
Malam berganti siang, yang tumbuh mulai berkembang, yang berkembang mulai gugur, yang gugur pun kembali bersemi. Itulah roda kehidupan.
Sejak hari dimana Dewa memberitahukan alasan mengapa dia tidak terlalu ngoyo untuk memaksakan diri agar memiliki seorang bayi, mereka sudah tak pernah lagi membahas anak, Ruby menikmati pernikahannya, walaupun tak selalu berjalan mulus, karena pasti saja ada kalanya mereka jenuh dan bertengkar layaknya pasangan suami istri pada umumnya. Saling mendiamkan, karena ego yang mendominasi, kemudian berbaikan dengan salah satu dari mereka menjatuhkan egonya untuk meminta maaf, dan memang seperti itu lah kehidupan pernikahan. Tak akan berjalan baik jika keduanya terlalu berpegang teguh pada egonya, harus ada yang mengalah, walaupun bukan berarti kalah, karena hakikatnya pernikahan adalah penyatuan dua insan untuk saling melengkapi.
Waktu berjalan begitu cepat, hingga tak terasa ini adalah tahun kedua pernikahan Dewa dan Ruby, tapi masih belum terdengar suara tangis bayi yang mengisi melengkapi rumah tangga mereka. Dewa tak peduli, karena pendiriannya tetap sama seperti dulu, tak akan melakukan program bayi yang bisa menyakiti istrinya, Dewa tak sanggup harus melihat istrinya melalui proses menyakitkan.
Dari Dewa Ruby banyak belajar banyak, tentang sebuah keikhlasan menerima kenyataan, karena pada dasarnya jika kita berfikir secara logis, anak adalah sebuah rezeki yang kedatangannya merupakan kehendak Tuhan. Tapi Ruby tetap percaya, akan ada waktu dimana dia bisa bertemu dengan bayi yang dia lahirkan sendiri.
•
•
•
•
Venesia, kota cantik nan romantis di negeri Italia, bahkan kota ini dinobatkan sebagai kota paling romantis di seluruh dunia, karena menyimpan keindahan alam yang mempesona. Hingga tak aneh jika banyak sekali wisatawan yang berkunjung ke kota tersebut bersama pasangan mereka. Seperti pasangan dua kasta yang berbeda yang juga sedang berada di kota romantis itu, siapa lagi kalau bukan Dewa dan Ruby ini, sebagai momentum ulang tahun pernikahan mereka yang kedua, Dewa mengajak istrinya untuk pergi kesana.
"Dewa, apa ini aman?" tanya Ruby saat keduanya menaiki sebuah gondola. Guncangan gondola saat keduanya naiki membuat Ruby sedikit ketakutan.
"Aman. Kalaupun kamu nyemplung nanti pasti akan ditolong sama si Bapak itu!" Dewa menunjuk pria yang mengemudikan gondola yang akan membawa mereka berkeliling kota Venice.
"Hisss! Romantisnya suamiku."
Ruby menggenggam tangan Dewa erat saat gondola mulai bergerak menjauh dari tepian. Tapi itu tak berlangsung lama, sebab pemandangan cantik kota yang didirikan di atas sungai itu telah menghipnotis penglihatan Ruby, dan perlahan cengkraman di tangan Dewa berubah menjadi genggaman tangan yang saling bertautan.
"Cantik ya?" Cicit Ruby pada suaminya.
"Iya!" jawab Dewa walaupun fokus dia berbeda dengan fokus lensa mata Ruby. Kala Ruby memandang kagum pada keindahan sudut kota yang seperti di desain artistik, fokus mata Dewa tertuju pada keindahan Tuhan yang telah menghadirkan wanita di sampingnya.
Dewa tahu ada kalanya istrinya tersakiti oleh omongan orang yang mempertanyakan kehadiran buah hati mereka, walaupun tak seorangpun dari mereka yang sengaja mengejek Ruby, tapi Dewa tahu istrinya kecewa.
__ADS_1
"Kok perahu yang kita naiki cuma kita doang penumpangnya?" tanya Ruby saat berpapasan dengan gondola lain yang dipenuhi penumpang.
"Kamu lupa siapa suami kamu?" Dengan mata penuh kesombongan Dewa bertanya pada istrinya. "Dan lagi, ini gondola bukan perahu!"
"Ya, ya, ya," jawabnya malas.
"Apa?"
"Kamu adalah Guling kesayangan yang bisa dipeluk sekaligus bisa menghangatkan." Goda Ruby.
"Mesum!"
"Aku mesum karena kamu!" Ruby melingkarkan kedua tangannya di tubuh Dewa, seperti yang ia lakukan setiap malam. "Gulingku sayang!" Seraya bergerak cepat untuk mengecup pipi suaminya.
"Ternyata setiap tragedi buruk yang menimpa kita pasti akan ada kebaikan setelahnya." Dewa berselancar pada tragedi puluhan tahun lalu.
"Maksudnya?"
"Belum."
"Kamu mau dengar alasannya?"
Ruby menatap wajah suaminya, dia tak mau memaksakan suaminya menceritakan hal yang membuatnya tak nyaman. "Jangan diceritakan kalau kamu tak nyaman! Biar itu jadi rahasia kamu!"
Dewa mengecup bibir istrinya, kecupan cukup lama, seolah sedang mengisi kekuatan agar dia bisa menceritakan kejadian mengerikan yang pernah ia alami puluhan tahun lalu. Kejadian yang sebenarnya sudah hampir terlupa dari memorinya, tapi tetap menyisakan rasa takut saat ia kembali mengingatnya.
Gondola terus bergerak menyusuri kanal, tak terpengaruh kecupan Dewa yang seperti sedang menghentikan waktu dan kembali ke hari menakutkan itu terjadi.
"Aku dan para sepupuku sedang menikmati liburan sekolah kami di vila Nenekku. Nenek dari Mommy, Nenek Gaby namanya. Waktu itu kami sedang bermain petak umpet di halaman depan, jika aku tak salah ingat. Aku yang terlalu berambisi untuk memenangkan permainan, memilih tempat persembunyian yang lebih jauh dari Vila, disaat mereka hanya bersembunyi dibalik pohon dan semak, aku memilih bersembunyi di sebuah bangunan tua yang sepertinya tak berpenghuni." Dewa menarik nafas panjang, menghirup udara dalam-dalam seolah menyuplai oksigen banyak-banyak menuju otak agar memori yang telah lama terpendam dan tersembunyi bisa kembali terbuka. "Aku masuk, ke dalamnya, dan bau menyengat langsung menyerangku, bau daging busuk tepatnya." Raut wajah Dewa tiba-tiba berubah jadi pucat, bahkan Ruby bisa merasakan bulu-bulu di tangan suaminya yang berdiri.
"Kalau kamu masih belum bisa menceritakannya, jangan diteruskan!" Kali ini Ruby yang mengecup bibir suaminya, cukup lama dia menangkup wajah yang ia kecup, memberi dukungan jika semua sudah baik-baik saja.
__ADS_1
Gondola terus bergerak, bergerak dengan begitu lembut, seperti mengimbangi kecupan lembut kedua penumpang.
"Biar aku teruskan," jawab Dewa. "Aku yang penuh keingintahuan mencari sumber bau yang menyengat itu, dan ternyata ada sebuah gundukan dari kain putih yang berlumuran tanah di pojok ruangan, bau itu semakin menyengat saat aku mendekatinya. Penasaran aku buka kain penutup itu, dan ternyata isinya—"
"Apa?" Ruby penasaran saat Dewa menjeda ucapannya.
Dewa menelan ludahnya. "Ada seorang anak kecil di balik kain itu."
"APAAA?" Ruby semakin erat memeluk tubuh suaminya, bukan lagi berniat memberi dukungan kepada suaminya tapi karena dia ketakutan.
"Anak seorang tukang kebun di villa kami yang telah meninggal beberapa hari sebelum kami kesana, dia seusia aku, dulu kami sering bermain bersama. Dan sepertinya ayah anak itu terlalu depresi atas kepergian putranya hingga dia membawa jenazahnya ke gudang dekat vila, mungkin alasannya agar putranya tak sendiri lagi, dan bisa mendengar suara kami, bahkan aku melihat ada beberapa mainanku di samping jenazahnya."
Ruby kehilangan kata-kata.
"Sejak saat itu aku takut pada guling, karena setiap benda itu otakku akan terus memvisualisasikan kejadian di gudang itu."
Kali ini Ruby yang pucat, tangannya bahkan mengeluarkan banyak keringat.
"Mungkin jika aku tak punya pengalaman mengerikan itu, aku sudah membeli ratusan guling untukmu. Dan kita tak pernah saling membutuhkan." Bukan sebuah kata-kata romantis, tapi bisa menggetarkan hati wanita yang mendengar ucapannya. "Hadiah apa yang kamu mau di ulang tahun pernikahan kita ini?" tanya Dewa.
"Aku mau itu," jawab Ruby, sama seperti saat Ruby merayu Dewa saat pertama kalinya.
...Jadi pengen itu juga... ...
...Jangan lupa ritualnya!!!! ...
...Vote...
...Vote...
...Vote...
__ADS_1
...🤗🤗🤗...