
Berita jika Samantha sudah sadar sampai ditelinga Mars, laki-laki itu ingin sekali segera memarahi gadis itu, karena sudah membuat banyak orang repot akibat ulahnya. Senyum lega tergambar jelas di wajahnya, namun ia urung untuk menghampiri gadis itu.
Samantha saat ini sedang mendapat ceramah panjang dari Archer. Yang ditanyakan laki-laki itu bukan keadaan Samantha atau apa yang telah dialami oleh gadis itu selama menghilang, namun yang ditanyakan adalah apa yang dipikirkan gadis itu hingga berani membohonginya.
“Ayolah! Aku baru saja pulang tapi kau malah memarahiku!” bibirnya cemberut namun senyum jail terlihat jelas di wajahnya.
Archer tahu jika omelannya sedang dianggap gurauan, ah dia rasanya ingin memukul kepala bodoh gadis nakal didepannya ini. Samantha masih terbaring di ranjang perawatan karena harus dicek ulang, apakah ada yang salah pada sarafnya pasca koma.
“Kau gadis menyebalkan!” gerutu Archer pada akhirnya.
“Aku merindukanmu tapi kau malah memarahiku, ini tidak adil!” gumam Samantha cukup keras.
“Diamlah!” kesal Archer sambil mengawasi layar monitor bersama Xorn.
“Coba lihat apakah ada yang salah dengan otaknya! Dia semakin bodoh saja setelah sadar!” Xavier sengaja mengeraskan suaranya.
“Hei!!! Aku mendengarnya ya!” teriak Samantha yang sedang diperiksa oleh tim medis.
Orang dalam ruangan mengabaikan keduanya, mereka melihat sendiri bagaimana Archer begitu khawatir dengan keadaan Samantha kemarin, tapi bagitu gadis itu bangun mereka malah bertengkar.
“Ikutlah keruanganku!” ajak Xavier dari ambang pintu kaca pada Archer.
Archer mengangguk, namun sebelum pergi ia memberi gadis itu tatapan tajam seakan mengatakan “Jangan bergerak dari sana!” Samantha merespon dengan memamerkan deretan giginya dan mengangkat tangannya membentuk tanda ‘oke'.
Archer berlalu dari ruangan kaca itu, sementara Samantha melanjutkan pemeriksaan. Dirinya merasa moodnya sedang sangat baik. Ia bahkan tidak mengeluh saat diberi suntikan vitamin, yang sebenarnya tidak dibutuhkan. Tubuhnya akan secara otomatis memperbaiki sistem imun, koma memang membuatnya sedikit merasa lemas, namun itu tidak lama karena tubuhnya sendiri sudah menyesuaikan diri.
Samantha tidak menemukan keberadaan Mars, ia bertanya pada tim medis mengenai keadaan laki-laki itu. Dan tim medis hanya memberitahukan jika laki-laki itu baik-baik saja. Mereka tidak memberitahukan jika Mars sempat kritis akibat mendapatkan tembakan dari kejadian itu.
Samantha tidak sabar ingin bertemu dengan Mars, ia melepaskan selang infus ditangannya. Mengabaikan peringatan dari orang-orang didalam sana. Samantha tidak menyukai bau obat-obatan sejak kecil, beruntung ia selalu bisa mengobati dirinya sendiri.
“Hei Brian!” teriak Samantha melambaikan tangannya pada laki-laki yang sedang akan masuk keruangan Alice.
“Wah, kau sudah baikan, bahkan saat ini kau terlihat baik-baik saja!” Brian menganggukkan kepalanya mengamati keadaan Samantha.
“Hei, aku jelas baik-baik saja! Dimana laki-laki itu?” tanya Samantha langsung yang jelas di mengerti oleh Brian.
__ADS_1
“Dia sedang di ruang latihan.” Tukas Brian berlalu meninggalkan Samantha diluar pintu ruangan mrs.Alice, Samantha juga tidak perduli langsung saja menuju keruang latihan.
Baru beberapa langkah Samantha berhenti, ia lupa bertanya pada Brian tadi, apakah Mars latihan didalam ruangan atau diluar, maksudnya adalah hutan. Tapi, Samantha menebak jika mungkin Mars tidak akan latihan dihutan tanpanya.
Ia bertemu beberapa orang yang menyapanya, ya semua tahu jika Samantha sempat menghilang dan ditemukan dalam keadaan koma, tapi saat ini gadis itu sedang berlarian menanyakan dimana Mars berada.
Samantha tak menemukan Mars diruang latihan, dan juga tidak menemukan keberadaannya dikamar laki-laki itu. Dia berkeliling mencari dimana kemungkinan bisa menemukan laki-laki itu.
“Apakah dia sedang berusaha menghindari ku?” tanya Sam pada dirinya sendiri.
Setelah beberapa waktu mencari, akhirnya ia menemukan laki-laki itu dikandang kuda. Iapun langsung berlari karena merindukan River juga. Dia langsung menubruk kuda kesayangan itu, sayangnya River tidak seantusias dirinya. Kudanya itu hampir sama dengan Mars, memiliki sifat menyebalkan.
“Hei, Mars jangan lakukan ini padaku! Aku tidak bisa hidup tanpamu!” Mars hanya menanggapi dengan memutar bola matanya malas.
Sedari tadi Samantha berusaha mengajak laki-laki itu berbicara, namun terus saja diabaikan. Bahkan Samantha harus mengejar langkah lebar Mars yang menuju keruang dapur.
Laki-laki itu sedang akan membuat sarapan untuk dirinya, namun bahan masakan yang diambil dari kulkas adalah bahan untuk membuat daging gulung, itu adalah salah satu favorit Samantha.
“Kau ingat nyanyian Zayn Malik yang pillowtalk?!”
“Jangan menyanyikannya, suaramu rombeng seperti kaleng soda!” tukas Mars dengan wajah datarnya.
Mars hanya melanjutkan kegiatan memasaknya, mengabaikan ocehan gadis disampingnya yang terus saja mengomel. Ngomong-ngomong dia sebenarnya sedang rindu dengan suara gadis itu. Jika tidak, pasti ia sudah menyumpal mulutnya itu dengan benda yang ada disekitarnya.
Setelah daging gulungnya matang, ia menyajikan diatas piring. Samantha masih mengekor di belakangnya. Gadis itu ikut duduk di depannya, Mars menyodorkan hasil masakannya itu pada gadis didepannya. Mars mendapatkan hadiah cengiran khas dari Samantha.
Samantha tak banyak bertanya dan tidak malu-malu langsung melahap hidangan lezat didepannya. Ia dengan lahap memakan daging itu, namun pada suapan kedua ia jadi membayangkan sosok laki-laki bertato yang juga pernah memasak untuknya.
Senyum mengambang dari bibirnya, Mars yang melihat Samantha tersenyum jadi mengerutkan dahinya. Tangannya terangkat mengecek suhu tubuh gadis itu pada dahinya, Samantha yang terkejut ada tangan di dahinya jadi tersadar.
Ia menyingkirkan tangan besar itu dengan wajah cemberut. Ia menatap kesal pada Mars yang sedang terlihat berpikir.
“Hei apa maksudmu? Aku sudah baik-baik saja, bodoh!”
“Ah sudahlah habiskan makananmu! Masih untung aku mau memasak untukmu!” Mars mengalihkan pandangannya kearah lain.
__ADS_1
“Ah Jika kau tidak masak, aku juga bisa membuat makananku sendiri!” tukasnya galak.
“Aihhh, kau bahkan bisa meracuni dirimu sendiri dengan hasil masakanmu itu!” sahut Mars mengejek.
“Hei aku anti racun! Dan apa maksud ucapanmu itu, hah? Kau bilang masakanku paling enak saat itu!” Gerutu Samantha dengan pelan di ujung kalimatnya.
“Hanya dalam mimpimu!” Mars berlalu meninggalkan gadis itu, ia tersenyum sesaat setelah berbalik.
Samantha menancapkan pisau pada daging dengan kasar, ia jadi membayangkan sosok laki-laki bertato. Elgan tak banyak bicara namun bisa tiba-tiba membunuhnya, sedangkan Mars juga tidak banyak bicara tapi saat bicara sering membuatnya kesal, namun laki-laki itu selalu memperhatikannya.
“Aiihhhh!” Samantha memukul-mukul kepalanya.
Bagaimana bisa ia masih sempat-sempatnya memikirkan laki-laki itu, sepertinya ia harus cuci otak. Samantha tak begitu mengerti apa itu cuci otak, tapi sepertinya itu hal yang bisa membuatnya melupakan ketampanan laki-laki yang pernah hampir membunuhnya.
“Hei kau dipanggil Xavier, diruanganya!” ucap seseorang dari arah pintu yang membuat Samantha tersadar dari lamunannya.
Samantha langsung lemas, dia sudah menebak jika pasti akan mendapatkan hukuman yang tadi dibicarakan oleh Archer. Dari pada membayangkan hukuman apa yang akan didapatkannya, ia memilih langsung berjalan keruangan Xavier.
Samantha masih selalu terbayang-bayang oleh wajah penculik yang terus saja hadir dalam bayangannya. Bahkan Samantha jadi terpikir, apa yang sedang dilakukan laki-laki itu sendirian di mansion-nya yang sepi itu.
Sedangkan saat ini, Elgan sedang berada didalam ruangan Rosgard. Beberapa orang juga bersamanya, mereka gagal menemukan Samantha, tapi mereka berhasil membuat kekacauan yang cukup merugikan bagi manusia.
Rosgard berhasil mencuri data keamanan beberapa negara, yang membuat mereka jadi kebingungan untuk melindungi data tersebut. Membuat kode baru sebuah negara juga membutuhkan waktu.
“Apakah, kali ini keluarga Windson ikut andil dalam urusan ini?”
“Tidak, mereka lebih fokus dalam pengejaran mutan, memang ada beberapa orang kita yang tertangkap, tapi bisa dipastikan jika mereka tak akan mendapatkan informasi apapun!” Jawab salah satu orang dari mereka.
Elgan hanya banyak diam seperti biasanya. Di balik sikapnya, dia sebenarnya tidak lagi membutuhkan untuk tetap bergabung dengan Rosgard, tapi Elgan tetap bertahan disini karena ada tujuan lain.
Elgan ikut memperhatikan layar yang menampilkan beberapa kejadian beberapa waktu lalu. Ternyata menghilangnya Samantha memberikan mereka kesempatan untuk mengacau. Tapi itu sebenarnya hanya membuat manusia jadi semakin waspada terhadap mutan. Bibirnya sedikit terangkat menyaksikan hukum sebab-akibat, yang sepertinya hanya akan saling merugikan untuk kedua belah pihak.
____________
**Penulis akan sangat menghargai setiap like dan komen yang di berikan pembaca, karena dengan ketersediaan kalian untuk meninggalkan jejak di cerita ini membuat penulis lebih bersemangat lagi 😉.
__ADS_1
terus ikuti kelanjutan dari novel ini yah
happy reading 😘**