
Sudah dua bulan berlalu sejak acara bulan madu mereka, hari ini Dewa kembali akan mengantarkan istrinya ke dokter untuk memeriksakan kondisi rahim Ruby. Dia terlihat tak bergairah, rasanya ada perasaan cemburu bila Ruby sudah membahas tentang seorang bayi. Aneh memang, tapi begitulah yang dirasakan Dewa.
"Nat, waktu menikah dulu, apa yang kamu harapkan dari pasanganmu?" ujar Dewa sambil mengusap-usap kepala putra Nathan yang sedang berkunjung ke kantor bersama istrinya siang tadi.
"Ehehehe…" Nathan salah menanggapi maksud dari pertanyaan atasannya itu.
"Hei, bukan itu maksudku!" Dewa hampir saja melayangkan tinjunya kalau saja Zyan tak terjatuh saat ia belajar berjalan.
"Lah memang apa lagi? Bukannya Bapak juga tau rasanya sekarang? Jadi memang itu kan yang kita harapkan dari pasangan kita!" Sambil mengangkat putranya ke udara membuat anak laki-laki yang baru bisa berjalan itu tertawa riang.
"Apa kamu menginginkan dia?" Dewa menunjuk bocah yang sedang dilempar ke udara itu dengan lirikannya.
Nathan yang cerdas langsung mengetahui kegundahan hati atasannya, dia langsung duduk dengan memangku putra kebanggaan yang kini sudah memiliki dua baris gigi-gigi yang lucu.
"Anak maksud Bapak?"
Dewa melipat kedua tangannya di belakang kepala sebagai sandaran, menatap wajah bayi tampan itu tanpa arti. "Iya, bocah itu. Apa kamu menginginkannya? Atau maksudku— siapa diantara kalian yang lebih menginginkan keberadaannya?" Dewa masih mencari daya tarik bocah menggemaskan di pangkuan asisten Sablengnya.
"Jangan bilang kalau Anda selama ini tidak menginginkan kehadiran seorang bayi!" Nathan mulai serius membahas masalah Tuannya yang sepertinya cukup rumit untuk ia jelaskan.
"Memang!" jawab Dewa santai.
"Lalu selama ini Anda mengobati Nona untuk apa?" Kali ini Nathan mulai ketus.
"Karena dia menginginkan bayi, juga si Marimar!" Dewa menghentakkan nafas. "Hemm, entahlah. Aku tak mengerti pola pikir mereka. Apa yang kurang dari aku? Kurang membanggakan bagaimana diriku? Ketampanan, kecerdasan, kekayaan semua aku miliki. Selama ini aku berusaha membahagiakan mereka, apa itu masih kurang? Apa dengan seorang bayi yang wajahnya pun belum bisa aku bayangkan bisa membuat mereka bahagia? Aneh!"
Nathan begitu terkejut hingga kehilangan kata-kata, dia seperti Dejavu ke masa Dewa belum menikah, dulu Dewa begitu menentang pernikahan, karena baginya hidupnya sudah cukup bahagia dengan kesuksesan yang ia raih. Sekarang setelah menikah dia kembali tidak menginginkan anak? Ah, Nathan pusing dengan ocehan pria kharismatik di hadapannya itu.
"Anak itu bisa mempererat cinta suami-istri, karena mereka akan jadi penengah di saat kalian sedang berselisih paham,—"
"Aku selalu mengalah pada Ruby." Dewa memotong ucapan Nathan kemudian mematahkan pendapatnya.
"Oke, tapi mereka itu adalah simbol kasih kalian, aku yakin Bapak akan sangat bersyukur jika kelak kalian dikaruniai seorang bayi yang lucu," tutur Nathan, dia begitu hati-hati saat berbicara pada pria di hadapannya.
"Kalian memang primitif!" jawabnya ketus. "Kebahagiaan tidak hanya didapat dari seorang bayi, banyak kebahagiaan yang bisa kalian buat sendiri, tak melulu soal anak. Apakah ada jaminan seorang anak bisa mempertahankan biduk rumah tangga setiap pasangan?"
Kali ini Nathan yang menghela nafas, dia lelah harus menjelaskan arti seorang anak kepada si Sableng nan kaya raya itu.
"Seperti Anda dulu yang menganggap pernikahan itu adalah salah satu cara primitif yang belum tentu membuat Anda bahagia, dan setelah Anda memiliki Nona apa kebahagiaan Anda berkurang? Atau masih tetap sama seperti dulu? Ataukah bertambah banyak?"
__ADS_1
Kepala Dewa seperti dipukul benda keras mendengar ucapan yang lebih menjurus ke sebuah sindiran itu. Memiliki Ruby adalah kebahagiaan terindah yang belum pernah ia rasakan sebelumnya, kebahagiaan yang tidak bisa ia ungkapkan dengan sebuah kata, kebahagiaan yang tak bisa ia beli dengan seluruh harta yang ia miliki.
Dewa hanya terdiam, tapi apakah seorang bayi akan membuat kebahagiaannya sekarang menjadi berlipat-lipat ganda?
Bukankah kehadiran bayi hanya akan mengikis jarak antara dirinya dan Ruby?
Dewa semakin gusar.
"Saya tak perlu jawaban dari Anda, cukup Anda yang menjawab untuk hati Anda!" ucap Nathan. "Come on Son! Come to Bunda!" Nathan kembali mengangkat putranya ke udara, seolah sedang membuatnya terbang.
Dewa mendesah, melirik jam di pergelangan tangannya. Hemmm, ternyata sudah waktunya mengantar istrinya ke dokter. Dia sedikit berharap jika hasilnya memuaskan.
•
•
•
•
•
...Tiga bulan kemudian...
"Jangan marah!" Ruby duduk di kaki suaminya sambil memeluk kakinya karena saat itu Dewa sedang melakukan sit-up.
"Aku sedang malas berbicara denganmu!" Dewa begitu ketus karena memang ia sedang marah karena kelakuan jahil istrinya.
"Aku kangen banget sama kamu, sampe aku lupa kalau—"
"Sudah diam jangan banyak bicara! Aku tau kamu sengaja!"
...🍃 Flashback 🍃...
Dewa mencari keberadaan istrinya yang ternyata sedang menyusun buah dan sayur di lemari pendingin.
"Kapan datang?" tanya Ruby saat merasakan dirinya dipeluk dari belakang, kemudian menutup pintu lemari pendingin dan fokus pada bayi besarnya.
"Barusan," Dewa mengecup singkat bibir Ruby yang baru saja akan memberinya segelas air hangat.
__ADS_1
"Nanti dulu, sabar!" Ruby mendorong dada Dewa yang terus menciuminya.
"Bukannya tadi kamu bilang kalau kamu kangen berat pada suami tampanmu ini?" Dewa menyuapkan anggur ke mulutnya. Pura-pura cuek terhadap istrinya.
Kamu apa aku yang kangen? Ruby mencibir suaminya dalam hati.
Dewa melepaskan pelukan dengan kesal berseraya membawa wadah anggur itu ke ruang tamu. "Ternyata kamu membohongi aku tadi! Aku kira kamu beneran kangen, aku langsung melesat dari Bandara kesini, karena aku khawatir kamu sakit menahan rindu." Kemudian duduk di sofa ruang tengah sambil menyalakan remot TV.
"Kangen banget," jawab Ruby dan sengaja duduk di pangkuan suaminya dengan tubuh menghadap tepat di depan wajah suaminya, dia memang sengaja membuat si Narsis senang, sebelum akhirnya dia menjatuhkannya nanti.
"Kalau begitu ayo, aku akan membayar rasa rindumu setelah dua hari tidak merasakan kehangatanku. Aku tak pernah tega melihatmu tersiksa karena menginginkanku." Sudah hampir satu tahun menikah, Dewa masih enggan meminta itu duluan.
Tuh kan? Dia yang pengen, pake nyari alesan kemana-mana lagi. Liat hari ini akan aku buat kamu mati kutu, hai suami Bule!
Dewa langsung meraup bibir ranum yang selalu membuat birahinya terpancing setiap kali menyesapnya. Ruby mengalungkan tangannya di leher kekar Dewa, mengikuti permainan suaminya, membiarkan lidah suaminya bergerilya di dalam mulutnya.
Sreeekkk!
Kini resleting di punggung Ruby dibukanya, dengan tangan yang sudah terampil dia membuka pengait bra berwarna merah yang begitu menggoda, melemparnya asal seperti biasa, dengan bibir mereka yang masih menyatu.
Kelakuan langsung Dewa membuat Ruby bertelanjang dada, karena memang itu yang dia inginkan agar mudah mempermainkan kedua benda yang begitu menonjol untuk ia sentuh, ia jilat juga ia kulum.
Ruby melenguh, kelakuan Dewa selalu memancing birahinya, tangannya yang mengalung di leher tadi kini udah menjambak lembut rambut suaminya.
Ah, semua begitu nikmat, andai saja…
Usapan lembut tangannya kini merambat kebawah semakin bawah, hingga ia kini ia sedang mengelus lembut paha mulus istrinya, mengelus lembut sebelum akhirnya naik untuk menggapai titik yang selalu membuat istrinya melayang terbang. Eh, tunggu, apa ini?
Dewa merasakan plastik dibalik celana dalam istrinya, buru-buru dia melepaskan kulumannya.
"Apa ini?" Dewa menekan bagian bawah istrinya.
"Oh iya, aku lupa. Aku sedang datang bulan," Ruby tertunduk seolah malu dengan kelakuannya.
"Shit!" umpatnya kemudian berlari ke lantai dua tempat ia biasa fitness.
...Hei, hei.....
...para reader pecinta episode hareudang, ternyata episode masih terlalu soleha, untuk klean nikmati..😜😜...
__ADS_1
...Jangan lupa ritualnya Shay,,,...
...makin banyak vote, artinya makin besar klean mengapresiasi cerita Otor Soleha Berotak Suci ini......