Love Me Boy!

Love Me Boy!
Menikmati hidup berdua


__ADS_3

Banyak pasangan yang begitu mengharapkan bisa mengikuti program bayi tabung sebagai cara mereka mendapatkan buah cinta mereka tapi terhalang oleh keterbatasan biaya yang memang amat sangat mahal, sedangkan pasangan Dewa dan Ruby dengan kekayaan yang melimpah ruah malah tidak bisa melakukan program bayi mahal tersebut karena kendala kesehatan sang istri yang sangat jarang terjadi. 


Inilah yang disebut hidup memang adil, banyak pasangan dari kalangan ekonomi bawah begitu mudah memiliki anak tapi kesulitan dalam hal biaya perawatan, biaya sekolah dan biaya-biaya yang harus mereka keluarkan untuk kelangsungan hidup anak-anak mereka, tapi salah satu pasangan yang memiliki kekayaan yang bisa menghidupi ratusan anak-anak itu malah kesulitan untuk mendapatkan seorang bayi.


Dan mungkin juga ini salah satu cara Tuhan menegur makhluk-Nya yang sombong dan angkuh itu agar sadar bahwa kekayaan yang ia miliki tidak akan mampu membeli kebahagiaan yang hanya kepada-Nya lah mereka menggantungkan harapan. 


Terhitung sejak kepulangan Ruby dari rumah sakit, Ruby  memilih untuk pasrah dengan kondisinya dan memilih untuk menikmati limpahan cinta yang suaminya berikan kepadanya. Menikmati momen-momen menyenangkan berdua, yang jarang dilakukan oleh pasangan-pasangan lain. 


Memasuki tahun ketiga pernikahan Ruby dan Dewa, mereka sudah tidak lagi memikirkan perihal soal bayi, bahkan hampir tiga bulan ini Ruby kembali bekerja di butik mertuanya, bekerja dalam arti kata yang sesungguhnya, jika biasanya ia datang hanya untuk membantu, tapi sekarang dia bekerja seperti sebelum ia menjadi Nyonya Sadewa. Ruby memilih menyibukkan diri daripada harus berdiam diri di rumah dan terus memikirkan perihal anak yang tak kunjung datang. 


Pagi itu Ruby benar-benar menjadi karyawan Sandra seutuhnya, setelah beberapa bulan bekerja tanpa mengenakan seragam karyawan butik, hari ini dia kembali mengenakannya. 


Kemeja kerja berwarna pink dengan logo butik di bagian kantung serta nametag pada bagian kanan yang menjadi ciri khas karyawan di butik Sandra kembali ia kenakan. 


Melihat pakaian yang dikenakan istrinya hari itu serta rambut panjang Ruby yang dikuncir kuda, mengingatkan Dewa pada hari dimana Ruby mendatangi kantornya dengan seragam itu untuk pertama kali. 


Ternyata tak ada seorang yang tahu jika wanita yang dulu begitu ia hindari itu kini menjadi miliknya yang begitu berharga. 


"Ada yang aneh?" tanya Ruby melihat suami menatapnya dengan tatapan sulit diartikan. 


"Kenapa dulu aku tidak melihat bahwa kamu begitu cantik ya?" Dewa menghampiri. 


"Maksudnya?"


"Hari dimana kamu datang ke kantor, aku sengaja menghindari gadis berkemeja pink itu, tapi akhirnya si Sableng Nathan memberi tumpangan kepada perempuan itu." Dewa merapatkan tubuhnya dan menyangga punggung sang istri. 


Sepertinya Ruby sudah melupakan momen tersebut. "Aku tidak ingat."


"Kalau hari dimana kamu minta itu ingat?"


Ruby mengernyitkan hidungnya mendengar sindiran suaminya. "Tidak akan pernah aku lupa. Hari dimana kamu menolak aku dengan sangat kejam."


Dewa terkekeh. "Kamu pakai lipstik baru?" tanya Dewa melihat warna bibir istrinya dengan warna yang lebih terang dari yang biasa ia gunakan. 


"Iya, kemarin Mommy membelikannya, katanya warna ini cocok buat aku." Ruby mengerucutkan bibirnya. "Kurasa ini warna yang cocok buat aku. Aku suka. Kalau kamu?" 


"Aku belum coba bagaimana aku bisa menilai." Dan selanjutnya dia pun melum*t habis bibir cerewet yang selalu membuatnya tergoda. "Enak. Aku suka." Seraya melepaskan tubuh istrinya. 


Seperti itulah mereka menikmati momen berdua setiap paginya, walaupun tak jarang kadang pertengkaran tak bermakna pun menghiasi rumah tangga mereka. 



__ADS_1





"Siapkan helikopter untuk Sabtu siang, aku dan Ruby akan pulang kampung."


Nathan langsung tersedak kopi yang ia seruput mendengar ucapan tuannya. "Anda pulang kampung naik helikopter? Benar-benar pulang kampung ala Sultan." Celetuk Nathan sambil menggeleng-gelengkan kepala. 


Dewa hanya melirik tak suka mendengar ucapan Asisten Pribadinya itu. "Beritahu pejabat disana, kalau aku akan meminjam alun-alun kota mereka untuk mendaratkan helikopter. Juga beri tahu para aparat keamanan  suruh mereka mensterilkan alun-alun kota pada saat aku mendarat nanti."


Nathan menelan ludahnya dengan susah payah, mendengar tugas yang diembankan kepadanya. 


Dia pikir dia siapa? 


Presiden kah?


Aku seperti mendapat perintah dari seorang Sultan penguasa dataran Timur Tengah. 


"Memang ada acara apa Anda sampai menggunakan helikopter hanya untuk acara pulang kampung?" Nathan penasaran. 


"Aku hanya ingin mereka sibuk menggunjingkan betapa kayanya suami seorang Ruby, hingga mereka lupa mempertanyakan perihal bayi," jawab Dewa dengan sombongnya. 


...🍃Flashback🍃...


Kedua orang makhluk bernama Ruby dan Dewa yang sedang menikmati acara berendam bersama setelah melakukan olahraga ranjang yang menguras tenaga. 


"Dewa!"


"Hemm?" jawab sang suami yang sepertinya akan menerkam istrinya sekali lagi. Karena di balik niatnya yang menawarkan diri untuk menggosok punggung istrinya ada niat terselubung lain yang ia inginkan. Karena disaat tangan yang satunya sibuk menggosok punggung, tangan yang lain sibuk menjamah apapun yang ia inginkan. 


"Aku mau pulang kampung Sabtu besok, boleh?"


Kedua tangan Dewa langsung menghentikan tugasnya. "Ada acara apa?" Dia takut istrinya sedang menyembunyikan kesedihan hatinya seorang diri seperti yang lalu-lalu. 


"Main aja, kangen Caca juga." Tak terdengar nada suara tertekan dari suara yang keluar dari mulutnya, bahkan terdengar sangat bersemangat. 


"Mau aku antar?" Tangan Dewa kembali melakukan tugasnya, menggosok dan menggerayangi. 


"Kenapa kamu gak sekalian ikut aja? Udah lama juga kita gak liburan." Usul Ruby, kemudian membalikkan tubuhnya menghadap Dewa.


Busa-busa sudah mulai menghilang hingga tubuh mereka hampir terlihat jelas. Bahkan gundukan yang selalu menggoda iman lemah Dewa pun nampak jelas menantang indra penglihatan Dewa. 

__ADS_1


"Aku sibuk," jawab Dewa, karena dia malas mendengar pertanyaan soal bayi yang selalu ditujukan orang-orang kepada dia dan sang istri. 


"Ayolah ikut! Aku akan mengajakmu berkemah. Kita belum pernah berkemah di hutan. Anggap ini bulan madu ala Rakyat Jelata." Ruby memelas. 


Dewa hanya menghela nafas dan mengalihkan pandangan matanya. 


"Aku tau kamu males mendengar pertanyaan soal bayi, tapi yakinlah aku udah baik-baik aja, aku udah pasrah, selama kamu gak punya niat untuk mencari wanita lain, aku akan baik-baik aja." Jawab Ruby dengan sedikit nada mengancam. 


"Apa yang kamu pikirkan? Bagaimana bisa kamu berpikiran aku akan mencari wanita lain? Dasar bodoh!" Dewa mendorong kening istrinya. 


"Aku pegang ucapan kamu ya!" Ruby mengalungkan lengannya di leher Dewa, mengecup mesra bibir yang baru saja mengatainya bodoh, tapi terdengar begitu manis di telinganya. 


"Pegang yang lain juga boleh, karena sepertinya dia yang lebih ingin kamu pegang." Kerlingan mesum terpancar dari wajahnya. 


"Aku akan melakukan, bahkan akan rela bekerja keras untuk memanjakannya, asal kamu mau mengabulkan satu permintaanku!" Terdengar seperti negosiasi daripada sebuah permintaan. 


"Apa itu?" Dewa menarik tubuh yang sudah duduk dipangkuannya untuk lebih mendekat, bahkan ia sudah mulai mengecupi leher dan telinga Ruby. 


"Aku mau kamu ikut—"


"Oke!" jawab Dewa yang langsung memotong ucapan istrinya. 


"Dan aku juga mau kali ini kita pulang kampung dengan helikopter."


Dewa langsung menghentikan kegiatannya mendengar permintaan sang istri. "Seriously?"


"Ofcourse." Dengan sebuah senyuman licik Ruby menjawab pertanyaan suaminya. "Aku mau kali ini mereka menggunjingkan betapa beruntungnya aku diperistri Akira Sadewa Diego." Dengan senyum licik yang terus terpancar di wajahnya. 


"Apa narsis itu menular?" Dewa begitu terkejut melihat istrinya menjadi sangat narsis belakangan ini. 


"Mungkin." Ruby menggerakkan sedikit tubuh, melum*t, mengul*m dan menggigit kecil bibir yang entah mengapa menjadi semakin menggoda akhir-akhir ini. 


Dan penyatuan penuh desahan pun kembali terjadi dengan Ruby yang mendominasi permainan mereka. Sudah tak ada lagi alasan bagi Dewa untuk menolak permintaan istrinya karena Ruby telah membayar di muka untuk bisa mendapatkan semua keinginannya.


...Masih penasaran dengan kisah bulan madu ala rakyat jelata mereka? ...


...Jangan lupa ritualnya!!! ...


...Detik-detik menuju ending akan segera tiba, Otor Soleha minta keikhlasannya untuk Vote yang banyak. ...


...Semoga amal ibadah kalian dibalas lebih banyak lagi oleh Yang Maha Kuasa.. Amien...


...(kok kedengerannya kayak minta sumbangan ya?🤔😄) ...

__ADS_1


__ADS_2