Love Me Boy!

Love Me Boy!
Valentine's day in Tokyo


__ADS_3

Kejadian semalam membuat harga diri seorang Dewa jatuh sejauh-jauhnya, dia benar-benar malu jika mengingat kejadian panas di dalam gudang semalam. 


Memalukan, bulan madu ala Sultan yang kubuat harus turun derajat gara-gara badai semalam.


"Kita mau kemana?" tanya Ruby melihat suaminya sedang mengepak pakaian mereka.


"Pergi jauh-jauh dari sini. Bulan maduku turun pamor gara-gara kita main di gudang." Dewa berbicara begitu ketus.


Ruby hanya bisa memutar bola matanya, tubuhnya pun pegal-pegal karena pertempuran di gudang semalam.


"Terus kita mau kemana sekarang?" Ruby masih betah bermalas-malasan di atas ranjang mereka.


"Tokyo," jawab Dewa dengan semangat. "Karena kalau pun kita terjebak badai lagi, kita tidak akan terkurung di dalam gudang. Di Tokyo tak ada gudang ubi seperti disini."


Ruby cekikikan melihat wajah kesal suaminya. Karena sebenarnya Ruby tidak begitu peduli dengan pengalaman yang cukup ektrem semalam. Selama dia bersama Dewa, apapun yang terjadi dia tak peduli.


"Ayo cepat siap-siap!" ujar Dewa saat melihat istrinya masih betah bersembunyi di balik selimutnya.


"Kalau aku tidak mau?" godanya.


Dewa mengalihkan pandangannya dari tumpukan pakaian ke arah sang istri yang sedang menggodanya. "Akan ku paksa." 


Dewa menyibakkan selimut yang menutupi tubuh polos sang istri kemudian menarik kaki istrinya dari ranjang. "Jangan menggodaku terus, Anak Nakal!" Di membawa tubuh polos istrinya menuju kamar mandi.


"Kamu gak mau mandiin aku?" teriak Ruby saat Dewa meninggalkannya di kamar mandi.


"Tak ada waktu," jawab Dewa yang kembali berkutat dengan gadgetnya untuk memesan tiket pesawat mereka menuju Tokyo.


*****


Bulan madu ini seperti sebuah perjalanan karyawisata bagi Ruby yang memang jarang sekali jalan-jalan selama hidupnya dulu, Dewa membukakan matanya dengan berbagai hal yang menakjubkan. Mulai dari saat dia  memperlihatkan betapa luasnya lautan dari kapal pesiar pribadinya, menatap keindahan daratan dari atas helikopter, dan sekarang Dewa membawanya menunjukkan lembut dan dinginnya salju di daratan Jepang.


Ah, Ruby seperti seorang Upik Abu yang berubah jadi Cinderella setelah menikahi Dewa.


"Kamu kenapa?" tanya Dewa, melihat istrinya terus saja menatapnya sambil tersenyum.


"Kamu bikin aku seperti seorang putri. Aku suka," 


Dewa hanya tersenyum miring, seolah tak terpengaruh ucapan istrinya, padahal dalam hatinya ia begitu senang bisa membuat orang yang begitu ia cintai itu senang.


Sekitar satu setengah jam perjalanan dari Bandara New Chitose (Sapporo), akhirnya mereka tiba di Bandara Haneda (Tokyo). Udara dingin langsung menerpa kulit wajah para penumpang termasuk Ruby dan Dewa saat mereka menuruni tangga pesawat.


Sudah ada mobil dari Hotel yang menjemput mereka saat tiba di Bandara. Kedua tamu VIP hotel itu langsung diantarkan ke hotel tempat mereka menginap.


Mata Ruby seolah sulit sekali dipejamkan, matanya seolah tidak puas menikmati setiap sudut dengan hiruk pikuknya kota Tokyo. Sedangkan Dewa yang memang sering pergi ke Jepang memilih untuk tidur di dalam mobil, mengisi tenaganya untuk acara bulan madunya nanti malam.


Mobil mewah yang mereka tumpangi berhenti di pelataran hotel tempat mereka menginap.


"Ini kayak Hotel di Indonesia," celetuk Ruby saat melihat nama hotel tempat mereka menginap. Karena saat itu Dewa memilih Sherat*n Hotel sebagai tempat mereka berbulan madu.


"Untung orang-orang disini tak tau apa kamu kamu bicarakan. Jadi mereka tak tahu bahwa istri pria tampan dan kaya raya ini kampungan," cibir Dewa.

__ADS_1


"Kan aku cuma tanya, perasaan dulu kita juga menikah di hotel itu," jawab Ruby dengan bibir mengerucut.


"Hari dimana pertama kali kamu minta itu," imbuh Dewa.


"Hei berisik! Disini banyak orang tau!" Ruby ketar-ketir mendengar ucapan suaminya.


"Mereka tidak akan mengerti apa yang kita bicarakan, ini Tokyo bukan Jakarta." Dewa mengingatkan istrinya.


Suite room hotel sudah bukan tempat yang menakjubkan lagi bagi Ruby. Awal-awal menikah dengan Dewa, Ruby selalu berkeliling memeriksa setiap sudut ruang kamar tempat mereka menginap tapi kali ini dia langsung merebahkan tubuhnya di ranjang hotel, rasa lelah perjalanan tadi baru mulai ia rasakan setelah merebahkan tubuhnya.


******


Udara Tokyo tak sedingin saat mereka berada di Hokkaido, tapi tetap saja mereka harus menggunakan mantel tebal karena di bulan Februari ini cuaca masih sangat dingin apalagi untuk mereka yang tidak terbiasa dengan udara empat musim tersebut.


Dewa sengaja memilih hotel tersebut karena letaknya yang sangat strategis dengan taman hiburan sekelas internasional apalagi jika bukan Disneyland dan Disneysea yang menjadi target destinasi wisata keluarga. Beberapa saat lalu Ruby pernah bercerita jika dirinya belum pernah berkunjung ke tempat wisata anak-anak walau hanya pergi ke taman hiburan sekelas Dunia Fantasi yang ada di dalam negeri. Sungguh mengenaskan nasib istrinya, pikir Dewa saat itu, oleh karenanya sang milyuner Dewa ingin mewujudkan mimpi kecil istrinya dengan mengajaknya langsung ke taman hiburan sekelas internasional.


Tak satupun arena permainan di taman hiburan itu yang terlewatkan oleh Ruby, semua ia naiki dengan riang. Dewa seperti melihat seorang bocah yang sedang bersenang-senang di taman hiburan.


Saking senangnya, Ruby terus menghadiahinya ciuman saat mereka akan kembali dari tempat yang didominasi wisatawan keluarga itu menuju hotel.


"Aku bisa kehabisan nafas!" Dewa berusaha menghindari hujan ciuman Ruby. 


"Nanti aku kasih nafas buatan," jawab Ruby, dia kembali menghujani ciuman ke seluruh wajah suaminya, dia  tak memperdulikan sopir yang sejak tadi sering mencuri pandang ke arah mereka.


"Dasar Mesum!" 


"Aku gak peduli," jawab Ruby sebelum melanjutkan aksinya.







Dua hari terakhir sebelum mereka meninggal negara dengan bendera yang bersimbol Matahari Terbit, Dewa mengajak Ruby untuk pergi ke salah satu destinasi wisata paling terkenal di Tokyo apalagi jika bukan menara Tokyo.


Namun hari itu, ada yang berbeda di lobby hotel dengan tambahan dekorasi bernuansa pink, dan simbol hati bertebaran di mana-mana, bahkan ada seorang karyawan hotel yang berdiri di depan pintu masuk untuk membagikan sepotong coklat untuk para tamu.


"Ini ada acara apa ya? Apa hotel ini sedang merayakan ulang tahun?" tanya Ruby saat mereka selesai sarapan di restoran.


"Valentine's day!" jawab Dewa dengan mimik wajah biasa saja.


Ruby pun hanya ber oh ria, karena sejak dulu dia memang tak pernah merayakan hari kasih sayang sedunia ini. Apalagi seorang Dewa, jadi sepasang suami istri itu terlihat biasa saja mendengar kata valentine yang amat keramat bagi pasangan kekasih seluruh dunia itu.


"Happy Valentine!" ucap karyawan hotel yang berdiri di depan pintu dengan logat Jepang yang begitu kental.


"Thanks!" Ruby membungkukan sedikit kepalanya setelah menerima pemberian coklat darinya.

__ADS_1


"Dewa, aku dapat coklat." Ruby memamerkan coklatnya pada Dewa.


Dewa hanya melirik sekilas kemudian berkata, "Aku bisa memberimu pabrik coklat." Ucapannya membuat Ruby mencibir sambil masuk ke dalam mobil yang akan mengantar mereka ke simbol kota Tokyo yang ingin mereka kunjungi.


"Dewa aku mau pakai baju yang Nenek pakai," rengek Ruby saat dia melewati toko yang memajang baju tradisional Jepang.


"Kimono?"


Ruby mengangguk dengan semangat. "Iya, itu namanya, aku mau pakai itu. Boleh?" Tatap Ruby penuh harap.


Seperti biasa seorang Dewa selalu kalah saat menatap mata bulat penuh harap itu. Mereka pun memutar mobilnya kembali ke toko yang tadi mereka lewati.


Antara terpesona, kagum bercampur malu, itulah yang Dewa rasakan saat mereka tiba di tempat tujuan mereka. Hampir semua mata tertuju pada istrinya yang terlihat sangat cantik dan anggun dalam balutan kimono bercorak bunga sakura tersebut.


"Kenapa semua orang melihat ke arah kita? Apa mereka tidak pernah melihat orang mengenakan baju Kimono ini kesini?" Ruby mulai salah tingkah.


"Bukan begitu, tapi mereka tak pernah lihat orang Jepang bermata bulat sepertimu. Ditambah lagi kamu berdampingan dengan pria ini, siapa yang tak iri kepadamu?" Lagi-lagi Dewa lebih memilih menyanjung dirinya sendiri.


Langit senja begitu indah dipandang di atas menara setinggi 332,6 meter itu, banyak pasangan kekasih yang datang berkunjung kesana salah satunya adalah kedua pengantin yang tak lagi baru itu.


Gunung Fuji yang terkenal di Jepang pun terlihat jelas dari atas menara, tapi pandangan mata Dewa bukan tertuju pada gunung yang begitu terkenal hingga ke mancanegara itu, dia terus memandang kagum pada satu-satunya cantik dalam balutan Kimono yang ada disana, sedangkan sang objek sedang mengagumi pemandangan senja kota Tokyo yang tersuguh dari atas menara.


Mereka turun saat perut mereka mulai terasa lapar ketika mentari sudah tak menampakkan cahayanya.


"Salju!" Seru Ruby dengan tersenyum lebar.


Disaat semua orang memilih berteduh menghindari butiran lembut dingin yang turun di langit Tokyo, Ruby memilih menengadahkan wajahnya ke langit, seolah ingin tahu bagaimana mereka bisa turun dengan begitu elegan sampai ke bumi.


"Dewa, ayo kita ciuman!" Sebuah permintaan yang membuat Dewa mengalihkan pandangannya ke wajah dengan rona merah di pipinya.


"Apa?"


"Kalau orang-orang ciuman romantis itu di bawah menara Eiffel, aku mau ciuman romantis di bawah menara Tokyo!" Ruby terlihat antusias saat mengucapkannya.


Ah, lagi-lagi Dewa selalu tak bisa menolak permintaan perempuan pertama yang menguasai jiwa dan raganya itu, dengan gerakan lembut dia meraih tenguk wanitanya dan melum*t perlahan bibir lembut dan terasa dingin itu, hingga membuat Ruby terbuai karena ciuman lembut suaminya. Dinginnya salju yang turun perlahan dari langit langsung berganti kehangatan karena ciuman yang mereka lakukan.


Sebuah kesan perpisahan romantis untuk kota Tokyo yang akan mereka tinggalkan esok.


...Jangan lupa ritualnya gengs!!!...


...like...


...komen...


...n...


...vote!!...


...vote!!!...


...vote!!!!...

__ADS_1


__ADS_2