Love Me Boy!

Love Me Boy!
Syok Anafilaktik


__ADS_3

Dewa murka, tak ada lagi wajah yang selalu menerbitkan senyum seperti saat dia menemani istrinya setiap sesi pemeriksaan, kini Sang Penguasa sedang menunjukkan kekuasaannya kepada semua orang yang bertanggungjawab atas insiden yang menimpa istrinya, bahkan ia sempat mencengkram kerah baju sepupunya sendiri yang adalah dokter kandungan Ruby, mungkin jika Nathan tidak langsung datang dan menemaninya mencaci para dokter yang menangani istri tuannya itu, Dewa sudah mendaratkan pukulannya di wajahnya dokter cantik anak dari kepala rumah sakit yang sebenarnya adalah salah satu anak dari kerajaan bisnis orang tua Dewa. 


Ruang kepala rumah sakit yang biasa hanya dikunjungi oleh tamu-tamu tertentu saja kini penuh sesak oleh beberapa orang dokter, Dewa, Nathan, Akbar dan juga Sandra yang memang penasaran mengapa hal itu bisa terjadi pada menantu mereka, karena sejauh yang mereka tahu dari Yuki yang memang sudah terlebih dahulu melakukan program bayi mahal itu, tak pernah terdengar keluhkan apapun padanya, tapi apa yang dia lihat sekarang? Menantu yang menjadi wanita yang begitu dicintai putranya hampir mati setelah suntikan yang Dewa berikan. 


Tak mungkin putranya salah suntik, karena dia adalah salah satu manusia cerdas yang begitu teliti dan penuh perhitungan, jadi dia akan melakukan tahapan sesuai yang ia pelajari dari dokter yang mengajarkannya menyuntik. 


Beberapa pajangan kristal sudah tak berceceran di lantai karena ulah si Penguasa, Dewa benar-benar sedang menujukan kekuatannya kepada makhluk-makhluk kecil di hadapannya, ancaman pidana sampai ancaman kematian dia berikan kepada para dokter yang menangani Ruby, tak peduli lagi salah siapa. Bahkan dokter yang belum melakukan tugasnya pun ikut terseret dalam kasus ini, karena saat itu si Penguasa tengah sulit mengontrol emosi juga jalan pikirannya.


"Kalian sedang bermain-main denganku hah?" Dewa kembali mencengkram kerah baju dokter yang mengajarkannya cara menyuntik perut istrinya. 


Sunyi senyap, tak ada yang berani menjawab pertanyaan juga tatapan pria dengan kekayaan yang sulit dihitung jumlahnya itu. 


"JAWAB PERTANYAANKU? MENGAPA BISA ISTRIKU HAMPIR MATI SETELAH MENDAPAT SUNTIKAN ITU?" Dewa menghempaskan tubuh pria yang ia cengkram hingga hampir tersungkur. "APA KALIAN INGIN AKU MENJADI PEMBUNUH ISTRIKU SENDIRI? HAH? JAWAB!"


Masih tak ada jawaban, bahkan beberapa dari mereka mundur beberapa langkah dari hadapan pria berperawakan tinggi yang terus membanting benda di dekatnya. 


"Apa aku harus mengorek otak kalian agar bisa menjawab pertanyaanku yang sederhana ini?" Sebuah pertanyaan yang terdengar lebih ke sebuah ancaman. 


Untuk urusan ini Nathan tak bisa meredam emosi tuannya, dia lebih memilih untuk menjaga Dewa agar dia tidak melakukan tindakan yang akan mencelakai orang-orang yang sedang hakimi. 


"Jika terjadi apa-apa pada istriku, akan kujanjikan kematian yang sangat menyakitkan untuk kalian semua. Dan akan kupastikan itu." Suara Dewa sudah lebih lemah, tapi setiap katanya terasa begitu menghantam dada mereka.


Ryu datang di saat yang tepat, dia seperti oase di teriknya gurun pasir. "Maaf aku telat datang. Aku baru memeriksa dan melihat kondisi istrimu, dia sudah sadar, sekarang Ruby mencarimu," ucap Ryu. 


Mendengar istrinya siuman dan mencari keberadaannya, Dewa langsung berlari meninggalkan ruangan mewah milik kepala rumah sakit yang saat itu memilih bersembunyi di ruangan lain. akemudian Sandra ikut menyusul langkah putranya. 


Keenam dokter itu akhirnya bisa bernafas lega, bahkan dua orang dari mereka langsung menjatuhkan tubuh mereka ke lantai. Walaupun AC dalam keadaan menyala tapi tubuh keenam dokter yang memiliki kredibilitas tinggi di bidangnya masing-masing penuh dengan peluh.


Mereka lupa jika masih ada dua orang pria yang juga memiliki kuasaan tinggi sedang menatap ke arah mereka penuh dengan penghakiman. 


"Walaupun menantuku sudah kembali sadar dan membaik, aku masih akan tetap memilih jalur hukum sebagai jalan penyelesaian perkara ini, jika kalian masih belum bisa memberi kami jawaban yang masuk akal." Akbar berbicara dengan begitu lembut tapi penuh dengan penekanan.

__ADS_1


...****************...


Dewa beberapa kali menarik nafas dalam-dalam sebelum masuk ke dalam ruangan istrinya, dia masih berusaha mengontrol emosinya agar terlihat baik-baik saja. 


"Tenang Son, semua sudah baik-baik saja! Ayo masuk, Ruby pasti sedang mencarimu." Sandra yang berhasil mengejar putranya hanya bisa memberikan suport seperti itu. 


Wajah dengan senyum merekah menyambut kedatangan Dewa saat ia menggeser pintu ruang VVIP rumah sakit. Sudah tidak ada lagi selang oksigen yang membantu pernafasan di hidungnya. 


"Kamu darimana?" tanya Ruby yang saat itu ditemani seorang perawat yang sedang memeriksa denyut nadi juga tekanan darahnya. 


"Menemui dokter," jawab Dewa dengan dada bergemuruh menahan kesal saat kembali mengingat wajah keenam dokter yang kini dia anggap adalah seorang kriminal. 


"Denyut nadi juga tekanan darah Anda sudah kembali normal. Sebaiknya Anda cukup istirahat, mengingat ini sudah larut," ucap perawat cantik yang begitu ketakutan melihat kemarahan Dewa beberapa saat lalu. "Saya permisi!" Perawat itu pun undur diri. 


"Terima kasih Sus," 


"Tak perlu berterimakasih, karena sewajarnya mereka merawatmu agar kembali sehat seperti sedia kala." Ketus Dewa. 


Dengan tubuh bergetar perawat itu keluar dengan hampir tak bersuara. 


"Aku kenapa?" tanya Ruby, karena ia pun bingung mengapa respon tubuhnya terlalu berlebihan. 


"Nanti kita bahas lagi, lebih baik kamu istirahat seperti pesan perawat tadi," lanjut Sandra lagi, karena putranya masih terlihat membisu. 


...****************...


Para dokter yang bertugas menangani Ruby akhirnya bisa menyimpulkan jika pasien VVIP mereka terserang syok anafilaktik atau anafilaksis yang disebabkan oleh hipersensitivitas atau reaksi alergi yang parah dan berpotensi mengancam nyawa. Reaksi dapat terjadi dalam hitungan detik atau menit sejak terpapar alergen.


Dewa kembali murka mendegar penuturan dokter yang adalah sepupunya sendiri Ryu, sedangkan keenam yang lainnya hanya berdiri berbaris di belakang tubuh kurus Ryu. 


"Kenapa orang-orang bodoh itu tak memberitahu jika ada efek samping seperti itu? Apa mereka terlalu merendahkanku? Hingga meremehkan kondisi istriku?" Pertanyaan tersebut sudah terprediksi oleh para dokter yang sejak semalam dibuat tak bisa memejamkan mata mereka. 

__ADS_1


"Tak semua wanita yang melakukan proses penyuntikan itu memiliki efek samping seperti yang dialami istrimu, bahkan perbandingannya amatlah kecil 10.000 perbanding 1." Ryu kembali menjawab, dia pun tak ingin keenam rekan kerjanya mendapat masalah hukum, apalagi dengan seorang Sadewa. 


"Dan satu orang dari sepuluh ribu wanita itu adalah istriku," ucap Dewa, lemah, bahkan hampir tidak terdengar oleh beberapa dokter yang berdiri di belakang Ryu. 


"Dengan berat hati aku harus menjawab, iya."


Pikiran Dewa semakin kalut, disaat dia bisa membeli semua barang apapun yang dijual di muka bumi ini untuk istrinya, tapi dia tak bisa memberikan Ruby seorang bayi yang begitu istrinya harapkan. 


Dewa berjalan gontai menuju ruang rawat inap istrinya, dia bingung harus menjelaskan dengan cara apa kepada Ruby, karena dengan kondisi tubuh Ruby yang memiliki alergi berlebihan terhadap obat yang wajib disuntikan ke tubuhnya, sebagai salah satu prosedur program bayi tabung, itu artinya sudah tak ada harapan lagi bagi Dewa dan Ruby untuk mendapatkan bayi lewat proses bayi tabung. 


Hidup memang tak bisa diprediksi, tak ada yang tahu bagaimana Tuhan menentukan jalan hidup makhluk-Nya. Seperti halnya Ia menentukan jalan hidup Dewa yang selama ini terbilang lurus, karena selalu bisa dengan mudah meraih apapun yang ia inginkan, tapi sepertinya Tuhan sedang sedikit mengujinya lewat caranya mendapatkan buah hati. 


Ruby sedang menangis sambil menutup wajahnya dengan kedua tangannya saat Dewa masuk. Ternyata Sandra dan Akbar sudah memberitahu kondisinya disaat Dewa bingung harus berkata apa.


"Bagaimana ini?" tanya Ruby pada suaminya yang duduk menggantikan Sandra yang sebelumnya memeluk tubuhnya. 


Dewa membawa tubuh yang masih lemah itu ke dalam pelukannya. "Kita akan seperti ini, hidup bahagia selamanya," jawab Dewa dengan hati yang retak, karena tak bisa mewujudkan keinginan istrinya. "Ini bukan akhir dari segalanya, hanya butuh sedikit bersabar dan yakinlah bahwa bayi yang kamu lahirkan nanti akan hadir." Lanjutnya. 


"Bagaimana jika tidak? Bagaimana kalau aku tidak bisa hamil dan melahirkan?" Airmata Ruby terus mengalir deras. 


"Kita bisa mengadopsi bayi, itu lebih mudah, kamu tak perlu repot-repot hamil dan melahirkan. Kita bisa mengadopsi bayi di setiap negara yang kita kunjungi." Dewa mengoyang-goyang pelukan mereka ke kanan dan ke kiri. "Aku yakin mertuamu akan senang memiliki 12 orang cucu sekaligus dari berbagai penjuru dunia. Tak sabar melihat dia kerepotan dengan kedua belas cucunya."


Dewa bisa mendengar suara tawa kecil di sela tangis wanita dalam pelukannya. 


...Apakah Dewa dan Ruby benar-benar akan mengadopsi bayi-bayi dari seluruh penjuru dunia? ...


...Jangan lewatkan episode selanjutnya ya gengs!!!! ...


...Ritualnya jangan lupa! ...


...Like...

__ADS_1


...Komen...


...Vote...


__ADS_2