
Nathan curiga ada hal yang tak baik sedang menimpa rumah tangga Tuannya, sebab kondisi perusahaan saat itu sedang sangat baik-baiknya, bahkan laba perusahaan bulan itu naik 2% dari bulan lalu.
Tak ada yang Dewa kerjakan hari itu, dia memilih untuk mengistirahatkan tubuh dan pikiran di ruangan pribadinya. Berusaha memejamkan mata karena semalaman dia tidak bisa tidur, tapi otaknya masih saja mengingat kejadian kemarin yang terus membuatnya kesal.
Dewa merasa tidak dianggap berarti oleh istrinya, karena dia hanya sibuk mencari kebahagiaannya tanpa memperdulikan perasaannya.
"Ada Nona!" ucap Nathan yang masuk begitu saja ke ruangan pribadi Tuannya. Dilihatnya Dewa melipat satu tangannya ke belakang kepala sebagai bantalnya dan sebelah lagi menutupi matanya.
Dewa pura-pura tertidur, tak memperdulikan ucapan Asisten Pribadinya yang sama sablengnya dengan dirinya.
"Saya tau Anda tidak sedang tidur Pak, saya lebih tau kondisi Anda saat tidur dibanding Anda sendiri," lanjutnya.
"Keluar! Bilang padanya aku sedang rapat!" titah Dewa tanpa membuka matanya.
"Baiklah," ucap Nathan malas.
Tumben dia tidak membantah ucapanku?
"Nona, kata Pak Dewa dia sedang rapat, dengan bantal-bantalnya!" Ucapan Nathan membuat Dewa langsung membuka matanya, berniat akan melempar Nathan dengan benda apapun di dekatnya, tapi langsung urung dia lakukan. Ternyata Ruby ada di belakang Nathan, betapa malunya Dewa. Tapi egonya yang menjulang membuatnya berusaha sekeras mungkin terlihat biasa saja.
"Ada apa?" Dewa bersandar pada kepala tempat tidur, melepaskan simpul dasi yang sudah ia kendurkan sebelumnya.
"Aku mau pulang, boleh?" Ruby menghampirinya.
"Ke kampung?"
"He'em!" Kini Ruby sudah berada di hadapan Dewa.
Dewa memperhatikan wajah istrinya, berusaha membaca emosi yang terpancar dari raut wajah bermata bulat itu.
"Apa kamu marah?" tanya Dewa.
"Sebenernya iya, tapi aku pulang karena kata Bibi Melda udah lahiran, aku mau nengok bayinya," jawab Ruby.
Dewa hanya terdiam, bayi lagi.
"Sebaiknya memang kita berpisah sementara waktu, saling berfikir apa yang terbaik untuk rumah tangga kita. Mungkin selama ini pola pikir aku salah, dan mungkin juga kamu yang salah," lanjut Ruby.
Dewa masih membisu, karena memang dia sendiri tak tahu jawabnya, mana yang sebenarnya benar, pola pikirnya ataukah pola pikir primitif kebanyakan orang.
"Boleh?" tanya Ruby sekali lagi.
Dan sekali lagi Dewa hanya membisu, melepaskan Ruby pergi jauh darinya begitu adalah hal yang begitu sulit, tapi disaat seperti ini perpisahan sepertinya memang cara terbaik untuk keduanya lakukan, agar bisa saling mengintrospeksi kesalahan dan keegoisan dari pribadi masing-masing.
"Biar supir yang antar kamu kesana." Akhirnya Dewa mengeluarkan suaranya.
"Iya," jawab Ruby, kecanggungan masih menyelimuti mereka.
"Ruby!"
"Dewa!"
__ADS_1
Ucap mereka bersamaan.
"Kamu dulu," ujar Dewa.
"Aku cuma mau bilang, maaf udah bikin kamu emosi kemarin. Tapi sampai detik ini aku masih belum bisa nerima semua ucapan kamu." Ruby menunduk.
Dewa menghela nafas sebelum membalas ucapan istrinya. "Maaf juga, karena sudah menyakitimu. Tapi aku masih berpegang teguh pada pendapatku."
Ternyata keegoisan keduanya masih mendominasi.
"Ya, memang mungkin sebaiknya kita pisah dulu, untuk saling introspeksi diri." Ruby masih enggan menatap manik mata suaminya.
"Nikmati liburanmu di sana, kalau kamu sudah bosan di sana, nanti aku jemput." Dewa terus menatap wajah yang enggan menatapnya.
Ini tak akan lama, karena ini semua untuk kebaikan dan kebahagiaan kita. Gumam Ruby.
Keheningan menyelimuti keduanya, tak seperti biasanya, tak ada obrolan yang tak berarti yang biasa mereka ceritakan, tak ada canda tawa riang yang biasa menemani kebersamaan dua insan tersebut.
Notifikasi masuk, ternyata dari Nathan.
"Mobil sudah siap." Isi pesan tersebut.
"Mobil yang akan mengantarkanmu sudah siap di bawah." Keheningan pecah oleh ucapan Dewa.
Ruby mendongak, memaksakan senyum, berusaha tetap terlihat tegar walau hatinya begitu rapuh, serapuh sayap kupu-kupu. Dalam lubuk hatinya dia masih menyisakan harap agar suaminya mau berbesar hati untuk mengalah atas pendiriannya, tapi sepertinya itu sia-sia, karena Dewa hanya terdiam.
"Aku pulang ya!" Ruby berdiri, setelah beberapa saat menunggu.
"Hati-hati disana. Aku akan merindukanmu," ucap Dewa membuat air mata perempuan yang dipeluknya luruh.
Ini kali pertama Dewa mengucapkan rindu, sebuah kata yang begitu ia ingin dengar dari suaminya, tapi kenapa disaat yang begitu tak tepat ini? Membuat hatinya semakin rapuh.
"Aku antar sampai bawah, oke?"
Hanya anggukan kecil yang Dewa rasakan, karena ia tahu Ruby sedang menahan tangisnya agar tak pecah.
"Menangislah sekarang, kalau kamu mau menangis, mumpung masih ada dada penuh kehangatan ini yang bisa menenangkanmu!"
Benar saja suara tangis Ruby langsung pecah, lega rasanya bisa mengeluarkan segala kesedihannya dipelukan pria yang sebenarnya adalah orang yang membuatnya menangis.
"Kamu jahat!" Ruby memukul-mukul punggung lebar Dewa.
"Aku tahu."
"Kamu egois!"
"Memang itulah aku."
"Aku benci pola pikirmu!"
"Begitupun aku, aku juga benci cara berpikirmu yang terlalu primitif."
__ADS_1
"Tapi aku cinta!"
"Memang sudah seharusnya," ucap Dewa sambil mengusap-usap punggung istrinya.
Dewa mengantar kepergian Ruby sampai ke pelataran kantor, beberapa orang karyawannya ikut memperhatikan tingkah keduanya dari kejauhan. Ruby terlihat terus menagis di pelukan atasan mereka, memasang wajah kesal kepada sang Pemilik Perusahaan, memukul dada orang yang membuatnya kesal hingga Dewa beberapa kali mundur satu langkah akibat menerima pukulannya.
"Aku pulang!" Setelah lelah, ia memilih untuk segera pergi dari suaminya.
"Pelukan terakhir." Dewa kembali membawa tubuh itu ke dalam pelukannya, mengecup mesra puncak kepala istrinya tanpa memperdulikan orang-orang yang sedang menonton mereka, hingga akhirnya sebuah ciuman perpisahan yang singkat dia berikan untuk mengantar kepergian istrinya.
Tubuh Dewa langsung terasa lemah melihat mobil yang ditumpangi istrinya berajak pergi, hingga akhirnya lenyap saat menyatu bersama kendaraan lain di jalan, Ruby pergi dengan membawa separuh nyawanya.
•
•
•
•
•
Tak ada kabar sedikitpun yang Ruby kirimkan untuk Dewa sejak kepergiannya, begitupun Dewa, tak ada pesan singkat yang ia kirim untuk Ruby, tak ada panggilan telepon yang dia lakukan kepada wanita yang sebenarnya begitu ia rindukan.
"Bagaimana kabar Nona di sana Pak?" tanya Nathan saat melihat atasannya terus mencuri pandang pada layar ponselnya.
"Entahlah. Sepertinya dia baik-baik saja, tak ada kabar juga yang dia kirimkan setelah kepergiannya," ucap Dewa, berusaha sekuat tenaga menahan lonjakan emosi yang tiba-tiba menghampirinya saat mengingat nama istrinya.
Nathan menghembuskan nafas, dia terlihat kesal mendengar jawaban atasannya.
"Menurut saya Bapak terlalu egois." Nathan sudah dibatas kesabarannya melihat kelakuan konyol atasannya.
Dewa langsung memutar kursinya menghadap Nathan yang duduk merapikan berkas di sofa. "Maksudmu?" Dia langsung kesal.
"Iya Bapak egois, sangat egois bahkan terlalu egois untuk ukuran seorang suami." Nathan berbicara begitu ketus.
Dewa membelalak, mengepalkan tangannya hingga menjadi putih di bagian buku-bukunya. Dia emosi.
"Apa? Bapak marah? Berarti Bapak juga sadar jika Bapak itu adalah suami yang egois!" Dia sudah tak lagi bersikap sungkan kepada Tuannya. "Menunggu istrimu meminta maaf dan menuruti permintaan konyolmu apa itu bukan egois namanya? Kalau aku jadi Ruby (dia tak lagi menyebutkan Nona), aku akan pergi mencari laki-laki lain yang lebih waras!" ucap Nathan seraya menutup pintu ruangan kerja Tuannya dengan sekuat tenaga.
Sebuah notifikasi masuk ke ponselnya, beberapa detik setelah Nathan menutup pintu ruang kerjanya.
"Aku mau pulang!" Ruby.
...Pasti kesel deh digantung......
...Klean tau kan yang ngegantung itu bikin penasaran, dan selalu bikin ketagihan. Ya kaaaaa????...
...Hai readers sekalian alam!!...
...mana Votenya?????...
__ADS_1