
Ini kali pertama Ruby datang ke rumahnya setelah rumah orang tuanya dibangun ulang oleh suaminya. Dia benar-benar membangun rumah yang dibangun tanpa bantuan arsitek itu menjadi rumah mewah yang syarat akan berbagai kemewahan di dalamnya. Bahkan kamar Ruby dibuat paling luas diantara kamar yang lain, ya walaupun tidak seluas kamar apartemen mereka tapi itu sudah seperti miniatur kamar di apartemen mereka, bahkan di kamar mandinya terdapat bathup untuk Ruby berendam. Ranjang mewah pun tidak luput dari perhatian Dewa, dia membuat istrinya seperti seorang ratu di rumahnya sendiri.
Bukannya tak tersiksa berpisah dengan orang yang begitu ia cintai dalam waktu lama, itulah yang Ruby rasakan selama berpisah dengan suaminya, Sadewa. Dari malam pertama dia berpisah, Ruby terus saja menangis setiap dia akan beranjak tidur. Setiap saat wajah Dewa terus membayangi nya, tapi rasa itu biasanya ia alihkan dengan berkumpul dengan keluarga, bermain dengan teman-temannya yang ada di kampung, melakukan aktivitas-aktivitas yang telah lama tidak ia lakukan dengan teman-temannya.
Hampir setiap malam dia memimpikan kedatangan suaminya, tapi untuk meminta Dewa menjemputnya Ruby masih belum bisa, karena jika itu ia lakukan, sama saja menyerah atas permintaan konyol Dewa, sebab Ruby masih keukeuh menginginkan seorang bayi sebagai pelengkap rumah tangga mereka.
Tadinya Ruby begitu senang saat melihat panggilan masuk dari suaminya kemarin siang, dia kira Dewa akan memohonnya untuk kembali dan akan menuruti semua keinginannya, tapi nyatanya itu semua hanya harapan kosongnya saja. Dewa menelponnya karena pesan salah kirim yang ia sebar ke semua kontak. Dewa masih tak membahas anak, tak mengucapkan kata rindu, bahkan terdengar biasa saja, Ruby kecewa.
Tak ada seorangpun anggota keluarganya yang tahu penyebab kedatangannya ke kampung, karena ia beralasan, jika Dewa sedang ada urusan dinas yang cukup lama di luar negeri.
"Mau kemana By?" tanya Melda yang sedang menjemur bayinya di bawah cahaya mentari pagi.
"Olahraga!" jawab Ruby, seraya mencium keponakannya yang baru berumur satu bulan.
"Pake baju tidur?"
"Males mandi, tiris (dingin)." Dia pun berlalu keluar dari pekarangan rumahnya.
"Desi! Ratna!!" serunya di pekarangan rumah kedua temannya yang rumahnya memang saling berdekatan.
"Kamana?" Desi yang keluar lebih dahulu.
"Olahraga!" jawabnya sambil tersenyum.
"Pake baju tidur?" Kali ini pertanyaan dari Ratna.
"Hayu lah! Gak ada laki ini."
"Kalau tiba-tiba dia datang kumaha?"
"Moal mungkin." Bule Sipit itu datang pagi-pagi gini? Bakalan turun salju di kampung ini. Hati Ruby cekikikan. Dia tidak tahu jika suaminya dalam perjalanan untuk melepas rindu yang selama hampir sebulan ini menyiksa mereka.
Mereka pun mulai menyusuri jalan kampung yang masih asri, saling bertegur sapa pada penduduk yang lewat, bersalaman dan berbasa-basi, ritual sopan santun yang biasa dilakukan di daerah perkampungan.
"Istirahat heula Des! Capek!" pintar Ruby yang memang kurang tidur jadi lebih mudah lelah.
__ADS_1
Mereka pun berhenti di sebuah warung untuk membeli minuman dan jajanan.
"By, liat ada mobil keren banget," ujar Ratna.
"Kayak mobil suami aku!" Ruby memastikan apa yang baru saja dia lihat, kemudian tersadar jika mobil itu memang salah satu koleksi mobil suaminya yang beberapa bulan lalu Dewa beli.
Ruby langsung berlari ke arah jalan, berdiri ditengah jalan yang baru saja dilewati mobil suaminya.
"Dewa!" teriak Ruby sambil melambaikan tangan ke arah mobil berwarna merah itu.
Sepertinya Sang Pemilik mobil tak mendengar panggilannya, hingga Ruby harus berlari lagi untuk mendekatinya
"DEWAAAA!" Kali ini dengan sangat kencang dia memanggil nama suaminya.
Mobil itu berhenti, setelah meminggir di tepi jalan, pria bercelana pendek dengan t-shirt putih di tubuhnya keluar dari mobil merah tersebut, pria tampan yang selalu mendatangi mimpinya itu benar-benar datang. Ruby benar-benar senang atas kejutan ini.
Ruby berlari menyambutnya, dia melupakan sejenak egonya, karena rasa rindu yang mendominasi membuat otaknya tak berfungsi dengan baik saat melihat pria yang dirindukannya itu kini berada di hanya beberapa meter darinya.
Sang pemilik tangan panjang itu merentangkan tangan, menyambut kedatangan wanitanya ke dalam pelukan. Semua amarahnya dan egonya yang setinggi Himalaya itu tiba-tiba hilang, dia begitu bahagia saat tubuh itu datang ke pelukannya, hingga tanpa sadar Dewa mendaratkan ciuman mesra di tepi jalan perkampungan.
"Kamu apa-apaan? Ini kampung tau, bukan Hollywood!" Ruby menenggelamkan wajahnya di dada Dewa.
"Lah, kamu juga nyambut ciuman aku!" Dia tak mau menjadi tersangka seorang diri.
Dengan tergesa dan tanpa pamit lagi kepada teman-temannya , Ruby dan Dewa masuk ke dalam mobil.
•
•
•
•
•
__ADS_1
"Aku mandi dulu ya!" kata Ruby saat mereka sudah berada di dalam kamar setelah sebelumnya berbasa-basi kepada Bibi dan Melda, sebab Sang Paman sudah berangkat ke ladangnya, ladang dalam arti yang sesungguhnya, tidak seperti Ladang yang dimaksud Dewa.
"Aku juga belum mandi," ucap Dewa sambil membuka bajunya.
Desiran halus di dalam dada Ruby tiba-tiba menyerang saat melihat bentuk tubuh suaminya. Dadanya berdegup kencang, seperti saat pertama kali ia melihat tubuh penuh otot yang setia menghangatkan malamnya, ya, Ruby menginginkannya.
"Mandi bareng?" goda Ruby yang juga ikut membuka piyama Hello Kitty yang ia kenakan.
"Dasar nakal!" Dewa meraup bibir yang sudah hampir sebulan tak ia cium. Tangannya dengan lihai melepas pengait bra dan melemparnya asal.
Nafas mereka saling berburu, saling menginginkan satu dengan lainnya, setiap sentuhan lembut yang menggoda menjadi saksi betapa mereka saling merindukan.
Ego kadang membuat siapapun mengalahkan rasa yang sebenarnya hati kecil mereka rasakan.
Pagi menjelang siang, mendung masih menyelimuti perkampungan, tapi tiba-tiba saja terasa semakin panas di tengah sahdunya langit kala itu, bahkan kini ribuan titik air yang turun bergerombol, menciptakan suara gemuruh ditengah suara erotis yang keluar dari kedua manusia yang kini saling menyatukan rasa rindu mereka, dengan sebuah penyatuan yang membuat mereka saling terbuai rasa nikmat yang sulit digambarkan dengan apapun.
Entah kali ke berapa erangan dari mulut Ruby keluar karena ulah suaminya, Dewa melepas kerinduannya dengan aktivitas ranjang yang begitu Ruby nikmati.
"I Love You!" Bisik Ruby tepat di telinga Dewa saat keduanya sedang menjeda permainan mereka sambil berusaha mengatur nafas.
"Love you, more!" Sebuah kalimat yang selama ini terpendam dalam hatinya akhirnya keluar begitu saja, lega rasanya bisa mengeluarkan semua perasaannya dengan sebuah kalimat sederhana yang membuat jantungnya begitu berpancu kencang saat mengucapkannya.
Ruby menangkup wajah yang sedang menguasai tubuhnya itu, hatinya begitu senang, walaupun ia tahu Dewa begitu mencintai, tapi saat mendengar suaminya mengucapkan kalimat sakral itu, hati Ruby seperti sebuah pinata besar yang meledak. Dia kemudian menarik wajah pria yang berada di atas tubuhnya dan menyatukan bibir mereka untuk ia lum*t, ia sesap dan ia nikmati sendiri. Sedangkan Dewa menahan kedua paha wanitanya agar miliknya lebih mudah mengakses ladangnya semakin dalam.
...Hayo otaknya pada travelling kemana nih?...
...Hei sucikan otak klean seperti diriku yang memiliki otak sebening embun pagi ini.....
...vote!!! ...
...Vote!!!...
...Vote!!!...
Ngambek nih kalo klean gak ngasih jejak apapun... 😭
__ADS_1