
Ruby begitu kesal dengan kelakuan suaminya, sudah lebih dari seminggu di negara yang beribukotakan Manila itu tapi Dewa hanya dua kali dia mengabarinya. Pertama saat Dewa telah berhasil dengan selamat menginjakkan kakinya di negara tersebut, yang kedua adalah pada malam ketiga dia berada di sana. Selanjutnya tak pernah ada kabar darinya. Bahkan chat dari Ruby pun hanya Dewa balas seperlunya.
"Aku tau dia sibuk, tapi seenggaknya kasih kabar kek. Sekedar chat nanya kabar gitu, apa susahnya coba?" Gerutu Ruby pada teman-temannya sambil menatap layar ponselnya.
"Cieeee, yang kangen." Goda Amel yang dulu pernah jadi teman satu kosnya.
"Maklum penganten baru." Tambah teman yang lainnya.
"Biasa diangetin, dipeluk sebelum bobo ini malah bobo sendiri." Godaan terus datang karena gerutuan Ruby barusan.
Ruby hanya tersenyum malu mendengar godaan teman-temannya. Karena semua yang mereka ucapkan benar adanya. Ruby begitu merindukan gulingnya.
Ruby menghilangkan rasa rindunya dengan berjalan-jalan bersama teman-temannya yang sudah lama tak mereka lakukan bersama. Mentraktir, dan membelikan hadiah-hadiah kepada para teman-temannya sekedar tanda terima kasihnya karena telah ditemani jalan-jalan. Ruby benar-benar melakukan perintah suaminya dengan baik yang menyuruhnya menghambur-hamburkan uangnya.
Sementara itu kegalauan sedang melanda pria dengan kenarsisan seperti namanya. Ingin sekali dia menghubungi istrinya, tapi setiap kali dia melakukan panggilan telepon dia menjadi semakin galau. Wajah Ruby serta lekuk tubuh Ruby yang sedang mengenakan gaun tak beradab itu selalu berputar-putar di otaknya hingga membuatnya sulit konsentrasi saat bekerja.
"Sepertinya pekerjaan kita berjalan lancar. Saya tidak pernah mengira agenda bapak yang begitu menumpuk itu akan selesai hanya dalam waktu delapan hari." Ucap Nathan yang baru menyelesaikan makan malam mereka di kamar hotel Dewa.
"Kalau sampai Ruby lihat itu. Dia akan terus mengomel sampai noda itu hilang." Ucap Dewa saat melihat Nathan tak sengaja menumpahkan vla untuk puding di atas sofa.
"Saya liat bapak sangat merindukan Nona, tapi saya tak pernah melihat bapak menghubungi Nona." Nathan melirik perubahan raut wajah atasannya itu sambil mengelap noda vla dengan tisu.
"Memang siapa yang bilang kalau aku kangen si cerewet itu?" Dewa berjalan menuju ranjangnya dengan sepatu yang masih menempel di kakinya.
"Dan saya yakin Nona akan murka melihat kelakuan jorok Anda." Lanjut Nathan sambil keluar dari kamar Dewa.
•
•
•
•
•
Dengan semangat membara Dewa masuk ke dalam apartemennya. Niat hati ingin memberi kejutan kepada sang istri, tapi malah dia yang dibuat terkejut. Tak ada tanda-tanda istrinya di apartemen mereka, lampu apartemen masih terlihat gelap, hanya diterangi cahaya dari lampu meja yang ada di salah satu meja di ruang tengah. Begitu pula dengan lampu kamar mereka yang terlihat belum menyala.
"Ini sudah lewat jam tidur istrinya, tapi mengapa dia tidak ada di apartemen?"
__ADS_1
Beberapa kali dia menghubungi istrinya tapi tak satupun yang diangkat. Dewa kembali keluar apartemennya, karena dia pikir sang istri sedang berada di rumah kedua orang tuanya. Tapi saat melihat status akun whatsapp Ruby hati Dewa seperti dicabik-cabik, terlihat jelas Ruby sedang tersenyum lebar bersama teman-temannya juga seorang pria yang duduk disampingnya, siapa lagi jika bukan A'Irfannya.
Segala prasangka negatif langsung tertuju pada istrinya. Dewa langsung berfikir jika istrinya sedang bermesraan bersama A'Irfannya malam itu. Hingga dia melakukan mobil kesayangannya dengan kecepatan penuh, bukan lagi rumah Sandra yang jadi tujuannya kali ini, karena Dewa sudah tak memiliki arah pulang.
Tapi akhirnya setelah lelah mengelilingi jalanan malam Dewa pun pulang, bukan ke apartemen miliknya, tapi ke rumah orang tuanya yang tadi menjadi tujuannya.
Suasana rumah sudah sepi karena jam sudah menunjukkan lewat tengah malam dan pastinya para penghuni rumah sudah terlelap tidur, hanya seorang satpam rumah yang membukakan pintu untuknya.
Dewa berjalan dengan lesu menaiki tangga menuju kamarnya. Teringat kembali olehnya bagaimana Ruby tersenyum lebar di samping Irfan membuat darahnya kembali mendidih.
"Dasar perempuan sialan. Baru ditinggal sebentar saja dia sudah jalan dengan pria lain." Gerutunya sambil membuka pintu.
"Dewa?"
Sebuah suara yang begitu ia rindukan menyambut kedatangannya. Dilihatnya Ruby tengah tersenyum lebar dengan wajah berbinar saat menatap wajahnya diatas ranjang kemudian berlari ke pelukannya.
"Aku kangen." Ruby memeluk tubuhnya erat.
"Aku juga." Hanya dalam hatinya. Hilang semua rasa kesal di dalam dada Dewa saat melihat senyum istrinya yang lebih lebar dari yang ia lihat di foto tadi.
"Kamu udah makan?" Ruby mendongakkan wajahnya, setelah sekian lama mereka saling memeluk.
"Aku udah makan malam." Jawab Ruby tanpa melepaskan pelukannya.
Ruby masih tak percaya jika suaminya datang malam ini.
"Aku mau mandi dulu, bisa lepaskan pelukanmu?"
Ruby langsung memasang wajah cemberutnya. "Aku takut bangun dari mimpi ini." Jawab Ruby dengan air mata yang sudah menggenang di pelupuk matanya.
Pertahankan Dewa runtuh melihat wajah menggemaskan istrinya.
Sebuah ciuman panas akhirnya ia berikan kepada Ruby sambil menggiring tubuh mereka ke atas ranjang.
"Aku akan mewujudkan mimpimu dengan lebih indah malam ini." Bisik Dewa. Sambil membuka pakaian mereka dan membuangnya ke sembarang tempat.
Kehangatan tercipta kala kedua dada mereka saling menempel, gesekan kulit dari keduanya menciptakan hawa panas yang begitu membara.
"Apa kita akan itu disini?" Ruby baru menyadari jika mereka sedang berada di kediaman mertuanya.
__ADS_1
"Apa salahnya?" Jawab Dewa menjeda kegiatannya yang sedang mengabsen setiap lekuk tubuh istrinya.
"Tapi aku malu, aku takut suara kita kedengeran mommy, kayak waktu malam pengantin Melda." Ruby masih menahan dada suaminya.
"Kamar ini kedap suara. Bahkan kalau kamu menjerit pun gak akan ada yang dengar." Jawab Dewa sambil melepaskan tangan istrinya yang menghalangi mereka.
"Jangan banyak bicara, kamu nikmati saja suguhan dariku!" Dewa mencium Ruby dengan sangat ganas sedangkan tangannya sibuk dengan kedua gundukan istrinya yang begitu menantang.
Dewa terus mengabsen setiap lekuk tubuh Ruby, hingga banyak tanda bibir Dewa bertebaran di sekujur tubuh Ruby.
Suara erotis terus keluar dari bibir ranum Ruby, sama seperti suara yang keluar dari kamar pengantin Melda.
"Kamu udah siap?" Tanya Dewa saat dia akan memulai ke inti permainan.
Ruby mengangguk. "Pelan-pelan!"
Tapi saat Ruby melihat alat tempur suaminya dia malah ketakutan, itu tidak seperti yang dia lihat kemarin, ukurannya sudah sangat jauh berbeda.
"Dewa, apa itu akan muat?" Pertanyaan yang bodoh keluar disaat tak tepat.
"Apa?" Dewa bingung.
"Itu!" Ruby menunjuk ke arah sesuatu yang sedang Dewa genggam. "Kenapa gajah kamu bisa tumbuh dengan cepat? Kemaren gak sebesar itu." Ruby benar-benar ketakutan melihatnya, membayangkan benda sebesar itu memasuki area pribadinya membuat nyali Ruby menciut.
Dewa tidak mempedulikan ocehan dan wajah tegang istrinya, karena misi kali tak boleh gagal lagi, pikirnya.
Dewa langsung meraup bibir cerewet itu dan melebarkan paha istrinya.
Jerit Ruby pecah di lewat tengah malam saat merasakan sakit kala senjata Dewa berhasil merobek selaput daranya. Antara sakit dan nikmat, perpaduan rasa yang sulit untuk diungkapkan dengan kata-kata.
Selanjutnya hanya suara-suara erotis yang keluar dari mulut mereka mengisi kamar berukuran besar itu.
...Selanjutnya silahkan klean berimajinasi dengan tingkat kemesuman klean masing-masing ya!...
...Coz Otor kan otaknya seputih kapas.. 😇😇😇...
...Jangan lupa ritualnya ya!!...
...Like, komen n vote......
__ADS_1
TERIMA GAJIIIIIIIIHHHH... 💃💃💃