Love Me Boy!

Love Me Boy!
Bulan Madu Part. 2


__ADS_3

Kedatangan Ruby dan Dewa bukan hanya menjadi tranding topik terhangat di kampungnya, tapi mereka menjadi perbincangan satu kota Ruby, bagaimana tak heboh, kedatangan Ruby kali ini benar-benar merepotkan banyak pihak, terutama pihak keamanan yang harus mensterilkan alun-alun kota tempat mendaratnya helikopter yang Dewa dan Ruby tumpangi. Mereka mempertanyakan siapa itu Dewa? Apa pekerjaannya? Siapa orang tuanya? Hingga banyak spekulasi-spekulasi bermunculan jika Dewa adalah salah seorang kandidat Calon Bupati ataupun kandidat Calon Gubernur di periode yang akan datang. Mereka tak tahu jika Dewa hanyalah seorang suami yang begitu mencintai istrinya. 


"Liat Dewa, hampir seluruh media sosial disini membicarakan kita!" Ruby menunjukkan ponselnya kepada Dewa yang saat itu sedang bersembunyi di dalam rumah menghindari tatapan warga kampung. 


Sudah tak asing lagi bagi Dewa menjadi bahan tatapan kagum masyarakat kampung Ruby, tapi saat ini hal itu membuat Si Narsis Dewa tidak nyaman karena bukan hanya warga kampung Ruby tapi banyak warga kampung lain yang juga sengaja datang jauh-jauh dari kampungnya hanya ingin melihat wajah kandidat Calon Bupati mereka. 


"Pastinya," jawab Dewa malas. "Ini semua gara-gara kamu." Tuduh Dewa. 


"Emang ini yang aku mau. Biarin aja, dengan begini mereka lupa menggosipkan aku mandul." Dengan sinis Ruby melirik ke arah depan. 


Dewa hanya bisa memutar bola matanya mendengar ucapan istrinya, mungkin ini yang disebut level kesabaran orang bisa habis, dan sekarang istrinya yang mengalaminya, karena biasanya dia akan sabar dan tak peduli pada ucapan orang, bahkan selalu menyembunyikan gunjingan mereka darinya, tapi kali ini Ruby seperti sedang menyumpal mulut nyinyir orang-orang dengan kekayaan yang dia miliki. 


"Kamu mau kemana?" tanya Dewa melihat istrinya beranjak dari sampingnya dengan seringai licik. 


"Ke depan, menyapa para fans," jawabnya dengan penuh percaya diri. 


"Sudahlah! Kamu disini aja. Tuh katanya kamu mau kangen sama Caca, Caca udah bangun kamu malah pergi." Dewa berusaha menghalau niat istrinya. 


"Caca masih bisa nunggu, tapi kasian mereka, aku mau menyapa calon rakyatku dulu, pasti mereka pengen ngeliat wajah cantik istri Calon Bupati mereka." Ruby berjalan dengan riang ke teras depan. 


"Hei, siapa juga yang mau mencalonkan jadi Bupati?"






Mereka berkemah di sebuah bukit wisata yang terkenal sebutan Negeri Di Atas Awan, yang entah sejak kapan menjadi tujuan destinasi wisata baru di tempat Ruby. Tapi untuk bisa menikmati keindahan Negeri Di Atas Awan tersebut mereka harus menginap di bukit tersebut karena untuk menikmati fenomenal alam langka itu para pengunjung hanya bisa menyaksikannya pada saat fajar.


Pesona yang ditawarkan destinasi tersebut yakni panorama hamparan awan yang dapat dilihat dari atas gunung. Jadi, bagi wisatawan yang ingin menikmati hamparan awan di atas bukit tersebut para wisatawan harus sudah berada di lokasi antara pukul 05.00-08.00.

__ADS_1


Dewa menyewa setengah tempat wisata tersebut untuk bisa memasang tenda tanpa harus diganggu pengunjung yang lain, awalnya para pengelola tak mengizinkan, tapi mendengar uang yang ditawarkan Sang Milyader tersebut, mereka akhirnya memuluskan niat pasangan yang baru kemarin menjadi tranding topik pembicaraan yang hangat di kotanya. 


"Ini yang kamu sebut bulan madu ala Rakyat Jelata?" Sebuah pertanyaan dengan nada menyindir. 


"Setidaknya bulan madu kita kali ini, tidak akan ada tragedi pergulatan di dalam gudang ubi." Ruby membalas sindiran suaminya dengan sangat telak. 


Tak ada yang katanya bulan madu Ala Rakyat Jelata seperti yang diucapkan Ruby, karena Dewa begitu banyak mengeluarkan uangnya untuk kenyamanan malam mereka, Dewa harus menyuruh orang membuatkan api unggun di depan tenda mereka, menyiapkan makan malam yang mereka pesan dari resto yang ada di sekitar sana, dan berhasil membuat mereka menjadi bahan perbincangan para pengunjung lain yang mempertanyakan siapa mereka. 


Langit malam tanpa polusi terlihat begitu indah dengan hamparan bintang-bintang yang memanjakan indra penglihatan mereka, hawa dingin semakin menghimpit kala malam semakin larut. Keduanya mengunci tenda mereka saat api mulai melahap habis semua kayu yang menjadi api unggun. 


Dan acara bulan madu ala Rakyat Jelata pun dimulai, mereka menggantikan kehangatan api unggun yang mulai padam dengan kehangatan yang mereka ciptakan sendiri.


...****************...


Pagi indah menjelang, semburan aurora di ufuk timur menandakan bahwa sang fajar telah terbit, udara dingin langsung menerpa wajah saat tenda mulai dibuka, dinginnya udara pagi di sana membuat hidung terasa sedikit perih saat harus menghirup oksigen murni yang bercampur dengan dingin udara pagi. 


Dengan balutan jaket tebal dan sarung tangan Ruby memberanikan diri keluar dari tenda setelah Dewa yang terus memaksanya agar keluar dari persembunyiannya. 


"Kamu sakit?" tanya Dewa. Dengan wajah khawatir dia menatap wajah yang sedikit pucat itu. 


"Cuma dingin," jawab Ruby. Bahkan gemeretak giginya bisa terdengar jelas oleh Dewa. 


Dewa semakin panik, karena walaupun udara disana terbilang sangat dingin, tapi biasanya Ruby tak sampai menggertakan giginya, Dewa langsung membawa tubuh istrinya kembali ke tenda. Memberikan air hangat yang memang disiapkan di tenda. 


"Kamu benar-benar baik-baik saja?" Dewa memeriksa suhu tubuh istrinya, tak terasa demam sedikitpun. Dia sedikit berlega hati. 


Ruby tak menjawab, dia memilih meringkuk dalam pelukan dada bidang suaminya. Nyaman terasa.


"Besok-besok tak ada lagi bulan madu seperti rakyat jelata ini. Aku tidak suka! Lihat, akses kemana-mana susah, mau ke kamar kecil pun aku harus mengantri seperti orang miskin mengantri sembako, mereka tidak tahu apa jika aku adalah,,, bla,,, bla,,, bla." Dewa mengoceh kemana-mana saking kesalnya. Sudah sejak semalam dia menahan mulutnya untuk tidak menghujat, tapi akhirnya semua hujatan itu keluar saat dia melihat istrinya sakit. 


"Aku suka." Ruby memotong ucapan suaminya. 


"Suka apa?"

__ADS_1


"Suka wangi kamu," jawab Ruby yang semakin dalam menghirup aroma tubuh suaminya. 


"Kamu akhir-akhir ini jadi aneh."


"Biarlah, walaupun aneh aku yakin kamu tetap tergila-gila padaku," jawab Ruby. 


"Tuh, sekarang kamu bahkan lebih narsis dari aku."


"Itu tandanya kamu berhasil mendidik istrimu dengan baik." Entah sebuah pujian atau sindiran ucapan Ruby membuat Dewa terkejut. 


Dewa tak bisa menjawab lagi, dia seperti sedang berbicara pada dirinya sendiri.


Semburat ungu keemasan sudah berganti dengan warna jingga lembut, Sang Surya masih terlihat malu-malu untuk menampakkan pesonanya. 


Para wisatawan sudah mulai berkerumun di tepian ngarai berpagar kayu untuk menikmati pemandangan langka yang jarang sekali mereka temui, termasuk Dewa dan Ruby. Sepasang suami-istri yang terus menempel itu tengah menikmati gumpalan awan yang menutupi lembah, pepohonan yang kemarin sore masih nampak dari atas sana sudah tertutup awan.


"Kita beneran ada di Negeri Awan." Ruby takjub. 


"Kamu suka?"


"He'em."


"Aku juga suka kamu."


Ucapan Dewa membuat Ruby mendongakan kepalanya, dan kecupan lembut dan singkat pun mendarat di bibirnya. 


"Terimakasih, kamu benar-benar suami peri yang bisa mewujudkan semua keinginan aku."



...Ayo, siapa yang tau dimana letak Negeri Di Atas Awan ini?...


...Kalau kamu orang Banten, pasti tau dimana tempat ini....

__ADS_1


__ADS_2