
Brian datang dengan wajah yang tampak memar, Samantha juga Sky melihatnya heran. Samantha sudah berada di depan sebuah apartemen bersama Sky sejak setengah jam yang lalu. Kini Brian tiba-tiba datang dengan banyak luka lebam, dan lagi rahang tegas yang menunjukkan adanya ketegangan.
Samantha menyentuh pada titik luka untuk menyembuhkannya, ketika mereka bertiga telah bersembunyi dalam sebuah ruangan. Brian menyewa sebuah ruangan di lantai lima, tepat di bawah lantai apartemen Mr.Riz tinggal.
"Kau dari mana?" tanya Samantha yang melihat Brian masih terus mengamati keadaan luar dari jendela.
"Mengejar mutan yang mengikuti kita, sepertinya setiap gerakan kita telah di awasi sejak kita turun dari pesawat." Brian melihat pada Sky yang duduk diam di atas tempat tidur.
Samantha juga merasakannya, akan tetapi dia berusaha biasa saja seperti usulan Sage. Brian melihat jika para mutan yang mengejarnya, juga sudah menemukan keberadaan mereka dalam gedung apartemen ini.
Brian mengatakan rencana baru untuk membawa Mr.Riz pulang ke House of Talent. Misi penjemputan kali ini berubah menjadi misi penyelamatan. Sepertinya akibat dari kedatangan mereka ke sini, membuat mutan lain jadi mengetahui keberadaan Mr.Riz yang telah lama menghilang.
Sky hanya tetap diam menyimak, dia tak pernah mengetahui jika kehidupan di luar begitu penuh ketegangan. Brian sedikit khawatir dengan Sky, karena jumlah mutan di luar sana terlalu banyak, sulit untuknya bisa memastikan keselamatan Sky.
"Aku akan lebih dulu mencoba mengecoh, kalian harus segera membujuk Mr.Riz secepat mungkin." Brian menyiapkan senjatanya juga alat yang tadi diberikan oleh Sage.
Samantha sudah berada di depan pintu Mr.Riz tentu tanpa senjata. Tapi dia telah mengenakan kacamatanya. Melirik ke bawah pada Sky yang juga menunggu pintu terbuka.
Cukup lama menunggu, pintu itu tak kunjung terbuka. Padahal menurut informan-nya Mr.Riz belum keluar apartemen sejak pagi. Keduanya saling menatap karena waktu mereka tak banyak jika hanya untuk menunggu di depan pintu.
Samantha mencoba membobol kunci sandi apartemen itu. Samantha sudah pandai dalam hal itu, karena banyak hal yang dia pelajari setelah Mars dan Archer menghilang. Samantha yang malas, jadi lebih gigih untuk mempelajari banyak hal dan berlatih lebih giat.
Setelah beberapa detik, pintu itu terbuka. Samantha mengangguk, memberi tanda pada Sky untuk masuk mengikutinya. Sky masih dengan wajah datarnya mengikuti instruksi Samantha.
Ruangan gelap menyambut kedatangan mereka. Samantha jadi waspada, untung saja kacamatanya memiliki fungsi yang lebih baik dalam gelap.
Derap langkahnya terdengar memasuki ruangan sunyi seperti tak berpenghuni. Namun, Samantha yakin jika Mr.Riz ada di dalam ruangan ini dan mengetahui kedatangannya. Kekuatan Mr.Riz yang sangat peka hingga dapat mengetahui keberadaan mutan yang tak terlihat sekalipun.
"Hallo, emh Mr.Riz. Aku tahu kau ada di dalam," Sapa Samantha pada kegelapan yang masih menenggelamkan keduanya dalam ruangan itu.
"Aku tidak berniat mengganggu, mungkin kau ingin melihat kami terlebih dahulu," Samantha memang bisa melihat dalam gelapnya ruangan, akan tetapi tak nampak keberadaan siapapun di sana.
Masih belum mendapatkan sahutan, Samantha tidak ingin menyerah, dia mencoba menyalakan lampu ruangan. Ketika ruangan sudah nampak terang, barulah Sky bisa melihat keadaan ruangan itu.
__ADS_1
Ruangan yang tak lebih nampak seperti perpustakaan. Banyak buku yang tertata rapi di rak-rak besar dan ada juga yang berserakan di atas meja. Jadi, kemanakah Mr.Riz sekarang berada?
Samantha menelusuri ruangan mencari jejak yang bisa menjadi petunjuk. Karena feeling-nya meyakini jika memang ada seseorang di ruangan ini. Sky mengambil inisiatif untuk membuka jubahnya, menunjukkan sayap berwarna gelap yang sungguh cocok terpasang indah di punggungnya.
Samantha tersenyum, waktu mereka tak banyak. Jika Mr.Riz melihat, pasti dia akan keluar. Menurut Xavier, hanya Sky yang akan bisa membuat Mr.Riz mau ikut kembali ke House of Talent.
Benar saja baru beberapa detik, sebuah rak buku bergetar dan bergeser menunjukkan tangga menuju ke bawah. Samantha mengerti dan langsung mengajak Sky untuk menuruni tangga itu.
Kaki kecil Sky menapak perlahan mengikuti langkah Samantha, lorong di tangga ini sangatlah gelap. Samantha membantu Sky berjalan dengan menggandeng tangannya.
Puluhan anak tangga telah mereka lewati, kini mereka sedang berada dengan sebuah pintu. Tangan Sam terangkat meraih handle pintu. Setelah pintu terbuka menampakkan seseorang sedang serius dengan apa yang dilakukannya.
"Hallo Mr.Riz," sapa Samantha tersenyum ramah.
Mr.Riz masih sibuk dengan kegiatan menulisnya. Samantha tak lagi berani berbicara, Xavier sudah mengingatkan tentang tidak boleh menyinggung Mr.Riz sedikitpun.
Waktu berlalu, membuat Samantha jadi bingung. Brian pasti kualahan menghadapi banyak mutan sendirian, meski ada penjaga bayangan lain, tapi mereka juga tidak akan bisa mencegah mereka terlalu lama.
"Ehm." Samantha berdehem, bermaksud mengingatkan Mr.Riz jika dia masih menunggu tanggapannya.
"Aku ingin menjemputmu untuk kembali ke House of Talent." Samantha langsung mengungkapkan maksudnya, karena Mr.Riz tak akan menyukai basa-basi.
Baru setelah Samantha mengungkapkan niatnya, Mr.Riz menoleh pada gadis cantik yang terlihat polos dan makhluk kecil bersayap yang terus memperhatikan jam unik di atas mejanya.
"Beri aku alasan!" Mr.Riz tidak menolak secara langsung, tapi itu berarti Mr.Riz tidak akan setuju ikut jika alasannya tidak menarik.
"Kami membutuhkanmu," ujarnya tanpa sedikitpun mendapatkan perhatian.
Mr.Riz sibuk memperhatikan makhluk mungil di sebelahnya. Samantha mencoba mendekat, bersama Sky yang di angkatnya dalam gendongan. Sky sedikit merasa terusik dan tidak suka, tapi dia pada akhirnya hanya diam dengan pasrah.
"Aku kehilangan temanku, juga kakakku, emh maksudku guru yang sudah seperti kakakku."
"Kenapa aku harus membantumu?" Mr.Riz nampak tak tertarik menolongnya.
__ADS_1
"Entahlah," jawab Samantha kesal dengan wajah yang tetap ramah.
Mr.Riz berdiri mendekati keduanya, dia melihat pada sosok kecil dalam gendongan Samantha. Sayap hitam Sky memang sangatlah menarik, tapi ada yang lebih menarik Mr.Riz hingga dia sedikit mengernyitkan dahinya.
"Kau pasti keberatan gadis kecil." Mr.Riz mengambil alih Sky yang memang sudah terlalu besar untuk di gendong seorang gadis seperti Sam.
"Ayahmu bernama Joe?" tanya Mr.Riz ingin memastikan sesuatu.
"Ya," jawab Sky singkat meski dirinya heran karena orang asing di depannya mengetahui nama ayahnya.
"Kau mewarisi matanya, dan bibir ibumu." Mr.Riz sedikit menyunggingkan bibirnya.
Joe ayah dari Sky adalah teman Mr.Riz yang dulu sangatlah akrab. Sejak Joe ditinggalkan mendiang istrinya, Joe menarik diri dari lingkungan. Mr.Riz yang dulu sempat mempunyai masalah pribadi dengan Joe sempat ingin menemui teman lamanya itu. Namun, urung ia lakukan.
Bibir mungil milik Sky sangatlah mirip dengan sang pujaan hati, meski dia tak pernah mendapatkan balasan akan perasaannya. Mr.Riz masih sangat menyayangi wanita itu dalam hatinya. Kini, makhluk mungil yang adalah putra dari wanita pujaannya berada dalam gendongannya.
"Siapa namamu?"
"Sky."
"Waw, nama yang bagus." Mr.Riz meneteskan air mata begitu mendengar nama bocah mungil dalam gendongannya.
Sky adalah nama tengah ibunya. Karena sang ayah tak ingin jika nanti Sky melupakan nama orang tuanya, dia memberikan nama Sky Eleanor. Eleanor adalah nama belakang Joe yang berasal dari nama belakang ibunya, yang berarti nenek Sky.
"Maaf, Mr.Riz kita tak punya banyak waktu. Di luar banyak mutan yang berusaha menyerang." Samantha baru saja mendapatkan informasi dari Brian, jika dia akan menjemput mereka karena mutan di luar tak lagi bisa di tahan lagi.
"Aku tahu, jadi Xavier yang mengirimmu?" Mr.Riz sudah mengetahui jawabannya, dia juga bergegas menuju ke ruang lain yang berada di belakang meja besar.
_______________
***Happy reading 😊
jangan lupa tinggalkan jejak ya 😘
__ADS_1
beri author sedikit semangat.... author mengalami mood yang sering berubah-ubah Minggu ini, lah curhat
tapi sungguh, author akan sangat menghargai setiap like n komentar dari readers, love u geez***