
"Kok kamu ngambek gitu sih? Katanya kamu cuma kasian sama aku, kok sekarang aku yang kasian liat kamu ya?" Ruby menarik wajah suaminya saat dia dalam posisi duduk. "Makanya kalau kamu kangen, ngomong dong!" Ruby mengecup bibir pria yang sedang mengalihkan nafsunya lewat olahraga.
Dewa mengernyitkan kening. "Maksud kamu?"
"Sadar gak sih kalau kamu tuh selama ini gak pernah bilang kangen sama aku? Selalu aku aja yang bilang kangen, bilang suka, bilang sayang. Padahal aku juga pengen banget denger kamu bilang sayang sama aku!" Gadis itu menarik dagunya ke atas hingga membuat bibirnya mengerucut.
Dewa meluruskan kakinya menarik tubuh Ruby hingga dia duduk di atas pangkuannya. "Pentingkah itu untukmu? Apa semua perlakuanku selama ini masih kurang cukup membuat kamu senang?" ucap Dewa dengan mata menjelajahi isi hati Ruby lewat mata bulatnya.
"Aku tau kamu sayaaaaaang banget sama aku bahkan aku juga tau kamu cinta mati sama si Pemilik Ladang Gersang ini, tapi aku pengen denger kamu bilang semua itu sama aku." Ruby ikut menatap mata hazel yang meneduhkan itu.
"Aku? Cinta mati? Kamu terlalu berlebihan." Dewa mencibir ucapan istrinya.
"Tuh kan! Ah kamu mah begitu," ucap Ruby sambil berjingkat dari pangkuan Dewa.
"Mau kemana?" Tangan kekar itu menariknya kembali hingga duduk di pangkuannya. "Ngambek?"
"Iya!" jawabnya ketus.
"Terus aku harus apa?"
"Menurut kamu?"
Obrolan tak bermakna itu harus terhenti saat ada panggilan telepon masuk ke ponsel Dewa. Dari nomor tanpa nama, Dewa mengernyitkan kening, karena dia jarang sekali membagikan nomor ponselnya kepada orang lain.
"Halo?"
"Halo Pak, maaf mengganggu waktu Bapak!" jawab seseorang di seberang telepon.
Dewa menjauhkan ponselnya, menatap nomor yang tertera di layar ponselnya.
Tau darimana dia nomor aku? Cibir Dewa dalam hati.
"Hemmm! Ada apa?" Dengan wajah malas dia bertanya.
"Maaf Pak, tolong sampaikan pada Ruby—"
"Panggil dia dengan sebutan yang sopan, dia istriku." Potong Dewa sebelum dia meneruskan ucapannya.
"Siapa?" tanya Ruby yang masih berada di pangkuan Dewa tanpa suara.
Dewa meletakkan telunjuknya di bibir, menyuruh istrinya diam.
"Eh iya, maksud saya Ibu Ruby." Dia sedikit canggung saat menyebut Ruby dengan panggilan ibu. "Bisa tolong beritahu Ibu, kalau berkenan bisakah dia menghadiri pesta pernikahan saya, yang akan diadakan pada hari Sabtu depan?"
Dewa membenarkan posisi duduknya, tapi tangannya tetap menahan pinggang istrinya agar tak jatuh. "Maksud kamu?"
"Maaf, karena Ruby— eh maksud saya Ibu pernah bilang jika saya ingin menghubunginya bisa lewat Anda. Saya tidak bisa menghubungi Ibu, jadi bisakah Bapak menyampaikan undangan saya kepadanya?" Dewa mendengar jelas kegugupan saat si Penelepon itu berbicara. "Dan jika berkenan, bisakah Bapak juga menghadiri pesta pernikahan saya?"
"Eh, emmm, iya. Saya dan istri saya akan usahakan untuk datang." Hati Dewa tertawa riang, entah karena apa.
"Kalau begitu terimakasih Pak! Maaf mengganggu waktu Bapak!"
"Hemmm!"
__ADS_1
Panggilan telepon pun diputus.
"Siapa?" Ruby masih penasaran siapa penelpon yang membuat suami kesal sekaligus membuatnya begitu riang.
"Cium aku kalau kamu ingin tau!" Sebuah tawaran yang membuat Ruby memutar bola matanya.
"Tuh kan, pasti gitu!"
"Ya sudah!" ucap Dewa seolah tak peduli, tapi tangan kekarnya meraih tenguk kecil yang jenjang itu, menyesap bibir atas dan bawah Ruby bergantian.
"A'Irfanmu mengundang kita ke pernikahannya." Dengan wajah mengejek dia memberitahu istrinya.
"Akhirnya," Ruby terlihat lega bahkan ikut senang.
"Maksudnya akhirnya?"
"Ya, akhirnya mereka menikah," jawab Ruby dengan wajah yang di luar ekspektasi Dewa. Karena tadinya Dewa pikir istrinya akan terkejut mendengar berita pernikahan A'Irfannya.
"Emang kamu tau?"
"Iyalah, mereka pacaran udah lama, jadi wajar mereka nikah. Emang kita, kagak ada acara pacaran tau-tau nikah." Ada nada kurang puas yang terdengar di telinga Dewa saat Ruby mengucapkannya.
"Daripada pacaran 4 tahun tapi nikahnya sama orang lain!" Dewa sengaja menyindir istrinya.
"Hiiisst, iya, iya, aku emang gak pernah menang kalau debat sama kamu. Orang waras mah ngalah aja,"
"Apa kamu bilang? Akan ku adukan semua kelakuanmu pada Mertuamu!" Ancam Dewa.
"Tapi aku lebih suka kamu hukum aku dengan cara lain." Pancing Ruby.
•
•
•
•
•
...Pernikahan Irfan...
"Tuh, kamu harus bersyukur menikah denganku. Pesta pernikahan kita jauh berkali-kali lipat lebih megah dari pernikahan A'Irfanmu!" Dengan pongah dia membandingkan pesta pernikahannya dengan pernikahan Irfan. Sungguh tidak sopan memang.
Ruby mencubit perut suaminya, berharap dirinya bisa menutup mulutnya.
"Sakit," keluh Dewa yang tak lepas menggandeng lengan istrinya.
"Kamu begitu baik, datang ke pesta pernikahan mantan pacarmu, padahal waktu kita menikah saja dia tak datang." Dewa terus saja mengoceh.
"A'Irfan datang, kita bahkan sempat berfoto."
"Benarkah?"
__ADS_1
"Iya, nanti kita liat lagi deh foto album pernikahan kita."
Obrolan keduanya pun terpotong saat keduanya sudah berada di pelaminan, Irfan terlihat gagah dengan wajah yang memancarkan kebahagiaan bersama istrinya yang juga cantik. Mereka terlihat begitu serasi.
"Selamat ya A," ucap Ruby menyalami tangan pengantin prianya.
"Cepat, para tamu mengantri di belakang kita!" Dewa berhasil menghentikan jabat tangan istrinya dengan sang mantan.
"Maaf kami tidak membawa apa-apa, hanya bisa memberikan ini sebagai hadiah pernikahan kalian. Anggaplah aku mensponsori bulan madu kalian." Dewa menyerahkan amplop putih tebal kepada Irfan yang berisi tiket dan akomodasi ke salah satu destinasi wisata di negeri ini.
"Terimakasih banyak Pak!" Irfan dan istrinya terlihat sangat senang.
"Anggap saja sebagai tanda terimakasihku karena telah menjaga Ruby selama 4 tahun." Ucapan Dewa membuat istri Irfan melirik tajam ke arah suaminya, entah akan berjalan baik atau tidak acara malam pertama Irfan, hanya mereka yang tau.
Ruby buru-buru mengajak suaminya turun dari pelaminan, menuju meja yang menyuguhkan berbagai hidangan.
"Kamu tuh ya!" Ruby hanya bisa geleng-geleng kepala.
"Apa? Emang apa salahku?"
"Kamu gak liat ekspresi istrinya tadi, dia langsung jutek gitu liat aku. Kalau istrinya marah gimana? Gagal deh malam pertama mereka."
"Apa peduliku? Itu urusan mereka, berarti aku dan Irfan seri." Dewa terlihat acuh.
"Maksud kamu?"
"Bukannya malam pengantin kita juga tidak berjalan lancar!" Dewa mengingatkan Ruby akan malam pengantin kelabu mereka.
"Eh Ruby?" Sapa seorang perempuan berkebaya modern berwarna hijau muda.
"Desi? Ratna?" Seru Ruby begitu sumringah.
"Apa kabar? Makin cantik aja," ucap perempuan yang bernama Desi.
"He'em, kalau bahasa kerennya mah makin glowing," timpal Ratna, gadis satunya.
Kedua gadis itu adalah kedua teman Ruby di kampung, sekaligus sepupu dari Irfan. Mereka terlihat begitu mengagumi Ruby yang memang sangat cantik dengan gaun pesta berbahan satin mewah dikombinasi brukat premium berwarna putih.
"Kamu gak pernah keliatan pulang ke kampung! Acara nujubulan Melda aja kamu gak datang."
Ruby hanya tersenyum, karena saat itu Dewa memang tidak bisa mengantarkannya pulang kampung dengan alasan dia sedang sibuk bekerja. Entah karena sengaja atau memang sedang sibuk bekerja Ruby tak tahu.
"Kamu yang nikah duluan, tapi Melda yang mau nimang anak duluan," celetuk perempuan bernama Ratna, yang sepertinya tak sadar dengan apa yang diucapkannya.
"Karena saat itu kami sedang berlayar dengan kapal pesiar," ucap Dewa, berbohong, karena Ruby terlihat hanya diam sambil memaksakan senyum. "Kami sengaja menunda momongan, karena kami kan tidak pernah pacaran dulunya, kenal beberapa bulan lalu menikah, jadi aku hanya ingin mengajaknya pacaran dulu, menikmati bulan madu dengan berkeliling dunia." Kali ini sifat Sombong si Narsis keluar di saat yang tepat.
Kedua perempuan itu langsung menganga membayangkannya semua yang Dewa ucapkan. Sedang Ruby begitu bersyukur diselamatkan dari anggapan-anggapan negatif tentangnya.
"Walaupun kami memiliki pesawat pribadi yang jauh lebih baik dari pesawat-pesawat komersil yang ada, tapi kan tetap saja kan banyak dokter yang tidak mengizinkan wanita hamil bepergian dengan pesawat, sedangkan Ruby begitu menginginkan bulan madu kita ke negeri Kakekku di Jepang, bermain salju di Hokkaido, bertamasya ke Disneyland dan banyak lagi tempat yang Ruby ingin kunjungi, jadi kami memutuskan untuk menunda momongan sampai dia puas berkeliling dunia. Bukan begitu Honey?" Sebuah pidato singkat yang begitu membuat iri pendengarnya Dewa sampaikan kepada kedua perempuan yang pastinya belum merasakan semua kemewahan yang Ruby alami saat ini.
Dewa benar-benar Suami Peri yang selalu menyelamatkannya di setiap waktu, saking senangnya membuat Ruby tanpa sadar mengecup singkat pipi yang selalu kelimis bersih dari bulu-bulu di wajahnya. Ternyata kadang kita harus bersikap sombong untuk mempertahankan harga diri kita di depan orang lain.
Ah, sikap Dewa kali ini membuat Ruby meleleh dengan semua bualannya. "I love you, Sadewa, my husband." Dengan tatapan penuh cinta dia berikan kepada suaminya.
__ADS_1
...Makasih yang masih setia mantengin cerita mereka...🤗🤗🤗...