
Gemuruh suara dari dalam bumi juga didengar oleh semua orang. Suara dengungan yang kadang terdengar keras, juga ada getaran dalam skala besar yang mengguncang beberapa daerah.
Krisis baru yang menjadi momok menakutkan bagi masyarakat. Mereka khawatir dengan apa yang tidak mereka ketahui. Beberapa ahli mulai merasakan ketakutan yang berlebih, karena apa yang baru saja mereka ketahui.
Di suatu tempat, seorang gadis baru saja bangun dari pelatihannya. Dia berdiri tegak di antara reruntuhan bangunan, dengan laki-laki yang berdiri di sisinya.
Jika dulu dia jatuh pingsan saat pertama kali melakukan uji coba, kali ini dia bangun dengan kekuatan yang telah terbentuk. Kekuatannya membuat bangunan berdinding kaca itu hancur dalam sekejap. Elgan yang baru akan berteleportasi juga dikejutkan oleh genggamannya tangan kuat, yang membuatnya ikut terlindungi oleh tekanan.
"Kau bohong padaku!” kata pertama yang keluar dari bibir gadis itu adalah sebuah protes.
"Aku akan menebusnya nanti!" jawab Elgan santai, kemudian menariknya masuk dalam portal yang baru dibukanya.
"Buminya berguncang!" ujar Samantha saat mereka sampai di hutan kembali.
"Kau hampir terlambat, ayo!"
Samantha ikut tertarik menuju ke ruangan khusus milik Elgan. Dia baru pertama kali masuk dan dibuat takjub oleh beberapa senjata yang tertata rapi di sebuah kotak penyimpanan khusus.
Samantha terpana pada satu benda yang sudah mencuri perhatiannya sejak awal. Busur panah dengan desain yang unik dan terlihat berbeda. Dia menyentuhnya dengan takjub. Saat itu bumi kembali berguncang, berbeda dengan tadi, agak lebih keras dan dalam waktu yang lama.
"Itu milikmu, kau siap menunjukkan kekuatanmu padaku?" tanya Elgan sudah dengan memegang pedang yang juga memiliki keunikan pada detailnya.
"Ini—aku sangat menyukainya!" tangannya langsung menarik busur dari tempatnya, membawanya berlari mengejar Elgan.
"Itu gabungan dari senjata Dorna dan para monster yang kita curi beberapa pekan lalu!"
"Yah, kita pencuri!" Samantha mengatakan tanpa malu.
"Kita akan pergi ke titik, dimana getaran itu tercipta!" Elgan kembali membuat portal.
"Medan perang!" katanya sebelum Elgan meraihnya masuk dan berteleportasi langsung ke Medan perang.
Saat mereka sampai, mereka langsung disuguhkan pemandangan berdarah. Dimana tempat mereka berdiri adalah di sebuah bangunan yang masih berdiri kokoh tidak jauh dari Medan perang. Terlihat perang itu masih berlangsung, meskipun guncangan tanah sudah semakin kuat.
Samantha merasakan sakit di hatinya. Teman-temannya dan juga para saudaranya. Samantha menoleh pada Elgan yang juga menatapnya. Dirasakan ada genggaman tangan yang mencoba menguatkannya.
"Jika kau mau, tolong semuanya tanpa terkecuali. Tapi, jika hatimu merasa berat, tolong mereka yang kau inginkan saja!" Elgan mengatakannya dengan tegas, dia memberinya pilihan.
Samantha masih diam, kembali menatap kekacauan yang masih berlangsung, jauh di depan sana. Mereka seakan tidak perduli, pada guncangan yang masih terus terasa, bahkan semakin kuat.
"Apa diluar sana juga separah ini?"
"Yah, mungkin juga tidak. Tapi tidak ada bedanya jika sama-sama akan hancur nantinya!"
Samantha mengangguk. Dia menarik Elgan untuk lompat dari ketinggian. Tubuh keduanya terasa ringan karena Samantha menekan gravitasinya. Dia melangkahkan kaki menuju ke peperangan.
Agak gila menurutnya, karena pertarungan di depan sana bertujuan untuk perebutan kekuasaan. Tapi, mereka mengabaikan fakta jika bumi sedang melakukan perlawanannya sendiri. Beberapa bangunan juga mulai hancur karena semakin kerasnya guncangan, seperti gempa tapi menyeluruh pada setiap permukaan bumi.
__ADS_1
Samantha melesatkan panahnya tepat pada tengah-tengah peperangan dari tempatnya berdiri saat ini. Suara nyaring saat anak panah itu melesat dengan kecepatan tinggi, hingga suara lain jadi tenggelam karenanya. Semua mata melihat pada titik yang sama, yaitu anak panah berwarna perak milik Samantha. Rupanya anak panah tersebut mampu membuat guncangan berhenti di sekitarnya.
"Ambil kendali!" bisik Elgan melihat situasi kacau mulai benar-benar berhenti.
Barulah saat semua perlawanan berhenti, mereka menyadari jika bumi benar-benar berguncang hebat. Bahkan untuk tetap berdiri tegak juga butuh perjuangan.
Samantha berjalan biasa tanpa terpengaruh menuju ke tengah-tengah mereka. Elgan tersenyum tipis saat melihat wajah-wajah tegang itu menatap Samantha penuh arti. Yah, Samantha, gadis yang diramalkan.
Samantha menoleh pada kedua pihak berlawanan. Dia sudah mengambil alih perhatian mereka, tinggal bagaimana caranya mengendalikan semuanya.
"Apa yang kalian rebutkan? Kemerdekaan atas identitas diri? Atau wilayahnya?"
Suara Elgan menggema keras, bahkan Samantha yang disebelahnya juga sempat terkejut tadi. Dia melihat kekacauan disekitarnya, mencari keberadaan Archer dan Jasper, tapi tidak menemukannya.
"Siapapun yang ingin tetap hidup, tunduklah!" ujar Elgan membuat kontroversi di dalam hati setiap orang.
Samantha juga menatapnya penuh tanya, apa maksudnya dengan kata tunduk. Apa artinya orang-orang harus mengakuinya sebagai penguasa. Belum juga Samantha mendapatkan jawaban, ada beberapa ledakan dari dalam bumi yang meletuskan lava keluar.
Semua panik menghindari, kini mereka tahu jika ada hal yang lebih berbahaya yaitu bumi itu sendiri. Ada rasa takut saat tanah yang permukaannya tidak lagi rata dan menyemburkan lava yang menyala, siap melelehkan apapun yang menyentuhnya. Mereka menatap tajam pada sosok Elgan yang masih diam menunggu keputusan mereka.
"Kami tunduk!" Manusia-manusia itu langsung mengatakannya tanpa berpikir lagi, sedangkan mutan masih berdiri gamang.
Samantha mendengar sebuah suara yang dikenalinya. Seorang laki-laki yang telah seperti kakaknya sendiri sedang duduk memegang seseorang.
"Aku tunduk!" kata Archer pelan tidak mau menatap pada mata gadis cantik yang sedang melihat ke arahnya.
Samantha berlari, dia menghampirinya dan betapa terkejutnya saat melihat Jasper terbaring tak berdaya dengan darah yang sudah membasahi pakainya.
Tangannya dengan gemetaran masih berusaha mencoba menyalurkan kekuatannya. Tangisnya semakin keras saat kakaknya tak kunjung bangun. Teriakannya menggema mengabaikan sekitarnya.
Beberapa orang sibuk menghindari ledakan lava yang muncul di berbagai tempat, sedangkan yang lain mulai gemetar mendengar Isak tangis memilukan dari Samantha.
Archer juga tidak sanggup membuka suaranya. Hatinya ikut sakit mendengar isakan Samantha yang penuh amarah juga kekecewaan. Ada terlalu banyak emosi yang mencoba disampaikan Samantha.
"Bangun! Kau berjanji akan kembali!" teriaknya penuh kepiluan, memeluk erat tubuh kakaknya.
Delwyn menatap keduanya dengan perasaan kacau, saat dia akan menghampiri adiknya yang sudah lama dia rindukan, sebuah tangan menghentikannya.
"Berikan dia waktu, Jasper adalah yang pertama muncul sebagai kakaknya. Biarkan dia puas melampiaskan rasa sakitnya," ujar Evan sambil terus mencoba tetap berdiri di setiap guncangan.
"Kita harus pergi!" ujar seseorang dengan panik diantara kerumunan.
"Percuma, keadaan ini juga terjadi dimana-mana!"
Xavier telah melihat pada pikiran beberapa mutan di luar sana. Semuanya ketakutan, dan tidak ada tempat untuk berlari. Bahkan sudah banyak korban meninggal akibat guncangan yang melanda seluruh permukaan bumi. Kekacauan yang lebih besar sudah sangat mustahil untuk diperbaiki. Yang terbaik untuk saat ini adalah menghindarinya.
Elgan masih berdiri diam menunggu keputusan mereka hingga batas terakhir. Beberapa mulai ragu dan beberapa lagi hanya bisa tunduk menggantungkan harapan pada apa yang sedang Elgan rencanakan.
__ADS_1
Semua mutan mengetahui informasi, jika bumi mengalami kehancuran di berbagai wilayah. Jadi, hanya satu pilihan saat ini, yaitu tunduk pada Elgan.
Mereka mengambil pilihan cepat, saat lava masih terus meluncur tak terkendali. Elgan mengangguk puas, dia menghampiri Samantha yang masih belum mau melepaskan Jasper dari pelukannya.
"Selamatkan mereka, atau kau ingin bumi melenyapkannya?" bisik Elgan yang membuat Samantha menoleh.
Elgan bisa melihat ada emosi kuat yang terpancar dari mata gadis itu. Tapi waktu yang mereka miliki tidak banyak saat ini. Pilihan ada di tangan Samantha setelahnya.
Samantha berdiri, dia melihat semua orang yang hanya menatap kearahnya. Dia marah karena kakaknya tewas akibat keegoisan mereka semua.
"Kau bisa pilih untuk membiarkan pergi atau menekannya! Kau tidak punya banyak waktu!" Elgan mengingatkan, karena Samantha tidak kunjung menunjukkan respon.
"Kenapa aku harus menyelamatkan mereka?" ucap Samantha membuat semua orang ketakutan.
Terlihat jika gadis itu enggan dan masih sangat marah, Elgan hanya tersenyum sinis melihat wajah-wajah panik semua orang. Jika Samantha sudah memutuskan hal itu, maka dia juga tidak akan menanyakannya.
Rosgard marah, dia tidak mau bergantung pada gadis kecil yang sedang marah itu. Dia tidak punya pilihan lain selain melawan di sisa waktunya.
Samantha merasakan ada kekuatan pikiran tearah padanya. Dia hanya menekan kekuatan itu tanpa kesulitan. Rosgard terkejut saat Samantha sama sekali tidak kesulitan menghalau kekuatannya. Sekarang dia tahu, seharusnya dia mendapatkan gadis itu sedari awal.
Karena tidak bisa melukai Samantha. Rosgard dengan licik mengarahkan pada Archer. Dia tahu laki-laki itu memiliki ikatan kuat dengan Samantha.
Archer berteriak kesakitan. Hal tersebut menarik perhatian beberapa orang, mereka tidak menyangka didalam keadaan yang sudah seperti ini, Rosgard masih tidak mau menyerah untuk tunduk.
Samantha akan menghampiri Archer, saat Elgan sudah lebih dulu membantunya. Dengan itu, Samantha sudah mengetahui pilihannya. Menyelamatkan yang bisa dia selamatkan. Karena sejahat apapun seseorang, bisa jadi orang itu juga sangatlah penting bagi orang lain.
Samantha menutup matanya, kemudian memfokuskan diri untuk mengerahkan kekuatannya untuk menekan energi bumi di sekitarnya. Dapat terlihat jika kedakan berhenti hingga ratusan meter, kemudian meluas menjadi beberapa kilometer, hingga mencapai ribuan mil, dia membuka matanya karena ada sesak yang menghantam dadanya.
Elgan yang sudah berhasil melawan Rosgard hingga pria tua itu tak lagi bernyawa, dia melihat jika Samantha berhasil menerapkan kekuatannya. Tapi kemudian dia juga melihat, Samantha mengalami perubahan pada ekspresinya.
Elgan berteleportasi tepat di belakang gadis itu. Ini saatnya! Elgan menyentuh tangan Samantha hingga mereka kemudian saling menatap.
Saat ini semua orang benar-benar hanya bisa bergantung pada Samantha. Dapat terlihat kehancuran yang sudah ada di depan mata, mungkin juga tidak akan bisa terhindarkan. Jika Samantha bisa menyelamatkan mereka, itu sudah lebih dari cukup.
___________________________
*Hallo geez
maaf jika kurang bisa menjelaskan secara detail, karena lebih banyak tell dari pada flow.
author sudah berusaha dan nanti akan diperbaiki saat proses revisi.
.
sebenarnya bisa diselesaikan dalam satu bab saja sampai end, tapi itu mengandung lebih dari dua ribu lima ratus kata, jadi author pisah aja jadi dua bab untuk season satu.
.
__ADS_1
.
terimakasih untuk yang selalu dukung cerita ini. setiap like dan komentar kalian membuat author semakin semangat*.