Love Me Boy!

Love Me Boy!
Obrolan absurd


__ADS_3

"Fasilitas terbaik!" titah Dewa pada seorang resepsionis hotel. Tangannya terus menggenggam erat pergelangan kecil istrinya.


Seorang dari mereka yang sepertinya sudah kenal dengan pria di hadapannya yang tak lain adalah putra dari pemilik hotel itu, memberikan sapaan kepada Dewa, "Selamat datang kembali di hotel kami."


"Ini hotelku!" gerutunya. 


"Maaf Pak!" jawabnya seraya menundukkan kepalanya. 


"Aku udah pesen kamar disini," ucap Ruby kepada suaminya. 


"Bukannya tadi kamu bilang kalau kamu tidur sama mertua cerewet kamu itu?" Dewa melirik wajah protes istrinya. "Aku butuh ketenangan pikiran, aku benar-benar butuh istirahat." Dewa menyambar kunci kamar hotelnya.


"Apa susahnya sih kamu bilang kalau aku tidur sama mommy?" gerutu Ruby seraya melingkarkan tangannya di lengan dengan cetakan otot-otot yang menonjol milik suaminya. 


"Kamu mau mandi dulu? Aku siapin air panas buat kamu ya?" ucap Ruby sesampainya mereka di kamar hotel mewah walaupun tidak sebanding dengan kamar hotel mereka dulu. 


"Untuk apa mandi kalau kita akan berkeringat lagi?" Dewa langsung menyambar bibir istrinya dengan posesif dengan sebelah tangannya sibuk merem*s-remas bokong Ruby, membuat Ruby sedikit mengerang dalam ciuman penuh nafsu mereka. 


Dewa menggiring tubuh semampai itu ke ranjang besar bersprei putih itu tanpa melepaskan tautan lidah mereka. 


Dewa melepaskan pagutannya saat melihat Ruby sudah mulai kehabisan nafas. 


"Dasar nakal!" ucap Dewa melihat Ruby tengah sibuk membuka kancing kemeja yang ia kenakan. 


"Terus kamu apa?" balas Ruby kepada Dewa yang berusaha melepaskan resleting gaunnya di bagian belakang. 


Keduanya terkekeh saat menyadari kelakuan mesum masing-masing dari mereka. 


"Kita harus cepat-cepat, aku belum memberi selamat kepada Yuki." Ruby mengangkat sedikit punggungnya saat merasakan tangan Dewa sedang berusaha melepaskan pengait bra yang ia kenakan. Sedang lengan berjari lentik itu berusaha melepaskan kancing dan resleting celana Dewa. 


Lagi, Ruby sedikit mengangkat tubuhnya saat Dewa menarik gaun yang menutup tubuhnya dan melempar asal gaun yang telah berhasil ia lucuti, seperti tak sabar ingin menikmati kedua benda yang sedang menantang dirinya untuk disentuh. 


Ruby menahan desahannya dengan menggigit bibir bawahnya saat Dewa memberikan stempel-stempel kepemilikan di atas tubuhnya. Kali ini Ruby mengangkat bokongnya agar Dewa mudah membuka benda terakhir yang menutupi area pribadinya. 


"Jangan!" teriak Ruby saat ia melihat gelagat Dewa akan merobek celana dalamnya. 


Terlambat, Dewa lagi-lagi berhasil merobek benda terakhir itu. Tapi wajah protes bercampur kesalnya hanya berlangsung beberapa detik, karena selanjutnya Ruby sudah terbuai kenikmatan yang Dewa ciptakan hingga melupakan kelakuan jahanam suaminya. 


Desahan, dan erangan terus menggema mengisi kamar hotel tersebut. Sudah tak ada lagi rasa sesak yang menyiksa karena sebuah kata rindu, karena yang ada sekarang hanya ada rasa nikmat dari setiap alunan ritme yang mereka ciptakan hingga tak seorang pun dari mereka bisa mengungkapkannya dengan sebuah kata-kata. 


Mereka bercinta dengan penuh gejolak yang tersimpan selama 3 minggu ini, bahkan Dewa seperti tak ada lelahnya memompa juniornya hingga membuat Ruby terbuai kenikmatan karena ulahnya. 

__ADS_1


Di tempat lain, Sandra sedang mencari keberadaan menantuku tercinta. Dia tidak tahu jika menantuku telah diculik oleh putranya sendiri. 


"Kamu liat Ruby?" tanyanya pada salah seorang sepupu Dewa. 


"Istrinya Dewa itu ya? Kayaknya dia jalan-jalan di pantai deh Tan," jawabnya. 


"Sendiri?"


"Iya, tadi aku liat di ke arah sana." Seraya menunjuk ke arah Ruby berjalan tadi. 


Tapi saat Sandra akan mencari keberadaan menantunya, tiba-tiba saja pundaknya dicekal oleh Akbar. 


"Dia lagi sama suaminya. Tadi anakmu yang bule itu datang."


"Dewa?" Sandra memastikan.


"Emang kamu punya berapa orang anak?" Akbar mencibir istrinya.


"Syukur deh. Kalo gitu kita aja yuk yang jalan-jalan di pantai!" Ajak Sandra sambil mengalungkan tangannya di lengan pria keturunan Jepang itu. 





Entah sejak kapan mentari sudah tenggelam di ujung laut saat Ruby bangun dari tidur nyenyaknya yang sudah 3 minggu ini tidak bisa ia nikmati. Dia mengangkat sedikit tubuhnya untuk bisa meraih bibir pria yang sangat ia rindukan itu dengan bibirnya. Tapi belum juga Ruby kembali ke tempatnya tangan kekar Dewa sudah meraih tengkuknya untuk bisa mel*mat bibir istrinya. Sedangkan tangan satunya dia gunakan untuk merapatkan tubuh polos Ruby hingga kehangatan dari sentuhan kulit mereka pun kembali tercipta.


"Aku lapar." Bisik Ruby saat berhasil melepaskan ciuman mereka. 


"Aku juga," tapi lapar dengan versi yang berbeda dengan yang Ruby ucapkan.


"Ini udah ma—" Bibir Dewa kembali menguasai bibirnya dengan lidah yang terus mengabsen setiap sudut rongga mulutnya. Sebelum akhirnya Ruby merasakan benda panjang yang besar kembali menghujam intinya. 


Sepertinya aku butuh sentuhan seorang terapis lagi. Pikir Ruby saat Dewa terus saja mendorong tubuhnya dengan ritme yang lebih cepat. 


Pada akhirnya Dewa tak pernah menampakkan batang hidungnya di pesta pernikahan sepupunya Yuki hingga pesta itu usai. 



__ADS_1




"Mommy sama Papi pulang duluan, kamu lanjutkan saja acara bercocok tanam kalian. Semoga Bule sipit itu bisa menggarap ladangnya dengan baik. Semangat!" Pesan pertama Ruby baca sambil tersenyum. 


"Koper kamu mommy bawa pulang ya! mommy gak tau kalian tidur di kamar berapa." Pesan kedua ini yang membuat Ruby uring-uringan. 


"Bagaimana ini?" Ruby meminta pertanggungjawaban suaminya. 


"Bagaimana lagi?" jawaban tanpa rasa bersalah sedikitpun. 


"Masa kamu tega aku keluar kamar ini tanpa celana dalam?" Ruby menghunuskan pisau untuk memotong daging steak ke arah Dewa. "Kamu harus tanggungjawab!" Rengekan kembali terdengar dari bibir Ruby. Tapi pada akhirnya itulah yang Ruby lakukan.


Siapa yang tak malu dan risih saat keluar kamar hotel tanpa sepotong benda berbentuk segitiga yang menjadi pelindung area pribadinya? 


Itulah yang dirasakan Ruby saat itu, dia merasa orang-orang sedang memperhatikan ke arahnya setiap kali dia berjalan. 


"Biasa saja. Kamu jangan terlalu tegang!" ujar Dewa saat mereka berada dalam lift. 


"Aku males ngomong sama kamu. Kamu gak bertanggungjawab!" Cicitan Ruby membuat tiga orang lainnya yang berada di dalam lift langsung menoleh ke arah mereka dengan spekulasi negatif di otak mereka masing-masing. Ditambah lagi saat mata mereka melihat beberapa tanda cinta di dada Ruby yang tak tertutup gaun pestanya. 


"Tadi aku mau berikan milikku kamu tidak mau."


"Punyamu terlalu besar, mana muat?"


"Kamu kan belum mencobanya, bagaimana kamu tau kalau punyaku kebesaran, sedang kamu belum mencobanya."


"Dengan sekali melihat saja aku bisa tau kalau itu gak akan muat di aku!"


Obrolan absurd keduanya membuat ketiga penumpang lift yang lain kembali melirik ke arah mereka dan berakhir di pangkalan paha Dewa. 


"Kan kamu belum mencobanya." Dewa merem*s bokong Ruby yang tanpa pengaman itu. 


"Aaaah!" Ruby reflek menjerit kemudian menepis tangan suaminya. 


"Aku hanya memastikan punyamu baik-baik saja." Bisik Dewa. 


Ketiga orang lainnya langsung berdecak berbarengan sambil menggelengkan kepala. 


Vote!!!

__ADS_1


Vote!!!


Vote!!!


__ADS_2