
Ruby langsung berlari mengejar suaminya yang dia tidak tahu mengapa tiba-tiba Dewa bersikap seperti itu.
"Kamu kenapa? Sakit?" Ruby terlihat khawatir. Karena dia tidak tahu tindakannya mengobrol dengan Irfan tadi penyebabnya.
"Aku lelah. Kenapa kamu meninggalkan dia? Bukannya kalian sedang asik mengobrol?" Ejek Dewa.
"Kami susah lama saja tidak bertemu. Sejak memutuskan menikah denganmu, aku sudah lama tidak berhubungan dengannya. Aku juga kaget dia sudah bisa menegurku lagi, padahal sebelumnya dia bilang kalo aku jahat dan gak akan mau lagi kenal sama aku." Jawab Ruby yang masih belum mengerti bahwa sebenarnya Dewa sedang marah.
Dewa sedikit terkejut, dia langsung menyadari jika pria tadi pernah menjadi orang yang spesial bagi istrinya dulu.
"Memang dia siapa?" Tanya Dewa dengan nada seolah dia tak keberatan dengan kelakuan mereka tadi.
"Mantan pacar aku. Kita pacaran hampir 4 tahun, sejak aku masih SMA. Dia bekerja di Jakarta juga, aku direkomendasi masuk ke butik mommy dari dia." Ruby tersenyum saat mengingat hal itu.
Mengingat betapa cintanya Irfan kepadanya, karena pria itu selalu saja bersikap baik pada Ruby, Irfan seperti pelindung Ruby saat Ruby baru menginjakkan kakinya di Jakarta. Dia yang memilihkan kosan untuk Ruby, mencarikan tempat kerja yang bagus untuk Ruby, sebelum akhirnya Ruby diterima bekerja di butik Sandra. Irfan bukanlah pacar pertama Ruby karena sebelumnya diapun sudah pernah berpacaran semasa SMA, tapi Irfan adalah cinta pertama bagi Ruby. Mengenal Irfan, Ruby tahu artinya menyayangi lawan jenis dengan tulus tanpa pamrih.
Bukan perkara mudah bagi Ruby untuk melepas Irfan dulu. Tapi cintanya pada Irfan nyatanya tak sebanding dengan sayangnya Ruby pada Sandra, hingga Ruby memilih untuk menyanggupi tawaran Sandra untuk menjadi menantunya.
Walaupun Dewa sudah memprediksi jawaban Ruby, nyatanya hati kecilnya tetap saja sedikit berdenyut sakit.
"Kenapa kalian memilih berpisah jika sepertinya kalian masih saling suka, bahkan laki-laki tadi seperti masih memendam rasa." Dewa mulai mengorek cerita masa lalu istrinya.
"Karena mommy memintaku untuk dijadikan menantunya." Jawab Ruby datar dan kembali menggandeng lengan Dewa seperti saat mereka keluar rumah.
Kali ini Dewa benar-benar terkejut. "Sebesar itu cintamu pada Penyihir Meksiko itu?" Dewa memastikan ucapan Ruby.
"Seperti itulah. Kamu tau, mommy itu sangat baik kepadaku, dia orang yang paling perhatian kepadaku setelah A Irfan. Jadi bagaimana bisa aku menolak permintaannya, karena selama ini dia sangat sayang aku. Waktu orang tuaku meninggal mommy yang menebus mereka di rumah sakit, kemudian mommy juga beberapa kali membantu perawatan adik aku. Bahkan saat aku dengan tidak tau malunya meminjam uang buat biaya operasi adikku mommy tetap tersenyum saat meminjamkan uangnya. Jadi bagaimana bisa aku menolak satu permintaan mommy ya walaupun itu sangat berat." Ruby panjang lebar menjelaskan pada suaminya.
Sedangkan Dewa hanya bisa terpukau melihat betapa cintanya Ruby kepada orang-orang disekitarnya, orang tuanya, adiknya juga mommynya sendiri yang selalu Dewa anggap cerewet.
"Apa kamu mencintaiku?" Tanya Dewa.
"Asal kamu baik padaku, aku akan mudah mencintaimu. Mencintai seseorang itu mudah, asal kita membuka hati kita untuk segala kebaikannya, otomatis hati kita akan menginginkan membalas perbuatan baik mereka." Jawab Ruby. "Bukankah itu cinta?"
Haruskah aku menganggapmu adalah anugerah?
Mereka terus berjalan menyusuri jalanan kampung dengan Dewa yang terus menatap takjub wanita yang tengah merangkul lengannya.
Dewa tak pernah tahu jika Ruby telah mengorbankan cintanya hanya untuk bersamanya. Bersama b*jingan yang dengan seenak jidatnya memberikan perjanjian pranikah aneh yang hanya menguntungkan dirinya. Sekali lagi Dewa sangat merasa bersalah, bahkan lebih dari kemarin.
•
•
__ADS_1
•
•
•
Acara pernikahan Melda pun akhirnya tiba, Ruby begitu cantik dengan kebaya yang dikirim Ibu mertuanya kemarin. Stelan kebaya dengan kain yang sama persis dengan yang Dewa kenakan.
Seorang asisten make-up artis sedang merias wajah cantik istrinya saat Dewa mengambil ponsel miliknya di kamar.
"Eleuh-eleuh si Aa kasep ieu suami kamu teteh geulis?" Pria bertulang lunak itu tiba-tiba belingsatan saat melihat betapa gagahnya Dewa dalam balutan kemeja batiknya.
"Iya, ganteng kan! Turunan Jepang. Lancar bahasa Jepang kayak yang Neng Choco omongin tadi."
"Bener tah Aa kasep bisa bahasa Jepang juga?"
Dewa hanya mengangguk dengan wajah waspada, ingin sekali dia langsung keluar dari kamar Ruby saat itu juga.
"Ogenkidesuka?"
"Apa kabar?"
"genkidesu."
"Onamaehanandesuka?"
"Siapa namamu?"
"Watashinonamaeha Akiradesu."
"Namaku Akira."
"Watashi wa anata ga sukidesu."
"Saya sangat menyukaimu."
Melihat jika lawan bicaranya sepertinya hanya bisa mengucapkan beberapa kata sederhana Dewa berniat mengerjainya.
"Watashi wa sudeni utsukushī tsuma ga iru node, anata no yōna kimyōna ikimono o shiritaku arimasen."
"Saya sudah memiliki istri yang cantik, jadi saya tidak ingin kenal makhluk aneh macam kamu."
Ucap Dewa dengan senyum yang terus mengembang, seolah senang berkenalan dengan pria yang menentang kodrat itu.
__ADS_1
Benar saja, makhluk aneh itu langsung cekikikan senang melihat senyum Dewa yang memang mempesona.
"Aduh Teh Ruby, tuker tambah sama Neng Choco yuk!"
Ruby hanya memutar bola matanya, pasalnya bulu matanya baru dipasang sebelah.
"Aa kenalan dulu atuh!" Si makhluk gemulai mengulurkan jemarinya.
"Nama aku Chogiwa, anak ibu Chocom (Kokom maksudnya) dengan Bapak Girawa. Ihihihi."
"Akira Sadewa." Dewa langsung menarik tangannya. "Bi, aku tunggu di luar."
Dewa langsung pun keluar dari kamarnya, lebih baik berbasa-basi dengan orang-orang yang tak dia kenal daripada harus berbagi oksigen dengan makhluk gemulai itu, pikir Dewa.
Pesta berlangsung di sebuah gedung serbaguna yang ada di kampung Ruby.
Walaupun tak mengerti ucapan yang lebih didominasi bahasa Sunda saat upacara adat, tapi Dewa sangat menikmati acara tersebut.
"Kamu suka?" Tanya Ruby.
Dewa mengangguk. Ini adalah kali pertama bagi Sadewa menyaksikan upacara pernikahan ala Sunda. Rasa haru dan bahagia mengisi tempat acara yang tidak terlalu luas itu, apabila dibandingkan pesta pernikahannya dengan Ruby bulan lalu.
"Sebenarnya aku sangat memimpikan pernikahan seperti ini."
Dewa tahu apa yang dimaksud istrinya, dia mendambakan pernikahan dengan A Irfannya itu. Tapi Dewa tak merespon.
"Pernikahan kita jauh lebih megah dari ini. Apa kamu tidak suka?"
"Sangat suka, semua yang mommy berikan untuk pernikahan kita jauh di luar ekspektasiku. Hanya mempelai prianya saja yang aku tak suka." Ruby mencibir.
Selain kedua pengantin yang sedang dipajang di atas pelaminan, pasangan Dewa dan Ruby pun tak kalah menjadi pusat perhatian para tamu undangan. Tak ada seorangpun yang tak setuju jika mereka sangat serasi.
Kehadiran Irfan di pesta membuat Dewa tak bersemangat lagi menikmati pesta. Sebab Irfan kembali menguasai istrinya dengan terus mengajaknya mengobrol, walaupun Ruby tetap di sampingnya tapi Dewa tetap tidak suka.
"Akan kubuat A Irfanmu pindah ke Antartika agar bisa jauh-jauh darimu." Gumam Dewa sambil melirik tak suka pada Irfan yang juga terlihat gagah dengan kemeja batiknya.
Akankah A'Irfan menjadi PEMBINOR di cerita ini?
Ataukah dia hanya hanya menjadi iklan yang akan segera berlalu?
Masih penasaran?
NB: Bila ada kesamaan nama dan sifat dalam cerita ini, semua memang disegaja.. 🤣🤣🤣
__ADS_1