
10 tahun kemudian
Gadis berambut ikal itu memacu kudanya lebih cepat, rambutnya terikat kuat dengan pakaian yang menurut Mars sangat tidak cocok untuk menunggang kuda. Memakai mini dress sedikitpun tak mempengaruhi setiap gerakannya. Tangannya lepas dari kendali kuda dengan gerakan cepat mengambil panah dari punggungnya, memasang anak panah di atas kuda yang berlari kencang, anak panah melesat dari tangannya, dan berhasil. Anak panah tersebut tepat mengenai targetnya.
Ada kuda lain yang menyusul di belakangnya. Memanah target ke dua yang sedang di incar oleh gadis di depannya. Samantha menengok kebelakang karena Mars berhasil mendahuluinya. Mereka sama-sama memacu kuda lebih cepat untuk melesatkan anak panah di target ke tiga.
"Kalo ini anak panahku yang kena! kau harus menteraktirku makan di luar!" teriak Samantha masih dengan pandangan fokus pada target ke tiga.
Tak mendapat tanggapan, Samantha menganggap itu sebagai persetujuan. Jalan terjal tak menyulitkannya, bahkan kecepatan kuda mereka juga sangat cepat. Samantha bertekad agar target ke tiga jadi miliknya.
"Samantha, jangan!" teriak Mars menghentikan laju kudanya. Mereka ada di ujung tebing yang berseberangan dengan tebing lain, dengan jarak sekitar 7 meter.
Tapi teriakan Mars di anggap angin lalu, gadis keras kepala itu memaksa kudanya untuk melompat jauh menuju tebing seberang.
Tepat di atas jurang itu panah melesat tepat di target ke tiga. Kuda itu berhasil melompat tapi kaki belakang hampir terpeleset, hingga sedikit berguncang, Samantha jatuh terlempar di semak-semak, Kuda itu bernama River yang berarti sungai, Samantha menemukan kuda hebat itu sejak mereka sama-sama masih kecil. River menganggap Samantha sebagai pemilik sejatinya karena gadis cantik itu menyelamatkannya, saat tergeletak tak berdaya di pinggiran sungai di hutan.
Mars langsung mengambil jalan memutar untuk ke seberang sana. Ia masih cukup waras untuk tidak melompati jurang itu.
Mars langsung turun dari kuda, dan melihat River sedang kesakitan di bagian kaki belakangnya, Mars mencari keberadaan Samantha.
"Sam, Lo gak papa?" teriak Mars mencari keberadaan gadis itu pada semak-semak.
Samantha muncul dari tengah semak-semak dengan keadaan yang cukup buruk. Rambut ikalnya penuh daun-daun, kakinya sedikit pincang, dan ada goresan luka cukup panjang di dahinya.
"Kemari!" Mars sangat kesal, dengan sifat keras kepala gadis itu.
"Sakit! Mars!" Samantha merintih dan mendekat ke arah Mars.
Mars duduk bersimpuh di dekat Samantha yang sedang mengobati kaki River. Mars tahu penyembuh tak perlu mengkhawatirkan luka, tapi dia juga tahu jika rasanya tetap saja sakit. Luka di dahi Samantha juga mulai menghilang tapi masih meninggalkan jejak darah. Kaki Samantha yang sedikit terkilir juga sudah membaik.
Luka di kaki River sudah mulai membaik, sembari menunggu mereka pulih, Mars melesat cepat bersama kudanya mencari air untuk membasuh bekas luka Samantha dan untuk mereka minum.
Tak butuh waktu lama untuk Mars kembali membawa air. Mars membantu membasuh pelipis Samantha yang ternoda darah. Samantha tersenyum ke arah River dengan bangga, merasa hebat. River bahkan tak mau menanggapi senyum cantik Samantha, ia memilih untuk melihat ke arah lain. Samantha mendengus melihat ke tidak sopanan River.
"Jika itu bukan River, pasti dia sudah kabur darimu sejak lama!" ejek Mars sarkasme.
"Ya, dia memang sahabatku!" Samantha malah membalas ejekan itu dengan bangga.
"Archer sudah gila dengan latihan yang semakin tidak masuk akal ini!" gerutu Mars sambil kembali menaiki kudanya.
__ADS_1
"Archer selalu punya cara untuk hal yang menyenangkan." Samantha tersenyum lebar, ia akan mengejek Archer nanti jika pelatihan yang di berikannya terlalu mudah.
Mars menggeleng, ia bisa gila berada di antara kedua orang itu. Ia meninggalkan Samantha di belakang. Memacu kuda dengan santai kembali menuju House of Talent.
"Hei kau selalu saja bersikap seperti itu. Hei ini asik bukan? kita bisa latihan di alam bebas, menikmati udara segar dan yang pasti mendapat pengalaman yang berbeda setiap harinya." Samantha menyamakan langkah River dengan kuda milik Mars.
"Ya, kau selalu menantangnya, dan kau senang!" sindir Mars lagi.
Mars adalah penjaga Samantha sehingga latihan yang di jalaninya juga mengikuti apapun latihan yang di berikan Archer kepada Samantha. Mereka tidak memiliki kekuatan seperti yang lain sehingga mereka tidak melatih bakat tapi melatih keahlian.
Mars punya bakat kecepatan juga kecerdasan dan Samantha punya bakat penyembuhan, mereka berbeda tapi menjalani pelatihan yang sama. Kasihan Mars harus mengikuti gadis nakal itu.
Ya, tapi itu adalah pilihannya. Dan Mars tidak menyesal dengan pilihannya. Samantha gadis kecil sepuluh tahun lalu yang berhasil menarik perhatiannya. Kini gadis kecil itu menjelma menjadi remaja nakal yang sangat cantik.
"Kau tau, kemarin Scott membekukan danau favoritku gara-gara aku mencuri data dari laptop Xavier. Ah aku kesal kenapa mereka bisa punya ahli IT dengan kekuatan fikiran seperti itu!" keluh Samantha sepanjang perjalanan.
Mars hanya mendengar tanpa menanggapi, sudah biasa ia mendengar gadis itu mengoceh. Samantha adalah gadis pengacau di House of Talent. Namun setiap hukuman yang di berikan oleh Xavier tak membuat gadis itu jera.
"Kau tahu, aku mendapat info penting dari laptopnya. Hei, kau sudah janji akan mengajakku makan di luar nanti malam kan?" tanya Samantha memastikan sambil menatap tajam laki-laki berwajah datar itu.
"Tidak!"
"Kau memutuskan sendiri, aku tidak bilang apapun!" elak Mars memacu kudanya lebih cepat meninggalkan Samantha yang sudah bersiap marah padanya.
"Mars, kau sudah berjanji. Kau harus menemaniku nanti malam!" teriak gadis itu di belakangnya.
Mars sudah sering dapat masalah karena mengikuti rencana konyol gadis itu. Merampok pejabat yang korupsi, mencuri data penting milik negara demi mendapatkan informasi tentang para perompak di pulau favoritnya. Dan lagi, semua itu selalu berakhir dengan mendapat hukuman dari Xavier.
Mereka di bimbing bukan untuk ikut campur urusan manusia lainnya tapi untuk kedamaian mutan di antara manusia. Mereka di latih untuk hak terburuk yaitu peperangan antara mutan dan Manusia. Akibat dari beberapa mutan yang membuat kekacauan, banyak manusia yang memburu mutan karena merasa mutan adalah ancaman. Padahal tidak semua mutan jahat, seperti halnya Manusia, ada di antara mereka yang jahat dan juga ada yang punya kebaikan.
Mars sampai lebih dulu di banding Samantha, ia sudah selesai membersihkan diri ketika Samantha baru sampai di ruangan Archer masih dengan pakaian kotor dan penampilan yang berantakan.
"Kau mendapatkan dua target tapi kau terlalu ceroboh, tingkat kematian lebih tinggi dari pada keberhasilan, tapi aku memuji River karena kalian memiliki ikatan kepercayaan." Samantha mendengar penilaian dari gurunya dengan baik tapi dalam hati ia mengomel.
"Kau, cepat dan ketepatanmu cukup baik, tapi berhenti mengalah dengan gadis itu. Kau harus lebih mengembangkan potensimu, bukan menahan!" tunjuk Archer pada hologram di depannya, disana menunjukkan setiap gerakan pada latihan yang mereka jalani.
Mars mengangguk patuh, ia akui ia selalu mengalah atau bahkan membimbing Samantha melewati latihan yang padahal ia bisa selesai lebih dulu jika tidak membantu gadis itu.
Latihan tadi cukup mudah di banding biasanya, hanya perlu memanah target yang di setting akan bergerak menjauhi mereka melalui sensor wajah, makanya mereka harus mengejar lebih cepat dan lebih cerdik untuk bisa mendekati target.
__ADS_1
"Baiklah, besok aku harus pergi dan latihan akan di tentukan oleh Xavier!" ucap Archer menyuruh mereka keluar dari ruangannya.
"Kau juga, kenapa masih di sini!" tegur Archer pada Samantha yang masih memasang senyum manis ke arahnya.
Mimik wajah seperti itu, Archer sudah sangat hafal. Ada yang di inginkan gadis itu, untuk sikap sok manisnya ini.
"Em, siapa guru yang akan mengajar besok?" tanya Samantha duduk di sofa memainkan hologram kecil yang menggambarkan setiap ruangan latihan di house of Talent. Dia bisa melihat temannya yang lain sedang berlatih.
"Tanyakan saja pada Xavier!" jawab Archer malas. Seakan pandangannya mengartikan cepat keluar tak perlu mengucapkan omong kosong.
"Em, tapi aku ingin bertanya padamu!" kekeh Samantha tak mau keluar ruangan.
"Tak perlu bersandiwara lagi, apa maumu?" tanya Archer to the poin.
"Wah bagaimana kau tau?" manatap laki-laki yang sudah seperti kakaknya itu dengan mata berbinar.
"Aku tak perlu kekuatan membaca pikiran seperti Xavier untuk menebak tipu muslihatmu!" kesal Archer yang membuat Samantha tersenyum lebar.
"Bolehkah aku keluar malam ini? aku hanya akan makan malam bersama Mars!" ucap Samantha meyakinkan.
Archer memicingkan matanya. Menjadi guru gadis itu selama sepuluh tahun sudah cukup baginya mengenal karakter anak didiknya itu.
"Pergilah tapi harus pulang bersama, tidak ada minuman keras dan tidak ada kekacauan!"
Jawaban Archer membuat gadis itu menubruknya keras memberikan pelukan. Yah, dia belum menikah karena gadis di depannya ini. Ia ingin menemukan pasangan yang baik dan mau menerima Samantha yang sudah seperti adiknya sendiri.
"Aku janji akan pulang bersama dan tidak biasa kekacauan!" teriak Samantha melangkah keluar dari ruangan.
Archer memperbolehkannya keluar karena ijin langsung dari Xavier. Samantha harus tak terlihat berbeda sehingga tidak mencolok ketika berada di antara manusia lainnya. Begitu juga dengan Mars, asal tidak menunjukkan kekuatannya ia aman.
keruanganku sekarang!
Xavier lah yang memberi ijin pada Samantha melalui telepatinya. Karena nanti malam mereka harus membicarakan hal penting mengenai keluarga Samantha. Kakak Samantha tak pernah berhenti mencari keberadaan Samantha meski sudah sepuluh tahun berlalu. padahal Samantha juga sudah tidak begitu ingat wajah mereka kecuali wajah Mommy nya.
Kakak Samantha memperkuat pasukan khusus milik keluarganya itu, dan kesalahpahaman sepuluh tahun lalu membuat mereka membenci para mutan, dan ikut andil dalam menghabisi mutan yang selalu membuat kekacauan, berharap bisa menemukan keberadaan adiknya dari setiap mutan yang mereka tangkap.
Xavier belum bisa menyerahkan kembali Samantha pada mereka, belum saatnya. Dan menurut Xavier Samantha lebih aman di sini.
Di luar ruangan Samantha juga sudah memiliki rencananya sendiri. Kakinya bukan melangkah menuju kamarnya tapi menuju ke ruang latihan dimana Brian berada. Ia tak perlu bantuan Brian untuk keluar dari House of Talent seperti biasanya karena sudah mendapat ijin. Ia ke sini untuk meminta uang pada laki-laki itu, Brian sudah banyak melakukan misi jadi tentu saja ia lebih kaya di banding dirinya yang tak pernah mengambil misi apapun.
__ADS_1
Entah apa yang akan di lakukan gadis berusia lima belas tahun itu malam ini, tapi yang jelas ia tidak hanya meminta uang saja, tapi juga meminta pisau milik Brian.