Lost Princess

Lost Princess
Virology


__ADS_3

Ini sudah hari ke-5 Samantha membantu Prof.Shin, melakukan penelitian sistem sel saraf pada mutan, pada dasarnya sel saraf pada mutan memiliki banyak perbedaan pada setiap individu. Kemudian dia juga harus meneliti virus dalam ilmu virologi bersama rekannya yang lain.


Saat ini, gadis cantik itu berjalan dengan lesu membawa banyak dokumen penelitian yang telah ia kerjakan, melewati setiap lorong dan membalas sapaan teman-temannya dengan senyum yang dipaksakan. Harusnya ia hanya harus membawa tab saja, tapi karena otaknya perlu mengingat banyak hal, ia memilih membawa banyak dokumen lain bersamanya.


Bekerja di lab membuat rona merah diwajahnya tenggelam, bosan, lelah dan jengah. Samantha bahkan mengacuhkan Mars karena iri pada laki-laki itu, ia mendapatkan hukuman yang lebih berat dan hampir membuat kepalanya jadi botak seperti Professor Shin.


Tangannya terangkat, memasukkan Sandi ruang laboratorium penelitian virologi. Klik, suara pintu terbuka membuat beberapa orang di dalam ruangan menoleh kearah pintu, menampakkan sosok cantik gadis dengan wajah cemberut. Mereka mulai terbiasa dengan kehadiran Samantha yang baru bergabung beberapa hari lalu.


Samantha hari ini akan menunjukkan hasil penelitiannya, mereka semua tahu jika gadis itu telah bekerja keras dibawah bimbingan langsung Profesor Shin. Menggeleng prihatin, karena gadis itu harus bekerja sama dengan Profesor jenius yang sangat eksentrik.


“Profesor Shin! Kau tidak bisa mendekomposisi rumus antivirus yang aku kerjakan dengan begitu saja. Bahkan, aku mengerjakannya hingga rambutku rontok setiap harinya, aku tak ingin jadi botak seperti dirimu!” kesal Sam, membuat mereka semua menahan tawa.


“Hm-mm,” jawab pria botak itu acuh tanpa sedikitpun monoleh, tangan terampilnya sambil mengotak-atik susunan rumus dilayar 4D dihadapan mereka yang menampilkan proyeksi-proyeksi ilmiah yang sudah tersusun rapi.


Ayolah, butuh waktu berhari-hari hingga Sam bisa menyelesaikan rumus itu. Bahkan, ia hanya tidur lima jam setiap harinya karena penelitian yang cukup asing bagi otaknya, hingga harus berpikir sangat keras. Dia lebih suka berkutat dengan panah dan pistol atau senjata lainnya dari pada bermain-main dengan virus-virus kecil yang mematikan itu.


Rekan-rekannya yang lain juga mendapatkan tugas masing-masing, namun karena ini hal baru bagi Sam, ia cukup kesulitan dan sempat membuatnya stress. Archer sepertinya harus puas melihat ia sangat tersiksa oleh hukuman yang diberikan Xavier.


“Bagus! Kau benar-benar merusaknya! Lihat, apa yang kau lakukan pada sistem yang kubuat untuk mesin replikasi dalam darah mutan itu! Kau merusaknya dengan rumus barumu itu, Prof.”


“Sam, kau sedang bersinggungan langsung dengan objek penderita. Deal with it, sistem dekomposisiku akan menolong masalah mutan itu, untuk menghentikan replikasi virus dalam tubuhnya! Kandungan konsentrat yang kau buat dalam dosis yang tepat, bahkan bisa digunakan untuk membunuh virus itu dalam proses adsorpsi virus!” jelas profesor yang dimengerti oleh rekan Sam yang lain.

__ADS_1


Profesor menyederhanakan rumus virus milik Sam. Sikap praktis memang yang paling dibutuhkan oleh dunia saat ini. Jika para dokter terlalu lama meneliti penyakit seseorang, maka orang itu bisa meninggal. Dunia penuh kebencian seperti masa ini, membuat mereka juga semakin mengembangkan berbagai senjata mematikan, dalam hal biologi juga sama, para ilmuan berlomba-lomba menciptakan senjata biologi yang dapat melumpuhkan musuh tanpa terlihat.


Beberapa peneliti virologi dunia percaya bahwa, yang bertanggung jawab dari banyak kasus hilangnya banyak peradaban di dunia, yang masih sangat misterius hingga saat ini adalah akibat virus-virus mematikan.


Pernah ada fenomena black death di dataran Eropa, pada awal tahun 1347 menghabiskan populasi hingga mencapai angka 60%, bedanya wabah yang mereka hadapi saat ini bukan virus dan juga adalah akibat dari sebuah mutasi sel saraf manusia, mereka menyebutnya mutan. Fenomena mutan yang hadir diantara manusia, membuat kejutan yang menjadi momok menakutkan hingga mereka melakukan penolakan akan kehadiran mutan.


Perang besar beberapa tahun lalu membuat suhu bumi naik beberapa kali lipat. kecurigaan terhadap musuh atau teman tak bisa lagi dihindari.


Apa yang ditakutkan para peneliti virologi dunia terjadi. Manusia semakin mengembangkan senjata biologi untuk melawan keberadaan mutan yang cukup meresahkan mereka. Sebuah teori yang lebih terdengar seperti dongeng untuk menakut-nakuti anak kecil sungguh-sungguh terjadi.


Pandemi ini lebih mengerikan dari pada wabah, virus mematikan diciptakan untuk melenyapkan ratusan atau bahkan ribuan mutan atau manusia itu sendiri pada akhirnya. Hal ini membuat para peneliti dikalangan mutan memiliki banyak PR untuk menanggulangi kasus ini.


Sam pada akhirnya menyerah, ia menatap Profesor botak didepannya dengan sorot mata kesal. Jika hasilnya sesederhana itu, kenapa ia malah membuat dirinya terlihat rumit. Mungkin, lain kali Sam harus meminta otak cerdas buatan pada Profesor Shin. Samantha bisa mati muda Jika ia harus tetap bekerja dibawah pengawasan profesor eksentrik itu, bahkan wajah frustasinya tidak lagi bisa ditutupi dengan senyum manisnya.


Sam mengangguk lesu, ia menatap sedih pada rekannya yang lain, lalu keluar dari ruangan penelitian virologi bersama kekacauan di otaknya.


Saat dilorong ia bertemu dengan Mars yang sedang bercanda ria bersama Brian, sepertinya mereka habis keluar dari ruangan Archer. Samantha rasanya ingin melempar sepatunya pada wajah-wajah bahagia itu.


Samantha yang malang, karena ia bahkan diacuhkan oleh keduanya saat bersinggungan. Menahan kesal yang memang telah menumpuk beberapa hari ini, ia menghela napas lelah berjalan melalui mereka.


Sebenarnya Mars dan Brian memang sengaja mengacuhkan Sam. Gadis itu yang pertama kali mengacuhkan mereka sedari hari pertama menjalani hukuman.

__ADS_1


“Hei, matahari terlalu indah untuk melihat gadis murung yang seperti layu tak tersiram air,” ujar seorang laki-laki yang adalah Mars, ketika berlalu melewatinya.


Samantha tak memiliki kesempatan membalas ledekan Mars, bahkan umpatannya saja tak terdengar karena laki-laki itu melesat cepat setelah melewatinya.


“Menyebalkan!” gumamnya pelan.


Samantha sampai di depan pintu ruangan lab Healing Chamber atau ia lebih suka menyebutnya ruang pemulihan. Sebelum masuk Samantha telah memastikan jika dirinya benar-benar steril dari bakteri yang bisa mengganggu proses penyembuhan.


Memasukkan sandi hingga terdengar bunyi Klik, Samantha masuk dan seperti biasa ia selalu takjub akan tabung-tabung yang berderet rapi dengan cairan berwarna hijau didalamnya. Memperhatikan satu-persatu layar komputer yang memperlihatkan kestabilan detak jantung dan keadaan dari sosok didalamnya.


Melewati tabung itu satu persatu, hingga ia tiba diujung, ia duduk dikursi menatap layar besar yang menampilkan beberapa data atau proses pemulihan dari para mutan yang berada dalam tabung. Samantha menunggu kedatangan profesor Shin dengan sabar, cukup sabar hingga ia tertidur dengan posisi duduk dan menelungkupkan kepalanya diatas meja.


Sepertinya Samantha sangat lelah, ia mengalami gangguan tidur yang sangat parah karena penelitiannya. Ditambah, ia harus melaporkan kegiatannya itu pada Xavier. Samantha harus menjalani hukumannya dengan benar agar segera terbebas dan bisa mengajak River jalan-jalan lagi.


Berbeda dengan Samantha yang tidak sabar mengajak River berpetualang, kuda itu malah senang menikmati waktu bersantainya. Ia akan makan rumput di pagi hari dan mendapatkan apel manis di siang dan malam hari dari Mars. Best partner! Samantha yang malang.


_____________


**Penulis akan sangat menghargai setiap like dan komen yang di berikan pembaca, karena dengan ketersediaan kalian untuk meninggalkan jejak di cerita ini membuat penulis lebih bersemangat lagi 😉.


terus ikuti kelanjutan dari novel ini yah

__ADS_1


happy reading 😘**


__ADS_2