
Tiga bulan berlalu, hari itu Dewa membawa istrinya dengan wajah was-wasnya kembali kontrol. Karena hari itu dia akan melakukan pemeriksaan yang mengharuskan dokter memasukkan alat ke area pribadinya untuk melihat sudah sejauh mana perkembangan positif setelah melakukan terapi obat selama ini.
Dewa masih tak habis pikir, mengapa Ruby mau mengorbankan dirinya menahan sakit demi menginginkan seorang bayi? Sedangkan banyak cara yang telah Dewa lakukan untuk membuatnya bahagia. Apakah Dewa masih belum cukup melengkapi kebahagiaannya hingga dia harus mencari kebahagiaan dari seorang bayi yang wajahnya pun belum bisa dia visualisasikan dalam otaknya?
"Aku takut. Itu sangat sakit," rengek Ruby.
Dewa benar-benar tidak tega melihatnya, tapi dia harus berusaha menenangkan istrinya. Mau bagaimana lagi, karena dia kan suaminya.
"Kalau saja gajahmu bisa melihat kondisi rahimmu aku sangat bersedia menggantikan alat itu." Kerlingan mesum ia berikan untuk menghilangkan kecemasan Ruby.
Ruby mendesis sinis mendengar ucapan mesum suaminya. "Dasar Mesum!"
Dewa dan Ruby langsung menemui dokter kandungannya, setelah sebelumnya mereka telah membuat janji kontrol.
"Selamat sore Bu!" Sapanya ramah. "Bagaimana suasana hati Anda selama satu minggu terakhir ini?"
"Emmm—"
"Suasana hatinya selalu bagus setiap harinya, karena aku selalu memanjakannya." Dewa Sableng yang menjawab, membuat dokter dan kedua perawat menyunggingkan senyumnya mendengar ucapan si Maha Narsis Dewa.
Sedangkan Ruby sudah malas menimpali ucapan suaminya, jengah sepertinya.
Ruby pun langsung diajak ke ruang pemeriksaan, dan menyuruhnya naik ke atas ranjang. Rasa tegang dan takut segera menghampirinya, membayangkannya saja sudah membuat Ruby berkeringat dingin.
Berjuanglah, ini semua demi anakmu, anak yang begitu kamu inginkan, "Tatap aku, aku ada disini. Melindungimu!" Akhirnya itulah yang bisa keluar dari mulutnya.
Lagi, Dewa harus melihat raut wajah istrinya saat menahan nyeri.
Aku tak butuh bayi Ruby, aku sangat bahagia karenamu. Cukup. Apa kamu tak tahu jika hatiku juga sakit saat melihatmu begini?
"Tahan sebentar lagi. Ini tidak akan lama!" Dewa menghapus lelehan air mata istrinya. Sangat mengesalkan, melihat Ruby menangis selalu membuatnya jengkel.
"Perkembangannya sudah sangat baik," ujar sang dokter saat selesai memeriksakan kondisi rahim Ruby.
Tak sia-sia, perjuanganmu selama ini membuahkan hasil yang manis, untukmu. Dewa memandang lekat wajah Ruby, melihat perubahan raut wajahnya yang sekarang begitu sumringah membuat Dewa ikut senang karenanya.
"Apa kami akan segera memiliki bayi?" Ruby begitu antusias mendengar ucapan dokternya.
"Semua kita serahkan pada Tuhan. Hanya kepadaNya kita meminta pertolongan," lanjutnya. "Semoga Tuhan segera mengabulkan keinginan kalian!"
•
•
•
Ruby semakin antusias menghadapi harinya, membayangkan dirinya akan segera mengandung bayi yang begitu ia inginkan. Ehh, apa benar dia benar-benar menginginkan seorang bayi?
Karena dulu keinginannya memiliki bayi hanya memberikan cucu pada wanita yang begitu ia sayangi, Sandra. Hingga dia rela mengemis kepada Dewa agar melakukan itu. Tapi sekarang, apa iya tujuannya memiliki bayi hanya untuk membahagiakan Sandra? Entah, Ruby pun tak tahu jawabnya.
"Aku berangkat!" Ciuman bertubi-tubi Dewa berikan kepada Ruby membuat Ruby kewalahan menghadapi serangan ciuman dari Dewa.
__ADS_1
"Aku langsung ikut Mommy ke rumahnya ya!"
"Jangan lupa bawa bekal celana dalam yang banyak!" Sebelum akhirnya Dewa
mengecup bibirnya dengan waktu yang lebih lama dari ciuman sebelumnya.
"Cih, yang ada di otakmu kenapa selalu menjurus ke situ sih?"
"Karena aku tau kamu suka saat melihat gajah piaraanmu tumbuh besar. Sudah seminggu gajahmu tidak menengok lahannya,"
"Karena emang lahannya sedang banjir!"
Dan obrolan mesum mereka pun diakhiri dengan Ruby mendorong paksa suaminya untuk berangkat kerja. Bisa berpeluh urusannya jika Ruby terus menimpali obrolan mesum Dewa.
...Kediaman Sandra...
Dewa datang tepat lima menit sebelum jam makan malam, yang saat itu Ruby sedang menyiapkan hidangan untuk ia bawa ke meja makan.
"Mommy buatkan menu kesukaanmu!" ujar Sandra seraya membawa piring berisi hidangan lauk pauk ke ruang makan.
"Oh ya? Memang Mommy tau apa yang sedang aku inginkan?" Balas Dewa yang berjalan menuju dapur tempat istrinya berada.
"Memang apa yang saat ini kamu mau makan?" balas Sandra dengan sedikit berteriak.
"Menantumu!" Bisik Dewa tepat di telinga istrinya, membuat Ruby salah tingkah, karena ada dua orang pelayan yang juga sedang berada di dapur.
Kedua pelayan pun langsung pamit kepada anak majikannya yang tidak tahu malu melakukan pelecehan kepada istrinya, karena sepertinya mereka juga ingin merasakannya.
Makan malam penuh kehangatan pun tercipta malam itu di rumah Sandra. Obrolan tentang keseharian satu sama lain pun tersaji mengiringi acara makan malam keluarga tersebut.
"Sudah hampir setengah tahun kalian menikah, lalu kapan—"
"Mom, please! Jangan bahas soal bayi lagi!" Dewa salah paham.
"Siapa yang mau menagih cucu?" Sandra ikut nyolot.
"So?" Nada suara Dewa masih tinggi, hingga Ruby harus menurunkan sebelah tangannya untuk mencengkram paha suaminya, agar dirinya bisa mengontrol emosi.
"Mommy mau tanya kapan kalian akan honeymoon?" Kenapa kamu jadi lebih sensitif dari istrimu sih? Ingin sekali Sandra melanjutkan ucapannya.
Dewa langsung memandang wajah istrinya. Honeymoon? Hal yang tak pernah terpikirkan oleh pria cerdas nan mesum macam Dewa.
"Kamu mau?"
"Apa?" Ruby tak mengerti arah pembicaraan suaminya.
"Pergi bulan madu! Bukannya kita memang belum pernah bulan madu?"
Wajah Ruby langsung bersemangat, ada rona penuh harap yang terpancar di wajahnya.
__ADS_1
"Apa boleh? Bukannya kamu terlalu sibuk?"
Mendengar ucapan istrinya hati Dewa langsung berdenyut, dia merasa begitu bersalah kepada wanita yang sedang ia perjuangkan kebahagiaannya itu. Berarti Ruby telah mendambakan momen ini, hanya saja dia tak ingin meminta hal itu dikarenakan kegiatan Dewa yang begitu padat setiap harinya.
Whatever you want! "Sepertinya aku juga butuh liburan. Pekerjaanku yang menumpuk membuat kinerja otakku berkurang." Dewa begitu pandai menyembunyikan perasaannya.
Cih tapi kinerja otakmu masih sangat baik jika diajak itu. Ruby masih punya hati untuk tidak mengumbar aib suaminya.
"Kamu mau ngajak aku kemana?" Ruby masih antusias.
"Yang pasti aku akan membawamu terbang."
Ruby langsung mendaratkan cubitan di pinggangnya saat mendengar kata 'terbang'. Masih teringat jelas olehnya bagaimana terbang yang Dewa maksud di kapal pesiar dulu. Begitu mengesalkan.
"Huaaa! Sakit!" Dewa mengusap kasar bekas cubitan istrinya.
"Mesum!" Sinis Ruby.
"Hei, ini terbang dalam arti yang sesungguhnya, otakmu saja yang tidak sesuci otakku!"
"Otakmu suci?" Kali ini dia memandang rendah suaminya.
"Hei! Apa maksud dari tatapan itu? Kamu meragukan suamimu ini hah?"
Akbar dan Sandra hanya bisa geleng-geleng kepala melihat pertengkaran tak bermakna sepasang suami-istri itu di meja makan.
"Kamu ingin pergi kemana Ruby?" Ayah mertua mulai buka suara.
Ini terlalu mendadak, Ruby tak memiliki waktu memikirkan tempat-tempat yang ingin ia kunjungi.
"Aku bingung," jawabnya. Perasaan gugup dan bersemangat bercampur jadi satu.
"Bagaimana kalau kalian pergi ke Jepang?" usul Akbar.
Jepang?
Kali ini dia akan berkunjung ke tempat dimana kue Dorayaki berasal?
Aaaaahh, ini sangat menakjubkan untuk seorang perempuan kampung bernama Ruby untuk alami. Dia begitu gembira menyambut bulan madunya.
Tapi tidak dengan Dewa, otak cerdasnya langsung mengetahui ada udang dibalik bulan madu yang kedua orang tuanya rencanakan ini.
Apakah itu?
Entahlah, Dewa pun tak tahu jawabannya.
...Jangan lupa tinggalkan jejak klean gengs!...
...Like...
...Komen...
__ADS_1
...Vote!!!!...