Love Me Boy!

Love Me Boy!
Pasar Malam


__ADS_3

"Bu, itu Ruby ama suaminya gak perlu dibangunin gitu?"


Sang ibu yang adalah bibi dari Ruby bingung harus berbuat apa. Pasalnya pasangan suami istri itu belum keluar dari kamar mereka sejak tadi pagi. Padahal kala itu waktu sudah hampir petang.


"Coba sama kamu ditelpon aja Ruby, ibu mah isin (malu)," sahut sang ibu. 


"Apalagi Melda Bu, gak mau ah."


"Tapi kan mereka belum makan siang, si Aa Bule geh gak tau udah sarapan apa belum dari rumahnya, ja isuk keneh tos nyampe dieu (kan masih pagi udah sampe sini)."


Ibu dan anak itu terlihat begitu menghawatirkan pasangan yang kini masih terlelap karena kelelahan akibat pergulatan mereka sejak pagi tadi. Makan siang yang sang Bibi siapkan untuk keduanya saja masih tersaji di meja makan, tanpa ada yang menyentuh.


Dan pada akhirnya mereka hanya bisa menunggu keduanya keluar.




Sudah hampir setengah jam Dewa terus memperhatikan wajah lelap Ruby yang menjadikan lengannya sebagai bantal dan tubuhnya sebagai guling. 


"Mau sampai kapan kamu tidur?" Dewa mengusap lembut wajah yang masih enggan membuka mata itu. 


"Aku capek, ngantuk, tapi laper," jawab Ruby yang ternyata sudah terjaga tapi masih enggan membuka mata. "Pesen makan di restoran seberang aja!" Ruby semakin mempererat pelukannya. Sepertinya dia lupa jika mereka sedang berada di kampung halamannya. 


"Sebentar aku ambil ponsel dulu." Dewa duduk dan meraih ponselnya di nakas, hingga kemudian dia langsung menyadari jika kali ini dia sedang berada di kampung halaman istrinya. 


"Ruby, ini di rumahmu!" Seru Dewa membuat Ruby langsung beranjak dari tidurnya dan berlari ke kamar mandi.


Keduanya panik, buru-buru mereka membersihkan diri secara bersamaan, tanpa dibubuhi adegan panas di kamar mandi. 


Betapa malunya Ruby dan Dewa saat keluar dari kamar saat langit sudah berubah warna menjadi jingga. Ya hari sudah senja saat keduanya menyantap makan siang mereka, bahkan Melda terus saja tersenyum mengejek kepada sepupunya saat membantu ibunya menyiapkan makan siang mereka yang sudah dingin. 


Sepanjang makan siang di kala senja itu, Ruby terus saja tertunduk malu, tapi tidak dengan Dewa dia terlihat biasa saja. Apa salahnya? Toh memang Ruby istrinya, jadi mau berbuat apapun Dewa sah-sah saja, pikir si Narsis. 







Berjalan-jalan ke pasar malam? 


Bahkan dalam tidur pun Dewa tak pernah memimpikannya. Berkerumun, mencari jalan yang dipenuhi pengunjung adalah hal yang begitu Dewa hindari, bukan baru kali ini, tapi sedari dulu, karena dia adalah salah satu makhluk anti sosial yang memang tidak suka keramaian. Tapi apa yang dia lakukan sekarang? 

__ADS_1


Malam itu, seorang Akira Sadewa Diego, sedang menyusuri sebuah tempat taman ria yang ada di kampung Ruby. Kalau bukan karena Ruby, sepertinya sampai seumur hidupnya pun dia tak akan pernah mau berkunjung ke sana. 


Wisata sekelas dunia saja jarang ia kunjungi saat kanak-kanak dulu, dan kini dia sedang berdiri mengantri untuk membeli gulali kapas di tengah kerumunan. Ah, bisa hancur reputasiku bila si Nathan Sableng itu tau apa yang aku lakukan sekarang, gumam hatinya.


Beberapa kali Dewa menampar pipinya karena rasa tak percayanya bisa berada disana. 


Istriku orang kampung, jadi pastilah aku benar-benar berada disini. Oh God, mengapa aku harus mencintai wanita dari spesies rakyat jelata? Hati Dewa kembali menjerit. 


"Kita naik itu ya!" Ruby menunjuk sebuah wahana bianglala, yang adalah wahana permainan seperti kincir besar. 


Dewa tidak langsung menjawab, diperhatikannya wahana permainan yang sedang berputar itu, mulai dari mesinnya, pintu pagar pengunci, dan bahkan dia sedang menghitung tingkat keselamatan jika dirinya masuk kesana. 


"Aku tidak mau, lihat betapa mereka tidak terlalu memperhatikan tingkat keselamatan pengunjung," jawab Dewa dengan ekspresi yang sulit Ruby artikan.


"Maksudnya?"


"Ya, liat saja, mereka hanya mengunci bilik itu asal. Perhatikan olehmu kondisi wahana itu, kotor, dan lihat juga disisi sana, begitu banyak karat di bagian engselnya." Dewa menjelaskan panjang lebar. 


"Aneh! Aku dari kecil main itu aman-aman aja," jawab Ruby dengan wajah kesal. 


"Akan aku ajak kamu ke wahana bianglala terbesar di dunia yang ada di Vegas. Atau nanti kita ke Singapur saja, setauku negara itu juga punya salah satu bianglala yang tertinggi di dunia. Jika aku tak salah. Sebab aku juga belum pernah kesana.— Oh iya aku baru ingat, aku juga pernah naik bianglala di Osaka, kalau kamu naik itu, kamu akan dibuat terpukau melihat pemandangan kota Osaka, laut dan pegunungan secara bersamaan." Dewa seperti sedang memamerkan kekayaannya di hadapan Ruby dan kedua sahabatnya Desi dan Ratna. 


Bukannya senang, Ruby malah mencibir suaminya, tapi tidak dengan kedua gadis yang ada diantara mereka, keduanya langsung membayangkan semua bianglala dalam imajinasi mereka, yang sepertinya sangat jauh dari ekspektasi sebenarnya. 


"Kalau kamu gak mau, yaudah. Aku sama mereka aja yang naik," tantang Ruby. Tapi sepertinya kedua sahabatnya itu malah termakan ucapan Dewa, mereka yang biasanya antusias jadi terlihat enggan untuk menaiki bianglala yang sebenarnya hampir setiap malam mereka naiki. 


"Kok kalian gitu sih?"


"Jadi sieun (jadi takut)," Ratna bergidik membayangkan tragedi mengerikan yang sebenarnya belum tentu mereka alami. 


Senyum kemenangan terpancar di wajah Dewa melihat situasi yang terjadi.


Ruby terus cemberut selama berkeliling, pasalnya Dewa tak pernah mau diajak naik ke wahana bermain, dan memberi alasan yang terlalu sistematis, hingga membuat kedua sahabat Ruby terhasut ucapan suaminya yang kaya raya itu. 


"Terus kita kesini mau ngapain, kalau kesini bahaya, kesono bahaya?" Ruby bersungut-sungut, tapi tangannya terus melingkar di perut Dewa. 


"Udah atuh, urang ngabaso bae (ya udah deh, kita ngebaso aja)!" ajak Ratna. 


"Cocok!" Dewa menyetujui usulan sahabat istrinya. 


Mereka langsung ke tempat pedagang bakso yang berada di gerai kuliner. 


"Kalian saja yang pesan, aku tak usah," Dewa terlihat kurang berselera melihat kedai bakso yang penuh sesak pengunjung itu. Matanya langsung melihat sekeliling, melihat kondisi tempat, sanitasi tempat dan peralatan makan yang mereka gunakan, semuanya jauh dibawah standarnya. 


Hisst, kenapa si Peri Kebersihan ini tidak memperhatikan sanitasi di tempat makan ini? Apa memang aslinya dia seperti itu? Dewa memandang tak suka pada perempuan yang sedang melahap baso berukuran besar di hadapannya. 


"Ini rasanya enak loh. Kamu mau coba?" tanya Ruby seraya menyodorkan potongan baso ke depan mulut suaminya. 

__ADS_1


Mau tak mau, demi menjaga citranya di depan kedua sahabat perempuan yang sangat ia cintai, Dewa pun melahapnya, dan— waaaw, rasanya diluar ekspektasi. 


"Enak?" tanya Ruby. 


Dewa mengangguk, dengan ekspresi biasa saja, mau dimana mukanya jika dia jujur bahwa bakso tersebut begitu lezat? 


Ruby kembali menyuapinya, hati Dewa begitu riang menerima suapan demi suapan bakso yang istrinya berikan. 


Ternyata selera rakyat jelata juga begitu tinggi. 







Tadinya Dewa pikir akan sulit merayu istrinya, tapi tak disangka Ruby sendiri yang datang menghampirinya dengan riang.


"Kita pulang?" tanya Dewa dengan hati-hati, Dewa takut Ruby kembali akan merengek meminta bayi. Karena sebenarnya dia masih enggan untuk membahas perihal anak. 


"Kapan?" tanya Ruby yang bersandar di bahu kekar suaminya, di teras rumah. 


"Siang ini?" tawar Dewa. 


Belum juga Ruby menjawab, Melda keluar dari dalam rumah membawa bayi perempuannya, seperti biasa menjemur bayi tersebut di bawah sinar mentari pagi. 


"Baby Kanza mau berjemur ya!" Ruby menghampirinya, mengajaknya bicara dengan ekpresi wajah yang lucu. 


Dewa terus memperhatikan tingkah lucu dari setiap ekspresi istrinya, yang terlihat begitu menyukai bayi yang hanya melihat tingkahnya tanpa ekspresi. Tapi tetap saja membuat Ruby terlihat gemas dan terus menciumi keponakannya itu. 


"Bisa titip? Aku mau pipis dulu!" Melda menyerahkan bayi mungilnya ke gendongan Ruby. 


"Mama mau pipis dulu katana, Caca (panggilan kesayangan yang Ruby berikan) sama Ante ya!" Dia terus berbicara pada bayi yang pastinya tak sedikitpun mengerti ucapannya. 


Dan betapa gemasnya Ruby, saat melihat senyum kecil dari bayi dalam gendongannya. 


"Jangan diciumi terus, dia bisa kesal karena ulahmu!" ujar Dewa. Entah sejak kapan dia duduk disamping istrinya yang sedang ikut berjemur matahari bersama bayi Melda. 


"Kenapa? Bukannya kamu suka kalau aku menciumimu?" protes Ruby. 


"Bayi itu hanya kenal pada orang yang menyusuinya, sedangkan kamu kan menyusuiku!" jawab Dewa, dengan ekspresi biasa saja. 


"Dasar Bule Mesum!" Cubitan demi cubitan mendarat di lengan kekar Dewa. 

__ADS_1


...Jangan lupa ritualnya Shaaaaay!!! ...


__ADS_2