Love Me Boy!

Love Me Boy!
Terbang


__ADS_3

Tak pernah terbayangkan oleh Ruby sebelum menikah dengan seorang Sadewa dirinya bisa berkeliling kota dengan menggunakan sebuah helikopter. Ruby masih tak percaya jika semua yang ia alami ini nyata, bisa melihat pemandangan daratan dari atas langit masih membuat dirinya masih tak percaya jika itu benar terjadi. 


Awalnya Ruby begitu gugup saat merasakan helikopter mulai meninggalkan daratan, dia terus menggenggam tangan suaminya dengan keringat yang terus keluar dari telapak tangannya. Tapi saat melihat senyum di wajah Dewa yang seolah mengartikan bahwa semua baik-baik saja barulah Ruby mulai merasa tenang, dan mulai bisa menikmati terbang pertamanya. 


"KAMU PUAS?" tanya Dewa pada istrinya yang terlihat terus tersenyum lebar saat melihat pemandangan daratan dari atas langit. 


"SANGAT!" Dengan senyuman yang tak luntur dari wajahnya. 


Ruby cekikikan saat seberkas kenangan waktu ia kecil datang menghampirinya, karena dulu jika ada pesawat atau helikopter yang melintasi perkampungannya, dia dan teman-temannya akan berteriak-teriak sambil melambai-lambaikan tangan ke arah pesawat ataupun helikopter. 


"Bodohnya aku dulu," gumamnya saat melihat ke daratan, karena yang bisa ia lihat hanya petakan-petakan rumah dan gedung-gedung. Tanpa seorang manusia pun yang terlihat olehnya dari atas sana. 


Dewa yang memperhatikan istrinya cekikikan sendiri dibuat penasaran. "KENAPA? APA YANG KAMU TERTAWAKAN?"


"AKU CUMA BEGITU SENANG BISA MEMPERSUAMI KAMU."


Jawaban Ruby memancing senyum si pria narsis yang duduk di sampingnya. Aku begitu beruntung bisa mendapatkanmu. Ingin sekali dia mengucapkan itu, tapi sepertinya gengsinya masih melebihi tinggi helikopter itu terbang. 


Setelah puas berkeliling akhirnya helikopter berwarna hitam itu kembali mendarat di puncak gedung perusahaan pria bernama Sadewa itu. 


Dengan penuh kasih Dewa membantu melepaskan sabuk pengaman istrinya yang tadi terlihat kembali gugup saat helikopter kembali mendarat. 


Dewa turun terlebih dahulu, "Kamu bisa turun perlahan!" Tangan Dewa menjulur, sebagai pegangan untuk istrinya. 


Nathan sudah ada disana saat Dewa dan Ruby kembali mendarat. Bukan untuk menyambutnya, tapi hanya untuk mengingatkan Dewa bahwa akan ada rapat penting satu jam lagi. 


"Bagaimana perjalanan pertama Anda dengan heli Nona?" 


"Sangat menegangkan." Ruby masih erat melingkarkan tangannya di lengan suaminya. "Bahkan lebih menegangkan dari waktu pertama kali itu," lanjutnya sambil berbisik kepada Dewa. 


Meski demikian, Nathan masih bisa mendengar ucapan istri dari atasan sablengnya itu. 


"Dasar mesum!"


"Kamu lebih mesum!" 


Kalian berdua memang pasangan mesum. Nathan mencibir sepasang suami-istri yang berjalan dua langkah di depannya. 


"Kamu tunggu disini aja. Karena rapat kali ini sepertinya berjalan cukup lama." Dewa memencet remot ke arah dinding putih di belakang singgasananya. 

__ADS_1


Tampaklah sebuah ruang rahasia di balik dinding putih itu. Lagi-lagi Ruby tertawa saat mengingat kejadian beberapa bulan lalu saat dirinya menyangka bahwa suaminya sedang main serong dengan asisten pribadinya sendiri. 


"Kamu kenapa? Jangan bilang kamu sedang merayuku untuk itu disini!"


Ruby mendesis. "Itu isi otak aku, apa otak kamu?"


"Sepertinya itu isi otak Pak Dewa!" Nathan yang menjawab kemudian lari menghindari benda yang akan melayang ke arahnya. 


"Dasar asisten gadungan!" Teriak Dewa ke arah pria yang sedang terbirit-birit itu. 


Dewa melirik jam yang melingkar di pergelangan tangannya. Masih 40 menit lagi menuju rapat. 


"Kamu mau makan?" 


"Aku belum lapar."


"Tapi kenapa tiba-tiba saja aku begitu lapar ya?" 


Ruby langsung tau arti lapar yang dimaksud suaminya, dia buru-buru menghindari ciuman suaminya. 


"Kamu mau ada rapat sebentar lagi, Mesum!" Ruby masih menahan dada bidang suaminya walaupun bibir Dewa sudah sedang mengabsen setiap sudut leher dan cupingnya. Dan hal itu selalu membuat hati Ruby menggelenyar setiap kali merasakan sentuhan suaminya. 


"Aku cuma ingin membawamu terbang untuk kedua kalinya." Bisik Dewa sambil menggigit lembut daun telinga Ruby. 


Dewa terkekeh melihat istrinya yang tiba-tiba gugup. Karena sebenarnya dia hanya sedang menggoda istri yang memang selalu terlihat menggoda setiap saat. 


"Biar OB saja yang membawakan pesananmu." Dewa menarik tubuh istrinya untuk duduk di pangkuannya. 


"Aku gak mau ngerepotin mereka, tugas mereka udah sangat banyak. Kasian mereka kal— Aw!" Ruby menjerit saat suaminya mer*mas payudaranya dengan kuat. 


"Aku tak mau kamu bertemu dengan pria kampung itu!" Sarkasnya sambil membuka beberapa kancing gaun Ruby.


"Kamu masih cemburu sama A'Irfan?" Ruby tersenyum mengejek. 


Dewa tidak menjawab karena mulutnya tengah sibuk menikmati dua gundukan yang kini sudah dia miliki seutuhnya. Mengul*m, menjilat, menghisap dia terus memainkan sesuka hatinya. 


"Sudah! Aku, udah, gak, kuat!" Ruby sedikit menjambak rambut suaminya, menahan desahan dengan melipat bibirnya ke dalam karena kini tangan nakal Dewa sudah berada di balik gaun bermotif bunga-bunga kecil itu hingga Ruby sedikit membuka kakinya agar Dewa leluasa memainkan jari-jarinya. 


"Dasar mesum! Tadi-tadi kamu menolak tapi baru aku mainkan sebentar saja jari-jari suciku ini sudah basah." Dewa menyeringai melihat wajah Ruby yang menikmati permainannya. 

__ADS_1


"Dewaaaa!" Ruby memanggil suaminya dengan suara erotisnya.


"Apa?" Dia pura-pura tak paham dan semakin dalam memainkan inti istrinya.


"Su… dah!" Dia kembali menggigit bibirnya karena suaminya semakin liar memainkan jari-jari yang dia sebut suci tadi. 


Cairan hangat kembali dirasakan Dewa. Ini pelepasan kedua bagi istrinya, dan bisa dipastikan dia sudah lelah karenanya. 


Aku tidak akan membiarkanmu bertemu dengan pria kampung itu, walau hanya sekedar mengobrol. Aku tak sudi berbagi senyummu dengan pria kampung itu.


"Istirahatlah! 15 menit lagi rapat. Nanti kita makan siang di luar saja." Dewa membaringkan tubuh lemah istrinya kemudian menutup tubuhnya dengan selimut tebal berwarna ungu muda. 


Ruby merasakan bibir suaminya mendarat di setiap sudut wajahnya, sampai Ruby melihat punggung Dewa menjauh, hingga akhirnya dia pun terlelap. 





Bunyi dering ponsel begitu mengganggu tidur lelapnya, niatnya Ruby ingin mengabaikannya tapi dering itu seperti tak henti mengganggunya. Dengan terpaksa dia meraba nakas tempat tas tangannya berada. Dan ternyata telpon dari bibinya di kampung.


"Halo?"


"By, ini ada kiriman parabot mahal ke rumah katanya dari Si Aa Bule buat di simpen di kamar Ruby."


Hist, Dewa benar-benar merombak habis rumahnya, setelah sebelumnya dia membangun ulang rumah keluarganya di kampung, sekarang dia ingin mengganti semua perabot rumah tangga di rumahnya.


"Iya bi, terima aja. Semua udah dibayar Dewa. Lumayan bi, gratis ini." 


"Lain masalah gratis By, atuh ntar tagihan listrik didieu jadi mahal. AC aja ampe 3, kulkas kirimannya mani jangkung, tipi na geh mani lebar jiga layar tancep, bla, bla,bla." Dia terus mengomel, membayangkan tagihan listrik rumahnya yang akan naik berkali-kali lipat. 


"Iya, nanti Ruby yang bayar tagihan listrik. Bibi nikmatin aja semua pemberian Bule itu."


Terdengar puji syukur bibinya panjatkan di ujung telpon, hingga akhirnya dia memberi kabar gembira kepada Ruby yang membuat sudut hati Ruby berdenyut nyeri mendengarnya. 


Konflik baru saja akan dimulai....


Jangan lupa ritualnya Readers ku yang budiman!!

__ADS_1


Eaaaaa🤭🤭🤭


Like, komen, n vote!!!


__ADS_2