Love Me Boy!

Love Me Boy!
Rencana ke Filipina


__ADS_3

"Tantemu, beneran hamil?" tanya Akbar masih tak percaya dengan apa yang ia dengar. 


"Bu, bu, bukan itu maksudnya Om!" Dokter muda itu terlihat gugup, melihat wajah Sandra yang penuh harap membuatnya tak enak hati untuk menjelaskan bahwa dirinya bukanlah hamil tapi tanda-tanda menuju menopause. 


"Tante kayaknya bukan hamil, tapi sepertinya ini menjurus ke tanda-tanda menopause." Walaupun sulit tapi Ryu harus menjelaskannya. 


Benar saja, wajah ceria Sandra langsung terlihat kecewa saat mendengar penjelasan keponakannya. 


"Mommy kira akan ada keajaiban di akhir masa subur mommy, nyatanya ladang mommy malah menuju ke gersang. Mommy langsung merasa sangat tua saat mendengar kata menopause." Sandra kecewa. 


Ryu berusaha tersenyum. "Sabar Tan, nanti juga Tante akan dapet bayi dari Dewa. Sabar aja!"


Sandra melirik ke arah putranya yang masih berpelukan bersama Ruby dengan pandangan tak suka. 


Sampai dua hari ke depan Sandra diwajibkan untuk istirahat dulu di rumah sakit. Bukan oleh dokter tapi ini perintah dari suaminya yang tahu jika istrinya diperbolehkan pulang saat itu juga, maka dia akan kembali disibukkan dengan segala rutinitasnya.


Dewa dan Ruby masih ada di ruang rawat inap Sandra hingga petang datang. Keberadaan keduanya membuat Sandra begitu senang, karena melihat keakraban Ruby dan Dewa layaknya suami-istri pada umumnya. Dewa terlihat nyaman tidur dipangkuan istrinya.


"Aku nemenin Mommy ya malam ini!" usul Ruby yang sedang mengelus-elus lembut rambut Dewa seperti biasa.


"Gak usah. Kalian pulang aja, liat suami kamu, dia udah keliatan capek banget." Sandra langsung menolak tawaran menantunya. 


"Bukannya dua hari lagi Dewa akan ke Filipina? Jadi manfaatkan momen kebersamaan kalian sebaik mungkin," Sdmbung Akbar. 


Terlihat jelas wajah terkejut Ruby saat mendengar Akbar memberitahu bahwa suaminya akan pergi ke luar negeri. 


Ruby langsung kecewa, dia langsung berpikir jika dia masih dianggap bukan siapa-siapa oleh Dewa, untuk memberitahu jika dirinya akan ditinggalkan saja, Dewa tidak melakukannya. 


Ruby hanya mengangguk, dilihatnya wajah lelap Dewa di pangkuannya dengan kesal. 


"Bangunin suami kamu, Mommy liat kalian juga belum makan apa-apa." 


Benar apa yang dikatakan Sandra, mereka belum masuk apapun sejak siang tadi. Pantas saja Ruby sudah merasa sangat lapar. 


"Dewa!" Ruby dengan lembut membangunkan suaminya dengan sebuah usapan lembut di pipi. 


Tak ada jawaban, Dewa sepertinya masih berselancar di alam mimpinya. 

__ADS_1


Sekali lagi, Ruby kembali mengelus wajah bertulang pipi kokoh itu, berusaha membuatnya terbangun. 


"Dewa, bangun. Kita pulang!"


Entah ada angin darimana, tiba-tiba saja Dewa meraih tengkuk Ruby hingga bibir Ruby menempel tepat di atas bibirnya kemudian menyesap lembut bibir wanita yang baru saja membangunkannya. 


Sedangkan Ruby hanya bisa mengerjap-ngerjapkan matanya karena terkejut. Begitupun dengan Sandra dan Akbar yang dibuat kaget dengan kelakuan putranya, pasalnya mereka berdua tahu tentang perjanjian bodoh antara dia dan Ruby. 


"Kamu berisik!" Dewa bangkit dari pangkuan istrinya dan menghampiri ranjang Sandra setelah puas mencium bibir Ruby seolah tak terjadi apapun.


"Aku pulang mom!" Dewa memberikan pelukan kepada perempuan yang telah membuatnya khawatir beberapa saat lalu. "Jaga diri baik-baik, jangan suka mencari perhatian dengan sakit lagi. Aku tidak suka!" gerutu Dewa.


"Segera berikan kami cucu supaya kami ada mainan lucu!" ucap Sandra dalam pelukan putranya. 


"Aku akan nyuruh Nathan membawakan sepasang bayi monyet yang lucu-lucu buat kalian!" jawab Dewa asal. 


"Dasar Bule kurang ajar. Kamu pikir kami tempat penangkaran hewan apa! Aku ingin bayi dari bibit kualitas premiummu bodoh!" teriak Sandra karena Dewa segera menjauh dari jangkauannya agar tak kena pukul. 


"Mommy aku pulang dulu mom, jaga diri baik-baik ya! Aku sayang mommy." Ada bulir air mata yang tercipta saat Ruby mengucapkan rasa sayangnya pada Sandra.





Tak banyak kata yang Ruby ucapkan setelah keluar dari rumah sakit. Bahkan saat Dewa dengan sengaja menyimpan sepatunya tak pada tempatnya, Ruby tak protes. 


"Kamu kenapa?" tanya Dewa sambil memeluk erat tubuh istrinya dan membawa jemari lentik Ruby ke atas kepalanya.


"Aku cuma kepikiran mommy," jawab Ruby berbohong. Karena sebetulnya dia masih sakit hati karena Dewa tak memberitahukan rencana keberangkatannya ke luar negeri. 


"Mommy akan baik-baik saja. Bukannya tadi kamu liat sendiri, dia sudah bisa mencaci suami tampanmu ini."


Ruby tak menjawab, walaupun tangannya masih setia mengusap lembut rambut suaminya. Menyisir dan memijat kulit kepala Dewa, sama seperti dengan yang selalu ibunya lakukan setiap ia sulit tidur. 


"Bi!"

__ADS_1


"Hemmm?"


"Lusa aku akan ke Filipin, dan kemungkinan agak lama, paling cepatnya satu minggu aku baru pulang," ucap Dewa yang sedang menenggelamkan kepala di perut Ruby. "Kamu mau ikut?"


"Emang boleh?" Ruby bersemangat.


"Kenapa gak boleh?"


Tapi Ruby langsung menepis ajakan suaminya.  Membayangkan dirinya terkurung di kamar hotel sendiri sambil menunggu Dewa kembali langsung terasa membosankan. 


"Aku disini aja." Ruby lesu.


"Aku cuma takut kamu tak bisa tidur karena guling tampanmu ini tak ada." Padahal bukan itu yang terjadi, karena dialah yang sudah mulai nyaman dan terbiasa dipeluk dan dibelai istrinya. 


"Aku disini aja. Selama kamu pergi aku akan pergi ke tempat yang aku mau, dan bertemu dengan orang yang aku rindu." Ruby tersenyum sambil membayangkan berkumpul dengan teman-temannya sambil berkeliling mall seperti dulu, mungkin sekarang dia akan memberikan beberapa hadiah kepada mereka karena saat ini dia adalah seorang Nyonya dari pria bernama Sadewa.


Tapi berbeda dengan Dewa, dia langsung membayangkan Ruby jalan-jalan sambil bergandeng tangan bersama A'Irfannya. 


"Jangan pernah berpikir kamu bermesraan dengan A'Irfan mu itu selama aku pergi. Ingat, kamu adalah istriku. Istri seorang pengusaha ternama dengan kekayaan yang melimpah ruah, hingga hampir semua orang tau siapa diriku. Jadi kalau sampai media tau kamu berselingkuh di belakangku, tamatlah kalian berdua karena akan bisa dipastikan kalian akan mendapat hujatan dari warganet," ketus Dewa sambil mensejajarkan tubuhnya dengan istrinya. 


"Aku gak kepikiran jalan sama A'Irfan, aku cuma mau jalan-jalan sama temen-temen aku, anak-anak butik Mommy. Lagian aku udah lama gak berhubungan sama A'Irfan, nomor HPnya aja aku gak punya, karena setelah putus aku ganti nomor hape," jawab Ruby, menepis tanggapan miring tentangnya.


Dewa terus memperhatikan keseriusan di wajah Ruby yang hanya berjarak beberapa centi dari wajahnya. 


"Dewa, makasih ya!" Ruby menatap lekat wajah suaminya, hingga kedua manik mata mereka bertemu.


Dewa mengernyit. "Untuk apa?"


"Karena kamu udah ngasih tau aku kalo kamu mau pergi. Aku berasa jadi istri sungguhan." Ruby tersenyum senang.


Entah mengapa ada rasa bahagia yang sulit diungkapkan saat mendengar ucapan terimakasih Ruby, membuat Dewa kembali meraih tengkuk istrinya dan mencium lembut bibirnya, seolah ingin merasakan kelembutan bibir istrinya lebih lama. Hingga dia merasa sudah sangat menginginkan lebih, Dewa melepaskan lumatannya. 


"Hadiah untukmu, jangan berterima kasih aku ikhlas!" ucap Dewa masih dengan kesombongannya. "Lanjutkan!" Dia kembali memeluk perut Ruby agar istrinya kembali membelai rambutnya tanpa memperdulikan keterkejutan di wajah istrinya.


...Apakah ini adalah detik-detik menuju episode hareudang?...


...Tetap setia menanti ya gengs.. 🤗🤗🤗...

__ADS_1


__ADS_2