Love Me Boy!

Love Me Boy!
Berpisah lagi?


__ADS_3

Malam itu Ruby benar-benar dibuat kewalahan dengan hukuman yang diberikan suaminya seperti janjinya siang tadi. Peluhnya yang bercucuran dari ujung kepala hingga ujung kaki menjadi saksi betapa Ruby dibuat kelelahan atas hukumannya kali ini. Sebab Dewa membuat Ruby mendominasi permainan mereka malam itu sedangkan Dewa hanya menjadi sang penikmat permainan istrinya. 


Entah berapa kali erangan Ruby keluar dari mulutnya saat berhasil mencapai pelepasannya. Hingga akhirnya dia tumbang di atas tubuh suaminya dan membuat Dewa melanjutkan permainan mereka untuk mencapai kenikmatannya.


Sejenak hanya suara deru nafas dari keduanya yang mengisi kesunyian kamar berukuran besar itu hingga akhirnya suara Ruby yang pertama memecah kesunyian mereka. 


"Aku haus," ucapnya sambil bersandar di kepala ranjang. 


Seperti biasa, Dewa selalu menuruti dengan suka rela permintaan wanita yang begitu ingin ia hindari saat pertama mereka bertemu. 


Segelas air dia berikan kepada wanita yang telah memberinya kenikmatan yang hakiki. 


"Makanya jangan buat aku kesal!" Dewa ikut duduk bersandar bersandar bersama Ruby. 


Ruby mendesis mendengar ucapan suaminya. "Alasan."


Tangan kekar Dewa membawa kepala Ruby untuk bersandar di pundaknya yang kokoh, kemudian mengecup puncak kepala istrinya dengan lembut. Ruby mengangkat wajahnya dengan cepat agar bisa mengecup pipi suaminya sebagai balasan ciuman mesranya tadi. 


"Mau lagi?" Goda Dewa. 


"Lutut aku aja masih mode getar ini." Jawaban Ruby membuat Dewa terkekeh. 


"Ayo tidur, udah lewat tengah malam ini!" Dewa menarik tubuh polos istrinya agar ikut berbaring, memeluk erat tubuh wanita yang berhasil memberikan warna di hidupnya yang monoton. 


Kehangatan kembali tercipta saat kulit mereka kembali bertemu. Melihat Ruby mulai memejamkan mata dalam pelukannya menciptakan kedamaian yang dahulu tak pernah ia rasakan. Ya kini Dewa sadar, sesadar-sadarnya jika dirinya membutuhkan wanita cerewet yang ada dalam pelukannya. Sebuah kecupan ia berikan sebagai pengantar tidur sang istri yang sudah kelelahan karena aktivitas mereka tadi. 


Ruby kembali membuka matanya untuk menatap wajah pria yang juga sedang memandang wajahnya. "Apa aku sangat cantik?"


"Semenjak menikah denganku kamu jadi semakin cantik, auraku memang selalu berdampak positif pada setiap orang yang berada didekatku." Seperti biasa tak semudah itu Dewa memberi pujian kepada orang lain. 


"Makanya kamu jangan pernah menjauh dari pria ini." Sulit sekali baginya untuk berkata jangan pernah pergi dariku. 


"Baiklah, aku akan nempel terus sama kamu." Ruby mempererat pelukannya. 



__ADS_1



"Kamu yang bilang supaya aku jangan jauh-jauh dari kamu, tapi sekarang kamu yang mau ninggalin aku." Ruby tidak bisa membendung emosinya. 


"Ya udah kamu ikut sama aku ke sana!" Dewa pun terpancing emosi. 


"Tadi kata kamu aku gak boleh ikut karena jalan untuk kesana itu sulit dilalui." 


"Kamu bisa nunggu aku di hotel selama aku ninjau lokasi." Dewa menurunkan intonasi suaranya. 


"Terus aku mau kamu tinggal sendiri di kamar hotel seharian?"


"Bukan seharian karena jalan menuju ke lokasi aja butuh waktu seharian untuk sampe sana. Jadi mungkin aku akan beberapa hari disana."


"Aku gak mau. Apa bedanya sama kalau aku disini?" Suara Ruby masih meninggi. 


"Lalu mau kamu apa?"


Kali ini Ruby dibuat bingung dengan pertanyaan suaminya. Membayangkan ditinggal pergi entah berapa lama tiba-tiba membuat Ruby kesal dan marah. Dan kali ini dia hanya bisa menangis karena tak tahu jawabnya. 


Ruby menutup wajahnya dengan kedua telapak tangannya, menyembunyikan tangis yang tiba-tiba saja tumpah. Sepertinya hanya dengan begitu dia bisa menumpahkan kekesalannya. 


"Sini aku peluk! Aku tau kamu hanya ingin pelukan hangat pria tampan ini kan." Dewa membawa tubuh wanitanya ke dalam pelukan hangatnya. 


Ruby selalu bisa membuat egonya turun, dia seperti penyihir yang mampu menghipnotis seorang Dewa dengan kesombongan setinggi Himalaya itu untuk mengalah kepadanya. 


🍃Flashback On🍃


Siang itu tugas Nathan sudah diambil alih sementara oleh salah satu sekretarisnya Vero. Karena selain pengalaman kerjanya yang lebih lama dibandingkan sekretaris-sekretaris yang lainnya Vero juga adalah orang yang cerdas. Oleh karenanya Nathan merekomendasikan Vero untuk menggantikannya sementara waktu.


Dewa sedang membaca neraca-neraca yang berisi laba perusahaan selama satu tahun terakhir, mengingat rapat umum akhir tahun tinggal satu bulan lagi, jadi Dewa sedang mempelajari ulang jumlah laba yang perusahaannya dapatkan selama setahun ini. 


"Pak ada kabar kurang baik yang harus saya sampaikan." Vero sedikit ragu saat hendak memberitahukan kepada Dewa mengenai kejadian yang sedang menimpa tambang batubara milik perusahaan milik atasannya. 


"Apa?" Dewa melepas kacamata bacanya untuk melihat dan mendengarkan berita yang akan disampaikan Vero. 


"Ada kecelakaan di pertambangan satu jam lalu, bahkan satu orang pekerja masih belum diketahui nasibnya," tuturnya. 

__ADS_1


Dewa berfikir sejenak. "Kirim orang untuk meninjau lokasi, agar tak terjadi konflik antara para pekerja kita dengan penduduk lokal!" Titah Dewa. "Atur ulang jadwalku agar bisa kesana besok atau lusa."


"Tapi pak, lokasi yang harus anda tempuh menuju pertambangan cukup sulit dilalui. Apa tidak sebaiknya bapak mengutus orang saja untuk pergi kesana?" Vero ikut khawatir. 


"Karena aku yang harus bertanggungjawab penuh atas apa yang terjadi pada perusahaanku juga pada para pekerjaku, jadi apapun resikonya aku harus hadapi."


Vero tak menjawab lagi ucapan Dewa, dia keluar dan menyelesaikan tugas yang Dewa berikan kepadanya.


🍃Flashback Off🍃


Dewa mencium puncak kepala istrinya yang sedang menangis dalam pelukannya, bukan hal mudah juga bagi Dewa meninggalkan Ruby tapi tanggungjawabnya sebagai pemimpin perusahaan mengharuskannya melakukan hal tersebut. 


"Bagaimana kalau hari ini kita pacaran seperti rakyat jelata lagi." Dewa berusaha merayu wanitanya. 


Ruby langsung menengadahkan kepalanya untuk melihat keseriusan atas ucapan suaminya. "Beneran?"


"Hmmm." Dewa mengangguk. "Mari kita borong lagi celana dalam untuk stok bulan depan." Kelakarnya kemudian meraup wajah Ruby dengan kedua tangannya. 


"Kok gak jadi?" Tanya Ruby melihat Dewa urung menciumnya. 


"Aku takut kamu malah ingin lebih dari sekedar ciuman nantinya."


Ruby mendesis dengan wajah yang kembali ditekuk, tak terima dengan ucapan suaminya.


Karena pada kenyataannya hal itu yang selalu Dewa rasakan bila mencium Ruby. 


"Ganti bajumu. Hari ini kita jadi rakyat jelata sekali lagi."


"Tunggu sebentar!" Kecupan kurang dari satu detik Ruby berikan kepada suaminya. 


"Dasar Penyihir kecil!" Cicit Dewa melihat istrinya berlari dengan riang ke ruang ganti. 


Dan seperti yang Dewa ucapkan petang itu Dewa dan Ruby kembali berjalan-jalan berkeliling pusat perbelanjaan tanpa satu pun barang yang mereka bawa pulang. Hingga akhirnya Ruby terlelap dalam dekapan hangat pria yang sudah berhasil ia kuasai hati dan pikirannya.


Tolong berikan komentar terbaik kalian ya!!!


Dan kalau menurut kalian cerita aku kurang bagus atau bagaimana, tolong jangan memberikan komentar yang berisi hinaan, caci maki ataupun komentar yang menimbulkan perdebatan di kalangan readers yang lainnya.

__ADS_1


Marilah jadi pembaca elite.. 🤗🤗🤗


__ADS_2