
Menunggu di depan pintu kamar Mars dengan sabar, bahkan sempat mengobrol dengan beberapa orang yang melintasinya, Samantha menatap pintu dengan kesal, ia mengetuk beberapa kali tapi tak kunjung mendapat jawaban. Dengan sangat terpaksa ia menarik Al yang sedang berbincang bersama temannya itu, karena mereka berdiri tak jauh darinya.
"Kenapa? dan penampilanmu ... " belum juga melanjutkan Sam menutup mulutnya dengan tangan.
"Aku ada rencana makan malam dengan laki-laki yang ada di dalam sana, tapi ia tak kunjung keluar. Bisakah kau membantuku berurusan dengan kunci itu?" Al hampir menahan tawa, ia sekarang mengerti dan mengangguk.
"Kau harus membalas ini suatu hari nanti," ujar Al yang sedang mengarahkan matanya ke pintu yang seharusnya di buka menggunakan sandi ini di buka paksa dengan melelehkan bagian tengah pintunya.
"Hei kenapa kau lelehkan?" bisik Sam panik.
"Kau tau kekuatanku adalah sinar laser, kau ingin aku mengacaukan sandi? itu bukan keahlianku!" jawab Al dengan santainya.
Samantha tersenyum miris ke arah pintu yang berlubang itu, jika tau akan seperti ini ia takkan meminta tolong pada Al.
"Kupikir kau bisa mengotak-atik sandi pintu itu!" kesal Samantha dengan suara lemah.
Ia menatap nanar pada pintu, bersiap mendapatkan amukan dari Mars, jelas saja pria itu akan marah. Tapi menyesali hal yang sudah terjadi adalah kesia-siaan.
"Thanks untuk lubang besar itu!" sindir Samantha yang di balas tawa oleh Al.
Samantha masuk melalui lubang yang masih panas pada bagian pinggirnya. setelah masuk pun ia masih berbalik menatap ke arah lubang.
Matanya menyusuri ruangan, mencari keberadaan Mars yang ternyata kamar itu kosong, tak ada siapapun di sana.
Samantha mendesah kesal, belum juga ia bergerak sudah ada suara garang di belakangnya.
"Tetap di situ!" katanya galak.
Samantha berdiri diam tak berani bergerak, Mars melesat cepat di depannya. Melipat tangan di depan dada, dengan tatapan tajam.
"Ada apa?" tanya Mars langsung.
Samantha mendongak menatap takut, ia tersenyum memamerkan deretan giginya.
"Em, ku kira kau di dalam dan sengaja tak ingin membukakan pintu. aku akan memperbaikinya nanti!" ujar Samantha meyakinkan.
"Lalu?"
"Kita akan pergi, Archer sudah mengijinkan! aku akan menunggumu di luar." Samantha berjalan mundur lalu dengan cepat berusaha pergi, tapi ia kalah cepat dengan gerakan Mars.
"Jika pintu itu sudah benar aku akan pergi!" setelah mengatakannya Mars berlalu masuk ke kamar mandi.
Samantha mendengus kesal, ia pergi mencari bagian penanggung jawab, yang pasti nanti akan berakhir dengan omelan Xavier.
......
__ADS_1
Mereka sudah bersiap dengan helm yang sudah terpakai. Mereka akan keluar dari sini menggunakan motor besar milik Mars.
Ini masih sore, tapi Samantha sengaja pergi di waktu ini karena tak ingin rencananya gagal. Mars juga tak banyak bertanya hanya mengikuti kemanapun Samantha mau.
Mereka baru sampai di kota setelah menempuh waktu sekitar dua jam. Dan saat ini hari sudah mulai gelap. Samantha turun dari motor menuju ke restoran dengan Mars berada di belakangnya.
Mereka duduk di tempat yang dekat dengan jendela. Fokus Samantha jatuh pada meja nomor lima yang masih kosong. Terlihat jika meja itu sudah di reservasi.
Mars sudah memesan makanan, ia pun hanya memperhatikan gerak gerik mencurigakan dari Samantha. Menggeleng prihatin, Samantha pandai menggunakan senjata, tapi tidak dengan pengintaian. Bahkan dengan sekali lihat saja orang akan tau jika sedang di awasi jika seperti itu caranya.
Mars meraih pipi Samantha untuk mengahadap ke arahnya. Samantha juga memang sedang menatapnya aneh, seperti bertanya, ada apa?
"Kau ingin melakukan apa?" tanya Mars dengan suara kecil, seakan sedang berbisik mesra, Mereka yang melihatnya akan mengira jika laki-laki itu sedang tersenyum manis berbicara pada wanita di depannya dengan mesra.
"Aku sedang menunggu kedatangan seorang milyuner!" jawab Samantha dengan berbisik juga, tak lupa tersenyum manis.
"Lalu?"
"Aku ingin kau mencuri dompetnya!" tembak Samantha langsung pada tujuannya malam ini disini.
Mars mengerutkan keningnya, menyunggingkan ujung bibirnya mengejek. Bagaimana bisa gadis di depannya ini menyuruhnya untuk mencuri tanpa bertanya dulu padanya.
"Aku tidak mau!"
"Kau harus! atau kau ingin aku melakukannya sendiri? kau tau jika kau yang memiliki kecepatan, aku hanya penyembuh. Bagaimana kau tega menyu..." belum sempat menyelesaikan ucapannya, Mars sudah memotong ucapannya cepat.
Mereka menyusun rencana dadakan setelah mengamati situasi restoran, mereka berbicara dengan berusaha tidak nampak mencurigakan, mengumbar senyum bagai sepasang kekasih yang sedang kencan. Di saat seperti ini Samantha sangat iri dengan kekuatan telepatis yang dimiliki Xavier.
Mereka melihat orang yang mereka tunggu telah tiba. Ternyata tidak sendirian, ia datang bersama dua orang lain yang juga berpakaian mewah, jas mahal, sepatu bermerk, dan lagi mereka pasti adalah miliyuner.
Samantha sudah lebih pintar dengan sama sekali tidak melirik ke arah mereka, para bodyguard-nya saja sudah berdiri menutupi di tambah mereka duduk di meja yang lebih bersifat privasi.
"Siap?" tanya Mars yang mendapat anggukan dari Samantha.
Mars lebih dulu pergi untuk ke kamar mandi, Samantha duduk menunggu waktu yang tepat, saat pelayan mulai menghidangkan makanan ke meja mereka, Samantha dengan sengaja menabrak pelayan.
Hampir saja ia di amuk oleh para bodyguard itu jika orang kaya di depannya tidak menghentikan. Samantha meminta maaf sudah membuat jas orang kaya itu basah oleh wine yang baru saja di tuangkan oleh pelayan.
Tangannya berusaha akan membantu, tapi sudah terhalang lebih dulu oleh bodyguard.
Samantha di perbolehkan pergi, ia keluar dari restoran setelah menyelesaikan pembayaran dari makanan yang di pesannya tadi. Ia menunggu Mars dengan berdiri bersandar pada sisi gedung lain di depan Restoran.
Sekarang tinggal menunggu apakah Mars berhasil menjalankan tugasnya, karena ternyata para bodyguard itu sangatlah kompeten.
Mars sudah cukup lama menunggu di toilet, ia pura-pura mencuci tangan ketika seseorang masuk. Menunggu dengan tetap waspada, ia takut jika Samantha tidak berhasil dan malah mendapat masalah. Tapi ternyata kekhawatirannya tak beralasan. Tak lama seseorang yang mereka targetkan memasuki toilet.
__ADS_1
Mars berakting dengan baik, bahkan gerakannya natural tanpa sedikitpun melirik ke arah laki-laki itu. Tapi saat laki-laki itu masih fokus membersihkan jasnya, Mars beraksi dengan hanya sekali kedipan mata, dompet sudah ada di tangannya.
Ia masuk ke bilik kamar mandi mencari sesuatu di dompet tersebut. Dompet itu berisi banyak kartu, ia memeriksa satu persatu kartu dan menemukan kartu bertuliskan Orion member. Setelah ketemu ia menyelesaikan tugas terakhir untuk mengembalikan dompet itu sebelum di sadari oleh sang pemilik.
Namun, ternyata sang pemilik sudah mengetahui dan mencari dompetnya. Salah satu bodyguard yang tadinya berjaga di luar juga sudah masuk ke dalam toilet. Mars yang memang di curigai langsung di periksa.
Mars dengan santai membiarkan seseorang memeriksa dirinya, namun tidak ada di temukan apapun sehingga ia bisa keluar meski dengan mendapat tatapan tajam dari pria-pria berotot itu.
Mars keluar restoran dengan kartu di tangannya. Dia tersenyum bangga ke arah Samantha. Melihat senyum itu Samantha sudah optimis jika mereka berhasil. Nyatanya memang benar berhasil, kartu warna hitam dengan tulisan Orion member di tunjukkan pada Samantha.
Tadi saat ia keluar dari bilik toilet sedikit terkejut, tapi untung ia punya tingkat ketenangan tinggi sehingga bisa menstabilkan ekspresinya.
Saat di periksa dompet dan kartu itu memang tidak ada di tangannya ataupun di tubuhnya. Ia dengan gerakan cepat memasukkan benda itu ke kantong bodyguard yang memeriksanya, dan setelah hampir selesai ia juga menarik kembali kartu yang ia lemparkan tadi dan menempel di sela ornamen yang terdapat di dekat pintu keluar.
Bodyguard itu membawa pistol dan sangat waspada, namun sayang yang mereka hadapi adalah mutan dengan kecepatan tak terlihat. Bahkan hanya dengan berkedip ia sudah bisa berpindah tempat sejauh 100 meter.
Tak bisa di bayangkan, jika tadi Samantha yang mengambil tugas pencurian. Mars jadi ingat ketika ia membiarkan Samantha mengambil tugas akhir dari rencana mereka, mereka hampir berakhir dengan banyak peluru menembus kulit mereka. Untung Mars cukup cepat untuk berlari menghindari hujan peluru itu.
"Baiklah, sekarang baru kita akan benar-benar beraksi! kau harus lebih baik dalam berakting!" ucap Samantha percaya diri.
"Ck, kau sangat butuh cermin!" balas Mars sarkasme.
Entahlah apa yang akan di lakukan oleh Samantha, saat ini mereka mengendarai motor menuju ke tempat yang kata Samantha adalah awal dari pencarian mereka.
Saat di tanya apa yang ia cari gadis itu malah membalas dengan pertanyaan lain.
"Apa kau membawa pistolmu? hah, aku sedikit gugup. Ku harap kau siap mempraktekkan beberapa gerakan nanti!"
Kalimat membingungkan itu hanya di tanggapi gelengan oleh Mars. Bagaimana bisa ia pria dewasa dengan keahlian yang cukup baik menuruti kemauan gadis kecil yang sangat ceroboh itu.
"Lebih baik perbaiki kalimatmu terlebih dahulu, kau pembicara yang buruk!" komentar Mars yang sudah sangat kesal karena ternyata Samantha menuju ke bar menggunakan jasa GPS, dan karena mereka belum mengenal tata letak kota itu yang membuatnya sedikit kesulitan.
Mereka sangat pintar juga punya kekuatan, tapi tetap saja karena mereka jarang keluar itu jadi mengurangi fleksibilitas mereka.
"Aku berharap punya pistol seperti milik Sage, dan bisa mengontrol waktu seperti Chaz, aku lelah berdiri menunggu di sini!" keluh Samantha yang sedari tadi berdiri mengawasi lokasi Bar itu, di tambah angin malam membuatnya menggigil.
"Kenapa tidak langsung masuk saja!" kesal Mars, dia menyandarkan badannya di tembok dengan mata tertutup.
"Kita harus menunggu sedikit lebih malam lagi, karena belum pasti target akan datang malam ini!"
Samantha selesai dengan pencuriannya dan sedang melanjutkan misi yang sebenarnya, yaitu pengintaian.
__________
**Penulis akan sangat menghargai setiap like dan komen yang di berikan pembaca, karena dengan ketersediaan kalian untuk meninggalkan jejak di cerita ini membuat penulis lebih bersemangat lagi 😉.
__ADS_1
terus ikuti kelanjutan dari novel ini yah
happy reading 😘**