
Ruby menaiki tangga menuju kapal pesiar mewah itu dengan langkah riang. Semua yang Dewa lakukan untuknya memang selalu di luar pola pikirnya yang memang dangkal. Tak pernah ada kata cinta yang Dewa ucapkan untuknya, tapi Ruby bisa merasakan jutaan cinta yang Dewa berikan selama ini untuk dirinya. Semua ini sudah cukup baginya, Ruby tahu gengsi suaminya yang sangat menjulang tak akan mampu membuatnya yang angkuh akan begitu mudah menurunkan egonya hanya untuk mengucapkan kata-kata cinta.
"Selamat datang Nona!" Sapa Nathan sambil menggendong seorang balita tampan yang begitu mirip wajahnya.
"Siang juga," tapi mata Ruby tertuju pada balita yang belum bisa berjalan dengan lancar itu. "Halo tampan! Siapa namamu sayang?"
"Akira Sadewa Diego!" Dewa yang menjawab, membuat ketiganya mencibir ke arah pria itu.
"Apa? Ada apa dengan wajah kalian itu?" Dewa langsung menghakimi ketiga orang yang mencibir ke arahnya.
"Kamu memang pria paling tampan di dunia ini Dewaku!" Ruby sengaja memberikan pujiannya tapi dengan nada mengejek.
"Oh jelas! Ketampanan suamimu berbanding lurus dengan kekayaan yang dimilikinya. Kamu begitu beruntung kan?" Dewa kembali menyanjung dirinya sendiri sambil menggiring wanitanya ke sudut tempat lain.
"Apa dia masih kayak dulu?" Bisik Gea yang tak hentinya memasang wajah tak sukanya pada mantan atasannya itu.
"Kadang lebih parah," jawab sang suami.
"Apa Ruby gak mual mendengar semua ocehannya selama ini?"
"Aku gak tau dan juga gak mau tau. Yang penting aku udah menyelamatkan kamu dari pria Sableng itu." Nathan malah menggoda istrinya.
Ruby berpikir mereka akan melakukan kencan ganda bersama Nathan dan Gea, plus balita tampan yang selalu menempel pada ayahnya. Tapi nyatanya Nathan tak ikut bergabung bersama mereka.
"Nathan di mana?" Tanya Ruby yang sedang menikmati makan siangnya di lantai paling atas di tepi kolam renang.
"Mungkin makan di cafetaria di lantai dua. Dia kan punya bayi yang merepotkan yang akan berjalan kesana kemari dengan gerakan anehnya itu." Dewa menghapus jejak cream soup di bibir istrinya.
"Dia lucu tau," jawab Ruby sambil membayangkan betapa menggemaskannya putra Nathan tersebut.
"Aku tak sependapat, mungkin karena aku belum siap menjadi ayah, jadi aku tidak merasa jika punya anak itu menyenangkan," jawab Dewa yang sepertinya sengaja mengucapkan kata-kata itu agar Ruby tak melulu memikirkan tentang kehamilan.
"Semua bayi itu lucu tau!"
"Suamimu lebih lucu."
Ruby terbahak-bahak mendengar balasan suaminya. "Sekarang kamu selain tampan juga bertambah jadi lucu?"
Keduanya menghabiskan makan siang mereka dengan obrolan yang penuh tawa.
"Kamu liat pulau kecil itu?" Dewa menunjuk sebuah pulau yang tampak dari atas kapal.
"Iya," jawab Ruby.
"Itu pulau buatan yang sedang menjadi proyek besar kami tahun ini," ujar Dewa penuh kebanggaan.
"Pulau buatan? Aku baru denger. Apa kita mau kesana?"
Dewa menggelengkan kepalanya di pundak istrinya yang sedang ia peluk dari belakang. "Masih dalam proses pembangunan. Nanti saat pembangunan selesai, aku akan mengajakmu berkeliling pulau yang akan menjadi destinasi wisata masa depan itu."
"Dan semoga kita bisa kesana dengan anak-anak kita," ucap Ruby penuh harap.
Entahlah, yang aku butuh hanya kamu yang berjalan di sampingku. Dewa mengecup pipi Ruby sebelum akhirnya dia kembali menopang dagunya di pundak istrinya.
Birunya laut, berpadu dengan birunya langit berhiaskan segerombolan awan putih yang terlihat berada di ujung laut begitu indah dipandang mata.
******"
"Boleh aku gendong?" tanya Ruby pada Gea yang baru selesai memberinya cemilan siang.
"Dia cuma mau digendong wanita cantik Nona," Nathan yang menjawab.
__ADS_1
"Baby Zayn, sini gendong Onty!"
Bayi bernama panggilan Zayn itu langsung menghamburkan tubuh gembulnya ke pelukan Ruby.
"Anak pintar!" Ruby mencium pipi dengan wangi khas bayi itu.
Aroma bedak dan minyak telon langsung menerjang indra penciuman Ruby, membuat Ruby terus menciumi pipi kanan dan kirinya berulang-ulang, tapi hal itu membuat bayi memiliki nama sama seperti salah seorang personel One Direction itu tertawa riang.
"Dewa, liat. Dia suka aku!" Ruby terlihat bangga bisa disukai oleh bayi tampan itu.
"Emang siapa yang tidak menyukaimu?" Ehh—. Dewa keceplosan.
"Kamu!" Ruby sinis, dia kembali teringat pada pertemuan pertamanya dengan Dewa yang terlihat begitu tidak menyukai dirinya saat itu. "Dulu waktu pertama ketemu kamu itu kan sangat menyebalkan. Aku panggil Om, salah. Panggil Bapak, salah. Bahkan dulu aku sempat berfikir untuk menjadi pembantu Mommy aja daripada jadi istri kamu."
"Kapan? Apa aku pernah seperti itu? Ckckck," jawab Dewa yang tak mau begitu saja mengakui kesalahannya.
"Gara-gara Nona memanggilnya Om, aku sampai jadi korban kekesalannya." Nathan pun ikut bernostalgia bersama Ruby.
"Hei Nat, liat kelakuan anak kebanggaanmu. Dia sangat mesum!" Dewa sengaja mengalihkan pembicaraan mereka.
"Mesum gimana?" Ruby yang bingung.
"Tangannya terus nempel di dadamu. Dia benar-benar mewarisi sifat ayahnya. Ckckck." Dewa menggeleng-gelengkan kepalanya.
Mendengar jawaban pria narsis itu kedua orang tua si bayi hanya memutar bola matanya, dengan sudut bibirnya yang tertarik ke atas dengan kompak.
"Dia lagi maenin kancing baju aku tau!"
"Itu alasannya saja," Dewa tak mau kalah.
"Dia bukan kamu!"
"Mesum!"
"Bukannya kamu suka!"
Ruby tak bisa menjawab, dia hanya bisa merapatkan gigi-giginya karena kalah debat dengan pria yang selalu berbuat mesum kepadanya.
Sedangkan Nathan dan Gea begitu menikmati drama perdebatan suami-istri konyol itu.
•
•
•
Langit biru sudah berganti jingga saat kapal itu kembali menuju daratan. Warna eksotik senja mengingatkan Ruby akan sebuah adegan di sebuah film yang pernah ia tonton.
"Dewa!"
"Hemmm?"
"Aku mau terbang," jawab Ruby sambil merentangkan tangannya.
Otak Dewa yang sedari tadi hanya terus memikirkan itu jadi salah paham dengan ucapan istrinya.
"Tadi kata kamu takut gajahmu salah masuk kalau kita itu di kapal," timpal Dewa, yang kesal karena Ruby menolak mentah-mentah permintaannya saat Dewa mengajaknya itu di kamar mereka tadi, dengan alasan takut salah masuk, karena siang tadi ombak menerjang kapal cukup kuat, hingga membuat kapal sedikit berguncang.
"Hei, kenapa otak kamu selalu belok kesana sih?"
"Terus terbang seperti apa? Ini kapal pesiar bukan kapal terbang!"
__ADS_1
Ruby membalikkan tubuhnya yang sedang menikmati pemandangan laut senja ke arah suaminya.
"Aku mau kayak si Rose di film Titanic. Kamu tau kan!"
Otak cerdas Dewa langsung terkoneksi dengan baik, hingga dia tersenyum. Tersenyum mendengar permintaan konyol yang menurutnya norak.
"Let's do it!" Dewa mengajak Ruby menuju kepala kapal.
"Aku takut," hati Ruby tiba-tiba saja menciut melihat laut luas dengan riak-riak besar karena terbelah kapal.
"Ya udah, kamu tidak perlu melewati pagar pembatas, kamu cukup naik di atas pagarnya saja, nanti aku tahan kamu dari belakang supaya tidak jatuh," usul Dewa.
Ruby menurut, dia membuka sepatu berhak 5 centi miliknya dan perlahan menaiki pagar.
"Segini aja. Aku takut." Tangan Ruby mencengkram erat pagar besi tersebut.
"Oke, aku naik juga ya!" Dewa pun naik setinggi batas kaki Ruby berpijak. "Rentangkan tanganmu!" Dewa mulai memegang erat pinggang istrinya.
"Pegang yang kuat!"
"Iya, percaya saja pada suamimu."
Ruby perlahan merentangkan tangannya, memandang lurus ke depan dengan hamparan laut yang luas, merasakan angin menerpa wajahnya dengan kasar. Karena sore itu angin cukup kencang.
"Kamu suka?"
"Sangat!"
"Aku akan membuatmu lebih merasakan sensasi terbang," bisik Dewa.
"Bagaimana caranya?" Ruby bingung.
Perlahan tangan penuh otot-otot yang menonjol itu merayap naik ke atas tubuh Ruby, dan berhenti di kedua gundukan yang menjadi mainannya sebelum tidur.
"DEWAAAAA!"
"Hemmm? Kamu sudah merasakan sensasinya?"
"LEPASIN TANGAN KAMU DARI SITU!" Ruby gelagapan dengan kelakuan mesum suaminya yang sedang merem*s-remas dadanya.
"Katanya kamu mau terbang seperti si Rose!" Dewa tak peduli dengan teriakan istrinya.
"Tapi si Jack gak mesum kayak gini. Dasar pria mesum!"
"Kamu tidak tau saja kalau si Jack lebih mesum dari aku." Kali ini bibirnya ikut mengabsen sudut leher Ruby.
"DEWAAAAAAA!!!"
...Jadi pengen nonton film Titanic lagi, tapi cuma di bagian yang ada iya-iya-nya aja.. 🤭🤭🤭...
...Jangan lupa ritualnya Shay!...
...like,...
...komen, and...
...Vote!...
...Vote!...
...Vote!...
__ADS_1