
"Hallo, sayang!" Jasper duduk di dekat adiknya.
"Aku bisa membantumu, aku janji!" Samantha menatap kakaknya penuh harap.
Jasper mengerti Samantha hanya ingin membantu, tapi sayangnya saat ini dia sedang dicari oleh para mutan. Pihak Rosgard dan Xavier sedang saling menuduh atas kehilangannya Samantha.
Tidak akan baik jika nanti mereka menemukan Samantha, sebelum kekuatannya benar-benar siap. Sudah beberapa hari ini Samantha bekerja keras di bawah bimbingan Elgan, Samantha sudah hampir menguasai kekuatannya sendiri. Akan sia-sia perjuangan mereka jika Samantha tertangkap atau gagal.
"Aku tahu, kemarilah!" Jasper membuka tangannya meminta adiknya mendekat.
Jasper memeluknya erat. Tidak lagi! Dia telah dengan susah payah mencarinya, kini adik kecilnya telah berada di pelukannya. Tidak akan dia biarkan sampai hilang lagi.
"Boleh aku meminta satu helai rambutmu?" Jasper memamerkan senyumnya.
Samantha luluh, kakaknya itu tidak bisa di bujuk. Samantha memotong ujung rambutnya. Memberikan potongan itu pada Jasper. Dia menatap rambut di genggaman tangan kakaknya.
"Kau ingin apa sebagai gantinya?" tanya Jasper dengan tatapan yang dalam.
Samantha menggeleng, bahkan jika kakaknya ingin rambut lebih banyak lagi, dia akan memberikannya dengan suka rela. Rambut panjang Samantha begitu lembut dan berbau harum. Jasper menggenggamnya sambil menutup matanya. Ada perasaan yang dalam hingga rasanya saat matanya terbuka lagi, dia tidak tahan tidak memeluk adiknya.
"Berjanjilah, setelah aku kembali nanti, kau sudah jauh lebih kuat. Agar semuanya segera selesai, kita bisa berkumpul lagi!"
Jasper tidak tahu apakah dia bisa kembali lagi, karena peperangan di luar sana sudah sangat meluas. Jika nanti dia tidak kembali, Jasper ingin Samantha bisa bertemu keluarganya lagi.
"Jangan bicara seperti itu! Aku nanti menangis! Kau akan baik-baik saja 'kan?"
Samantha melihat jika kakaknya sudah sangat siap dengan senjata dan pakaian khususnya. Wajah tampannya dengan rahang tegas yang menggambarkan kedewasaannya.
Samantha tahu kakaknya itu ahli dalam strategi dan pandai membuat senjata dengan kemampuan khusus. Tapi, untuk keahlian dalam berperang, Samantha mengingat jika Jasper lebih memilih menghindar dan tidak membunuh lawannya.
"Tenang saja, aku akan membawanya padamu lagi!" Archer menghampiri keduanya.
Sebenarnya dia sudah ada di sana sejak beberapa menit lalu, hanya saja tidak ingin mengganggu momen mereka.
"Janji, jangan menghilang lagi!" Samantha bangkit berdiri menekuk Archer erat.
Jasper dan Archer seharusnya sudah memiliki anak di usianya saat ini, tapi mereka masih selalu lebih memikirkannya dari pada diri mereka sendiri. Bagaimana bisa dia tidak menyayangi keduanya. Dua laki-laki hebat dalam hidupnya.
__ADS_1
"Kita tidak punya banyak waktu jika kalian lupa!" Vanessa menginterupsi tiga orang yang saling menyembunyikan perasaannya.
"Kau akan jadi ayah yang baik," ujarnya pada Archer.
"Berhenti menyindirku!" Archer berlalu mengabaikan Vanessa yang terlihat ingin menggodanya.
"Dia laki-laki yang sulit, kau harus bekerja lebih keras untuk membuatnya mengerti!" Jasper tersenyum ke arah wanita yang masih menatap kepergian Archer.
"Itu yang membuatnya terlihat manis, aku ingin memakannya sekarangl!" Vanessa berseru semangat.
Jasper hanya menggeleng melihat keduanya. Yang satu akan lari saat di dekati, kemudian yang satunya lagi akan lebih semangat untuk berusaha.
"Kau juga harus punya satu!" Samantha berjalan di sisi kakaknya.
Mereka berjalan beriringan. Dia mengantarkan ketiga orang itu memasuki pesawat. Ada peralatan lengkap yang akan mereka perlukan. Archer dan Jasper bertugas memastikan penawarnya sukses, sedangkan Vanessa akan mengontrol melalui monitor dan akan muncul pada saat dibutuhkan.
Pesawat itu telah keluar dari batas pelindung. Tak terlihat lagi jejaknya di langit. Samantha menoleh pada Mars yang sedang latihan.
"Hei, kau semakin kuat saja!" Samantha berdiri tidak jauh dari laki-laki itu.
"Kau cukup hebat! Aku akan mati jika itu mengenai kepalaku!" Samantha melihat pada pukulan Mars yang begitu cepat.
Mars bergerak mendekat dengan cepat. Samantha tahu triknya, dia akan menghindar kala Mars lebih dulu memegang pinggangnya.
"Kau masih lambat seperti biasa!" ledeknya pada gadis kecil pelukannya.
"Yah, bagaimana jika kita latihan memanah saja, aku akan mengajak River!" Samantha rindu latihan bersama Mars seperti dulu.
"Tidak latihan bersama laki-laki itu?"
"Tidak, bagus jika dia tidak datang!" Samantha berlari menuju kandang kuda.
Sebenarnya Elgan bukan lupa, tapi dia juga pergi untuk melakukan sesuatu. Peperangan semakin rumit saja, tapi Samantha belum siap. Apa lagi yang bisa dilakukannya. Tentu saja mengukur waktu semampunya.
Dia memasuki dimensi. Dan belum juga kembali untuk waktu yang cukup lama.
"Aku akan mengalahkanmu lagi!" Samantha memacu kudanya lebih cepat melewati pepohonan.
__ADS_1
Targetnya adalah seekor rusa jantan. Mars tersenyum miring dan mengejar laju kuda Samantha. Untung dia juga sangat cepat. Mutan melawan kecepatan kuda. River memekik kala Mars melewatinya.
"Tetap fokus River, kau harus tenang dan tidak terkecoh!"
Samantha masih merentangkan panahnya dan mencoba membidik lalu melesatkan panahnya. Sayangnya Mars juga membidik pada saat yang sama, panah mereka saling bertabrakan dan terjatuh.
Samantha tersenyum, dia semakin senang karena perlawanan Mars. Rusa itu berlari menjauh, berbelok ke arah yang berlawanan.
Samantha segera menarik tali kekang kudanya dan berbelok mengejar. Dia menoleh pada Mars yang berlari cepat menghindari pepohonan.
Samantha mengeluarkan senjata yang kemarin Elgan ambil dari para Dorna. Pisau tajam dari batu yang dia lemparkan pada laju Mars. Tentu saja Mars masih bisa menghindarinya.
"Jika aku menang kau akan memanggang untukku!" Mars mengajukan taruhanny.
"Jika aku yang menang?" Samantha balik bertanya.
"Apapun maumu tuan putri!" Mars mulai menyiapkan anak panahnya sambil terus berlari.
Begitupun dengan Samantha, dia menajamkan matanya untuk membidik rusa yang masih berlari itu. Samantha sudah biasa membidik di atas kuda yang melaju, di tambah lagi River dan Samantha adalah tim yang hebat.
Sayangnya bidikannya meleset, itu hanya nyaris mengenainya. Tapi tidak dengan Mars, laki-laki itu berdiri membidik pada perutnya. Rusa terjatuh karena sepertinya bidikan Mars tepat mengenai organ vitalnya.
Samantha telah kalah, saat ini dia sedang sibuk memanggang, tentu saja mengunakan kekuatannya. Mars tengah menyiapkan wine sebagai teman makan.
Sepertinya mereka akan menikmati malam dengan baik. Samantha lupa akan kekhawatirannya terhadap Archer dan Jasper. Mars berhasil mengalihkan pikirannya.
Beberapa orang-orang Elgan juga ikut makan daging panggang itu bersama keduanya.
"Aku pernah bermimpi untuk hidup normal seperti manusia lainnya, maksudku bisa berbelanja, sekolah, atau melakukan hal lainnya. Tapi dunia sudah lebih dulu hancur sebelum aku bisa melakukannya!" Samantha tersenyum menatap langit malam.
Mars mengusap kepala Sam, dia tahu jika mereka terlalu lama terisolasi dari dunia luar. Suatu kewajaran jika memiliki mimpi sederhana tentang sebuah kebebasan.
Samantha merapatkan tubuhnya mencari kehangatan dari tubuh Mars. Dia beruntung, ada Mars yang selalu menemaninya.
________________________
Thanks udah ikuti cerita Samantha, jangan lupa like n komentarnya ya 😉
__ADS_1