
Hampir saja pertahanan Dewa runtuh di atas tubuh istrinya jika dia tidak segera menyadari tindakannya. Dia benar-benar tak percaya jika dirinya sendiri bisa melakukan hingga sejauh ini. Bahkan sampai saat ini tubuhnya masih bergetar karena gejolak nafsu yang tak tersalurkan. Gemuruh di dalam dadanya membuatnya sulit mengontrol nafasnya sendiri.
Manisnya bibir Ruby masih terasa di bibirnya, lembutnya buah dada istrinya yang ia jamah kembali merasuki pikirannya hingga membuat hawa panas kembali menyerangnya.
Dewa masih tidak percaya jika dirinya tidak bisa mengontrol hawa nafsunya. Ruby seperti telah menghipnotis dirinya untuk terus menikmati tubuh indahnya.
Bayangan wajah Ruby yang terbuai karena sentuhannya membuat Dewa merasa bersalah atas apa yang telah dilakukannya.
Sedangkan di dalam kamar Ruby sedang menangis karena sakit hati atas perilaku suaminya yang telah mempermainkan dirinya. Dewa seperti telah menginjak-injak harga dirinya sebagai seorang wanita, bahkan sebagai seorang istri. Dewa benar-benar mempermalukan dirinya dengan cara yang sangat menyakitkan.
Tak ada seorang pun dari mereka yang bisa tidur setelah kejadian yang memancing gejolak nafsu beberapa saat lalu. Terutama Ruby yang tak henti menangis tersedu-sedu di dalam kamar tidur mereka.
Waktu jam berangkat kerja pun tiba untuk Dewa yang benar-benar tak bisa memejamkan matanya malam itu. Dengan dada yang kembali bergemuruh Dewa masuk ke dalam kamarnya. Belum ada cahaya mentari yang berhasil masuk ke dalam kamar besar nanti mewah itu, bahkan lampu kamar pun masih terlihat menyala, dilihatnya Ruby yang ternyata sedang terlelap dengan posisi memeluk kaki di atas ranjang besarnya yang menjadi saksi adegan menggairahkan beberapa jam yang lalu. Mungkin karena lelah menangis, akhirnya membuat Ruby pun terlelap.
Dewa mendekati tubuh istrinya yang terlihat sangat tidak nyaman dengan posisi tidurnya yang duduk. Perlahan dan sangat berhati-hati dia membenarkan posisi tidur istrinya. Menatap dengan lirih wajah terlelap dengan mata bengkak itu.
"Maafkan aku!" Bisiknya seraya mengelus pipi mulus Ruby.
KANTOR
Tak ada yang bisa Dewa kerjakan dengan benar hari itu, bahkan untuk membaca sebuah proposal sederhana pun Dewa harus melakukannya berulang-ulang. Bukan karena dia tak tidur semalam tapi karena wajah Ruby yang terlelap tadi selalu memecahkan konsentrasinya.
"Sepertinya Anda butuh istirahat." Ucap Nathan saat melihat wajah lelah atasannya. "Sepertinya Anda harus pergi ke dokter lagi untuk konsultasi penyakit insomnia Anda."
"Tak perlu. Aku hanya butuh sebentar untuk memejamkan mata." Jawab Dewa sambil masuk ke dalam ruangan tersembunyi di balik tembok ruang kerjanya.
Sebuah pesan masuk ke dalam ponselnya, dengan malas dia membaca pesan yang masuk sambil merebahkan tubuhnya di ranjang besar dalam ruangan tersebut.
"Aku pulang." Pesan dari Ruby.
"Memang kamu habis darimana?" Balas Dewa yang salah menafsirkan pesan istrinya.
Tapi sepertinya Ruby telah menonaktifkan ponselnya, sebab pesan Dewa hanya bercentang satu.
"Kemana dia? Kupikir dia akan marah besar." Ucap Dewa pada dirinya sendiri.
"Siapa yang marah Pak?" Si Serba ingin tahu Nathan yang saat itu hendak meminta tanda tangan atasannya langsung bertanya pada pada atasan sablengnya itu saat ia melihat kekhawatiran di wajah Dewa.
"Ruby." Jawab Dewa sambil menyimpan ponselnya di nakas.
"Tolong tanda tangani." Nathan menyerahkan berkas yang harus Dewa tanda tangani. "Kenapa Nona marah? Apa Anda kembali mengotori rumahnya?"
"Hei. Itu apartemenku." Bentak Dewa.
"Tapi bukankah setelah menikah istri adalah orang lebih lama tinggal di rumah?"
Dewa hanya terdiam. Sambil menandatangani berkas yang Nathan berikan. Dilihatnya ponselnya memeriksa status pesan yang ia kirim.
__ADS_1
"Kenapa dia tidak mengaktifkan ponselnya?"
"Siapa?"
"Ruby. Siapa lagi." Bentak Dewa kesal.
"Mungkin dia sedang di luar. Ponselnya low." Jawab Nathan yang memang belum mengerti yang sedang dialami atasannya.
"Dia bilang tadi dia sudah pulang. Kenapa si cerewet itu tidak langsung mengisi daya ponselnya?" Dewa emosi.
"Mana aku tau. Untuk apa Nona memberitahu bahwa dia sudah pulang? Memang dia pulang kemana?" Nathan mulai bingung.
Mendengar pertanyaan Nathan membuat Dewa langsung menyadari bahwa istrinya memberitahu bahwa istrinya keluar dari apartemennya.
"Anda mau kemana Pak?" Nathan semakin bingung melihat Dewa langsung bangkit dan terlihat bergegas keluar dari ruangan rahasia itu.
"Pulang!" Dewa menyambar jas kerjanya.
"Apa Anda akan berniat bercocok tanam di siang yang begitu terik ini?" Teriak Nathan melihat Dewa terlihat tergesa-gesa hingga sedikit berlari keluar dari ruangan kebesarannya.
BUTIK
Sandra dibuat terkejut melihat menantu kesayangannya datang ke butiknya. Para karyawan yang lain yang adalah para sahabatnya terlihat senang menyambut teman kerja mereka yang sekarang menjadi menantu sang pemilik butik.
"Tumben kesini?" Sandra memeluk tubuh menantunya yang cantik.
"Pamit kemana?" Sandra cemas.
"Minggu depan sepupu aku menikah. Aku udah janji akan pulang seminggu lebih awal dari acara resepsi. Sekalian bantu-bantu, gak enak aku mom sama bibi, waktu aku nikah mereka kan yang paling sibuk. Masa aku gak bisa bantuin waktu anak mereka nikah." Jawab Ruby, ini adalah alasan paling masuk akal. Walaupun tadinya Ruby berniat akan datang sehari sebelum acara resepsi dimulai.
Sandra manggut-manggut, dia bisa mengerti penjelasan menantunya.
"Kamu sendirian? Dewa gak ikut?"
"Dia sibuk mom, lagian mana mau dia ikut kesana. Mommy tau sendiri kan dia gimana?"
Sandra kembali manggut-manggut mengerti mengapa Ruby terlihat malas membawa suaminya ke rumah keluarganya.
"Kalo begitu, biar sopir mommy yang antar kamu. Belikan oleh-oleh yang banyak untuk keluargamu di kampung. Buat mereka senang."
Ruby menganggukkan kepalanya.
"Mommy penasaran. Sudah sejauh mana kalian—"
Entah mengapa ucapan Sandra memancing air mata Ruby kembali luruh. Dan hal itu membuat Sandra bingung.
"Apa dia menyakitimu? Apa dia bertindak kasar kepadamu? Apa dia memukulmu?" Cecar Sandra.
__ADS_1
"Aku hanya sedih karena aku belum bisa meluluhkan hatinya. Aku sedih karena aku membuatmu kecewa." Jawab Ruby di sela tangisnya.
Ruby tak berniat memberitahukan kejadian menyakitkan yang semalam terjadi. Ruby benar-benar sakit hati, karena Dewa seperti telah menginjak-injak harga dirinya dengan sangat memalukan.
"Aku kira di Bule penjajah itu telah menyakitimu sayang." Sandra memeluk tubuh menantunya memberinya dukungan jika semua akan baik-baik saja.
•
•
•
Satu jam setelah kepergian Ruby Dewa yang datang ke butik Sandra dengan wajah penuh kekhawatiran. Setelah sebelumnya Dewa mencari Ruby di apartemen mereka.
"Halo Son. Angin dari bagian bumi mana yang telah membuat putraku datang kesini?" Sindir Sandra tak menghiraukan putranya yang sedang merebahkan tubuhnya di sofa ruang kerjanya.
"Apa Ruby kesini?" Dewa berusaha senatural mungkin saat menanyakan Ruby kepada mommynya.
"Iya. Tadi dia pamit dulu kesini." Jawab Sandra tanpa mengalihkan pandangannya dari sketsa baju rancangannya.
"Pamit? Dia pamit kemana? Apa dia cerita dia akan pergi kemana?" Dewa benar-benar gelisah mendengar bahwa Ruby pamit.
Mendengar ada yang aneh dengan putranya Sandra langsung mengalihkan wajahnya untuk menatap wajah putranya. Kepanikan terlihat jelas di wajah rupawan putranya.
"Apa yang sebenarnya telah kamu lakukan kepada menantuku?" Bentak Sandra, hingga beberapa karyawan butik dibuat terkejut dengan teriakan atasannya.
"Hanya salah paham Mom. Tenang saja aku tidak melakukan hal yang menyakitinya." Dewa angkat tangan sambil menjelaskan kepada wanita yang dia sebut mommy. Dia tidak sadar jika tindakannya semalam telah melukai hati istrinya.
"Berarti tangis Ruby tadi adalah tangis karena kelakuanmu."
"Apa? Kenapa dia menangis?"
"Mana aku tau. Bawa kembali menantuku, atau jangan pernah menampakkan wajahmu di hadapanku." Sandra terus memukul-mukuli tubuh putranya dengan bantal sofa.
"Baiklah. Akhir pekan ini aku akan membawanya kembali kepadamu." Dewa meringis karena kali ini Sadra menjambak rambutnya.
"Aku mau hari ini juga kamu menjemput dia." Sandra terus menjambak rambut putranya karena sangat kesal. "Dasar anak tidak berguna, baru satu bulan menikah saja kamu telah membuat istrimu menangis hingga pergi dari rumah. Benar-benar memalukan."
"Tapi besok dan lusa ada rapat penting dengan para pemegang saham."
"AKU TIDAK PEDULI! KEMBALIKAN MENANTUKU SECEPATNYA! Dasar Bule tengik." Teriak Sandra memekakkan telinga siapapun yang mendengarnya.
Kira-kira si Sadeli bisa bawa Ruby kembali gak ya????
Jangan lupa ritualnya setelah baca ya gaeeesss!!
Like, komen n Vote!!
__ADS_1
Otor haus vote... 🤭