Lost Princess

Lost Princess
Meeting unnoticed


__ADS_3

Samantha tak lagi punya kekuatan untuk berjalan lebih jauh, bahkan mulai terdengar suara gaduh tak jauh di belakangnya. Dapat di tebak bukan? Samantha tak mau menyerah, wajahnya mulai memucat karena darah masih terus keluar dari luka di perutnya. Sky juga terlihat sudah tidak kuat lagi berlari.


Samantha tak tega melihat Sky yang kelelahan, tapi dia juga tidak mau jika mereka tertangkap. Dan lagi, Samantha masih memiliki pertanyaan yang belum terjawab. Dia tidak boleh sampai tertangkap atau mati di sini.


Matanya kemudian menangkap seseorang yang baru keluar dari mobilnya di depan sebuah kedai. Samantha tak ambil pusing, langsung saja berlari menuju ke mobil itu.


Kebetulan jika masih ada anak kecil di dalam, sehingga pintu itu tidak terkunci. Samantha mengangkat Sky dan membawanya sedikit berlari ketika melihat ada tembakan meluncur ke arah mereka.


"Fuc'e!" umpatnya ketika peluru itu hampir saja menembus badannya jika tidak ada pelindung dari tameng benda terbang. Untung kacamatanya di lengkapi oleh dua benda terbang, sehingga setidaknya dia masih memiliki satu untuk melindungi mereka.


Sirine polisi terdengar nyaring dari belakang. Setidaknya polisi itu membuat repot para mutan yang mengejarnya. Samantha langsung membuka pintu mobil dan meletakkan Sky di kursi belakang, kemudian dirinya menempati bagian kursi kemudi.


Anak yang mungkin berumur sekitar delapan tahun itu menatapnya terkejut. Saat akan berteriak anak itu mendadak jadi terdiam ketika melihat pisau menancap dalam di perut Samantha dengan darah yang sudah merembes di bajunya.


Matanya terus mengawasi orang asing yang masuk ke mobil uncle-nya. Samantha mengabaikan anak itu lalu mencoba menyalakan mobil itu dengan membongkar bagian stop kontak, hingga akhirnya mobil itu berhasil menyala.


Baru saat itulah anak itu berteriak memanggil uncle-nya. Sky hanya duduk diam di belakang dengan ekspresi wajah tegang. Beberapa mutan mengejar mereka di belakang mobil.


Samantha mengendarai mobil dengan kecepatan tinggi. Jalanan yang penuh sesak dengan kendaraan membuat pelarian mereka sedikit lebih menegangkan.


Terdengar ledakan di belakang, ternyata itu sebuah mobil yang mungkin terkena serangan para mutan.


Seseorang melompat ke bagian atap mobil mereka yang melaju kencang.


Pedang panjang menembus atap mobil hingga hampir mengenai Sky jika lebih ke kiri sedikit lagi. Bukan hanya Sky, Samantha dan anak itu juga sama terkejutnya. Untung ada benda terbang yang merespon cepat dan menahan dengan tamengnya. Mutan di atas atap mobil terus menyerang dengan tusukan pedang hingga tameng benda terbang hancur.


"Kalian pegangan!" Seru Samantha bersiap menambah lagi kecepatannya.


Jika saja jalur hanya jalan lurus tanpa hambatan, tapi nyatanya Samantha harus menyalip mobil di depannya dengan gaya zig-zag, itupun harus membanting setir dengan cepat ketika melewati persimpangan.


Orang di atas atap berhasil terpental ketika Samantha tiba-tiba membelokkan arah mobilnya dengan kecepatan tinggi. Saat satu lawan sudah tersingkir, Samantha menatap pada kedua anak di dalam mobil yang sudah berwajah pucat dan terlihat tegang.


Setiap Samantha hampir menabrak mobil di depannya, maka anak-anak itu akan berteriak kencang karena takut. Sebenarnya ini pengalaman pertama Samantha dengan mobil. Dia biasa mengendarai motor atau pesawat kecil ketika ada tugas dari Xavier.

__ADS_1


Samantha jadi memikirkan River, setidaknya kuda lebih mudah lagi dari pada mesin tak bernyawa. Karena sudah membuat jarak yang cukup jauh dari pengejaran. Samantha mencari tempat untuknya bersembunyi.


Pisau di perutnya terasa semakin menyobek lebih dalam dan lebar lagi. Untungnya luka bakar di badannya sudah pulih, tanpa menyisakan bekas sedikitpun.


Dia memarkiran mobil di sebuah bangunan tak berpenghuni, di ujung gang sempit yang hanya muat di lewati oleh satu mobil. Samantha mengerang ketika tanpa sengaja menginjak rem terlalu cepat dan membuatnya jadi menekan luka di perutnya.


"Arggggh." Erangnya menahan perih.


"Kau terluka parah," seru anak yang duduk di sebelahnya.


Samantha menanggapi dengan sedikit melemparkan senyumnya. Rasanya memang perutnya seperti terbelah, terlebih lagi darahnya sudah terlalu banyak keluar hingga rasanya tubuhnya jadi lemas.


Keringat mengucur deras di badannya. Wajah pucat Samantha sempat membuat kedua bocah dalam mobil menatapnya ngeri. Mereka tak mengerti harus bagaimana.


"Hubungi orang tuamu atau siapapun untuk menjemputmu di sini," ujar Samantha pada bocah di sebelahnya.


Kemudian Samantha menoleh ke belakang pada Sky yang juga terlihat khawatir. Samantha tersenyum pada anak itu. Setidaknya mereka saat ini aman, jadi Samantha akan berusaha mengobati dirinya.


Samantha mengamati sekitar, meski suasana sepi ini sedikit tidak normal, tapi dia memastikan jika setidaknya tempat ini sedikit tersembunyi. Dia memejamkan matanya dan menghembuskan nafasnya perlahan. Samantha sedang bersiap untuk membuat dirinya siap mencabut pisau yang tertanam dalam di perutnya.


Meski mereka menurut untuk menutup mata, pada akhirnya mereka tak kuasa memejamkan mata ketika suara erangan terdengar menyedihkan. Pisau itu tertancap sangat dalam, sehingga untuk menariknya butuh tenaga yang kuat.


Samantha sudah tidak lagi bertenaga, sehingga menarik pisau itu dengan perlahan. Dapat dirasakan sesuatu yang tajam mengiris daging di perutnya. Erangan tertahan terus terdengar dengan rintihan lirih ketika proses mencabut pisau itu.


Namun, masih setengah bagian tajam pisau dapat keluar. Samantha sudah serasa ingin pingsan. Di ambang kesadarannya, dia mendengar dua anak laki-laki yang bersamanya menangis.


Suara isakan lirih terdengar di telinga Samantha. Dia menolehkan wajahnya menatap sayu pada keduanya. Mereka pasti ketakutan, Samantha mencoba meneguhkan hatinya jika dia tidak ingin berakhir di sini.


Mata yang tadinya hampir tertutup, kini terbuka menunjukkan sinar harapan disertai senyum untuk menghibur kedua anak laki-laki yang menatapnya sedih juga takut.


"I'll be fine, kau sudah menghubungi keluargamu?" tanya Samantha agar anak laki-laki yang duduk di sampingnya menatapnya.


Samantha terus mengajaknya bicara sementara tangannya terus berusaha menarik pisau yang masih tertanam setengah bagian. Cara itu berhasil membuat kedua anak itu tidak terlalu fokus pada lukanya. Meski Samantha kadang menggeram ketika pisau itu terasa menyobek sisi perutnya karena arah yang salah.

__ADS_1


"Jadi namamu Neil. Perkenalkan namaku Sam, dan yang di belakang namanya, Sky." Sungguh perkenalan yang tidak tepat.


Setiap kata yang keluar dari bibir Samantha terdengar manis, tapi akan terdengar miris ketika melihat bibir pucatnya terus berbicara.


Sungguh, Neil juga sangat ketakutan ketika gadis itu berusaha untuk mengeluarkan pisau di perutnya. Dan sempat terkejut ketika pisau penuh darah itu berhasil keluar hingga banyak darah yang keluar dari luka.


Sam hanya terus memejamkan mata dengan tangan menutup lukanya, menahan lelehan darah yang ingin keluar. Dia penyembuh hebat, tubuhnya akan dengan cepat memperbaiki jaringan yang rusak dan menyembuhkan luka itu.


Mrskipun begitu, membutuhkan waktu hingga luka itu tertutup dengan sendirinya dan pulih. Sedangkan mereka tak memiliki waktu lama menunggu proses penyembuhan selesai. Mereka bisa terlacak jika terlalu lama di sana.


Saat ini, mutan yang bisa mendeteksi jejaknya pasti sebentar lagi menemukannya. Samantha harus segera bergerak, toh lukanya sudah tidak mengeluarkan darah lagi. Tinggal menunggu proses pemulihan saja.


"Senang bertemu denganmu, orang tuamu pasti sebentar lagi sampai. Jadi aku tidak ingin tertangkap karena mencuri mobil beserta putranya. Semoga kita bisa bertemu lagi," canda Samantha pada Neil.


Wajahnya sudah terlihat memiliki warna, tidak sepucat tadi. Bahkan dia sudah terlihat baik-baik saja sekarang. Meski masih meringis sakit saat bergerak keluar dari mobil. Sam bergegas keluar dengan Sky juga bersamanya.


Mereka turun dari mobil dan bergegas lari menuju lokasi melewati gang sempit yang hanya bisa dilewati oleh orang. Karena Samantha memang sengaja membawa mobil ke arah tempat yang tidak jauh dari tempat yang telah mereka tentukan.


Samantha hanya bisa berharap Brian juga Mr. Riz bisa keluar dari gedung itu tepat waktu. Bagaimanapun akan buruk jika tertangkap oleh musuh atau polisi.


Neil memperhatikan kedua orang itu masih dengan mimik wajah terkejut. Dari seluruh kejadian tadi Neil dapat menyimpulkan sesuatu. Dua orang tadi ternyata adalah mutan, karena manusia biasa tidak akan sembuh secepat itu.


Neil sedikit linglung ketika melihat kalung milik gadis tadi, ketika Sam meraih Sky yang duduk di belakang dari tempat duduknya. Posisi itu memungkinkannya melihat dengan jelas jika itu adalah kalung milik keluarganya.


Awalnya Neil mengira jika itu kalungnya yang mungkin tanpa sadar di curi. Karena awalnya memang dia mengira Sam dan Sky ingin mencuri mobil juga menculiknya. Dia tak mengira jika dia bahkan di tinggalkan sendirian di sini, pada akhirnya.


Saat kecurigaan itu, Neil menyentuh liontin kalung di dadanya. Itu masih ada, jadi jelas jika kalung itu bukan miliknya. Lalu kenapa gadis itu bisa memiliki kalung yang sama dengan yang dimiliki oleh keluarganya, keluarga Windson.


Jika saja Neil mengetahui jika gadis cantik tadi adalah putri keluarga Windson yang telah hilang. Maklum saja, karena Neil tak pernah mengenal Samantha, dan hanya pernah melihat foto kecilnya yang terpasang dengan ukuran besar di rumah keluarga Windson.


_____________


happy reading, Samantha gak tau kalo itu ponakannya.... 😂

__ADS_1


geregetan yak, yuk ikutin kisah selanjutnya. semoga author up lebih cepet sebelum ketemu hari Minggu, 😂


Jan lupa tinggalkan jejak ya, like dan komentar agar aku tau kalian menunggu lanjutan cerita ini 😍


__ADS_2