Love Me Boy!

Love Me Boy!
Badai Salju


__ADS_3

Sandra yang tadinya akan mengajak mereka menyantap cemilan sore bersama, jadi mengurungkan niatnya saat mendengar suara-suara pertempuran dari balik pintu kamar putranya. Sambil mengusap-usap telapak tangannya Sandra berbalik arah dan kembali menemui keluarga besar dari mertuanya.


"Mana Dewa?" tanya Akbar yang saat itu menghangatkan tubuhnya di depan perapian bersama ayahnya.


"Sedang menjajah istrinya!" jawab Sandra, dia kembali memasukkan kakinya ke dalam meja penghangat.


Semua orang jadi tertawa mendengar celotehan Sandra itu.


"Emang Tante liat mereka lagi—" Yuki si pengantin baru cekikikan.


"Suara mereka, sudah cukup membuat otakku kotor," gerutu Sandra.


"Apa mereka sengaja menunda punya anak?" Nenek Dewa yang bertanya. 


Sandra tersenyum kecil, sudut hatinya berdenyut mendengar ucapan mertuanya. Untung Ruby tak mendengarnya pertanyaan itu, pikir Sandra. "Sepertinya begitu, mungkin mereka sedang menikmati masa-masa pacaran mereka. Mereka kan menikah tanpa saling mengenal sifat satu sama lain." 


Semua yang mendengar hanya manggut-manggut, menyetujui ucapan Sandra. Karena semua orang tahu siapa Dewa, pria sibuk yang tak pernah terlihat menggandeng seorang wanita. Bahkan beberapa diantara mereka pernah tak percaya saat Sandra mengumumkan akan menggelar pesta pernikahan putranya waktu itu.





Kedua pengantin yang tak baru lagi itu akhirnya menampakkan wujudnya saat acara makan malam.


Tak ada meja makan besar dengan kursi-kursi yang kokoh di ruang makan keluarga itu, mereka makan di lantai beralaskan tatami, penutup lantai yang terbuat dari anyaman jerami. Tatami tak hanya sebagai unsur estetika pada rumah khas Jepang, tatami ini juga berfungsi sebagai penghangat saat musim dingin tiba, seperti sekarang ini contohnya.


Mereka makan dengan duduk saling berhadapan antar keluarga.


"Kamu mau makan apa?" Tanya Dewa melihat mangkuknya baru terisi nasi.


Ruby menggigit sumpitnya, karena gugup. Karena hingga saat ini Ruby belum bisa menggunakan alat makan khas Jepang tersebut.


"Aku gak bisa pake ini." Bisik Ruby pada suaminya.


Dewa tertawa kecil, dia jadi teringat bagaimana Ruby membuat Sushi mahal yang ia pesan di restoran mewah dulu berubah jadi cilok karena ulah istrinya.


"Apa kamu tak suka menu yang ada di meja?" Nenek terlihat tak enak hati pada cucu menantu cantiknya.


"Em, tidak. Bukan begitu, aku suka semua hidangan yang ada di meja ini tapi—" 


Semua orang menghentikan aktivitasnya untuk mendengarkan penjelasan wanita yang berhasil menaklukkan si Narsis Dewa.


"Dia tidak bisa pakai sumpit," sambung Dewa membuat Ruby ingin sekali menghilang dari sana saat itu juga. "Ini semua gara-gara Mommy yang tidak mendidik menantunya dengan baik, Sobo (panggilan nenek dalam bahasa Jepang)!" Dewa seperti sedang menghakimi Sandra.


"Kok Mommy?" Sandra langsung berburuk sangka jika putranya masih tidak menerima perjodohan yang dia buat.


"Ya iya, Mommy sebagai mertua harusnya bisa mendidik menantu kesayangannya dengan baik. Salah satunya mengajarkan istriku cara pakai sumpit." Dewa tak mau disalahkan atas ketidakmampuan istrinya dalam menggunakan alat makan itu.


"Emang siapa yang lebih banyak menghabiskan waktu bersama istrimu? Mommy apa kamu?" Sandra geram mendengar ucapan Si Narsis.


"Ya akulah," jawabnya tegas.

__ADS_1


"Lalu kenapa bukan kamu yang mengajari istrimu tercinta itu cara menggunakan sumpit yang baik dan benar?"


"Karena aku sibuk mengajarkannya cara menggunakan alat yang lain dengan baik dan benar." Senyum penuh kemesuman pun langsung terbit dari wajah pria blasteran itu.


"Aku bangga padamu." Kakek terawa lantang mendengar jawaban pria yang paling tinggi diantara mereka itu. "Kita memang harus menggunakan senjata kita dengan sebaik-baiknya!"


Ruby semakin menekuk wajahnya ke dada. Tak aneh sekarang jika suaminya begitu mesum, darah mesum memang mengalir kental di tubuhnya.


Pada akhirnya Dewa yang menyuapi istrinya makan malam, dengan sesekali menggoda Ruby yang tak mengeluarkan suara.


******


Pagi berikutnya sepertinya udara lebih bersahabat dari kemarin, seberkas cahaya matahari terlihat mengintip di balik awan, butiran-butiran salju tak terlihat lagi turun.


"Kita mau kemana sih?" Tanya Ruby saat suaminya mendandaninya dengan pakaian super tebal, ditambah sarung tangan bulu yang menutupi kedua tangannya.


"Ke festival Sapporo," jawab Dewa dengan semangat.


Sedangkan Ruby yang tak tahu destinasi wisata yang Dewa maksud hanya mengerutkan keningnya. "Apa itu?"


"Nanti juga kamu tau sendiri, dan setelah itu kamu akan sangat, sangat dan sangat bersyukur memiliki suami tampan dan kaya raya ini." Dewa menangkup wajah wanita bermantel tebal itu hingga akhirnya sebuah kecupan yang cukup lama pun mendarat di bibirnya.


"Aku jadi makin penasaran."


Walaupun keluarganya yang lain itu juga berkunjung ke festival musim dingin terbesar di negeri Sakura yang berlangsung selama 7 hari itu, Dewa memilih mencari penginapan yang jauh dari tempat keluarga menginap.


Biasanya Dewa tak seantusias ini saat mendatang festival es terbesar di Jepang ini, bahkan kadang dia malas untuk datang ke tempat tersebut. Keberadaan Ruby di sampingnya membuat antusiasnya naik berkali-kali lipat, bahkan lebih antusias saat ia mengunjungi festival itu untuk pertama kalinya.


Ruby hanya menganggukan kepalanya dengan cepat, matanya masih terpana pada berbagai bentuk patung es yang baru pertama kali ia lihat.


Festival itu bukan hanya menyuguhkan pemandangan patung-patung es tapi juga ada festival kuliner yang bisa mereka nikmati sambil menikmati pemandangan bentuk es yang bermacam-macam.


Dewa dan Ruby memilih berjalan-jalan menyusuri hamparan salju yang baru pertama kali Ruby saksikan secara langsung, sebelum mereka kembali ke penginapan.


"Kalau aku bawa sirup, mungkin aku bisa menjual es serut disini," celoteh Ruby yang sedang membuat gundukan-gundukan salju dengan bentuk yang aneh.


"Kenapa di saat seperti ini jiwa rakyat jelatamu keluar tiba-tiba sih?" Dewa yang sejak tadi bersedekap sambil memperhatikan kelakuan istrinya menjadi tak habis pikir dengan pola pikir wanita itu. "Lagian siapa yang mau beli es serut di udara dingin seperti ini?" 


Angin tiba-tiba berhembus begitu kencang saat Ruby masih betah bermain salju, sedangkan Dewa sedang asyik memperhatikan kelakuan istrinya yang menurutnya kampungan, tapi berhasil membuatnya terus tersenyum.


"Kenapa tiba-tiba anginnya jadi kencang begini ya?" 


"Sebaiknya kita kembali ke penginapan. Sepertinya akan ada badai salju." Dewa mulai terlihat panik saat melihat salju turun cukup lebat hingga menyakiti wajahnya karena terpaan angin yang kencang.


Mereka mulai berjalan menuju penginapan mereka yang ada di atas bukit, sebenarnya tadi sebelum angin dan salju itu turun kedua orang itu masih bisa melihat penginapan mereka dari situ, tapi sekarang cahaya dari lampu penginapan pun sudah tak terlihat lagi.


Dewa memeluk tubuh istrinya dengan kuat agar mereka tak terpisahkan karena angin semakin kencang berhembus, ditambah salju yang turun semakin lebat membuat wajah Ruby merona merah.


"Kita ke rumah itu aja!" Ruby menunjuk sebuah bangunan yang terbuat dari kayu.


"Ayo. Sampai badai ini reda, lebih baik kita berlindung di sana." Dewa terus membersihkan salju yang menutupi mantel istrinya.


Dengan perjuangkan yang cukup sulit, akhirnya mereka tiba di sebuah bangunan kayu yang mereka lihat tadi.

__ADS_1


Dingin dan gelap, itulah yang mereka rasakan saat memasuki ruangan tersebut. Dewa langsung menyalakan senter di ponselnya.


"Kayaknya ini gudang deh?"


"Sepertinya begitu." Bersamaan dengan itu Dewa menemukan pematik api di salah satu sudut yang juga terdapat teko yang berisi air. "Kayaknya ini tempat para petani di desa ini menyimpan hasil panen mereka." Dewa menunjuk tumpukan-tumpukan karung yang ada di pojok ruangan.


"Ada selimut juga disini." Ruby menemukan selimut di atas rak yang ada di sudut ruangan.


Es yang menempel di mantel keduanya perlahan mencair membuat hawa dingin semakin menusuk hingga ke tulang.


"Buka mantel kamu!" perintah Dewa pada istrinya yang mulai menggigil.


"Nanti tambah dingin." Ruby tak begitu saja menuruti perintah suaminya.


"Ada aku!" jawab Dewa dengan penuh percaya diri seperti biasa. "Aku lebih bisa diandalkan untuk hal menghangatkan tubuhmu!"


Tak ada pilihan lain, Ruby pun memilih menurut, karena salju yang mencair membuatnya seperti mandi es di udara dingin, setelah sebelumnya dia melihat suaminya telah menggantung mantel dan bajunya.


Dengan susah payah Dewa menyalakan kayu untuk membuat api unggun. "Kenapa kayu-kayu di Jepang sulit sekali diajak kompromi disaat seperti ini?" Dewa geram.


"Sini aku yang nyalain! Kamu peluk aku ya!" Ruby yang sudah membuka mantelnya langsung mengambil alih pekerjaan suaminya.


Ruby menyusun ulang tumpukan kayu yang suaminya letakan dengan asal tadi, mengambil sejumput jerami sebagai media untuk menyalakan api. Dan tanpa hitungan menit, api unggun mini pun sudah menyala.


"Pesonaku ternyata berpengaruh positif kepadamu ya?" Ucapannya membuat Ruby mencibir.


Kedua makhluk yang sedang berbulan madu itu harus terdampar di gudang penyimpanan di saat badai salju seperti ini. Umpatan-umpatan terus keluar dari bibir tipis Dewa yang kesal dengan kejadian yang menimpanya ini.


"Terimakasih ya!" Ruby memeluk erat suaminya saat mengucapkan rasa terimakasihnya.


"Untuk?"


"Untuk semua pengalaman indah yang udah kamu kasih buat aku!" Ruby menengadahkan wajahnya, bergerak cepat untuk mengecup bibir suaminya.


"Jangan mengejek!" Dewa enggan menatap wajah istrinya, karena dia tahu Ruby hanya berusaha menenangkannya.


"Aku sangat, sangat, dan sangat bersyukur memiliki suami peri kayak kamu. Aku gak tau apa yang terjadi sama aku kalau aku tersesat sendiri disini, tapi sekarang walaupun kita lagi terdampar disini, di dalam gudang, aku tetap bersyukur karena kamu ada disini." Ruby masih tak mengalihkan pandangannya dari wajah yang terlihat enggan menatapnya.


"Jangan gombal!" Dewa tak terpancing ucapan istrinya, dia masih betah menatap api yang sedang melahap kayu dengan perlahan.


"Sebenernya ini bukan gombalan, tapi aku lagi mancing kamu untuk itu." Bisik Ruby. Ruby tahu hanya dengan itu suaminya tak lagi kesal dengan semua yang menimpa mereka. "Dewaaaaaa! Aku mau itu!" Ruby merengek seperti dulu.


Dewa langsung menatap wajah istrinya, dia begitu tak percaya dengan ucapan yang baru keluar dari bibir ranum wanita yang kini ikut bertelanjang dada juga, "Kamu yang minta ya!" 


Dewa langsung mencium bibir dingin istrinya, seketika kehangatan langsung menjalar ke seluruh tubuh keduanya.


Dengan beralaskan selimut yang mereka temukan tadi, Ruby merebahkan tubuhnya di atas sana. Sedangkan Dewa mulai menciuminya mulai dari wajah leher, telinga hingga ke dada Ruby.


Lenguhan yang keluar dari mulut Ruby semakin memancing birahi sang suami, dan entah sejak kapan sudah tak ada lagi sehelai kain pun yang menutupi tubuh keduanya. Rasa dingin yang mereka rasakan beberapa saat lalu langsung berganti dengan kehangatan yang menjalar di setiap aliran darah saat mereka mulai menyatu dengan gerakan yang seirama.


Suara decitan lantai yang terbuat dari kayu itu menjadi saksi setiap hentakan yang Dewa lakukan kepada istrinya, mereka benar-benar pandai memanaskan suasana dingin yang tercipta dari badai salju yang sedang menghantam daratan Hokkaido.


Apapun caranya, bagaimana pun alasannya dan dimanapun tempatnya yang penting acara bulan madu mereka tidak terlewatkan dengan sia-sia.

__ADS_1


__ADS_2