
Dua hari setelah kembali dari sana Dewa terus saja memikirkan Ruby, lebih tepatnya memikirkan jika dia berpisah dengan Ruby nanti, dan hal itu membuat kinerjanya dalam bekerja sedikit berkurang, seperti tadi saat Nathan meminta tanda tangannya, Dewa malah salah membubuhkan tanda tangan di tempat yang bukan semestinya, dan hal itu otomatis membuat Nathan kesal karena dia harus mencetak ulang dokumen tersebut.
"Tolong tanda tangani lagi. Kali ini perhatian lebih seksama. Bukannya Anda selalu bilang waktu adalah uang, jadi karena kelalaian Anda saya jadi menghambur-hamburkan uang saya!" Gerutu Nathan.
"Kamu dan Ruby sama berisiknya." Jawab Dewa mendengar ocehan Asisten Pribadinya.
"Wah, biasanya saya akan disamakan dengan Ibu, tapi kenapa akhir-akhir ini Anda lebih sering menyamakan saya dengan Nona?" Asisten pribadi itu seperti tak pernah ada takutnya pada atasannya.
Dewa hanya diam saja, dia malas harus berdebat masalah tidak penting itu dengan Nathan.
"Nih!" Dewa menyerahkan dokumen yang telah ia tanda tangani.
Nathan langsung memeriksa ulang letak tanda tangan Dewa tadi.
"Akhir-akhir ini wajah Anda terlihat segar Pak, apa tidurmu mulai membaik?" Tanya Nathan yang beberapa hari ini memperhatikan perubahan di wajah Dewa.
"Si cerewet itu pintar sekali membuatku terlelap." Dewa tersenyum sambil membayangkan wajah Ruby.
Sedang Nathan salah paham mengenai ucapan Dewa. "Apa kalian sudah—" Nathan menyambung kedua jari telunjuknya.
"Apa yang ada di otakmu? Mesum!" Hampir saja sebuah map mendarat di tubuh Nathan jika dia tidak menggeser tubuhnya yang sedang duduk di samping Dewa.
"Hal yang wajar jika saya berpikiran seperti itu, kalian kan suami-istri, bukankah sudah sewajarnya kalian melakukan hal yang berhubungan dengan persemaian benih."
"Bukannya kamu sendiri yang mencetak perjanjian pranikah itu?" Dewa mengingatkan jika statusnya dan Ruby adalah suami-istri di atas perjanjian.
"Kupikir pertahanan Anda akan roboh dalam satu minggu, tinggal satu apartemen, tidur satu kamar. Ah, hayalanku ternyata tak sejauh realita." Nathan terdengar kecewa.
"Karena aku adalah pria yang memiliki iman yang kuat yang tak mudah digoyahkan hanya karena melihat wanita telanjang di depanku!" Dewa membanggakan diri.
"Baru saja saya akan menyebut Anda bodoh. Untung saja tidak aku ucapkan!"
"HEI BARUSAN SAMA SAJA KAMU MENGATAIKU BODOH, TAU!" Bentak Dewa.
"Lalu kalau bukan bodoh, memang apa lagi? Kalau saya jadi Anda, saya akan menggarap istri cantik saya sebaik mungkin. Membayangkan wajah Nona saja sudah membangkitkan sesuatu dalam diriku." Nathan malah terlihat malu.
"Buang pikiran mesummu tentang istriku. B*jingan! Kamu ingin merasakan tinju ini mendarat di wajah pas-pasan mu itu?"
Dewa mencengkram kerah baju Nathan, wajahnya merah penuh amarah. Ternyata pancingan Nathan berhasil, Nathan dapat menyimpulkan jika pria dengan darah campuran itu telah jatuh hati kepada istrinya.
__ADS_1
"Sabar Pak! Ingat tugas saya masih menumpuk sampai bulan depan, ditambah lagi kita harus ke Filipina dua hari lagi. Apa bapak bisa menghandle semua pekerjaan saya? Tenangkan diri Anda Pak, demi laba perusahaan yang terus meningkat." Pria dengan keberanian tinggi itu menghentikan tindakan atasannya yang akan mencelakainya.
"Maka dari itu, berhenti berimajinasi mesum tentang istriku!" Dewa melepaskan cengkramannya saat melihat Nathan mengangkat kedua tangannya.
"Oke baiklah. Aku akan berhenti. Nanti saja setelah kalian bercerai. Begitu kan maksud Anda Pak?" Ucap Nathan sambil berlari keluar ruangan CEO itu.
"Berhenti kau ********!" Teriak Dewa.
Saat Dewa baru saja mengontrol emosinya tiba-tiba saja ponselnya berdering. Panggilan dari Ruby yang masuk.
"Ada apa? Apa kamu mau tidur siang?" Dewa menggoda istrinya.
Tak ada jawaban dari Ruby yang ada hanya terdengar suara isakan dari istrinya.
"Kamu kenapa? Ponselmu rusak lagi?"
"Mommy pingsan, sekarang mommy ada di rumah sakit. Aku lagi di taksi mau kesana."
Mendengar wanita yang paling disayanginya di dunia ini pingsan Dewa langsung merasa lemas. Tak pernah terdengar riwayat penyakit apapun dari Sandra, apalagi penyakit berbahaya, tapi mendengar itu, tiba-tiba saja Dewa ketakutan. Takut kalau-kalau hal buruk menimpa mommynya.
"Aku segera kesana!"
•
•
•
Pintu kamar dibuka dengan sangat tergesa-gesa, Dewa pelakunya. Dia langsung mencari keberadaan Sandra yang ternyata sudah sadar dan sedang menikmati apel yang dikupas oleh istrinya.
"Kamu kenapa Mom?" Tanya Dewa sambil memeluk erat Sandra.
"Apa kamu takut Mak Lampir Meksiko ini mati?" Sandra menepuk-nepuk punggung putranya. "Aku baik-baik saja Son."
Dewa langsung bisa bernafas lega mendengar ucapan mommynya.
"Mana Si Suneo suamimu?" Dewa tidak melihat keberadaan Akbar.
"Ngelunjak! Dasar anak sinting!"
__ADS_1
Sebuah tinju mendarat di lengannya, karena ulah Akbar. Ternyata dia baru dari kamar kecil.
"Mommymu cuma kecapean. Beberapa malam dia kurang tidur karena dikejar deadline pesanan baju." Lanjut Akbar menenangkan ketegangan di wajah putranya.
Beberapa saat kemudian seorang dokter berwajah oriental, berkulit putih dan bermata kecil masuk ke ruang rawat inap VVIP tersebut.
"Hai Bro, bagaimana pernikahanmu?" Tanya dokter muda yang ternyata adalah sepupu Dewa dari pihak ayahnya.
"Seperti itulah, tidak ada yang spesial." Jawab Dewa datar.
"Bulan-bulan pertama pernikahan memang sangat menyiksa bagi kita para suami, apalagi kamu yang biasa hidup sendiri harus berbagi ruangan yang sama dengan orang lain." Gurau ayah dari dua orang anak itu.
"Ditambah dia sangat cerewet dan sering memerintah." Dewa melirik istrinya yang duduk bersebrangan dengannya.
"Karena kamu jorok. Jadi mana tahan untuk mulutku tidak mengomel." Balas Ruby.
Semua yang ada di ruangan itu pun tertawa mendengar perdebatan suami-istri tersebut.
Dokter muda bernama Ryu itu akhirnya memeriksa kondisi Sandra yang terlihat lebih baik dari sebelumnya.
"Mau minum?" Ruby menyerahkan sebotol air mineral kepada suaminya.
"Jangan khawatir mertuamu itu memiliki ilmu menyembuhkan dirinya sendiri dengan sangat baik." Dewa mengelus punggung Ruby, masih teringat jelas isak tangis penuh ketakutan Ruby saat dia memberitahukan kondisi Sandra tadi.
"Sudah sejak kapan Tante tidak datang bulan?" Pertanyaan sang dokter membuat Dewa dan Ruby ikut mendengarkan jawaban si Pasien.
"Sepertinya bulan kemarin pun Tante gak datang bulan. Ya sudah dua bulan Tante gak datang bulan." Sandra mulai mengingat-ingat. " Apa itu artinya Tante sedang hamil?"
"HAMIL?" Dewa, Ruby dan Akbar kompak.
Bahkan Ruby dan Dewa langsung saling berpelukan di atas sofa tempat mereka duduk saat mendengar Sandra hamil.
"Mommy hamil? Jadi itu artinya aku akan memiliki seorang adik ipar?" Tanya Ruby dengan mata berbinar saat meminta jawaban kepada suaminya.
Ampe Otor soleha ini juga ikut bilang "HAMIL" loh saking kagetnya.
Lagi-lagi Sadeli kena salip.. 😜😜😂😂😂
Jangan lupa ritualnya, supaya Otor soleha sejagat Noveltoon ini semangat upnya.. 🤭
__ADS_1