
Sudah lima tahun berlalu, Samantha kecil sudah sangat pintar dan tumbuh tinggi. Hari ini ia sangat senang, besok kakaknya Emilio akan menikah. Di pagi hari semua orang sudah sangat sibuk.
Samantha sedang duduk di taman mengamati Kakaknya Jasper dan Delwyn yang sedang berlatih pedang. Setiap pagi ia akan duduk mengamati mereka latihan. Di usianya ia belum pernah keluar dari rumah sekalipun. Ia akan bertemu orang-orang ketika ada acara di rumahnya.
Samantha adalah anak yang cerdas, ia bisa belajar hanya dengan mengamati, ia punya ingatan kuat tentang berbagai hal yang di lihatnya.
Seperti saat ini ia sedang mengoceh meneriaki kakaknya.
"Jasper, perhatikan lengan kirinya. Kaki kanannya juga sedang lemah!" teriaknya pada Jesper Karena ia hampir kalah oleh Delwyn.
"Ah, kau harus memukul titik lemahnya. Dia terlalu cepat! kau bisa kalah!" Teriaknya lagi yang membuat Delwyn jadi geram.
"Delwyn, melompat!" teriaknya lagi.
"Ah, Jasper kau menang. Padahal Delwyn lebih cepat darimu," Ujar putri kecil itu pada kakaknya yang berjalan mendekat ke arahnya.
"Ya, itu karena kau terus mengoceh!" kesal Delwyn, tapi juga sangat gemas dengan adik kecilnya ini.
"Jasper, kau harus memberiku permen, aku sudah membantumu tadi!" Tagihnya pada sang kakak.
"Hei, itu bukan karenamu setan kecil. Itu karena aku memang ahli strategi." Kilah kakaknya meletakkan pedang di sampingnya.
"Hei aku cantik seperti peri, bukan setan!" protes Samantha.
"Ya, lalu kenapa kau tak ikut Mommy Hem? Kau tak ingin memilih baju bagus untuk besok?" tanya Jasper memangku adiknya itu.
Samantha menggeleng, Ia suka memakai baju bagus, tapi ia tak suka mengikuti Mommy nya. Ia lebih suka mengikuti kakak-kakaknya.
"Itu Mommy berjalan kemari, Ia pasti akan memarahimu!" Delwyn menakut-nakuti Samantha.
Samantha bergerak ingin turun dari pangkuan Jasper, tapi ia kalah cepat dengan Mommy nya. Tangan Margareth sudah berada di perut Samantha. Menggelitik perut putri nakalnya.
"Kau ingin bersembunyi Hem?" Tanya Margareth mendudukkan Samantha di depannya.
"Sam, bosan! Mommy sibuk dengan persiapan pernikahan Emilio." Sahutnya kesal. Wajahnya tak ingin menatap pada Mommy nya.
"Kau tak suka? Kemarin siapa yang bilang ingin bertemu Nattalie, ya?" Margareth pura-pura bertanya.
Samantha berubah ceria, ia memeluk leher Mommy nya. Nattalie adalah kekasih Evan, dan Samantha sangat akrab dengan kekasih kakaknya itu. Jasper dan Delwyn hanya duduk santai mengamati dua wanita paling berharga dalam hidup mereka.
"Mommy tidak ingin kau selalu mengikuti mereka, Mommy tak ingin putri cantik Mommy pandai berkelahi," Ujar Margareth menciumi wajah cantik Samantha.
Jasper dan Delwyn saling menatap, Mereka memang tidak mengajarkan apapun. Tapi Samantha sangat pandai mengingat. Adiknya itu bahkan bisa menggunakan pedang dengan baik. Tapi untunglah Mommy nya ini tidak tahu. Karena setiap Samantha cidera setelah ikut berlatih pedang, lukanya langsung menghilang tanpa jejak.
"Hei, Apa kepalamu masih pusing?" tanya Margareth karena Samantha tiba-tiba jadi diam tak fokus.
"Hei nak, bicaralah." Panik Margareth menggoyang badan Samantha di pangkuannya.
Jasper dan Delwyn yang melihat adiknya tiba-tiba tak menyahut langsung ikut berdiri menghampiri. Jasper mengangkat Samantha lalu memegang dagunya agar melihat tepat ke matanya. Benar saja pandangan Samantha kosong.
Margareth menyuruh Jasper membawa adiknya masuk ke dalam rumah. Jasper merebahkan Samantha di ranjangnya. Mata Samantha terbuka tapi tak ada jejak bayangan yang melintas di matanya. Akhir-akhir ini memang hal seperti itu sering terjadi pada Samantha.
Saat sadar Samantha akan bilang jika ada yang mengajaknya mengobrol dalam pikirannya. Jadi saat ini mereka hanya menunggu hingga kesadaran Samantha kembali pulih.
__ADS_1
"Ini pasti ulah mutan, mungkin mereka mulai mengetahui keberadaan Samantha." Jasper berspekulasi berdasarkan apa yang di lihatnya.
"Ya, mereka semakin gencar mencari para bakat, untuk di ajak bergabung. Bagaimanapun kita tak akan bisa terus menyembunyikan Samantha dari mereka. Mereka terhubung!" Sahut Delwyn menyetujui.
"Tidak! mereka tidak terhubung begitu saja. Hanya para telepatis yang bisa melakukan ini." Jawab Margareth sedih melihat keadaan putrinya.
Samantha bukan hanya penyembuh luar biasa, ia juga anti terhadap semua racun dan patogen. Entah apa lagi bakat yang dimiliki Samantha, yang jelas itu semakin membuatnya semakin di cari oleh mereka.
"Apakah, para mutan bisa saling merasakan keberadaan mutan lain di dekatnya?" tanya Jasper pada Margareth.
"Tidak, hanya bakat tertentu yang bisa. Bahkan tak akan menyadari kecuali menunjukkan bakat secara langsung."
Mereka kalut, takut jika Samantha akan diambil dari mereka. Putri kecil rumah ini yang paling disayangi.
"Hei sayang, mana yang sakit?" Tanya Margareth begitu melihat putrinya bangun.
"Sam, hanya merasa pusing," jawabnya polos.
"Apa mereka mengatakan sesuatu?" tanya Delwyn tidak sabar.
"jangan di tanya dulu!" Marah Margareth pada putranya itu.
"Em, bukan mereka tapi satu orang!" jawab Samantha.
"Apakah orang yang sama?"
"Ya, dia mengajak Sam untuk pergi bersamanya." Samantha mengingat-ingat apa saja yang di katakan orang dalam pikirannya.
"Jangan mau! apapun yang orang itu katakan jangan mau oke?" sanggah Delwyn cepat.
"Apa sangat pusing? Sam ingin minum obat obat?" tanya Margareth pada putrinya yang sedang memegang kepalanya itu.
"Sam, tidak minum obat!. Kepala Sam pusing Mommy." Rengek putri kecil itu bersandar pada pundak Mommy nya.
"Baiklah, istirahatlah. Mommy akan menemanimu." Margareth ikut berbaring di sebelah putrinya.
Jasper dan Delwyn memilih keluar, Mereka berjalan bersama menuju ruang makan.
"Hubungi Daddy, Bilang padanya kita harus segera membicarakan masalah ini sebelum semakin serius," ujar Jasper pada Delwyn yang langsung mengangguk dan mengeluarkan ponselnya menghubungi sang Ayah.
........
Saat makan malam, mereka semua berkumpul. Ya keluarga Windson punya peraturan tidak tertulis mengenai makan malam. Mereka harus makan bersama, setidaknya di saat makan malam. Karena kesibukan di pagi dan siang hari membuat mereka jarang bertemu, dan saat malam lah mereka bisa bertemu dan bercerita.
"Daddy, tadi Delwyn hampir mengalahkan Jasper." Adunya pada Daddy-nya.
"Oh ya, Apa itu berarti kau tidak membantu Mommy menyiapkan pesta." Tanya Daddy pada Samantha.
Samantha hanya menggeleng. Harusnya ia tidak cerita agar tidak ketahuan jika tadi tidak ikut membantu Mommy menyiapkan pesta.
"Apa Samantha besok akan ikut berjalan di altar? Samantha juga ingin jadi pengantin Seperti Illona." Gerutunya sambil menyantap makanan di depannya.
"Ya, besok kau akan berjalan di altar. Tapi bukan jadi pengantin. Kau akan jadi bridasmaid." Sahut Leonel di sampingnya.
__ADS_1
"Evan, Jasper besok ambil alih keamanan. Pastikan besok aman tanpa ada masalah. Perkuat di bagian pintu masuk Gereja." Titah Charles pada keduanya.
"Ya, aku sudah siap dengan kamera di setiap sisi jalan yang akan kita lewati." Beritahu Evan.
"Para mutan, akan mengecoh saat ada keramaian. Mereka berusaha menunjukkan eksistensinya. Jadi pastikan besok tidak ada pengacau." perintah tegas dari Charles di angguki oleh semuanya.
"Kau Samantha, Jangan jauh-jauh dari Leonel. Apapun yang terjadi! mengerti?!" Samantha juga mengangguk mengikuti apa yang di lakukan kakak-kakaknya.
Margareth tersenyum melihat satu-satunya makhluk mungil di ruangan ini. Tangan kecilnya sibuk dengan paha ayam di piringnya. Margareth ingin menceritakan kejadian tentang Samantha tadi pada Charles. Tapi, melihat wajah lelahnya, ia jadi tak tega. Mungkin lain kali pikir nya.
Keluarga Windson tak mengetahui, saat mereka melakukan persiapan. Para mutan di luar sana juga melakukan persiapan. Besok adalah hari bahagia untuk keluarga Windson tapi juga ada harga yang harus di bayar dari kebahagiaan itu. Kehilangan, besok mereka akan merasa kehilangan.
Jasper tak bisa tidur, menurutnya ada yang salah. Ia sudah mengecek ulang tugasnya. Semua sudah sesuai rencana yang mereka buat. Tapi seperti ada yang salah. Ia beranjak dari Kasurnya.
Menatap ke arah langit dari balkon kamarnya. Rumah ini punya keamanan ketat. Tanpa ada celah, tapi itu untuk mereka yang tidak punya bakat istimewa. Jasper sedang berusaha mengembangkan sistem keamanan yang bisa mendeteksi keberadaan Mutan. Namun, saat ini belum berhasil.
"Kau sedang memikirkan apa?" tanya Emilio pada adiknya. Ia tadi tak sengaja lewat kamar ini dan melihat Jasper belum tidur.
"Kau merasa ada yang aneh tidak?"
"Sudahlah, kau sudah melakukan yang terbaik. Besok, aku serahkan semua kepadamu. Dan, kenapa tadi Kau menelpon?"
"Sam, dia berbicara lagi dengan orang dalam pikirannya. Orang itu mengajak Sam untuk tinggal bersamanya." Jasper menoleh biasa kakak tertuanya.
"Entahlah, sulit untuk mencegahnya. Tapi setidaknya kita berusaha sebaik mungkin melindunginya dari para pencari itu." Emilio bukan tidak memikirkan, tapi bahkan teknologi saat ini belum bisa mencegah para telepatis.
"Mereka, bagaimana bisa mereka ada?" tanya Jasper yang lebih di tunjukkan pada dirinya sendiri.
"Ada, Samantha nyata. Kekuatannya benar-benar bisa menyembuhkan lukamu saat kau hampir mati waktu itu."
"Hei, jangan ingatkan aku dengan kejadian mengerikan waktu itu. aku telah berjanji untuk mengembangkan senjata yang lebih hebat lagi, untuk membasmi para mutan sialan itu."
Emilio mengerutkan dahinya, Ia menepuk punggung Jasper.
"Ingat kata Mommy, tidak semua mutan itu jahat sama seperti manusia. Di luar sana ada banyak manusia yang lebih jahat." Emilio berlalu pergi setelah mengatakan itu.
.......
Jauh di suatu tempat, ada anak laki-laki berumur sebelas tahun sedang memainkan pisau dengan kendali pikirannya. Iya, dia seorang Telekinesis. Tapi dia bukan Telekinesis biasa. Karena dia bisa menyerap pikiran orang dari jarak jauh tanpa menyentuh. Bahkan orang matipun ia masih bisa menyerap pikirannya.
Kekuatan mengerikan itu di barengi dengan kesakitan jiwa. Ia mempunyai banyak kepribadian. Sehingga orang terdekat pun akan sangat takut padanya. Dia hanya pribadi yang kesepian. Jauh di dalam jiwanya ia hanya rindu kehangatan.
Mempunyai kekuatan seperti itu tidak lah mudah. Ia di jauhi karena di anggap aneh, hingga itu membentuk banyak kepribadian dalam dirinya. Elgan melempar pisau itu hingga mengenai salah satu orang di ruangan itu.
"Bawa dia keluar." Titahnya pada Jared.
Jared tidak mengatakan apapun, matanya bergerak kearah mayat tersebut dan muncul lah lubang hitam. Ia melempar mayat itu ke dalam lubang hitam lalu lubang itu menghilang.
Jared punya kekuatan memancarkan seberkas cahaya berwarna Ruby dari matanya yang bertindak sebagai lubang interdimensionsal antara alam semesta.
"Apakah anak itu sudah ditemukan?" tanya Rosgard sebagai pemimpin dalam peperangan melawan umat manusia.
"Sudah, tapi Xavier juga sedang mengincarnya." jawab Jean.
__ADS_1
"Menarik, kita akan lihat siapa yang lebih dulu bisa menariknya." Rosgard sangat membenci Xavier karena kenaifannya.
Xavier dan Rosgard berada pada pihak yang berlawanan. Rosgard ingin melenyapkan bangsa manusia dari bumi ini. Sedangkan Xavier ngin mendamaikan antara manusia dan para mutan.