakukan ayahnya sendiri. Sungguh malang nasib bocah kecil itu karena diusianya ia harus bertahan hidup dari siksaan ayah kandungnya.
Sky terlahir berbeda, ia memiliki darah campuran mutan dan manusia, sama seperti Samantha. Namun, ia memiliki nasib malang karena ibunya yang seorang manusia meninggal saat melahirkannya. Sang ayah begitu murka dan hendak membunuhnya saat itu juga karena istrinya meninggal.
__ADS_1
Kakak dari istrinya yang adalah paman Sky yang menggagalkan pembunuhan itu, tapi Sky kecil terus mendapatkan siksaan dalam pengasuhan ayah kandungnya itu. Puncaknya saat sang ayah ingin menjatuhkan Sky kecil yang baru berusia tiga tahun dari balkon lantai lima apartemen-nya. Beruntung Xavier yang memang sudah memantau dari jauh bisa menyelamatkannya dan membawanya ke House of Talent.
Sky tidak berani keluar dari apartemen karena pernah dilempari batu karena dianggap anak iblis, sama seperti Samantha tadi.
Sang ayah adalah mutan yang bisa mengontrol gravitasi, jadi dari mana gen pada Sky bisa bersayap itu juga jadi misteri.
Samantha sedih mendengar kisah hidup dari makhluk mungil bersayap itu. Meskipun ia juga terpisah dari keluarganya, setidaknya ia pernah merasakan kasih sayang dari anggota keluarganya yang mau menerima keadaannya yang memiliki bakat penyembuhan.
Samantha mengerti, kenapa House of Talent terus mengumpulkan para mutan untuk dijadikan kuat, selain diajarkan melindungi diri sendiri, di sini mereka juga mendapatkan perlindungan mutlak dari Xavier.
“Boleh aku meminta sesuatu, Sam?” tanya Xavier pada Sam yang masih terdiam.
“Hemm?”
“Bantu aku jaga dia nanti, kau tahu aku akan sangat sibuk!” ujar Xavier dengan acuh, seakan permintaannya adalah keputusan yang tidak bisa ditolak.
“Kenapa tidak Archer saja, dia kan pernah merawat kulit!” tukas Samantha tak terima, ia saja saat ini mengurus dirinya tidak bisa, apalagi harus merawat anak kecil.
“Archer banyak misi, nanti Alice juga akan membantumu!”
Samantha berpikir sebentar, lalu muncul ide yang membuatnya tersenyum, “Aku akan merawatnya bersama Mars, tapi hukumanku membantu Prof Shin selesai!”
Seperti seseorang yang sedang mengajukan kesepakatan, Samantha juga menunjukkan mimik wajah serius.
“No!” tolak Xavier tanpa bantahan, dikarenakan Samantha malas berdebat.
Samantha memilih menghabiskan makanannya dari pada berdebat dengan Xavier dan berakhir dengan kekalahan mutlak.
___________
**Penulis akan sangat menghargai setiap like dan komen yang di berikan pembaca, karena dengan ketersediaan kalian untuk meninggalkan jejak di cerita ini membuat penulis lebih bersemangat lagi 😉.
terus ikuti kelanjutan dari novel ini yah
happy reading 😘**
__ADS_1