Love Me Boy!

Love Me Boy!
Di luar Ekspektasi


__ADS_3

Semua orang yang ada di meja tertegun mendengar penjelasan Dewa, jadi selama ini mereka telah berburuk sangka kepada pria yang benar-benar manis itu, bahkan Sandra hingga menitikan air matanya, dia terharu, putra yang selama ini ia anggap sinting itu adalah seorang pria yang begitu manis dan romantis.


Begitupun Ruby, dia tak pernah tahu jika suaminya ikut merasakan penderitaan yang ia rasakan saat melalui proses pengobatannya beberapa bulan lalu. Karena selama ini Dewa terlihat baik-baik saja, bahkan sering mengeluarkan lelucon mesum saat Ruby sedang dilanda ketegangan. Mendengar ucapan suaminya, hati Ruby seperti bongkahan es yang disimpan di tengah gurun pasir. Dia meleleh. 


"Kamu ngapain masih duduk disini?" ujar Sandra kepada menantunya yang hanya bengong melihat kepergian suaminya. 


Ruby terhenyak, "maksud Mommy?"


"Susul suami kamu sana!"


Ruby semakin bingung. "Buat apa? Mungkin sedang ingin sendiri sambil menenangkan diri," jawab Ruby. 


Wajah Sandra terlihat kesal melihat menantunya yang tak bisa membaca situasi. "Apa kamu gak terharu suami kamu ngomong gitu tadi?"


"Aku terharu. Mommy bisa liat kan tadi air mata aku, bahkan hati aku meleleh ini!" Ruby menjelaskan.


"Ya udah, kamu samperin dia, servis dia sekarang sebagai tanda terimakasih kamu sama dia?"


"HAH?" Seru Ruby dan Akbar bersamaan. 


"Malah hah hoh, hah hoh!"


Ruby terkejut mendengar ucapan mertuanya, disaat dirinya masih sedang terhanyut suasana romantis, mertuanya malah memikirkan kesejahteraan putranya, benar-benar mertua langka. Tapi Ruby tak mau berdebat, dia langsung bangkit dari duduknya saat melihat wajah kesal Sandra. Bahkan kini setengah berlari menaiki anak tangga untuk menjemput pria yang membuat hatinya lumer. 


Perlahan Ruby membuka pintu kamarnya, mengintip sang kekasih hati yang tadi membuatnya terbaru karena kata-kata manis yang keluar dari bibirnya. 


Tak ada, tak ada Dewa di sofa, Ruby langsung masuk, mencari keberadaan suaminya. Mungkin di balkon, pikir Ruby setelah sebelumnya menengok ranjang mereka. Tak ada juga, kemana suaminya pergi? 


Bukannya tadi Ruby melihat sendiri Dewa berjalan masuk ke kamar mereka. Setiap sudut kamar besar itu Ruby telusuri, bahkan dengan bodohnya dia mencari suaminya di lemari-lemari besar yang ada di ruang ganti. 


Pintu kamar mandi yang dibuka dengan cara digeser terlihat bergerak, saat Ruby memilih untuk membersihkan diri setelah lelah mencari keberadaan suaminya. Tubuh tinggi yang sejak tadi ia cari keluar, masih menggunakan pakaian yang tadi ia pakai untuk sarapan, itu artinya Dewa belum mandi, lalu untuk apa dia berlama-lama di dalam kamar mandi?


"Kamu ngapain disitu? Aku cari kamu kemana-mana, sampe aku nyari kamu di dalem lemari." Gerutu Ruby. 


Dewa menaikan alisnya. "Apa sekarang aku harus menjelaskan kegiatanku di kamar mandi setiap pagi?" jawab Dewa, "sekarang aku baru mau nerusin sarapan aku lagi."

__ADS_1


Ruby yang tadi sudah meleleh tidak menyangka Dewa meninggalkan ruang makan dengan begitu keren tadi, dibuat lemas. 


"Aaaaahhh! Kamu gak romantis." Rengeknya.


"Gak romantis apa sih?" Dewa masih belum mengerti. "Apa kamu mau aku ikut ke toilet sambil liatin aku pup? Aku tau wajahku tampan dan rupawan sampai-sampai kamu mau liat wajah pria tampan ini ngeden."


"Hiiisst!"


"Kamu ngapain nyari aku tadi?"


"Aku tadi disuruh Mommy servis kamu."


"Maksudnya?" Dewa menggiring istrinya ke ruang tidur karena saat itu mereka masih di depan kamar mandi. 


"Tadi kamu sweet banget waktu ngasih penjelasan ke kita, aku sama Mommy ampe terharu dengernya. Terus pas kamu ninggalin kita di ruang makan tadi, kita kira kamu ngambek, jadi Mommy nyuruh aku servis kamu, biar kamu gak ngambek lagi."


Dewa tertawa lantang mendengar penjelasan istrinya yang begitu polos. "Terus sekarang kamu mau ngapain?" 


"Mandi."


Kali ini dahi Ruby yang berkerut. "Emang aku belum mandi."


"Bukannya tadi mau servis?" Tangan nakalnya mengunci Ruby dalam pelukan, sedang sebelahnya sudah melakukan tugasnya. 


"Kamunya juga gak ngambek," Ruby masih kesal, karena apa yang Ruby bayangkan tak seindah realita. Ekspektasinya tadi, dia akan melihat Dewa termenung di dalam kamar atau memandang tak tentu arah di luar balkon tapi kenyataannya suaminya sedang melakukan kegiatan hariannya. Ah, benar-benar menjijikkan. 


"Aku ngambek nih." Ancam Dewa. 


"Ngambek aja! Aku udah gak ada minat." 


"Serius?"


"Kalau aku bilang iya, kamu mau apa?" Ruby menantang pria yang masih memeluk erat tubuhnya.


Perlahan Ruby merasakan pelukan Dewa mengendur, tangan yang tadi sibuk menjamah di balik gaun pun sudah keluar lagi. Dewa melepaskannya, sulit dipercaya, hingga membuat Ruby penasaran dan berbalik untuk menatap wajah suaminya, tapi— lagi-lagi Ruby salah mengambil kesimpulan untuk kedua kalinya pagi itu, sebab Si Mesum tetaplah akan terus jadi Si Mesum, karena saat itu Dewa melepaskan pelukannya bukan untuk melepaskan Ruby, tapi dia melepaskan pelukannya untuk melepaskan pakaian yang ia kenakan. 

__ADS_1


"Kamu ngapain telanjang disini?" Ruby pura-pura tak mengerti. 


"Penjajah akan menggarap ladangnya dengan gajahnya." Seraya menarik paksa gaun berwarna peach yang Ruby kenakan hingga kancing-kancing gaun yang istrinya kenakan bertebaran. 


Disaksikan mentari pagi yang malu-malu mengintip mereka dari balik tirai, aksi penjajahan paling nikmat pun terjadi. 


Tak butuh pelengkap jika kebahagiaan sudah mereka genggam dengan hanya saling memiliki. 





Dua jam berlalu, masih tak ada tanda-tanda kedua suami istri itu keluar dari kamar mereka. Bahkan Akbar sudah satu jam yang lalu pamit berangkat ke kantor, sedang Sandra juga kini sedang menyiapkan diri untuk pergi ke butiknya.


Walaupun sedikit kecewa dan memiliki perasaan takut kalau-kalau anak menantunya itu tidak akan dikaruniai keturunan, tapi Sandra tetap berusaha bersyukur karena dia bisa berlega hati, sebab sekarang putranya sudah menemukan kebahagiaan di hidupnya yang dulu terlihat kosong. Dulu Sandra sering memikirkan nasib putranya di usia senjanya kelak, saat dia tak lagi bisa berada di samping putranya, bayangan Dewa akan hidup seorang diri, tanpa ada yang mengurus di kemudian hari terus menjadi mimpi buruknya selama ini, tapi saat ini semua kekhawatiran Sandra seperti sirna. Dewa sudah memiliki Ruby, wanita pilihannya yang entah mengapa membuatnya jatuh cinta saat melihatnya sejak pertama kali. Begitupun Ruby gadis yang dulu membuatnya jatuh cinta kini telah memiliki Dewa sebagai pelindungnya, suami yang akan melindunginya dengan berbagai cara. 


Sandra begitu terharu.


"Mommy mau ke Butik?" Suara sang menantu membuyarkan lamunan Sandra. 


"Ah, iya." Sandra gagap. "Mana suami kamu?" 


"Lagi telpon Nathan."


"Maaf ya Mom, aku—" 


Sandra menutup mulut Ruby dengan telunjuknya. "Jangan bahas itu lagi. Mommy cuma bisa do'ain apapun yang terjadi nanti, semoga kalian akan terus saling menguatkan." 


"Penyihir Meksiko dan Anteknya sedang berpelukan," ucap Dewa yang ternyata sedang mengambil gambar kedua wanita yang begitu ia sayangi. 


...Hayoooo, pasti gak ada yang nyangka kalau Mas Ganteng Dewa itu pergi karena kebelet pup.. 😂😂😂...


......jangan lupa ritualnya Shaaaaaayyy!!! ......

__ADS_1


__ADS_2