
Tak seorangpun yang tahu pasti apa yang terjadi dengan apa yang akan terjadi hari esok, disaat hati tak lagi berharap, disaat asa tak lagi ada, berita itu datang seperti sebuah keajaiban.
Rahasia Pencipta tetap akan jadi Rahasia-Nya, tak seorangpun tahu apa kejutan yang akan Dia berikan kepada hambanya. Saat raga tak lagi memohon, mengiba dan memelas, tapi disaat itu Dia bisa dengan kuasa-Nya mengabulkan semua keinginan yang terlupa.
Hati Dewa seperti meleleh saat menyadari kekuasaan Tuhan yang mengatur hidupnya dengan begitu indah.
Sore itu, saat langit tertutup awan kelabu Dewa duduk lemah di kursi ruang tunggu rumah sakit. Tubuhnya masih lunglai, tubuh tinggi besar berotot yang memang ia latih selama ini seperti kehilangan kekuatannya, lemah. Bahkan tetesan hujan di tengah musim panas yang meninggalkan bau basah tanah terdengar seperti sebuah simfoni yang menyejukkan hati seorang pria yang masih berusaha mengatur emosinya. Bersamaan dengan tetesan air mata pria yang kini masih tak kuasa untuk berdiri. Bahkan terlihat dia menggigit bibir bawahnya menahan rasa sesak di dadanya.
"Lepaskan perempuan itu!" ujar Dewa pada seseorang di seberang telepon. "—dia tidak bersalah, karena akulah penyebab ini semua." Dewa menutup panggilan teleponnya.
...🍃Flashback On🍃...
Ini hari terakhir Ruby dan Dewa berada di kampung halaman Sang Istri, karena malamnya helikopter yang akan akan kembali menjemput mereka.
Hari begitu terik, mentari seolah sedang menunjukkan kekuatannya, membuat orang-orang memilih bersembunyi di dalam rumah. Tapi sepertinya hal itu tidak berpengaruh pada Ruby, disaat orang-orang memilih meneduh dan berleha-leha menikmati tidur siangnya, dia malah sedang merayu suaminya untuk menemaninya keluar, entah kemana, Dewa tak mendapat jawaban yang tepat saat dia bertanya.
"Ini panas Honey!" Dewa masih tergeletak di ranjangnya dengan dada telanjang.
"Aku tau. Siapa bilang hujan?" Ruby tak menghiraukan.
"Memang kamu mau kemana?"
"Keluar," jawabnya.
"Keluar teras?"
"Jalan-jalan keliling kampung, sambil memamerkan milikku."
Dewa langsung menutup pangkal pahanya dengan bantal saat mendengar jawaban istrinya. "Kamu mau pamer gajahmu?"
"Cih, dasar mesum!" Dewa mendelik. "Ayolah Sayang! Aku cuma ingin mereka iri dengan suami yang aku miliki," rengeknya
Memang, Dewa tak pernah menang atas istrinya, dia tak pernah kuasa saat mendengar rayuan istrinya, apalagi sekarang Ruby terus-terusan menghujaninya ciuman agar permintaannya dituruti.
Dengan sunglasses yang menempel di wajah keduanya, dua orang makhluk itu keluar yang kata Ruby ingin mencari salad. Awalnya Dewa tak percaya jika di kampung istrinya ada penjual salad. Tapi setelah Ruby meyakinkan dirinya bahwa penjual salad itu memang ada, akhirnya Dewa bersedia keluar. Karena dia juga memang sedang menginginkan salad buat dingin dan segar di teriknya cuaca siang itu.
"Ini yang kamu sebut salad?"
__ADS_1
Sepiring yang berisi berbagai macam sayuran dengan kuah bumbu kacang sudah ada di hadapan Dewa.
"Ini salad versi kearifan lokal," jawab Ruby tanpa rasa bersalah sedikitpun.
Dewa menelan ludahnya, bukan karena tertarik pada makanan yang ada di hadapannya tapi karena kesal karena dirinya yang cerdas telah ditipu oleh Istrinya.
Ekspektasi yang sejak tadi dia bayangkan harus berakhir dengan realita yang begitu menyedihkan.
"Itu apa?" Saat melihat istrinya memegang satu mangkuk potong beragam buah-buahan dengan kuah sambal gula merah.
"Salad buah." Senyum itu kembali mengembang di wajahnya. Entah karena dia senang mendapatkan makanan yang ia inginkan atau karena dia berhasil menjebak suaminya.
"Salad buah dengan citarasa lokal?" sindirannya.
"Kamu semakin pintar saja Sayang!"
"Coba, aku mau itu!" Dewa menarik piring Sang Istri yang lebih menggoda liurnya.
"Enak?" tanya Ruby melihat suaminya terus melahap rujak yang ia pesan.
"Lumayan," jawabnya seperti biasa.
Ruby mulai menyuapkan potongan mangga muda ke dalam mulutnya, tapi entah mengapa ada rasa mual yang tiba-tiba menyerangnya saat potongan mangga itu mulai melewati kerongkongannya. Dengan hitungan detik Ruby mulai memuntahkan kembali apa yang ia makan.
"Kamu kenapa?" Dewa panik.
Tapi Ruby tak kuasa menjawab, dia terus memuntahkan isi perutnya. Rasa mualnya seperti tak pernah hilang dan membuatnya terus ingin mengeluarkan isi perutnya.
Semua orang yang sedang berada di warung itu panik, bukan melihat kondisi Ruby, tapi karena melihat wajah panik Sang Bule. Bahkan si Pemilik Warung terlihat ikut tegang melihat wajah kesal pria berperawakan tinggi itu saat memandang sinis lebih arahnya.
"Akan aku tuntut Anda jika sampai istriku kenapa-napa!" ucap Dewa sebelum membawa pergi istrinya, tanpa membayar apa yang ia makan.
Kejadian itu berhasil menggegerkan warga kampung, rumor yang beredar mengatakan bahwa istri konglomerat itu keracunan rujak yang ia makan di warung ibu Fatma, si Tukang Rujak. Bahkan kini Penjual Rujak itu kini sudah diamankan oleh aparat kepolisian setempat karena Dewa langsung melaporkan kejadian yang menimpa istrinya itu ke aparat berwajib sebelum membawa istrinya ke rumah sakit.
Mereka tak sadar, jika sebelum Ruby mencicipi rujak buatan Ibu Fatma itu, Dewa lah yang terlebih dahulu mencicipinya. Cinta memang bisa membuat orang yang begitu cerdas terlihat bodoh dalam sekejap.
...🍃Flashback Off🍃...
__ADS_1
Dengan langkah lunglai Dewa berjalan menuju kamar rawat inap istrinya, berjalan gontai seolah tulang-tulang kakinya tiba-tiba melentur.
Ada Bibi, Melda dan Paman Ruby yang menemani istrinya. Ruby menyambutnya dengan senyum, walau selang infus masih menempel di lengannya.
Air mata kembali luruh melihat wajah pucat dengan senyum yang sengaja dipaksakan itu. Dewa memeluknya erat, membuat semua orang mengkhawatirkan keadaan Ruby.
"Kamu kenapa Sayang?" Tangan Ruby mengusap dan menepuk-nepuk punggung pria yang entah kenapa menangis di pelukannya.
"Aku bahagia," jawab Dewa di sela tangisnya.
"Karena?"
"Karena kamu juga akan bahagia!" Dewa menggantung jawabannya membuat yang lain penasaran.
"Ya, aku bahagia, siapa yang gak bahagia punya suami peri kayak kamu?"
"Kamu hamil Sayang!"
Waktu seolah berhenti, Ruby mundur dalam pelukan suami, ucap syukur keluarga mendengar berita itu tak terdengar lagi oleh Ruby, dia mencari keseriusan di wajah suaminya, dan saat melihat Dewa hanya menganggukan kepala sambil menggigit bibir bawahnya, barulah Ruby mempercayai semua ucapannya.
"Aku—?" Bahkan untuk mengucapkan kata hamil pun Ruby tak kuasa, air mata itu luruh bersama derasnya hujan yang tiba-tiba menerpa bumi di tengah musim panas.
Langit seolah ikut terharu mendengar berita membahagiakan yang telah lama sepasang suami-istri itu tunggu, alam seperti sedang berpesta merayakan penyambutan bayi yang sudah berada di rahim perempuan kuat dan tangguh bernama Ruby.
Ruby menenggelamkan wajahnya di dada pria yang begitu mencintainya, entah apa yang harus dia ucapkan, yang jelas hatinya terus berucap syukur kepada Sang Pemberi Kebahagiaan.
Tapi tiba-tiba Ruby menjauhkan tubuhnya dari Dewa. Mengusap air matanya dengan kedua telapak tangannya, asal.
"Kenapa Honey?" Dewa menyelipkan rambut panjang Ruby yang terurai.
"Aku mau pulang naik helikopter lagi. Aku gak mau dengan alasan aku hamil, aku mau naik helikopter seperti kemarin, jangan lupa kamu udah janji kalau kita akan pulang dengan helikopter lagi. Bisa kan? Dan harus bisa!" Pinta Ruby, sebuah permintaan yang lebih menjurus kepada perintah.
"Dia memang keturunanku." Dewa tertawa lantang, sebelum akhirnya dia menghujani Ruby dengan kecupan di seluruh wajahnya.
...Siapa nih yang kemaren udah nebak kalo istri Bule Sipit itu Hamidun??? ...
...Mari berucap syukur dengan mengucapkan Hamdallah, dan jgn lupa Vote yang banyak....
__ADS_1
...🤗🙏🎉...