Lost Princess

Lost Princess
Sneaking up


__ADS_3

Dalam ruangan berbahan dinding kaca tersebut, Elgan masih menunggu dengan mengamati layar monitor. Tubuh Samantha masih stabil tanpa sedikitpun perubahan yang signifikan. Ilusi yang diberikan pada Samantha seperti tidak mempengaruhinya. Membuatnya ragu, apakah ia gagal untuk menbuat ilusi pemicu.


Elgan seharusnya bisa melihat bentuk ilusi dan apa yang akan dilakukan Samantha dalam ilusi tersebut. Tapi, karena kali ini berbeda dari yang pertama, dia tidak bisa melihatnya.


Elgan mendekati fisik Sam, mengusap sisi wajahnya yang tampak tenang. Seperti sedang berada dalam mimpi indah yang memabukkan.


"Ini seharusnya tidak seperti ini, apa kau sedang meledekku?" Elgan bertanya pelan di samping telinganya.


Jelas tidak ada respon dari gadis muda itu. Suara marahnya yang biasa memekakkan telinga juga tidak akan keluar untuk menjawab. Masih dengan mencoba mencari tahu, tangannya terulur mengecek letak chip yang tertanam.


"Jika sakit, berteriak lah. Jangan buat aku bingung!"


Elgan menyelimuti tubuh bagian depan yang terbuka dengan kemejanya. Masih berdiri mengamati, berharap semua sesuai yang dia perkirakan. Dia bertelanjang dada menunggui putri tidur yang masih tidak menunjukkan respon apa-apa. Jika saja dia bisa menyerap ingatannya, tentu saat ini dia tidak akan berada dalam keraguan.


"Jika kau marah, kau nanti boleh memukulku. Tapi, cepatlah bangun. Ini sudah lima hari, dunia butuh bantuanmu segera!"


Elgan sudah berada di ruangan itu selama lima hari lamanya. Tanpa sedikitpun keluar atau melakukan apapun selain berdiri, bergantian mengamati layar dan putri tidur yang masih tampak lelap. Sedangkan Elgan sendiri tidak sedikitpun mendapat tidurnya.


Kembali, dia menyapa Samantha dengan suara kecil di telinganya. Barulah setelah sekian lama, muncul ekspresi yang berbeda pada wajah cantik Samantha. Kerutan samar yang menandakan setidaknya ada respon.


Tangannya terulur mengusap kerutan di dahinya. Bertanya-tanya apa yang sedang dilakukannya dalam ilusi. Padahal ilusi itu adalah buatan Elgan sendiri, tapi dia tidak lagi yakin karena apa yang seharusnya terjadi tidak sesuai apa yang dia perkirakan.


Di sisi lain, pertarungan semakin sengit di garda depan. Archer dan Jasper sudah ikut bergabung dalam perang sejak dua hari lalu. Mereka sudah memiliki jejak luka pada bagian tubuhnya karena melawan mutan pimpinan Rosgard.


"Kenapa Elgan dan Samantha tak kunjung muncul?" tanya Jasper lebih pada dirinya sendiri.


Dia khawatir adiknya gagal, padahal hanya dia harapan yang dia miliki saat ini. Situasi dalam camp juga penuh dengan orang yang mulai ketakutan, marah dan kesakitan. Dia bisa hidup hingga saat ini juga sudah sesuatu yang baik.


"Kau tidak akan ikut perang besok, biar yang lain dulu!" Charles masuk dalam ruangan perawatan tempat Jasper di rawat.


Para penyembuh dan dokter telah bekerja sama selama ini. Luka tusukan cakar milik mutan yang menancap dalam perut Jasper juga sudah di sembuhkan. Tapi keadaan ini tidak bisa bertahan lama, karena semua orang sudah kelelahan.


"Aku tetap akan ikut, Dad. karena banyaknya yang gugur dalam perang membuat garis depan sudah sangat kesulitan. Bagaimana aku akan berdiam diri di sini!"


Charles memupuk punggung Jasper pelan. Seluruh anaknya adalah pejuang yang pantang menyerah, di usia tuanya dia cukup senang bisa melihat mereka bekerja sama. Hidupnya mungkin tak akan lama lagi. Tapi semoga semua putranya juga akan memiliki kesempatan sama untuk menjadi tua.


"Aku menunggu Sam, Daddy. Akankah dia berhasil?"


"Aku masih akan percaya ada harapan itu. Jadi tenanglah, adikmu pasti bisa!"

__ADS_1


Meski tidak pernah lagi melihat putrinya, Charles tetap yakin jika Samantha adalah solusi seperti yang dikatakan Jasper diawal kedatangannya.


Charles keluar dari ruang perawatan. Dia berjalan melewati beberapa camp yang terkadang terdengar suara rintihan. Sudah beberapa minggu, tapi tidak ada tanda-tanda perang akan usai.


"Aku mencarimu, Dad!" Delwyn menghampiri ayahnya.


"Kau akan keluar?" Charles mengamati senjata yang dipegang putranya.


"Aku akan ikut Archer dalam pengamatan dengan para mutan lainnya. Aku hanya ingin memberitahumu agar tidak memberitahu kakakku!" Delwyn mengangkat alisnya mengajaknya kompromi.


"Jaga dirimu, ingat untuk kembali ke sini lagi bagaimanapun caranya!" Delwyn mengangguk dan berlalu pergi.


Charles menundukkan kepalanya. Misi pengintaian terlihat mudah, nyatanya itu lebih berbahaya karena harus mendekat ke bagian wilayah musuh.


"Kau selalu membawa panah, apa itu lebih baik dari pada peluru?" tanya Delwyn saat dalam perjalanan.


"Yah, aku paling ahli dalam hal ini!" jawab Archer pendek, dia merasa seperti sedang bersama Samantha versi laki-laki.


"Apa adikku juga bisa menggunakannya?" Delwyn masih tidak berhenti mengoceh meski Archer hanya menjawab acuh.


"Dia satu-satunya muridku. Jelas dia tak kalah cakapnya!"


"Yah, dia masih gadis nakal!" Archer menambah kecepatan pesawatnya meninggalkan Delwyn yang masih terpaku dengan apa yang diucapkannya.


Mereka semua mengendarai pesawat ukuran sangat kecil, hanya di peruntukkan untuk satu orang. Jumlah yang ikut dalam misi pengintaian ada sekitar dua puluh pesawat yang berarti dua puluh orang.


Mereka sudah cukup dekat dengan wilayah musuh, jadi mulai melakukan mode penyamaran. Pesawat mereka tidak akan terlihat, meski bisa dideteksi. Tapi, butuh waktu sekitar tiga puluh menit untuk bisa terdeteksi oleh alarm musuh.


Mereka berpencar menjadi sepuluh bagian. Menyebar kesetiap penjuru untuk mencari tahu jenis kekuatan musuh dan rencananya. Sayangnya mereka memiliki batasan, tidak bisa mendekati bagian inti. Karena pendeteksi di wilayah itu lebih canggih lagi.


Delwyn turun dari pesawatnya yang dia daratkan di atap sebuah gedung. Terlihat jika ada beberapa mutan yang berjaga di sana. Dia menyelinap masuk mencari informasi yang mungkin bisa dia dapatkan dari sana.


"Besok, kita akan melakukan serangan serentak. Jadi siapkan stamina kalian!"


Delwyn duduk bersembunyi di balik tembok. Tidak jauh darinya, ada kumpulan mutan yang sedang berbincang. Dia mendengakan masalah yang mereka bicarakan. Dari pembicaraan itu, dia dapat tahu jika sepertinya esok akan jadi hari yang panjang untuk semua pihak.


Badannya bergulir ke samping karena sepertinya ada yang mengetahui keberadaannya. Delwyn telah bersiap dengan senjatanya jika mereka menyerang. Dia terus bergerak agar tidak ketahuan pihak musuh.


Mereka sangat cakap dan cepat. Padahal Delwyn juga sangat lincah dalam setiap gerakannya. Mereka jadi saling mengejar karena Delwyn telah ketahuan.

__ADS_1


Dia berusaha menghindari serangan. Bagaimanapun ini wilayah mereka, jelas mereka lebih paham struktur bangunannya. Dia terus berlari dan menghindari serangan. Ada mutan yang memiliki kemampuan seperti laser pada matanya.


"Sial, perutku hampir saja dilubangi olehnya!" maki Delwyn masih terus menambah kecepatan larinya.


Delwyn melepaskan bom asap beracun untuk menghambat mereka. Dia menaiki tangga dan bertemu mutan lain yang siap melawannya. Kemampuan mutan di depannya itu adalah ilusi.


Dia bahkan bisa melihat istrinya tiba-tiba memanggilnya. Lalu seruan Margareth, ibunya juga seakan bersama sangat dekat dengannya. Hingga sesuatu terasa menusuk di perutnya. Darah mengalir deras tapi dia masih berada dalam ilusi.


Kemudian seperti ada tangan yang menariknya dari mimpi indah tersebut.


"Bodoh! Kau mencari mati!" marah seorang mutan yang tadi ikut dalam tim pengintaian.


"Ap—," barulah Delwyn menyadari perutnya telah berdarah-darah dan terasa menyakitkan.


Dia melihat mutan tergeletak di anak tangga bawahnya. Untunglah temannya itu menyelamatkan dari jerat mutan sialan, yang membuatnya jadi benar-benar rindu istrinya sekarang.


"Untung kau datang, atau aku yang akan membunuhnya!" ucapnya sombong membuat rekan mutannya tadi berdecak kesal.


"Kau ini! Ayo, kita akan tertinggal tim!" Rekan mutannya itu membatu dirinya untuk berjalan menuju pesawatnya.


Tidak terlihat, tapi dia bisa merasakan sensornya karena terhubung dengan chip di tangannya. Mereka berdua sudah melesat pergi menjauhi wilayah gedung. Saat ini mungkin anak buah Rosgard bersiap memburu mereka.


Beberapa tembakan menyerang pesawat keduanya. Mereka hanya harus menghindari pertarungan agar tidak memicu yang lainnya. Dua pesawat itu berusaha mencapai batas luar camp musuh. Hujan tembakan membuat pesawat mereka mengalami kendala.


"Kau pergilah, aku akan memancing mereka ke arah lain!" Suara audio yang diarahkan pada Delwyn.


"Aku tidak akan meninggalkanmu! Aku saja yang melakukannya!"


Delwyn akan membelokkan pesawat ketika rekan mutannya sudah lebih dulu berbelok menuju arah yang berbeda.


"Damn!" Delwyn merasa sangat kesal melajukan pesawatnya keluar wilayah musuh.


"Dimana rekanmu?" tanya Archer malalui audio, semua telah menunggu di depan sana.


Delwyn tidak menjawab, tapi hanya dengan diamnya itu, semua sudah mengetahui maksudnya. Mereka kehilangan lima orang dalam tim. Semoga informasi yang mereka dapatkan setimpal dengan perjuangan para rekan yang gugur.


_____________________


Jangan lupa like n komentar

__ADS_1


__ADS_2