Lost Princess

Lost Princess
A little relief


__ADS_3

Samantha yang sudah 20% pulih, memilih menunggu dengan bersembunyi pada tangga paling atas gedung. Kakinya tak kuat lagi untuk berjalan. Seluruh energinya telah dia gunakan untuk proses penyembuhannya tadi.


Jepit rambutnya yang berfungsi sebagai alat komunikasi juga hilang entah kemana. Bibirnya menipis dengan mata terpejam, mengistirahatkan fisiknya yang sudah cukup lelah hari ini.


"Kau baik-baik saja?" Sky khawatir, karena Samantha seperti orang pingsan yang tak bergerak sama sekali dengan bibir pucatnya.


Samantha tak membuka matanya, dia hanya meremas tangan Sky yang sedari tadi digenggamnya sebagai jawaban, sky mengerti dan ikut duduk bersandar di lengannya.


Sky yang dulu antipati dengan Samantha kini malah terlihat sangat menempel padanya. Bocah itu sepertinya mulai menyukai Samantha. Bahkan, saat ini Sky terlihat lebih peduli pada gadis itu.


Waktu telah menunjukkan pukul tujuh malam, tapi Mr. Riz dan Brian tak kunjung datang. Sedikit gelisah karena takut jika mereka masih dalam pengejaran.


Samantha telah melihat banyaknya pertempuran, mutan melawan mutan berarti bertarung hingga menang, tapi mutan melawan manusia artinya bertarung sampai mati.


Manusia membenci mutan, sama halnya mutan yang membenci manusia karena selalu memandang rendah, seakan mutan adalah makhluk menjijikkan. Samantha tak melihatnya begitu karena dia ingat jika dia juga punya keluarga manusia.


Alasannya tidak berusaha mencari keluarganya adalah karena dia tidak ingat lagi seperti apa keluarganya. Seperti apa kakak-kakaknya, atau bahkan Daddynya, dia hanya ingat Mommynya.


Terkadang ada sekelumit rasa rindu yang menarik keinginannya untuk mencari rumahnya, tapi ingatan tentang mutan dan manusia tak bisa tinggal bersama membuatnya urung untuk pulang. Samantha takut jika dia tidak lagi diterima dalam keluarganya.


Peperangan tahun ini cukup banyak terjadi di beberapa tempat dengan korban yang cukup banyak. Manusia dan mutan sudah memulai peperangannya secara terbuka. Inti dari peperangan itu adalah menyingkirkan salah satunya agar bisa hidup damai.


Tidak bisakah mereka hidup berdampingan? Jawabannya adalah tidak, karena ego dalam diri setiap individu menolak gagasan hidup berdampingan.


Dalam gelap keduanya tertidur karena lelah, meski begitu Samantha tetap selalu waspada dalam tidurnya.


________


Dalam sebuah ruangan, tangis haru dari seorang nenek membuat yang lain jadi ikut bersedih.


Margareth memeluk Neil erat ketika cucunya itu sampai di hotel. Saat dia mendapatkan kabar, jika Neil hilang dalam kekacauan yang cukup menghebohkan warga Inggris, hal itu membuatnya stress karena cemas.

__ADS_1


Mereka belum kembali ke Italia setelah pernikahan Delwyn. Mereka memutuskan menginap selama beberapa hari, dikarenakan keadaan Margareth yang jatuh sakit, salah satu alasannya dikarenakan putrannya Jasper menghilang, dan bahkan belum ditemukan hingga saat ini.


Kecanggihan teknologi dari perusahaan keamanan Windson pun tak bisa menemukannya, jadi dimana sebenarnya keberadaan sang putra?


Moment menghilangnya Jasper mengingatkannya dengan peristiwa sepuluh tahun lalu. Margareth tak bisa menanggungnya dan jatuh sakit. Padahal Margareth sendiri adalah seorang penyembuh, tapi kekuatannya yang menurun hanya bisa untuk mempertahankan hidupnya.


Keinginan terbesarnya adalah melihat anak-anaknya berkumpul kembali. Ketika muncul sebuah harapan jika putrinya yang hilang masih hidup, mulai saat itu Margareth ingin tetap hidup lebih lama lagi.


"Kau terluka nak, apa mereka menyakitimu?" Margareth memutar tubuh Neil, memeriksa apakah ada luka di tubuhnya.


"Tenanglah mom, Neil hanya di culik seorang oleh gadis. Kita telah salah mengira jika dia di culik oleh sekelompok mutan." Nattalie menjelaskan.


Keponakannya itu hanya diam sedari tadi, tapi Emilio sudah menjelaskan jika Neil tidak terhubung dalam pertempuran para mutan di tengah kota tadi.


Neil hanya diam membeku ketika bibinya Nattalie menjelaskan hal itu, Neil memang bohong ketika ditanya oleh unclenya, Leon. Tapi Illona ibunya itu masih menatapnya curiga sedari tadi.


Illona mengenal putranya lebih baik dari yang lain, dia tahu jika ada yang disembunyikan oleh putranya. Sang suami mengusap lengannya menyuruhnya agar tetap tenang.


Charles masih sibuk bersama Evan dalam pencarian Jasper, mereka belum kembali sehingga suasana yang seharusnya bahagia setelah pernikahan, malah menjadi suasana tegang dalam keluarga Windson.


"Aku gagal melacak mereka. Emilio, aku merasa ada yang tidak beres dengan kejadian di tengah kota hari ini." Delwyn baru saja datang bersama Josh dan dua orang kepercayaan yang tadi pergi bersamanya.


"Hei obati dulu lukamu!" Kimberly menarik lengan suaminya untuk duduk di sebelahnya, tangannya dengan sigap membantu mengobati lengan Delwyn yang terluka.


"Aku juga merasa begitu. Sepertinya Mr. Riz cukup penting untuk para mutan sehingga mereka memperebutkannya." Emilio mengungkapkan pemikirannya.


"Kau tahu? Ternyata dia seorang mutan!" Delwyn berseru kesal.


Itu mengejutkan orang-orang dalam ruangan. Kemudian Emilio menyadari jika mereka tidak seharusnya membahas masalah itu di sini. Dia tidak lagi melanjutkan argumennya. Memperhatikan wajah Mommynya yang semakin hari semakin lemah. Neil masih berada dalam pelukan neneknya, anak itu masih diam.


Leon yang baru saja datang setelah tadi hanya mengantarkan Neil pulang dan kemudian pergi lagi tanpa memberi penjelasan. Laki-laki itu langsung tertuju pada Neil dengan tatapan yang sulit diartikan. Semua jadi melihatnya penasaran. Leon yang tumbuh menjadi pribadi tertutup dan sedikit malas itu kini berwajah panik.

__ADS_1


Neil yang ditatap seperti itu jadi sedikit gelisah. Dia takut, jika unclenya mengetahui kalau penculiknya juga seorang mutan, yang mungkin terhubung dengan pertempuran di tengah kota. Karena luka yang di alami Sam adalah luka pertempuran, Neil tahu itu.


"Hei, kau kenapa?" tanya Emilio pada sang adik.


Leon kemudian menatap semua orang dengan tatapan yang masih tak terbaca. Itu semakin membuat Delwyn geram. Dia melempar bantal sofa kearahnya, karena tatapan Leon hanya membuat semua orang jadi tegang.


Tatapannya kembali ke arah Neil. Kini dia berjalan mendekat hingga hanya berjarak satu langkah saja. Laki-laki itu berjongkok di depan keponakannya. Matanya memerah dengan bibir terkunci rapat.


"Ada apa Leon? Kau ingin mengatakan sesuatu?!" Illona yang memang sudah curiga jika puteranya menyembunyikan sesuatu akhirnya angkat bicara.


Leon menoleh ke arah Illona memberikan anggukan pelan. Bibirnya masih tertutup rapat, tapi tatapannya yang banyak tersirat kesedihan, membuat Illona semakin gemas menunggu adik iparnya itu bicara.


"Apa dia masih hidup?" tanya Leon pada Neil dengan suara berat.


Neil awalnya tak mengerti siapa yang dimaksud unclenya, tapi kemudian dia paham jika itu mungkin Sam, jadi dia memberi anggukan sebagai jawaban.


Leon tersenyum tipis dengan mata terpejam. Bibirnya sedikit bergetar dan nafasnya tersenggal. Jantungnya berdegup kencang hingga rasanya dia ingin pingsan.


Semua memperhatikan perubahan pada wajah Leon, mereka berusaha mengerti apa yang dimasukkan oleh Leon.


"Kau bodoh sekali membiarkannya pergi!" Marah Leon dengan keras namun disertai tawa yang semakin mengejutkan orang-orang dalam ruangan.


Abigail yang sedari tadi asik bermain boneka dengan Nattalie jadi terlonjak kaget. Bocah berusia empat tahun itu menatap unclenya dengan mata membulat penuh tanya. Ada apa dengan pamannya?


Dia berlari hingga sampai di depan Leon dan posisinya berdiri membelakangi Neil yang duduk dekat dengan grandmanya. Tangannya menunjuk tepat pada hidung Leon karena laki-laki itu masih dalam posisi berjongkok, wajahnya memerah dengan ekspresi marah yang terlihat lucu. "Jangan marahi dia, kau akan membuatnya menangis ketakutan nanti!"


Neil memutar bola matanya malas, ratu drama akan memulai aksinya. Mana mungkin dia menangis? Neil berdecih gemas pada adik sepupunya yang super menyebalkan itu.


________________


Please jangan lupa like, n fav ya… geez 😘

__ADS_1


Beri aku komentar!!!! Karena author masih dalam tahap belajar 😉


__ADS_2