Love Me Boy!

Love Me Boy!
Ide menakjubkan


__ADS_3

Kedatangan Melda seperti melerai kelakuan sepupunya yang terus menghadiahi Dewa cubitan-cubitan mematikan.


"Haduh, kelakuan kalian tuh masih kayak penganten baru aja," celetuk Melda seraya mengambil putrinya dari gendongan Ruby. 


Moga Melda gak denger ucapan si Bule Sableng itu. 


"Mau dimandiin ya!" Ruby ikut mengekori Melda, begitu pun Dewa yang memang terus disamping istrinya. "Bibi kemana? Perasaan gak liat bibi dari tadi," tanya Ruby. 


"Ke sawah ikut Bapak." Melda kembali menyerahkan putrinya, sedang dia menyiapkan air untuk mandi putrinya. "Emang kenapa?"


Ruby melirik suaminya yang kini duduk di salah satu kursi di ruang belakang. "Siang ini kita mau pulang."


"Pulang? Baru juga sehari si Aa Bule disini," sahut Melda yang telah siap dengan perlengkapan mandi putrinya. 


"Banyak kerjaan dia di sana," jawab Ruby, walaupun klise tapi hanya itu jawaban yang paling tepat dan mudah dimengerti oleh orang lain. "Aku aja deh yang mandiin, kan gak tau kapan lagi aku kesini."


Dewa tak mengeluarkan suara, dia hanya memperhatikan kelakuan istrinya yang sepertinya selama sebulan disini, sudah banyak belajar mengurus bayi, terbukti dengan betapa terampilnya istrinya saat memandikan keponakannya itu, senyum terus merekah di wajahnya dengan raut bahagia. Dia memang tipe manusia yang selalu menebar cinta kepada siapapun, hingga siapapun pasti akan suka bila berada dekatnya. Senyum Ruby selalu bisa membuat Dewa ikut tersenyum melihat senyum istrinya. 


"Gendong bayi udah bisa, mandiin bayi udah bisa, pakein baju, popok, sama ngebedong udah lihai. Tinggal nunggu punya bayi aja. Gak kebayang sama aku betapa bahagianya kamu punya bayi sendiri," ucap Melda yang memang tak tahu masalah yang terjadi antara Ruby dan Dewa. 


Ucapan Melda seperti menampar Dewa, sangat keras, bahkan membuat hatinya bergetar. Selama ini yang selalu jadi prioritas utama Dewa adalah kebahagiaan istrinya, tapi saat Ruby meminta seorang bayi yang memang menjadi tujuan utamanya saat bersedia menikah dengannya dulu, Dewa malah mematahkan semangat istrinya. 


Dilihatnya istrinya hanya memaksakan senyum mendengar ucapan Melda. Lagi-lagi hal itu membuat dada sakit saat melihat wajah kecewa istrinya. 


"Aku mau ke sawah deh, nyusul Bibi, takutnya pas kita mau berangkat Bibi belum datang." Ruby sengaja mengalihkan pembicaraan Melda mengenai bayi. Dan Dewa dapat melihatnya dengan jelas. 


Hati Dewa terguncang, wanita yang begitu ia cintai terlihat minder hanya karena belum bisa mendapatkan seorang bayi, yang sebenarnya tidak begitu penting untuk Dewa. Karena hingga saat itu Dewa masih tak bisa tahu bagaimana seorang makhluk lemah itu begitu penting untuk hadir di dalam rumah tangganya. Egonya seperti sedang dihimpit oleh rasa sakit melihat wajah istrinya yang kecewa. 


"Kamu mau ikut?" 


Dewa terhenyak melihat istrinya yang sudah melingkarkan tangannya di perut. "Kemana?"

__ADS_1


"Ke sawah, nyusul Bibi. Kamu belum pernah ke sawah kan?"


"Buat apa? Memang aku petani!"


Ruby menaikan sudut bibirnya, mengejek suaminya. 






Ruby menarik nafas dalam-dalam seolah sedang mengisi kembali memori-memori yang telah lama terlupakan bersama kedua orang tuanya saat memasuki area persawahan yang begitu luas di bawah kaki gunung, gundukan berwarna biru cerah itu nampak jelas dari area persawahan tersebut, kilasan-kilasan memori indah yang kini tinggal kenangan begitu menyayat hati.


Otaknya kembali memvisualisasikan senyum sang Ayah yang hanya seorang guru sekolah dasar, yang seperti tak pernah lelah untuk pergi ke ladangnya setelah seharian bekerja, memanfaatkan tanah subur yang telah Tuhan berikan kepadanya, menggarap dan menanam sayur-sayuran yang biasanya sudah bisa dipanen dalam waktu 1-3 bulan. 


Kini senyuman ibu yang datang, senyum dari seorang wanita yang selalu tersenyum kepada suaminya, tanpa pernah berkeluh kesah dengan kondisi perekonomian mereka yang jauh dari berkecukupan. Gaji Guru di sebuah desa terpencil hanya bisa memenuhi kebutuhan hidup mereka sehari-hari, sedangkan biaya pengobatan adiknya yang sudah memiliki riwayat penyakit jantung sedari bayi memaksa keluarga kecil itu untuk menghasilkan lebih banyak uang. Sepotong doa yang selalu ia ucapkan untuknya kembali terngiang. "Mama do'ain, supaya nanti kamu dapet suami orang kaya. Biar gak ngerasain apa yang ibu rasain. Hidup enak, berkecukupan, pergi kemana aja yang kamu mau." Sebuah doa yang selalu ia ucapkan saat Ruby merengek sesuatu yang mengharuskan kedua orang tuanya untuk merogoh kocek mereka yang dalam.


"Mah, do'a Mama bener-bener dikabulin. Aku sekarang punya suami kaya, bahkan kekayaannya gak akan bisa Mama bayangin dulu." Hati Ruby tersayat. Ada penyesalan di hatinya, karena tak bisa mengajak orang-orang yang begitu ia cintai merasakan kemewahan yang kini ia miliki.


Makasih udah do'ain aku! Aku benar-benar berterima kasih atas semua doa yang udah Mama berikan.


Dewa hanya memperhatikan kelakuan istrinya yang memejamkan mata sambil menghirup udara dalam-dalam, kemudian tersenyum dan tak lama menangis. Entah apa yang sedang ia pikirkan, Dewa tak tahu. Tapi saat melihat perubahan raut wajahnya itu, sepertinya bukan perihal bayi, tapi sesuatu yang tak Dewa ketahui. 


"Kamu kenapa?" Dewa memeluk tubuh Ruby dari belakang. "Jangan sedih! Ada aku disini," ucapnya dengan penuh percaya diri. 


Ruby tersadar, ternyata kebahagiaan yang telah hilang, kini sudah digantikan dengan kebahagiaan dalam bentuk lain. Sebuah cinta yang luar biasa yang Dewa berikan untuknya yang tak akan pernah bisa dinilai oleh apapun adalah kebahagiaannya kini. Bahkan Ruby seperti telah memiliki dunia hanya dengan memiliki suaminya. 


"Inget Mama, sama Bapak, sama Adek aku juga," jawab Ruby di sela isak tangisnya. "Dulu aku sama mereka sering menghabiskan waktu disini." Ruby kembali bernostalgia. 

__ADS_1


"Ngapain?" Dewa bingung. Apa serunya berkumpul bersama keluarga di sawah? Rakyat jelata memang aneh-aneh saja. Tapi ucapan itu hanya bisa bertahan dalam hatinya. 


"Nemenin Bapak, kadang sambil panen cabe, jagung, kacang panjang. Atau nemenin ibu ngundeur—"


"Stop!" Dewa memotong ucapan istrinya. "Apa maksud kamu dengan ngundeur itu?" Dengan pelafalan yang cukup sulit. 


Ruby terkekeh. "Oh itu— Emmm, apa ya? Ngundeur itu artinya memetik dedaunan yang bisa dibuat lalapan." Ya sepertinya jawaban Ruby sudah cukup jelas. 


"Oh, makanan kambing yang biasa kamu makan itu?" Tanpa tedeng aling-aling dia berbicara. 


"Beda lah!" Sang Istri mulai sewot, karena tidak terima disamakan dengan kambing. "Kalau kambing kan makan segala jenis daun, tapi kalau aku kan hanya daun-daun pilihan, dengan kualitas premium."


"Mana ada daun kualitas premium? Satu-satunya kualitas premium yang bisa kamu nikmati itu hanyalah aku. Suamimu!" Walaupun di tengah sawah ternyata kenarsisan Dewa tak pernah pudar. 


"Terserah!" Ruby berjalan di pematang sawah dengan menenteng sandalnya. Terus menyusuri sungai aliran sungai yang begitu jernih. 


"Ruby!" teriak Dewa, dia sangat kesulitan berjalan di jalan setapak kecil yang ditumbuhi rumput liar itu. 


Ruby berbalik arah. "Apa?"


"Tunggu! Aku sulit berjalan! Sepertinya aku harus menyumbang uangku untuk membangun infrastruktur jalan pesawahan ini agar mudah dilalui kendaraan. Aku kesulitan berjalan disini!"


"Emang kamu pernah liat orang dengan setelah kerja, dan mobil masuk ke sawah?" Ruby mengejek suaminya. 


"Akan aku tuntut pemerintah setempat yang sudah menyulitkan langkahku!" Dia benar-benar geram. 


"Kamu tunggu di saung aja sonoh!"


"Saung?"


"Itu loh, bangunan kayu yang tadi tempat kamu duduk!"

__ADS_1


Dewa langsung memasang wajah protesnya. Hingga akhirnya Ruby yang mengalah dan kembali pulang, karena memang sawah tempat Bibi dan Pamannya itu masih cukup jauh.


Kedua makhluk dari dua alam yang berbeda itu pun kembali ke rumah. Dengan Dewa yang terus menggerutu mengenai sulitnya jalan yang harus ia lewati tadi, dengan ide-ide menakjubkan yang akan mengaspal pematang sawah hanya agar dia mudah berjalan saat akan ia lalui. 


__ADS_2