
Dengan berat hati Ruby meninggalkan kediaman mertuanya diiringi isak tangis Sandra.
"Aku akan sering main kesini mom! Berhentilah menangis seperti drama-drama telenovela yang sering mommy tonton."
"Diam kamu Bule sipit! Mommy bukan menangisi kamu tapi menantu kesayangan Mommy," jawab Sandra sambil memicingkan matanya di pelukan Ruby.
"Sebagai gantinya aku akan menggantikan Ruby menantumu dengan satu set perhiasan rubi."
"Aku bisa membelinya sendiri, yang Mommy mau adalah bayi-bayi yang lucu. Hasil dari bercocok tanam kalian," sarkas Sandra.
Dewa langsung memutar bola matanya mendengar permintaan Sandra.
Drama perpisahan Sandra dan Ruby yang mengharu biru akhirnya usai dengan Dewa menarik paksa tubuh istrinya dari pelukan Sandra.
Kini sepasang pengantin baru itu telah tiba di apartemen Dewa yang begitu maskulin. Warna abu-abu muda mendominasi apartemen itu. Apartemen yang tidak terlalu luas untuk ukuran orang kaya macam Dewa, tapi kemewahan tetap tersaji lewat barang-barang yang ada di sana, dari mulai lampu kristal minimalis yang unik, sofa sudut berwarna hitam yang terlihat sangat kokoh dan pastinya dibeli dengan harga yang fantastis, karpet dari bulu domba asli dengan harga puluhan juta juga menghiasi ruang tamu itu. Entah ruang tamu atau ruang keluarga karena hanya ada satu set sofa di apartemen itu yang menghadap televisi layar datar yang sangat besar.
"Kamar kita!" Dewa menunjuk pintu kamar yang lebar dan kokoh dengan telunjuknya.
Mendengar ucapan suaminya membuat Ruby tersenyum malu.
"Jangan berpikir yang aneh-aneh karena cuma ada satu kamar tidur di apartemen ini." Dan sepertinya memang itu kenyataan, karena Ruby hanya melihat satu pintu besar yang ada di ruangan itu.
Dengan lesu Ruby menarik koper miliknya ke dalam kamar yang Dewa sebut 'Kamar kita' tadi.
"APA INI?" teriak Ruby saat dirinya membuka pintu kamar.
Dewa yang saat itu sedang mengambil minum di dapur langsung berlari menghampiri teriakan Ruby.
"Ada apa?" tanya Dewa dengan wajah khawatir.
"Apa ini yang kamu sebut kamar kita tadi?"
Dewa bingung dengan pertanyaan dan wajah protes istrinya. Memang apa yang salah dengan kamar ini? Pikir Dewa yang telah lebih dari 10 tahun menempati apartemen miliknya.
"Iya. Emang kenapa?" Dewa bingung.
"Ini kamar apa gudang? Berantakan banget. Lihat sama mata kepalamu tuan muda!" Ruby menarik tangan suaminya agar bisa melihat penampakan kamarnya yang Ruby anggap sangat berantakan.
Kamar yang lebih luas dari suite room hotel yang kemarin mereka tempati itu penuh dengan barang-barang yang tidak ditempatkan di tempat yang semestinya. Seperti beberapa koper yang tergeletak begitu saja di sudut kamar itu, setumpukan pakaian yang entah sejak kapan menumpuk di atas meja yang sepertinya adalah meja kerja, juga kertas dan banyak map yang terlihat memenuhi nakas di samping tempat tidurnya, belum lagi tumpukan buku yang ada di lemari kaca yang terlihat hanya menumpuk begitu saja.
"Aku tidur dimana?" Mata berbulu mata lentik itu menghakimi Dewa.
__ADS_1
"Tuh!" Dewa menunjuk ranjang mewah dengan dagunya yang tak kalah berantakan.
"Aku seperti memasuki kandang b*bi," ketus Ruby sambil menarik bad cover yang membungkus ranjang besar itu.
"Dimana kamu simpan sprei penggantinya?"
Entah mengapa melihat kemarahan di wajah Ruby saat melihat kamar tidurnya yang sangat berantakan membuat Dewa kehilangan keangkuhannya. Dia berjalan menuju ruangan yang adalah tempat penyimpanan pakaian dan aksesorisnya.
"Simpan di kasur!" titah Ruby saat melihat suaminya kembali dengan sprei dan selimut dengan warna yang hampir sama dengan seprei yang sebelumnya. Abu-abu.
Dewa kembali menurut. Kemudian duduk memperhatikan wanita yang tiba-tiba saja seperti mommynya jika sedang berada di apartemennya.
"Ambilkan kantung sampah!" Dewa kembali mendengar perintah dari si Peri kebersihan itu.
"Buat apa?"
Ruby langsung membalikkan tubuhnya dan memberikan tatapan yang sangat tajam kepada Dewa. "Membungkusmu!"
"Sudahlah. Kamu tak perlu repot-repot berbenah. Aku seperti sedang menjadikanmu pembantu."
"Tapi aku tidak bisa tidur di kandang b*bi," jawab Ruby ketus.
Hampir dua jam Ruby merapikan kamar tidur Dewa, walaupun masih ada tumpukan buku yang belum ia rapikan, tapi untuk hari ini cukuplah untuk kamar itu layak huni.
Sudah pukul 8 malam, pantas saja Ruby merasakan bunyi dari dalam perutnya.
"Dewa!"
"Hmmm?" Dewa terlihat cemas, kalau-kalau dirinya diceramahi lagi oleh istrinya.
"Aku lapar!"
"Mau keluar apa pesan dari restoran bawah?" Tanya Dewa yang terlihat lega menjawab ucapan istrinya.
"Pesan aja. Aku capek." Ruby merebahkan tubuhnya di ranjang yang sama mewahnya dengan ranjang yang ada di hotel kemarin. "Nyamannya!" Ruby mengepak-ngepakan tangan dan kakinya di atas ranjang yang baru selesai ia ganti cover dan selimutnya.
"Karena ranjang ini buatan Amerika yang harganya hampir 7000 US dolar," ucap Dewa dengan bangga.
"Apalah arti barang ratusan juta jika ditempatkan di kandang b*bi," sindir Ruby.
Lagi-lagi Dewa tidak bisa menjawab sindiran istrinya. Ruby benar-benar seperti menusuk Dewa tepat di jantungnya.
__ADS_1
Sekitar satu jam kemudian pesanan makan malam mereka pun datang dari restoran yang ada di seberang gedung apartemen elite tersebut.
Mereka makan dengan lahapnya terutama Ruby yang memang lelah sehabis mengubah kandang b*bi menjadi kamar layak huni.
Sebuah puding coklat berlumur vla menjadi penutup manis makan malam mereka.
Setelah selesai mencuci piring bekas mereka makan. Ruby ikut duduk di menonton televisi di samping suaminya.
"Sudah waktunya tidur. Sana ke kamar!" ucap Dewa tanpa melirik sedikitpun ke arah istrinya.
"Guling!"
Lagi-lagi guling yang menjadi permintaan Ruby. Karena memang di kamar Dewa pun tak ada benda yang Ruby sebut guling.
"Sudah sana! Belajarlah hidup tanpa benda itu, kita saja sebagai manusia tidak boleh bergantung kepada manusia, apalagi itu cuma sekedar guling."
Mendengar ejekan suaminya Ruby segera bangkit dari duduknya menuju kamar yang baru saja dia rapikan layaknya kamar pada umumnya.
Ruby menggantikan benda bernama guling itu dengan bantal. Tapi tetap saja itu tidak membuatnya terlelap. Berkali-kali dia merubah posisi tidur, mengatur suhu kamar, mengatur cahaya lampu, tapi tetap saja itu tidak membuat Ruby tertidur.
Tak ada tanda-tanda pula Dewa masuk ke kamar mereka sebab suara televisi masih terdengar dari dalam kamar.
"Kamu belum tidur?" tanya Dewa saat melihat istrinya tengah melipat kakinya sambil menopang dagunya di atas lutut.
Dewa yang saat itu hanya ingin mengambil charger ponselnya, tak mengira jika Ruby masih belum tidur juga.
Tak ada jawaban dari Ruby, karena dia masih kesal dengan ucapan terakhir suaminya tadi.
"Besok kita ke beli 10 pasang guling supaya kamu bisa tidur tanpa memelukku. Karena aku takut kamu akan menerkam ku saat aku tidur."
Tapi Ruby tak menjawab, dia seperti tak mendengar suara apapun yang keluar dari mulut suaminya.
Dewa naik ke atas ranjang mereka, kemudian merebahkan tubuhnya.
"Tunggu apalagi? Ayo tidur? Bukannya kamu merindukan kehangatan dan aroma tubuhku?"
Dewa menarik lengan Ruby hingga dia terjerembab jatuh ke kasur. Dan beberapa saat kemudian Dewa merasakan tangan kecil Ruby melingkar di perutnya.
...Jangan lupa ritualnya Para readers ku sekalian alam.....
...Dari yang kasat mata hingga yang tak kasat mata.. 🤭...
__ADS_1
...Like, Komen and Vote!!...
Maksa aku tuh🤗🤗🤗🤗