Love Me Boy!

Love Me Boy!
Suara aneh dari kamar sebelah


__ADS_3

Senja telah menyelimuti kampung itu kala pesta usai. Ucap syukur dari semua anggota keluarga dan penyelenggara pesta pun terucap karena berjalannya acara dengan sangat baik. 


"Dewa, aku capek." Ruby menyandarkan kepalanya di bahu suaminya. 


"Mulutmu yang capek?" Sindir Dewa, karena sejak siang sampai sore Ruby terus saja mengobrol dengan Irfan yang betah berada di tempat acara. 


"Hisst, jangan marah-marah terus lah Om!" Ruby menggoda suaminya yang selama acara berlangsung terus saja mengekor kepadanya. 


"Diem. Gak lucu. Aku capek. Pengen ditidurin lagi sama kamu." Jawab Dewa. 


"Kapan aku nidurin kamu?" Ruby memancing perdebatan dengan suaminya. "Apa maksudnya kamu ngajak aku itu?"


Tiba-tiba saja Dewa langsung berdiri membuat Ruby yang sedang bersandar di bahunya hampir terjatuh. 


"Om, tunggu aku Om!" Ruby terus saja menggoda pria yang selalu menjadi pusat perhatian di pesta Melda tadi. 


******


Bibi dan pengantin kembali ke rumah satu jam setelah Ruby dan Dewa kembali. Melda terlihat nampak malu-malu saat memasuki kamar pengantinnya bersama sang suami. Karena banyaknya godaan-godaan yang sepasang pengantin itu dapatkan. 


"Kayaknya besok pagi ada yang basah berjamaah nih." Kelakar salah seorang anggota keluarga pada Melda dan Ruby. 


Hingga akhirnya kedua pasang suami-istri baru itu memilih masuk ke dalam kamar mereka masing-masing untuk menghindari berbagai godaan yang akan mereka terima. 


Ruby sudah ada di atas ranjangnya saat Dewa baru selesai membersihkan diri, dia sudah siap untuk tidur, tinggal menunggu gulingnya yang baru beres mandi. 


Ruby sedikit terkejut saat Dewa memeluk tubuhnya terlebih dahulu. 


"Hei, apa-apaan ini?"


"Aku hanya membuatmu nyaman, aku takut kamu tak enak hati kalo kamu terus yang memelukku. Jadi aku peluk kamu juga, biar kita seri." Jawab Dewa sambil membawa tangan lentik istrinya ke atas kepalanya. "Elus rambutku!"


"Bilang aja kamu pengen dibuat tidur." Cibir Ruby yang sedikit menaikan tubuhnya untuk mengelus rambut suaminya hingga Dewa kini memeluk erat pinggangnya. 


"Ruby!"


"Hemmm?"


"Kalo sampe satu tahun perjanjian kita kamu belum bisa memberikan cucu kepada si Marimar apa yang akan kamu lakukan?" Tanya Dewa yang sedang menikmati aroma tubuh istrinya. 


"Poin terakhir. Aku akan mengajukan cerai. Bukan begitu perjanjiannya?" Jawab Ruby datar. 


Ada perasaan yang tak enak di hati Dewa saat Ruby mengatakan cerai, ditambah lagi dengan sikap Ruby yang biasa saja membuat Dewa gelisah. 


"Pelan-pelan peluknya. Aku jadi sakit." Ruby memukul lengan suaminya yang melingkar di perutnya, karena Dewa tiba-tiba saja memeluknya lebih erat. 


"Aku hanya ingin tau saja rasanya memeluk seseorang. Padahal setiap malam aku tak pernah mengeluh kamu peluk seperti apapun. Bahkan liurmu yang mengotori piyamaku saja aku tak pernah protes." Kini Dewa kembali memeluk Ruby dengan normal. 

__ADS_1


"Bi!"


"Hemmm?" Jemari Ruby masih asik menyisir rambut dan kulit kepala suaminya. 


"Apa kamu akan kembali ke A'Irfan mu itu setelah kita bercerai?" Dewa masih mengorek perasaan Ruby kepada mantan kekasihnya itu. 


"Kalo A'Irfan masih belum menikah, dan dia masih mau nerima aku. Ya dengan mungkin aku akan balikan lagi." Jawab Ruby sedikit bersemangat. "Aaaww! Aku bilang pelan-pelan peluknya." Ruby kembali memukul lengan suaminya. 


Kali ini Dewa sudah ada di level kesal mendengar jawaban Ruby. 


"Apa dia mau pada janda?" Cibir Dewa. 


"Walaupun janda, aku kan janda perawan. Pria mana yang tak menyukai kecantikanku."


"Rasa percaya dirimu meningkat tajam akhir-akhir ini."


"Karena aku adalah Nyonya Sadewa. Jadi aku harus memiliki kepercayaan diri yang tinggi. Bukan begitu?"


"Baguslah kalo kamu mengerti." Tanpa Ruby tau Dewa tengah tersenyum di dalam pelukannya. "Tapi aku kan sudah pernah melihat setengah tubuh kamu. Apa kamu tidak malu?"


"Aku juga udah liat gajah kamu. Jadi kita seri." Jawab Ruby membalas ucapan suaminya, membuat Dewa mati kutu.


"Sejak kapan kamu mengidap insom?" Tanya Ruby.


"Sepertinya sejak aku mulai masuk perusahaan. Aku yang baru saja lulus S2, langsung disuguhi banyak tugas berat oleh si Suneo. Setiap malam aku begadang, dan kadang tak tidur untuk mempelajari sistem kerja perusahaan yang menurutku sangat rumit. Dan sepertinya itu terbawa terus hingga saat ini."


Ruby cekikikan mendengar suaminya memanggil ayah mertuanya Suneo. 


"Bukannya Suneo adalah orang yang paling kaya diantara teman-temannya? Dan itulah Papi, dia orang paling sukses diantara saudara-saudaranya."


Ruby hanya ber oh ria. 


"Wa!"


"Hemmm?" 


"Setelah kita cerai, apa kamu akan cari perempuan yang sesuai dengan kriteriamu?" Ruby terdengar hati-hati saat bertanya masalah pribadi suami, dia takut dia melanggar perjanjian mereka yang menyuruhnya untuk tidak mencampuri urusan pribadi masing-masing. 


Dewa terdiam. Kriteria wanita idaman? Bahkan sampai saat ini pun dia tak pernah tau seperti apa sosok wanita yang cocok untuk memilikinya. 


"Antara lega dan kesepian. Mungkin itu yang aku rasakan setelah kita berpisah." 


"Maksudnya?"


"Ya, aku mungkin akan lega, karena tak harus mendengar teriakan-teriakanmu lagi di rumah, menyuruh ini, menyuruh itu. Aku juga gak harus membuatkanmu makan malam lagi, gak harus berbagi tempat tidur, satu yang penting aku bisa terbebas menjadi guling." Jawab Dewa enteng walaupun entah mengapa hatinya kembali sakit saat membayangkan hidup tanpa Ruby. "Aaawww!" 


Dewa mengelus-elus kepalanya karena Ruby tiba-tiba saja menjambak rambutnya.

__ADS_1


"Tapi setahun bukan waktu yang singkat untuk kita berbagi udara yang sama, jadi kemungkinan aku akan sedikit kehilanganmu."


Ruby terdiam, dia tak pernah membayangkan sebelumnya akan berpisah dengan guling hidupnya itu, dua hari tak memeluk Dewa saja sudah membuatnya sulit tidur. Apalagi ini selamanya, ya selamanya. 


Setelah mendengar jawaban Dewa tiba-tiba saja suasana kamar menjadi hening karena sepasang suami-istri itu tenggelam dalam lamunan mereka masing-masing. Hingga kemudian suara berisik di kamar samping yang ada kamar Melda membuat mereka kembali terjaga. 


"Wa, kamu denger ga, suara apa itu?" Tanya Ruby saat mendengar suara aneh dari arah kamar pengantin. Kini posisi mereka berbalik, Ruby yang kini menenggelamkan kepalanya di dada Dewa. Dia ketakutan mendengar suara aneh dari kamar Melda. 


"Aaaah, pelan-pelan!" Samar-samar suara itu terdengar semakin jelas karena Ruby dan Dewa tak bersuara.


Kini posisi mereka saling berpelukan, bahkan Ruby semakin erat memeluk tubuh suaminya.


"Sakit A!" Suara rintihan Melda kembali terdengar


"Kita harus liat Melda. Dia dianiaya sama suaminya kayaknya." Si polos Ruby tak tahu jika mereka sedang berpesta di atas ranjang pengantinnya. 


Tapi tidak dengan Dewa, dia langsung tahu apa yang sedang terjadi di kamar tetangganya itu. 


"Suaminya lagi nyari lubang!" Bisik Dewa sambil mempererat peluknya agar Ruby tak mengganggu kerja keras Ilham, suami Melda. 


"Lubang apa? Kok Si Mel kesakitan gitu?" Ruby masih belum terkoneksi dengan baik. 


"Lubang untuk gajah suaminya masuk." 


Mendengar Dewa menyebutkan gajah, Ruby baru menyadari jika kedua pengantin baru itu sedang melakukan adegan panas yang belum pernah ia dapatkan. 


Tak lama kemudian erangan dari Melda kembali terdengar, Dewa langsung menutup telinga istrinya. 


"Kamu gak boleh denger!"


"Emang kenapa?" Ruby berusaha melepaskan telinganya dari tangan suaminya. 


Seperti dugaan Dewa, tak lama kemudian suara-suara erotis dari kamar sebelah pun terdengar. Membuat kedua manusia yang saling berpelukan itu menelan ludah mereka masing-masing. 


"Wa!"


"Hmmmm?"


"Aku mau itu juga!"


"Tidurlah! Peluklah tubuh penuh kehangatan ini. Aku izinkan malam ini kamu boleh memimpikanku!" Dewa membawa lengan kecil istrinya untuk melingkar di perutnya. 


Kamu tidak akan bisa bangun dan berjalan normal jika gajahku sudah mulai bekerja keras!


Masih setia menanti episode selanjutnya?


Jangan lupa ritualnya dulu dong!

__ADS_1


Jangan mikirin gajah Dewa aja!! 🤭🤭


Like, komen and Vote, itu yang penting.. 🤗🤗


__ADS_2