
Dewa memandang lirih wajah terlelap yang beberapa saat lalu menjadi rekan duetnya di ranjang. Dia tak menyadari jika selama ini istrinya masih menyimpan harap dengan kehadiran sosok makhluk lemah yang hingga saat itu masih belum bisa ia rindukan keberadaannya.
Ada sedikit rasa kecewa di hatinya karena istrinya masih belum sepenuhnya bisa bahagia karena limpahan cinta yang ia berikan untuknya.
Apakah semua senyum yang diperlihatkan Ruby selama ini palsu?
Selama ini tak pernah terdengar oleh Dewa istri ataupun orang tuanya terutama Mommynya membahas perihal soal anak lagi.
Apakah mereka diam-diam menyembunyikan semua keinginan itu dari Dewa?
Dewa tak tahu jawabnya, saat ini dia lebih memilih untuk menikmati salah satu momen membahagiakan dalam kehidupan rumah tangga mereka.
"Kamu udah bangun?" Suara berat nan serak itu membuyarkan lamunan Dewa.
"Hemmm." Dewa yang sedari tadi sedang memandang lirih langit senja menghampiri wanita berbalut selimut yang kini menyandarkan kepalanya di sandaran ranjang.
"Bagaimana kado dariku tadi?" Goda Dewa yang tadi siang menjadikan istri seorang ratu di atas ranjang.
"You can always make me queen anywhere."
(Kamu selalu bisa menjadikanku seorang ratu dimanapun)
Ruby mengecup mesra pria yang hanya dibalut jubah tidur hotel berbahan satin itu, disaksikan cahaya temaram senja yang lembut, pertempuran penuh desahan pun kembali terjadi di kota romantis yang dikenal dengan sebutan Venesia.
•
•
•
•
"Kamu lagi apa?" tanya Ruby saat melihat suaminya hanya duduk di balkon hotel tanpa kata.
"Ah, itu—" Dewa gugup, "Aku cuma sedang iseng." Buru-buru Dewa mematikan layar ponselnya.
"Mencurigakan!" Ruby memicingkan matanya dengan dagu yang ditarik ke atas.
"Mencurigakan apa?" Dewa mengalihkan pembicaraan dengan mengajak istrinya jalan-jalan dengan berwisata kuliner di restoran-restoran setempat.
...****************...
Italia, salah satu negara di Eropa yang memiliki banyak kota-kota sejarah salah satunya adalah Venesia. Kota yang disebut kota air ini memiliki keindahan yang bisa dikatakan klasik.
Sungai atau kanal yang mengitari kota ini membuatnya menjadi lebih menarik dibandingkan negara Eropa lainnya, apalagi ada Gondola yang menjadi transportasi pendukung, dan kini menjelma sebagai ikon wisata Venesia.
Dengan Gondola, Venesia dapat dilihat dari sudut pandang yang berbeda, melihat rumah-rumah dengan pintu di depan anak sungai, jembatan kecil yang menghubungkan satu rumah dengan rumah yang lainnya, sesuatu yang eksotis untuk dikunjungi, terlebih amat pas bagi pasangan yang ingin menikmati Bulan Madu. Seperti pasangan Dewa dan Ruby yang setelah lelah berkeliling mereka memilih menikmati makan siang mereka di sebuah restoran di sudut kota.
"Mau makan apa?" tanya Dewa yang sedang memilah-milih menu makanan.
__ADS_1
"Kalau aku minta tumis genjer emang ada?" Karena pertanyaan Dewa seperti sedang mengejek dirinya. Sebab saat melihat buku menu, tiba-tiba saja kepala Ruby pusing melihat nama-nama aneh yang baru pertama kali dia lihat.
"Aku jauh-jauh membawamu ke Itali, dan kamu minta tumis genjer? Sungguh romantisnya istriku yang kampungan ini." Sarkas Dewa.
"Bagaimana aku mau milih, nama makanannya saja sulit aku eja. Gak ada gambarnya juga di menu, membayangkan nama yang tertulis saja aku gak sanggup." Gerutu Ruby. Karena selama seminggu ini mereka makan makanan yang tersaji di hotel tanpa harus pusing memilih-milih nama menu makanan aneh yang ada di menu yang sedang ia baca itu.
Dewa sedikit menggelengkan kepalanya dengan tersenyum miring, mengejek lawan bicaranya.
"Dewa, di menu ini ada nama risotto." Ruby sumringah melihat nama yang cukup familiar olehnya.
"Risotto memang kuliner khas dari Venesia," jawab Dewa yang masih memilih makanan yang akan ia makan.
"Apa ini kayak soto yang sering kita makan di Indonesia? Apa iya? Kalau iya, aku mau itu aja. Jangan lupa sambel sama empingnya!" Ruby takjub, karena ekspektasinya tentang risotto adalah makanan penuh rempah dan berkuah santan seperti yang biasa ia makan di negaranya.
Dewa menggeleng, masih tak percaya dengan yang diucapkan istrinya. "Aku masih bingung kepada Tuhan dan para Malaikatnya, mengapa aku yang sejak bayi diberikan makanan pilihan dan barang-barang berkualitas premium harus dijodohkan dengan perempuan seperti dirimu? Dan sialnya aku begitu tergila-gila padamu." Dewa seperti sedang memprotes kisah cintanya pada Sang Pencipta.
"Heisst, apa susahnya kamu ngasih tau risotto itu apa?"
Dewa menarik nafas dalam-dalam sebelum menjelaskan nama makanan tersebut. "Risotto adalah beras yang dimasak dengan kaldu sehingga lengket menyerupai krim," jawab Dewa sambil menatap gemas wajah yang sedang cemberut di hadapannya.
"Kok aku jijik ya ngebayanginnya? Mending makan nasi liwet sama tumis genjer." Imajinasi Ruby tak bisa memvisualisasikan ucapan suaminya.
"Oh God! Aku yakin para malaikat penjagaku ikut menertawakan kebodohan istriku tercinta ini." Dewa kesal.
"Ya udah, aku mau makan pizza aja!" Ruby ikut kesal mendengar ucapan suaminya yang terus menerus mengejeknya.
"Ini Venesia My Ruby, lihat olehmu, apa ada pizza di daftar menu ini?"
"Hampir semua bangunan disini terbuat dari kayu, dan pizza Itali itu dibakar di sebuah tungku kayu bukan dari di oven. Jadi bisa terbayang olehmu jika bangunan kayu terdapat tungku pembakaran yang menjadi kayu sebagai bahan bakarnya?" jelas Dewa dengan penuh kesabaran.
"Kebakaran," jawab Ruby dengan polosnya.
"Pintarnya istriku." Dewa benar-benar gemas, hingga tak kuasa untuk tidak mencubit pipi perempuan yang dia miliki.
Dan akhirnya Dewa memesan risotto tanpa meminta persetujuan istrinya, karena ia tahu Ruby pun tak tahu bagaimana wujud rissoto yang aslinya.
Sekali lagi Dewa dibuat malu dengan celetukan istrinya saat makanan penutup datang.
"Dewa! Ini tiramisu kesukaan aku." Ruby antusias menyantap sepotong tiramisu yang ada di hadapannya.
"Aku tau."
"Kok ada disini juga ya?"
Dewa langsung menggigit gigi-giginya mendengar ucapan Ruby. Untung para pengunjung lain tak mengerti bahasa yang mereka ucapkan. Jika ini di Indonesia, mungkin Dewa sudah bersembunyi di kolong meja karena malu.
"Memang tiramisu itu makanan dari Itali Sayangku oh My Ruby." Dengan sedikit menggeram saat mengucapkannya.
"Aku kira makanan ini makanan dari Jepang, kan namanya kayak nama-nama Jepang gitu." Sambil melahap potongan kue keju khas Itali yang dibubuhi bubuk cokelat.
__ADS_1
Mengapa otaknya begitu dangkal hingga dengan mudahnya mengambil kesimpulan bodoh itu?
Apa benar dia istriku?
Wanita yang begitu aku gilai?
Sebuah perpisahan yang begitu memalukan untuk kota Venesia bagi seorang Dewa, karena kebodohan pola pikir istrinya.
Hari-hari yang begitu indah untuk mengawali hari-hari berat yang akan dia lewati nanti.
•
•
•
•
Dengan memantapkan diri Dewa menatap lembut wajah istrinya di kabin pesawat first class yang mereka tumpangi, membuat Ruby menjadi risih dengan tatapan suaminya.
"Ayo kita lakukan program bayi tabung seperti yang kamu inginkan," ucap Dewa, hampir berbisik saking lembut suaranya saat mengucapkan kalimat ajakan itu.
Ruby benar-benar terkejut mendengar ucapan suaminya. "Maksud kamu?" Ruby memastikan pendengarannya, dia tak mau menyimpulkan begitu saja.
"Bukannya selama ini kamu sedang mempelajari tahapan-tahapan program inseminasi buatan itu?" Sorot mata Dewa begitu menghakimi Ruby.
"Gimana kamu—"
"Aku melihatnya dari sini." Dewa merogoh sakunya, sebuah agenda kecil berwarna merah jambu yang sangat Ruby kenal kini dalam genggamannya.
"Maafin aku!" Ruby menunduk dengan wajah penuh penyesalan.
"Aku yang harusnya minta maaf. Aku yang egois pada kalian. Kamu dan mertuamu itu." Dewa membawa tubuh ramping penuh kehangatan itu ke dalam dekapannya.
"Maaf, karena aku gak jujur sama kamu." Lelehan air mata Ruby membasahi kemeja berwarna biru laut yang Dewa kenakan.
"Aku mengerti, kamu hanya melindungi perasaanku. Terimakasih." Entah sejak kapan kata maaf dan terimakasih yang dahulu tak pernah terucap dari mulutnya kini menjadi hal yang mudah untuk ia ucapkan.
"I love you!" Ruby mengangkat wajahnya untuk mengecup bibir yang sering mengejeknya tapi tak jarang sangat begitu manis kata-kata yang keluar dari bibir yang kini menjadi miliknya.
"I love you, more than you know."
(Aku mencintaimu lebih dari yang kamu tau)
...Cieeee,,, yang kangen sama Otor Soleha berotak suci yang sebening embun pagi ini, ampe bolak-balik ngintip Mas Dewa.. 🤭🤭🤭...
...Apakah ini adalah episode menuju sebuah akhir yang bahagia bagi Om Dewa sama Eneng Ruby?...
...Ataukah ini adalah episode menuju sebuah akhir yang bahagia untuk Otor Soleha ini? karena akhirnya Aa Dewa memilih Otor Soleha ini untuk menjadi pendamping sisa hidupnya????...
__ADS_1
...Aku tunggu ritualnya.....
...Like, komen n VOTE!!!...