
"Bu! Eh maksud aku mommy." Ruby nampak ragu saat hendak mengutarakan isi hatinya pada Sandra.
"Ada apa sayangku?" Jawab Sandra tapi pandangan matanya terus tertuju pada gadgetnya yang sedang menampilkan berbagai macam gaun pengantin yang akan ia pilihkan untuk Ruby.
"Aku boleh minta sesuatu?" Lanjut Ruby dengan wajah tertunduk.
Sandra langsung mengalihkan pandangannya pada calon menantunya. Ini kali pertama baginya mendengar Ruby meminta sesuatu kepadanya.
"Ada apa? Kamu mau minta apa sayang?" Sandra berkata dengan lembut seolah sedang berbicara pada anak gadisnya.
"Kapan mommy dan keluarga akan datang melamar ke rumah keluarga aku di kampung?" Suara Ruby hampir seperti berbisik.
Sandra langsung menyadari kesalahannya. Selama ini yang dia pikirkan hanya pesta pernikahan putranya dengan Ruby, tapi dia lupa jika perempuan yang akan putranya nikahi belum ia lamar secara resmi kepada keluarganya.
"Maafin mommy sayang. Mommy benar-benar lupa jika kamu harus kami lamar." Jawaban yang sangat tidak masuk akal.
Lupa katanya? Dia pikir aku hanya hidup sebatang kara di dunia ini?
"Baiklah. Minggu depan kami akan melamarmu kepada keluargamu di kampung sana."
Wajah Ruby langsung sumringah. Dia tidak menyangka jika Sandra tidak keberatan untuk mendatangi rumah orang tuanya yang kini di huni paman dan bibinya dari pihak ayahnya.
"Terima kasih mommy." Ruby memeluk Sandra saking senangnya.
Ruby pikir Sandra akan menyuruh keluarga Ruby datang ke Jakarta untuk membahas acara pernikahannya. Tapi apa yang ia dengar barusan tadi membuat Ruby terharu. Sandra seperti menghargai dirinya layaknya anak gadis pada umumnya.
"Ini sudah kewajiban kami untuk mendatangi keluargamu untuk meminangmu."
Ruby semakin mempererat pelukannya pada Sandra.
"Aku akan kabarin mereka kalo mommy akan datang. Biar mereka siap-siap." Ruby keluar ruangan Sandra dengan wajah sumringah.
•
•
"Aku gak mau ikut." Dewa langsung menepis ajakan Sandra untuk pergi ka kampung halaman Ruby untuk melamarnya.
"Gimana bisa? Calon pengantinnya kan kamu. Ya kamu harus ikut lah. Dasar otak udang!" Bentak Sandra.
"Ya kalian bisa alesan apa kek gitu. Aku gak mau ikut." Dewa masih bersikeras untuk tidak ikut acara lamarannya.
"Lebih baik kau mati sekarang!" Sandra yang memang sedang memasak untuk makan malam mereka langsung menghunuskan pisau dapur ke arah putranya yang sedang asik menggigit apel.
"Matilah kau Penjajah!"
"MOMMY! Ini gak lucu!" Teriak Dewa.
Tapi sepertinya teriakan Dewa tak dihiraukan Sandra, dia terus berjalan mendekati putranya yang sedang duduk di salah satu sudut sambil memperhatikan Sandra mengolah masakan.
"Mommy bisa membuat Ruby jadi janda sebelum acara pernikahan diadakan!" Dewa berusaha mengancam Sandra.
__ADS_1
Kini Sandra benar-benar ada di hadapannya dengan pisau yang menempel di dada Dewa.
"Lebih baik tidak punya anak daripada punya anak yang memalukan seperti dirimu!" Sandra sedang mempraktikkan adegan dari salah satu telenovela yang ia tonton.
"Baiklah! Aku akan ikut. Sekarang jauhkan pisau itu!" Dengan bergetar akhirnya Dewa menyanggupi keinginan ibunya.
Senyum kemenangan pun langsung terbit di wajah wanita yang kini sudah lebih dari setengah abad itu.
"Jadilah calon suami yang baik disana nanti Sayangku."
•
•
•
•
Ruby pulang ke kampungnya tiga hari sebelum acara lamarannya. Walaupun Ruby tahu pernikahan ini hanya akan seperti sandiwara baginya dan Dewa tapi Ruby tetap antusias menyambutnya.
Para tetangganya pun ikut membantu acara penyambutan calon besan.
Teman-teman Ruby disana pun tak lupa Ruby undang untuk menyaksikan acara lamarannya dengan Dewa.
Rumah telah dihias dengan rapi dan cantik. Ruby pun telah siap menyambut calon suami juga calon mertuanya dengan balutan kebaya warna ungu muda yang sangat pas di tubuhnya.
Begitu pun dengan keluarga Dewa, karena ini adalah pernikahan yang telah ditunggu-tunggu oleh para keluarga Dewa, sehingga banyak keluarganya yang ikut dalam acara lamaran hari itu.
"Mobil besan datang." Ucap salah seorang ibu-ibu yang adalah tetangganya.
"Pan nu datang aleut-aleutan amat?"
"Kok yang datang berbondong-bondong sekali?" Ucap bibinya yang ikut gugup.
"Aleut-aleutan kumaha Bi?"
"Berbondong-bondong gimana Bi?" Tanya Ruby
"Atuh itu mobil yang datang nepi ngajejer kitu."
Sandra sebelumnya memang telah memberitahu Ruby jika keluarganya akan ikut menghadiri acara lamarannya, tapi Ruby tak menyangka jika yang datang akan lebih dari 10 mobil.
Ini tidak seperti acara lamaran tapi seperti acara pernikahan yang biasa diadakan di kampung Ruby.
"Ini mau lamaran apa langsung nikah?" Kali ini paman Ruby yang bertanya.
"Lamaran atuh. Nanti nikahnya mah tiga bulan lagi." Jawab Ruby.
Rumah Ruby yang sebenarnya tidak terlalu kecil karena memiliki 4 kamar tidur juga ruang keluarga yang luas kini penuh sesak oleh keluarga calon besan.
"Calon kamu bule?" Tanya sahabat Ruby yang datang. Mereka terlihat takjub melihat wajah rupawan Sadewa.
__ADS_1
Sedangkan para tetangga Ruby yang lain dibuat terkesima melihat puluhan banyaknya warga asing yang datang ke kampung mereka.
Dari wajah lokal, wajah-wajah bule juga wajah-wajah yang mirip orang Jepang juga ada.
"Ada orang Korea." Ucap mereka saat melihat para sepupu Dewa yang berkulit putih dan berkata sipit.
"Ada orang barat juga." Saat mereka wajah-wajah bule yang adalah kerabat dari pihak Sandra.
"Hebat si Ruby, make pelet naon tea nya?" Celetuk yang lainnya.
Kerumunan warga memenuhi sekitaran rumah Ruby. Mungkin jika tak ada pagar, orang-orang itu telah ikut masuk ke halaman rumah Ruby.
Dewa yang hari itu nampak gagah dengan balutan kemeja batik warna di emas sangat senada dengan kebaya yang Ruby kenakan.
Acara lamaran pun berjalan dengan lancar sebagai mana mestinya. Dilanjutkan dengan acara makan-makan yang telah keluarga Ruby persiapkan untuk mereka. Walaupun menu ala kadarnya tapi para tamu terlihat menikmati acara santap siang mereka. Mungkin karena lelahnya perjalanan yang mereka tempuh membuat mereka tak lagi memilih menu makanan.
Tapi itu tidak berlaku untuk sang Tuan Narsis Sadewa. Tak ada satu hidangan pun yang ia cicipi.
"Aku ingin ke toilet." Bisiknya pada Ruby.
"Ke kamar aku aja. Di kamar aku juga ada toilet." Ajak Ruby.
"Pih, anakmu langsung ngajak ke kamar." Bisik Sandra yang melihat Dewa masuk ke kamar Ruby.
"Apa sih yang ada di otak mommy? Paling juga Dewa pinjem toilet Ruby."
"Siapa tau bocah tengik itu jatuh cinta saat liat kecantikan Ruby. Kayak yang ada di telenovela."
Akbar hanya bisa menggelengkan kepalanya.
Di dalam kamar Ruby ternyata ada tiga orang sahabat perempuannya yang sedang beristirahat. Mereka terkejut melihat Ruby dan Dewa masuk ke dalam kamar.
"Belum sah!" Ucap salah satu sahabatnya menggoda Ruby. "Langsung ngamar aja!"
"Dimana toiletnya Honey?" Tanya Dewa sambil mengedipkan sebelah matanya, seolah menggoda calon istrinya.
Ucapan Dewa membuat Ruby sangat terkejut, dia masih tidak percaya jika Dewa Narsis itu memanggilnya 'Honey'.
Dan hal itu membuat ketiga sahabatnya iri. Itulah yang Dewa memang Dewa inginkan.
"Romantisnyaaaaaaaa?"
"Ya Allah Bi, masih punya stok cowok ganteng, tajir dan romantis gitu ga? Kalo ada kenalin atuh."
"Kalo bosen bisa calling gue Bi."
"Subhanallah banget tuh cowok, beneran titisan Dewa. Makan apa sih dia sehari-harinya ampe seganteng itu?"
Ketiga sahabatnya benar-benar dibuat terkesima melihat ketampanan dan kegagahan Sadewa.
Dewa yang mendengar segala ucapan para sahabat Ruby membuatnya tersenyum lebar di balik pintu toilet.
__ADS_1
Siapa yang tak akan terpesona oleh aura yang aku miliki? Kamu pasti bangga bisa mempersuami aku kan Ruby? Dewa
Kalian pasti akan mual jika tahu sifat aslinya si Dewa Sengklek itu. Ruby