Love Me Boy!

Love Me Boy!
Meruntuhkan pertahanan lawan


__ADS_3

Sepasang ibu mertua dan menantu sedang berkoalisi untuk menyusun strategi meruntuhkan pertahanan lawan yang targetnya adalah suami dari sang menantu.


"Sejak kapan Si Bule itu maen sosor sama kamu?" tanya Sandra awalnya. 


"Baru kemaren mom, aku juga kaget," jawab Ruby sedikit malu. "Eh waktu di kampung aku juga nyium aku mom, tapi dulu sih katanya cuma karena kepanasan soalnya aku sumpel mulutnya pake pisang goreng panas."


"Dasar Istri durjana. Tega-teganya kamu nyumpel suami kamu pake pisang goreng panas!" Sandra sedikit kesal mendengar Ruby menyakiti putra semata wayangnya yang sableng itu. 


"Maaf mom!" Ruby langsung terlihat menyesal. 


"Sorry, sorry mommy kebawa emosi." Sandra menyadari kesalahannya karena membentak Ruby. "Setelah di rumah sakit pernah lagi dia nyium kamu?" Sandra penasaran. 


"Semalem." Ruby tertunduk malu. "Tapi keselnya dia malah bilang 'gak usah berterima kasih! Aku ikhlas' gitu mom katanya."


Sandra langsung bisa membaca gelagat jika putranya telah jatuh hati pada menantu kesayangannya itu. Tapi karena sifat arogannya dia masih malu untuk mengungkapkan perasaannya. 


"Momen menuju persemaian seperti sudah dekat, kita tinggal menyusun strategi yang baik saja agar pertahanan Bule sipit itu runtuh." Sandra menopang dagunya di atas bantal sambil memikirkan strategi yang bagus untuk memulai misinya. 


"Coba kamu panas-panasin dia dengan meragukan kejantanannya, kamu pojokan Bule sipit itu dengan menyebutnya sebagai gay. Dia pasti akan marah dan membuktikan diri bahwa dirinya adalah pria sejati." Sandra tersenyum licik ke arah menantunya. 


Ruby malah bersemu mendengar ucapan mertuanya, kejadian memalukan itu kembali terlintas di pikirannya. 


"Kamu kenapa?" Sandra bingung melihat semu merah di wajah menantunya. 


"Aku pernah melakukannya—" Ruby berbicara dengan suara pelan. 


"Lalu?" Sandra bersemangat. 


Ruby langsung menceritakan kejadian malam itu kepada Sandra hingga saat dimana Ruby sudah terbuai dan menginginkan lebih, Dewa malah seenaknya meninggalkan Ruby dengan begitu menyakitkan. 


"Dia melakukan itu kepadamu? Bahkan disaat kamu sudah hampir telanjang pun dia masih bisa bertahan untuk tidak menjajahmu?" Sandra terlihat kesal bahkan dia sampai meremas bantalnya seolah sedang meremas putranya. 


"Kalo begitu, tinggalkan dia!"


Ruby terkejut mendengar ucapan mertuanya yang menyuruhnya meninggalkan Dewa, pergi 2 hari tanpa Dewa saja sudah membuat dia sulit tidur hingga membuat Ruby menyesal telah kabur ke kampung halamannya. 


"Mommy?" Air mata langsung menetes tak tertahankan. 


"Bukan begitu maksud mommy." Sandra gelagapan melihat menantunya menangis.


"Tapi tadi mommy nyuruh aku ninggalin dia, dan itu artinya mommy nyuruh aku cerai kan?" Isak Ruby semakin kencang. 


"Aduh sayang, bukan gitu maksud mommy, tapi cuma pura-pura." Sandra berusaha menyapu air mata menantunya. 


"Pura-pura?" tanya Ruby di sela tangisnya. 

__ADS_1


"Iya, ancem doang," jawab Sandra. "Kamu ancem minta cerai sama dia. Kamu bilang kamu akan mencari pria lain kalau Bule itu tidak memberikanmu— kamu tau kan maksud mommy!"








"Apa yang mau kamu persiapkan? Aku cuma butuh dirayu!" teriak Dewa yang terlihat sudah tak sabaran. 


"Tunggu lima menit lagi!" balas Ruby yang juga teriak. 


"Dimana aku simpan gaun tak beradab itu ya?" Ruby sedang mencari kotak yang berisi gaun malam yang Sandra berikan pada malam pengantinnya. 


Setelah hampir menyerah, akhirnya kotak itu berhasil ia temukan di tumpukan pakaian dalamnya. 


Dengan terus bergidik Ruby memperhatikan gaun yang teramat sangat menerawang itu. "Apa aku lepas bra ini atau aku pake aja ya?" Ruby menatap cermin. 


Perlahan Ruby keluar dari kamar ganti dengan lantunan doa terus ia lantunkan dalam hatinya. Ruby begitu gugup, walaupun ia sudah sangat siap lahir batin, tapi ini adalah momen yang begitu mendebarkan setelah acara pernikahannya bulan lalu. 


Dewa sedang membaca sebuah e-mail yang masuk dari Nathan, yang ternyata adalah susunan kegiatannya selama di Filipina selama kurang lebih satu minggu kedepan. 


"Jika jadwalku sebanyak ini, apa mungkin aku akan menyelesaikannya dengan cepat?" gerutu Dewa, dia sampai tak sadar jika wanita yang sedang ia tunggu sudah ada di hadapannya.


"Dewa!"


Dewa langsung mendongakkan kepalanya mendengar panggilan lembut dari suara Sang Istri. Dan betapa terkejutnya Dewa saat melihat Ruby begitu menggoda hingga membuat sesuatu meronta-ronta karena terhimpit sesak. 


Dewa meneguk salivanya dengan susah payah, kala melihat lekuk tubuh Ruby dibalik gaun tak beradab itu. 


"Aku harus ngegoda kamu kayak gimana?" tanya Ruby malu-malu, karena pada dasarnya, tak ada pengalaman baginya menggoda pria manapun. 


Dewa langsung menarik tubuh yang hampir telanjang itu hingga duduk di pangkuannya, dilumatnya bibir Ruby dengan begitu liar, tak ada lagi lumutan lembut seperti awal permainan mereka yang lalu Dan hal yang Dewa lakukan itu membuat Ruby menggeram nikmat saat lidah suaminya bermain dalam rongga mulutnya. Sedangkan tangannya merayap dengan nakal mengelus punggung halus Ruby.


mDewa makin tak tahan mendengar desahan-desahan lembut terus keluar dari bibir Ruby saat lidahnya pindah ke leher jenjangnya, mengabsen semua sudut leher kecil Ruby, hingga akhirnya Dewa merebahkan tubuh semampai Ruby ke ranjang tanpa melepaskan tautan mereka. 


Kini tangannya tengah bergerilya di dua gundukan besar Ruby, dengan satu tarikan tangan kekarnya gaun tak beradab itu sobek hingga menampakkan tubuh bagian atas Ruby tanpa lapisan apapun. 


"Buka baju kamu juga!" Ruby masih teringat bagaimana Dewa mencampakkannya malam itu dan dia takut hal itu terulang lagi.

__ADS_1


Dewa tersenyum sambil membuka pakaian atasnya kemudian melanjutkan sesi pemanasan mereka, dia kembali mencium lembut bibir Ruby hingga kedua dada mereka saling bergesekan, sampai Dewa merasakan sesuatu yang mengeras di puncak dada istrinya hingga begitu menggoda imannya. Dewa mencium, menghisap, menjilat dan mengemut kedua benda dengan p*ting berwarna pink yang sudah mengeras itu. 


Sementara Ruby sedang merasakan gejolak yang begitu menggebu dari dalam dirinya hingga ia merasakan basah pada celana dalamnya. 


Ruby hampir gila, Dewa menjamahnya dengan begitu lembut namun sangat menggairahkan. Entah berapa kissmark yang Dewa ciptakan dari leher hingga perutnya. 


"Mari kita mulai!" bisik Dewa seraya menjilat telinga lawannya. 


Dewa mulai membuka celananya hingga hanya menyisakan celana dalam yang menempel di tubuhnya. 


"Aku takut." Ruby kembali teringat erangan Melda menahan sakit saat malamnya. 


"Kita akan mulai dengan perlahan," jawab Dewa sambil menciumi perut ramping Ruby. 


"Ruby, celanamu ada darahnya!" Dewa hampir berteriak saat mengucapkannya, karena dia begitu terkejut saat membuka celana dalam istrinya dan melihat noda  darah di celana dalam warna putih itu. 


Begitu pun Ruby, ia pun tak kalah terkejut mendengar ucapan suaminya. 


"Apa yang kamu lakukan sampai membuat aku berdarah!" tuduh Ruby. 


"Aku belum berbuat apa-apa bahkan celana dalam aku saja masih menempel." Dewa memperlihatkan celana ke arah Ruby. 


"Apa ciuman tadi berhasil membuat aku tidak perawan lagi?" Kali ini Ruby hampir menangis. 


"Mana mungkin, aku belum memasukkan apapun, bahkan jari-jari suci aku pun belum menyentuhnya!" protes Dewa. 


Ruby langsung bangkit dan kembali memakai celana dalamnya yang telah dibuka setengahnya karena menyadari sesuatu. 


"Dewa, kayaknya aku datang bulan." Ruby tertunduk saat mengucapkannya. 


"SERIOUSLY?" Dewa masih tak habis pikir. 


Tapi melihat darah di celana dalam istrinya tadi telah membuktikan bahwa ucapan istrinya itu benar. 


"Kamu benar-benar membalasku dengan sangat kejam!" 


Dewa pun bangkit, langsung berjalan menuju kamar mandi kemudian menatap mesra sabun cair di hadapannya. 


...Gagal lagi aja.....


...padahal Otor udah tahan nafas loh bacanya. Eh gagal lagi aja... 🤭🤭🤭🤭...


...Para readers pecinta episode Hareudang pasti kecewa.. 🤣🤣🤣...


...Jangan lupa ritualnya, walaupun klean kecewa.. 🤭...

__ADS_1


__ADS_2