
Kamar berukuran cukup luas, dengan ornamen yang menunjukkan jika sang pemilik kamar adalah seorang pria. Namun, saat ini yang terbaring nyaman diranjang berukuran king size adalah seorang gadis. Gadis itu meregangkan badannya masih dengan mata yang tertutup rapat.
Gadis itu tidak lain adalah Samantha. Dia memaksa tubuhnya untuk duduk meski kepalanya terasa sangat pusing, sepertinya setelah hangover semalam ia juga melupakan semuanya.
Samantha mengira jika saat ini ia berada di kamarnya. Dengan santainya ia menurunkan kedua kakinya, tanpa bermaksud untuk berdiri. Matanya bahkan masih belum terbuka, tangannya terangkat ingin meraih gelas yang biasanya ia letakkan di atas nakas.
Menemukan apa yang dicarinya, ia mengambil gelas itu lalu hendak meminumnya. Tapi, ketika bibirnya baru menyentuh gelas, Samantha mendeteksi kandungan racun dalam gelas di tangannya. Samantha mengenali racun itu adalah racun arsenik, meskipun jenis racun itu tidak berbau dan berwarna. Meski demikian, dia tetap meminum air dalam gelas.
Meneguk habis air dalam gelas itu masih dengan wajah malas dan mata terpejam. Meski begitu, ia kini jadi waspada. Siapa yang ingin meracuninya? Samantha juga baru menyadari aroma feremon pria di ruangan ini. Fix, dia pasti bukan sedang di kamarnya.
Seseorang yang sedari tadi mengamati gerak-gerik Samantha, karena dia memang sudah di kamar ini sejak semalam. Bibirnya menyunggingkan senyum manis di wajah tampannya, ketika melihat jika Samantha menyadari keberadaan racun dalam gelas. Bagi mereka yang sudah mengenalnya akan merasa ketakutan saat melihat senyum itu. Manik mata hitam kelam yang biasanya berwarna abu-abu, itu juga memberi kesan dalam yang menakutkan. Setiap warna mata yang berbeda mewakili setiap karakternya.
Samantha mempertajam kepekaannya, membuka mata perlahan dengan wajah santai tanpa ekspresi. Ia melihat sosok tampan dengan tubuh di hiasi tato di beberapa bagian. Samantha bahkan sempat memperhatikan tato yang memanjang, dari bagian pinggang hingga ke dadanya.
Samantha kembali menatap netra hitam, yang masih menatapnya dengan tatapan yang sulit dia artikan. Dia tak mengerti niat laki-laki itu, yang pasti racun yang tadi diminumnya sangatlah berbahaya.
"Menarik! Kau juga anti terhadap racun!" Kalimat pertama yang di dengar Samantha dari laki-laki asing didepannya, itupun pernyataan yang membuat Samantha semakin waspada.
"Mendekatlah!"
Samantha tak bergeming, ia tak suka orang asing itu memerintahnya. Tapi beberapa detik setelahnya ia merasa tercekik, mulutnya terbuka dengan raut wajah kesakitan. Napasnya mulai sesak! Belum selesai dengan itu, tiba-tiba tubuhnya terbanting ke dinding dengan sangat keras, hingga mulutnya mengeluarkan darah.
Samantha menatap memohon pada orang itu, dengan mengangkat salah satu tangannya, yang tadi berusaha menghilangkan cekikan di lehernya. Wajahnya sudah memerah, Samantha berharap orang itu mau menghentikan ini.
Tak lama, cekikan itu menghilang. Samantha berusaha menstabilkan napasnya hingga terbatuk. Belum lagi tubuhnya terasa remuk karena menghantam dinding cukup keras tadi. Samantha melirik tajam pada orang itu, dia seorang pengendali pikiran yang juga memiliki Telekinesis seperti Xavier.
"Ap-a maumu?" Tanya Samantha setelah memuntahkan seteguk darah.
"Cukup kau turuti perintahku!" Ujarnya masih dengan wajah tanpa ekspresi.
Samantha berusaha menyembuhkan luka dalamnya, ia tak menyangka laki-laki itu ternyata adalah seorang mutan dan sangat kejam. Ia harus mencari cara keluar dari sini. Bagaimanapun pengendali pikiran bukan lawannya.
Belum juga Samantha memulihkan total dirinya, ia sudah dikendalikan dengan tiba-tiba berdiri lalu berjalan kearah orang itu. Bibirnya menipis dengan tangan mengepal ia berusaha melawan, namun sia-sia. Setelah hanya berjarak satu langkah darinya, Samantha bisa melihat lebih jelas rahang tegas, sorot mata tajam dan aura di sekitarnya juga dingin tak tersentuh.
__ADS_1
"Apa lagi bakat yang kau miliki?!" Pertanyaan itu diucapkan dengan pelan, namun terdengar mengerikan bagi Samantha, ia tak berani lagi diam seperti tadi.
"Tidak ada!" Jawabnya cepat.
Orang itu menyunggingkan bibirnya lagi yang membuat Samantha sempat terpaku, jika saja laki-laki didepannya ini tidak jahat pikirnya bodoh. Hingga ia tiba-tiba merasakan sakit yang sangat parah di kepalanya. Samantha merintih memegang kepalanya.
Laki-laki itu berusaha menyerap ingatan dari gadis di depannya, namun yang membuatnya heran adalah gagal! Ingatan itu terkunci! Untuk pertama kalinya kekuatannya tidak berfungsi pada seseorang, seperti pengecualian. Padahal pada orang matipun ia bisa menyerap pikiran mereka, lalu kenapa pada gadis di depannya ini tidak bisa.
Manik hitam itu kini berubah jadi abu-abu, aura dingin juga berubah jadi sedikit lebih hangat. Kepribadian yang lebih baik dari sebelumnya muncul untuk membuktikan sesuatu yang aneh. Samantha yang kesakitan tak memperhatikan perubahan itu. Ia masih memegang kepalanya sambil berteriak kencang.
Hasilnya tetap sama. Ingatan Samantha terkunci, itu sedikit melukai ego laki-laki itu karena gagal untuk pertama kalinya menyerap pikiran seseorang. Namun, baiknya adalah yang ada di hadapan Samantha kini bukanlah kepribadian kejam seperti yang pertama tadi. Bahkan, ia membantu Samantha duduk setelah kesakitan yang tadi di berikannya.
Manik abu-abu itu memperhatikan Samantha yang sudah mulai membaik, jika orang biasa mereka pasti akan pingsan. Kekuatan penyembuh Samantha membuat Samantha tetap bisa mempertahankan kesadarannya.
Ia mengerutkan keningnya, menatap Samantha dalam diam.
Samantha semakin membenci laki-laki didepannya, dan ia juga baru menyadari jika manik mata laki-laki didepannya telah berubah warna. Dan tatapan tajam juga berubah jadi biasa saja. Samantha tau ini, laki-laki didepannya punya kepribadian lebih dari satu, karakter berbeda juga di tunjukkan ketika tadi orang itu membantunya duduk. Samantha berjanji akan menghindari laki-laki ini di masa depan nanti jika berhasil selamat.
"Kau unik, pantas Rosgard dan Xavier sangat menginginkanmu!" Entah itu pujian atau sebuah ancaman, tapi Samantha jadi teringat Xavier. Xavier adalah pengendali pikiran yang menyebalkan tapi tidak jahat.
Orang itu tidak menjawab, ia berdiri dan berjalan kearah balkon kamarnya. Meninggalkan Samantha yang menunggu jawaban dari orang asing yang sempat akan membunuhnya. Samantha melirik kearah pintu yang ia yakini pasti terkunci. Ia kemudian mengingat jika mempunyai pisau kecil di balik gaunnya, pisau itu di lapisi racun.
Samantha sempat takut, tapi ia ingin mencoba. Kakinya melangkah yakin, ia mendekat ke orang asing itu. Menyembunyikan pisau di balik lengannya.
"Apa maumu? Kita bisa buat kesepakatan?" Samantha mencoba mengajak orang itu untuk berkompromi.
Laki-laki itu hanya menengok dan tersenyum meremehkan, membuat Samantha jadi memutar otak untuk mencari ide lain. Ikut berdiri didekat pagar pembatas balkon kamar, Samantha masih berpikir keras.
"Beritahu aku apa Kekuatanmu yang lain!"
"Aku tidak tau, aku hanya penyembuh," jawab Sam jujur, namun laki-laki itu tak mempercayainya.
"Namamu siapa? Kau juga ada di Bar semalam!" Ingatan Samantha tentang kejadian semalam memang tidak jelas tapi ia menghapal wajah-wajah orang di dalam ruangan itu dalam ingatannya.
__ADS_1
"Elgan." Samantha menoleh pada laki-laki di sampingnya.
"Itu namamu, lalu untuk yang tadi, namanya siapa?" Maksud Samantha adalah sosok yang bernetra hitam dan kejam yang hampir membunuhnya tadi.
Elgan menoleh sekilas, wajah datarnya menunjukkan jika ia tak ingin menjawab. Samantha juga tak berani bertanya lagi, tangannya bersiap untuk menusuk Elgan yang kebetulan memang tidak memakai baju.
Tangannya cepat, namun Elgan bukan laki-laki bodoh, Ia sudah tahu dan memang membiarkan Samantha mendekatinya. Samantha tak bisa melepaskan cengkraman di kedua tangannya. Tapi ia tak menyerah dengan gerakan kakinya. Dengan beberapa gerakan itu tetap tidak berhasil, pisau itu jatuh ke tangan Elgan. Dia berakhir terlempar keluar balkon dari lantai dua, Samantha pikir ia kali ini akan mati. Namun, ternyata ia terjatuh ke air.
Samantha mengerakkan tangan dan kakinya, ia berenang ke tepi, kolam itu cukup dalam. Ia merebahkan badannya begitu sampai di pinggir kolam. Mengatur napasnya lalu mengamati sekeliling. Mansion ini sepi, Samantha mencari jalan keluar. Dia segera bangkit berlari mencari pintu keluar.
Samantha tak mau menjadi korban percobaan pembunuhan laki-laki kesakitan jiwa seperti Elgan. Tetesan dari pakaian basahnya meninggalkan jejak di lantai. Mencoba membuka pintu besar yang cukup lama ditemukannya. Namun terkunci, kini pandangannya terarah pada jendela.
Menggunakan vase besar untuk memecahkan kaca jendela, namun suara seseorang membuatnya berbalik. Bagaimana ia bisa keluar sekarang? Samantha berharap Xavier bisa menemukannya hidup-hidup.
"Kau tidak akan bisa keluar, kecuali aku mengijinkannya! Mansion-ku memang tidak di jaga ketat karena aku punya penjagaan sendiri. Lebih hebat dari House of Talent, karena bahkan Rosgard ataupun Xavier tak akan menemukanmu di sini." Elgan masih dengan wajah datarnya, berlalu meninggalkan Samantha yang masih berdiri dengan wajah kesal.
Samantha tidak mengenal siapa Rosgard, tapi ia pernah mendengarnya dari Archer. Lalu apa hubungan antara ketiganya. Siapa Elgan sebenarnya, dan bagaimana ia bisa pergi dari sini?
Kebingungan yang dirasakan Samantha juga dirasakan oleh Xavier. Laki-laki itu saat ini sedang menunggu Mars sadar. Luka Mars cukup parah, meski sudah ditangani dengan baik oleh teman Catlin.
"Terimakasih kau sudah merawatnya, kami akan membawanya pulang." Catlin mengangguk, sebenarnya ia masih khawatir dengan keadaan Mars, meski baru kenal semalam tapi Catlin memang orang baik yang suka menolong.
Xavier menyuruh Xorn membantu proses penyembuhan Mars, Xorn seorang penyembuh seperti Samantha, selain itu juga dapat memanipulasi gelombang elektromagnetik dan gravitasi.
Mereka dapat mengetahui keberadaan Mars, dengan melacak keberadaannya. Tapi anehnya ia tak merasakan keberadaan Samantha. Xavier marah, sangat marah pada keduanya. Bagaimana bisa mereka ceroboh dan ikut campur dalam masalah Human trafficking.
Mereka kembali ke House of Talent. Xavier kembali keruangannya, di sana sudah ada Archer yang berwajah cemas dan Sage yang sedang mencari keberadaan Samantha lewat komputernya
________________
**Penulis akan sangat menghargai setiap like dan komen yang di berikan pembaca, karena dengan ketersediaan kalian untuk meninggalkan jejak di cerita ini membuat penulis lebih bersemangat lagi 😉.
terus ikuti kelanjutan dari novel ini yah
__ADS_1
happy reading 😘**