Love Me Boy!

Love Me Boy!
Salah kirim


__ADS_3

24 hari, 7 jam, 40 menit Dewa terus menunggu pesan dari wanita yang begitu ia rindukan. Keegoisan yang mendominasinya membuat Dewa tak mampu untuk menanyakan kabar kepada istrinya terlebih dahulu. 


Bukannya tak kesal, dia begitu kesal, rindu selalu saja menyisakan rasa yang membuat dirinya gelisah. Ditambah lagi dengan ucapan Nathan yang begitu menghakiminya beberapa saat lalu, membuat kemarahan Dewa semakin terkendali, Dewa langsung menggenggam pajangan kristal yang menjadi penghias meja kerjanya, berniat melemparkan benda itu ke arah pintu, tapi sebuah notifikasi pesan masuk di ponselnya membuat dirinya menghentikan niatnya. Buru-buru dia membuka kunci layar ponselnya, karena nama My Ruby tertera di layar ponselnya. 


"Aku mau pulang!" Bukan pesan yang berisi ungkapan rasa rindunya, tapi tetap membuat hati Dewa tertawa riang, segera ia melakukan panggilan telepon. 


"Halo?" Suara yang begitu ia rindukan menyambut panggilan telepon darinya. 


Apa kabarmu? Aku sangat rindu, cepat pulang! Maafkan keegoisanku. Hatinya penuh dengan kata-kata yang begitu ingin ia ungkapkan kepada istrinya, tapi hanya kata, "Apa kamu sudah bosan disana?" yang keluar dari mulutnya saat itu. 


"Belum. Bahkan aku begitu menikmati masa-masa liburan aku," jawab Ruby dengan suara riang.


Mendengar suara Ruby yang begitu cerita, membuat darah Dewa mendidih, mengapa istrinya terlihat biasa saja jauh darinya? Mengapa istrinya tak terdengar gelisah, kesal atau apapun itu,seperti yang Dewa rasakan. 


"Terus kenapa kamu kirim pesan, bahwa kamu mau pulang?" Dewa berusaha senormal mungkin saat berbicara kepada Ruby. 


"Hehehe, aku salah kirim. Aku mau kirim pesan ke temen aku supaya minta dijemput, eh malah kirim pesan ke semua kontak yang ada di ponsel aku," ujarnya. Suaranya terdengar begitu renyah. "Apa kamu gak kangen aku?" pancing Ruby. 


"Lumayan," jawabnya seperti biasa. 


"Kesini lah! Nanti aku ajak kamu main, kebetulan di dekat rumah lagi ada pasar malem, jadi setiap malem aku maen disana."


"Biar aku liat jadwalku dulu," jawab Dewa, "kamu baik-baik saja disana?" 


"Aku begitu menikmati liburanku disini, bernostalgia ke jaman aku masih unyu-unyu." Ruby terdengar bersemangat saat menceritakannya, "kemaren aku sama temen-temen kemping di gunung, sebelumnya kita pergi ke pantai, bla, bla, bla," 


Tapi entah mengapa Dewa tak suka mendengar cerita istrinya yang seperti tak terlihat begitu merindukannya seperti yang ia rasakan kepada istrinya. 


"Baguslah, kalau kamu bisa menikmati liburanmu," ucap Dewa sambil melirik jam tangan di pergelangan tangannya. 


"Iyaaaa! Tunggu!" teriak Ruby yang sepertinya sedang ditunggu seseorang. "Udah dulu ya! Aku mau ngundeur!"


"WHAT???" tanya Dewa yang tak mengerti maksud dari ucapan istrinya. 


"Udah ya! Bye!" Sambil mematikan ponselnya. 


Ruby terdengar begitu riang, tak terdengar sedang merindukan dirinya, dan hal itu membuat Dewa semakin kesal. 


Akhirnya pajangan kristal yang tadi urung ia lempar, tetap mendarat di lantai. Hawa kesal semakin mengungkungnya. Obrolan singkat dengan Ruby tidak membuatnya jadi lebih baik, tapi sebaliknya. 

__ADS_1


"Pak!" Nathan masuk, seperti yang selalu ia lakukan, tanpa mengetuk pintu. "Ada apa ini?" tanyanya saat melihat serpihan kristal berserakan di lantai marmer itu. 


Dewa tak menjawab, hawa panas karena amarahnya membuatnya kehilangan kata-kata. 


"Maaf, bukannya saya mau berbaikan dengan Anda, tapi saya cuma ingin memberitahukan bahwa istri Anda mengirim pesan yang berisi dia ingin pulang." Nathan langsung ke intinya, karena dia memang terlihat masih kesal pada kelakuan pria keturunan penjajah itu. 


"Aku tau," jawab Dewa dengan bengis. 


"Hisst, kalau aku jadi Ruby, lebih baik menjadi istri kedua Asisten Pribadinya daripada harus menderita dengan jadi istri sang pemilik perusahaan." Dia kembali menutup pintu dengan keras. 


Kali ini panjangan kristal berbentuk bola yang mendarat di tepat di daun pintu. 


"DASAR SIALAN!— BRENGSEK!— BEDEBAH!" Dia begitu kesal, cacian-cacian kasar terus keluar dari mulutnya. 


"Kalian semua sama saja. Sama-sama tidak pernah puas dengan apa yang telah kalian dapatkan." Dewa menjambak rambutnya, kesal, karena sesungguhnya dia juga tak begitu menyukai pola pikirnya sendiri. 


Panggilan telepon masuk ke dalam ponselnya, bukan dari Ruby, atau Nathan, tapi dari Mommynya Sandra. 


"Ehem!" Dewa berusaha mengurangi emosi yang menguasainya, berusaha sekuat mungkin untuk terdengar biasa saja. "Halo Mom?"


"Ruby mengirim pesan ke Mommy, katanya dia mau pulang!" Sandra terdengar panik, bahkan terdengar begitu terengah-engah. "Kamu bagaimana sih, sudah hampir sebulan kamu belum juga menjemput istrimu dari sana? Memang sesibuk apa dirimu? Apa uangmu sudah hampir habis hingga kamu terus-menerus, sampai-sampai untuk menjemput istrimu saja kamu tidak bisa? Dasar suami egois, kalau Mommy jadi Ruby—" 


"Maaf Pak!" ucap Irfan yang tanpa sengaja menabrak tubuhnya saat Dewa baru keluar dari ruangannya. 


"Ada keperluan apa kamu mengunjungi ruangan kerjaku?" Masih terdengar begitu dingin. 


"Saya cuma ingin memberitahu, bahwa Ruby, — eh, maksud saya Ibu, mengirim chat ke saya, yang berisi—"


"Aku tau!" Dewa memotong begitu saja ucapan mantan kekasih istrinya itu. Dia jalan begitu saja melewati Irfan. 


"Kosongkan jadwalku sampai seminggu ke depan," titah Dewa saat masuk ke ruang kerja Nathan, yang berada di samping ruang kerjanya. 


"Anda mau kemana?" Meskipun dia sudah tahu jawabannya. 


"Menjemput menantu si Penyihir Meksiko!" Dewa begitu ketus. 


"Tunda sampai besok, karena hari ini ada tamu dari Filipina yang akan berkunjung kesini. Saya sudah jauh-jauh hari mengatur pertemuan ini," ujar Nathan, kali ini dia yang mendominasi. 


"Kenapa kamu selalu membantah perintah dariku? Kalau kataku kosongkan ya kosongkan!" bentak Dewa. 

__ADS_1


"Cukuplah Anda bersikap egois pada Nona, jangan pada kami para pekerjamu, karena jika proyek kita sampai gagal, kami para penghasil rupiahmu akan kesulitan karena kelakuan semena-mena Anda!" sarkasnya. "Dua jam lagi tamu itu datang, sebaiknya Anda merapikan penampilan Anda!" Kemudian berlalu meninggalkan Dewa yang terpaku karena ocehannya. 







Waktu masih terlalu pagi ketika Dewa sudah mengepak satu koper besar berisi barang-barang pribadinya untuk ia bawa ke rumah Ruby. Memasukkannya dengan kasar ke bagasi mobilnya.


Rasa dongkol karena sikap Ruby yang sepertinya tidak terlalu tertekan karena perpisahan mereka, masih membuat dada Dewa bergemuruh. 


Mobil mewah Dewa sudah memasuki jalan perkampungan saat mentari masih terlihat malas-malasan untuk bersinar, dikarenakan cuaca saat itu tidak terlalu bersahabat, mendung, seperti mengartikan perasaan Dewa saat itu. 


Hampir semua mata melirik mobil berwarna merah menyala miliknya dengan pandangan mata kagum, karena sepertinya ini kali pertama untuk orang-orang kampung di tempat Ruby melihat mobil semewah itu. 


Matanya tetap fokus menyetir, tak memperdulikan mata orang-orang yang terpesona pada mobil kebanggaannya. Karena fokusnya adalah pada rumah istrinya yang berhasil ia bangun ulang, seperti gayanya, mewah dan elegan.


"Dewa!" Samar-samar dia mendengar teriakan istrinya. 


Ah, sepertinya itu hanya perasaannya saja, karena rumah istrinya masih cukup jauh dari tempat itu, seingatnya. 


"Dewa!" sekali lagi dia mendengar suara itu, kemudian menghentikan laju mobilnya yang memang tidak terlalu cepat, mengingat ini adalah jalan perkampungan. 


Diliriknya spion sebelah kanan, seorang wanita yang masih mengenakan piyama bergambar Hello Kitty sedang melambaikan tangan ke arah mobilnya. Ya, dialah wanita yang begitu ia rindukan hampir sebulan ini. 


Bagaimana bisa dia pagi-pagi begini sudah berada di rumah orang? Lagi-lagi Dewa marah melihat kelakuan istrinya.


Tapi rasa marah, jengkel, dan semua rasa yang kemarin ia rasakan sirna saat melihat senyum lebar wanita dengan raut wajah bahagia yang kini berlari menghampirinya dengan tergesa-gesa. 


...Gantung lagiiiii... 🤭🤭🤭🤭...


...Votenya donk gengs, biar cerita ini makin femes.. 😂😂...


*Ngundeur adalah bahasa Sunda yang artinya memetik sayur yang biasa dijadikan lalapan😂😂

__ADS_1


__ADS_2