
Ada yang menusuk ke dalam jantungnya saat Dewa melihat cincin kawin Ruby yang sepertinya sengaja dia tinggal di nakas samping ranjang tidur mereka. Melihat itu Dewa merasa itu adalah sebuah arti salam perpisahan dari Ruby.
Dewa dilanda rasa kesepian lebih dari saat Ruby belum mengisi hari-harinya. Entah mengapa Dewa merindukan suara Ruby, teriakannya, omelannya, larangan-larangannya dan rengekan Ruby ketika meminta itu yang dulunya sangat Dewa benci menjadi sangat ia rindukan.
Tak ada lagi yang menyambut kedatangannya dengan segala ocehan-ocehannya agar Dewa menyimpan sepatu ke dalam rak, menyimpan kaus kaki ke dalam keranjang baju kotor, bahkan tak ada air hangat dengan lilin aroma terapi yang menyambut kedatangannya untuk melepas penatnya.
"Bahkan saat dia tak ada pun aku masih menuruti perintah-perintahnya?" Gerutu Dewa saat dia meninum air hangat selepas pulang kerja yang entah sejak kapan menjadi kebiasaannya.
Dewa kembali menggerutu saat ia akan memasak makan malam. Tiba-tiba saja dia pergi ke dalam kamar untuk menanyakan makanan yang ingin Ruby makan.
"Dasar perempuan sial*n! Dia benar-benar telah mengubah kebiasaan hidupku." Dewa kembali menggerutu saat melihat kamarnya yang tak berpenghuni.
Dewa marah, mengapa dirinya jadi bergantung pada perempuan yang tadinya ia anggap sangat mengesalkan itu.
Malam pun menjelang Dewa masuk ke dalam kamarnya, kamar yang sudah sebulan ini ia tempati bersama istrinya, karena entah berapa tahun sudah dia tidak menggunakan kamar tidurnya karena lebih memilih tidur di ruang tengah.
Dewa menyusuri setiap jengkal kamar tidurnya yang sekarang sudah kembali seperti kamar tidur pada umumnya, begitu bersih, wangi dan nyaman. Dewa menyingkap gorden kaca kamar tidurnya, duduk di depan kaca jendela sambil menatap langit malam yang dihiasi beberapa bintang yang berkerlap-kerlip, menghirup wangi aroma lavender dari pengharum ruangan, wangi bunga yang sangat Ruby sukai, hingga akhirnya otak cerdasnya kembali memikirkan kejadian panas semalam yang membuatnya kembali kesal.
Pagi menjelang dengan begitu menyakitkan mata, karena tanpa Dewa sadari dia tertidur di kursi saat menatap langit malam.
•
•
•
KANTOR
Rapat bulanan para pemegang saham dimulai, dengan Nathan sang asisten sebagai pemimpin rapat yang berlangsung pagi hari itu. Para peserta rapat yang hadir pun terlihat khusyuk mendengarkan setiap penjelasan pemasukan hingga membahas laba perusahaan pada periode itu.
Tapi tidak dengan sang pemilik perusahaan, pikirannya sedang menerawang jauh sambil sesekali menatap layar ponselnya, masih berharap Ruby akan membalas pesan-pesan yang ia kirim. Dewa tidak memperdulikan dirinya menjadi pusat perhatian para peserta rapat yang hadir, tak biasanya Dewa tak fokus pada rapatnya, karena biasanya Dewa akan kesal bila ada peserta rapat yang tidak fokus pada apa yang sedang dia bahas.
"Dia sedang online. Tapi kenapa dia tidak membalas pesan-pesanku?" Gerutuan Dewa membuat Nathan yang sedang menjelaskan diagram tentang laba perusahaan menghentikan ucapannya. Dia melirik atasannya itu dengan tatapan penuh tanya, tapi sepertinya Dewa tidak memperhatikan dirinya.
__ADS_1
Sejenak sunyi menyelimuti ruang rapat.
"Ada apa? Apa rapatnya telah usai?" Tanya Dewa dengan polosnya.
"Pak sepertinya aku harus mengganti merek air mineral yang Anda minum dengan air mineral yang bisa mengembalikan konsentrasi Anda." Sindir Nathan.
Sindiran Nathan memancing senyum para peserta rapat yang hadir.
Dewa langsung menyadari kesalahannya.
"Silahkan lanjutkan rapatnya. Sepertinua saya harus permisi lebih dulu." Dewa pamit keluar.
Kelakuan yang tak biasa ia lakukan pada saat rapat, apalagi ini adalah rapat dengan para petinggi perusahaannya.
Nathan dapat menyimpulkan ada yang tidak baik-baik saja dengan atasannya itu, hingga dia mempercepat rapat umum para pemegang saham kali ini, tanpa diisi sesi tanya jawab.
"Apa Anda sakit?" Tanya Nathan saat melihat Dewa berbaring di ranjang yang ada di dalam ruang rahasianya.
"Sepertinya begitu. Nyawaku dalam ancaman si Marimar." Jawab Dewa asal. Gengsinya terlalu tinggi untuk memberitahukan jika dia sedang memikirkan Ruby.
"Menantunya pergi meninggalkan apartemen. Aku dipaksa harus menjemputnya." Jawab Dewa seolah itulah yang sedang terjadi.
Nathan hanya terdiam. Karena ia tahu bukan itu yang sebenarnya terjadi. Tuannya memang anak yang patuh pada kedua orang tuanya, tapi dapat ia lihat jika ada kecemasan lain dari raut wajahnya.
"Lalu mengapa Anda tidak menyusul Nona?" Pancing Nathan.
"Dia yang keluar rumah sendiri, jadi biar dia yang datang sendiri lagi." Jawab Dewa kesal.
"Ya, pasti Nona yang akan datang kembali."
Dewa tersenyum mendengar jawaban Nathan, dia seperti sedang dibela oleh asistennya itu.
"Dengan sebuah surat gugatan cerai tentunya." Lanjutnya sambil berjalan keluar ruangan tersebut.
__ADS_1
Mendengar ucapan terakhir Nathan membuat kecemasan Dewa meningkat, membayangkan Ruby membawa surat gugatan cerai di tangannya entah mengapa membuat Dewa takut. Dia seperti lupa jika nanti mereka pun pasti akan berpisah.
Dewa langsung berlari menyusul Nathan yang menghilang di balik pintu.
"Nat!" Teriaknya saat melihat Nathan akan masuk ke dalam lift.
"Ya?"
"Antar aku ke rumah si Ladang gersang!" Dewa menyerahkan kunci mobilnya kepada Nathan.
Tapi apa yang Dewa lihat, Nathan menggelengkan kepalanya. "Aku tidak mau. Rumah Nona terlalu jauh, aku tidak ada waktu untuk pergi mengantar Anda. Anda tau kan pekerjaan saya sangat menumpuk." Keluhnya sambil mengembalikan kunci mobil Tuannya.
"Bisa tidak sih kamu sekali saja menurut kepadaku layaknya asisten-asisten para CEO yang lainnya."
"Jika itu yang Anda inginkan, silahkan cari asisten yang seperti keinginan Anda, saya dengan senang hati menyerahkan surat pengunduran diri saya." Seraya keluar dari dalam lift.
"Dasar asisten pribadi gadungan!" Teriak Dewa sebelum pintu lift kembali tertutup.
Nathan pun bisa mendengar jelas cacian Dewa kepadanya tapi dia seolah tak mendengarnya.
"Berjuanglah menjemput kebahagiaanmu sendiri Pak." Gumamnya.
Dewa bergegas pulang untuk mengganti pakaian juga membawa beberapa pakaian ganti, karena ia tau Ruby tak akan dengan mudahnya mau dia ajak pulang.
Tiga hari ini adalah waktu yang cukup bagi Dewa untuk merasakan nikmatnya merindukan seorang istri.
Dengan setelan pakaian serba putih juga tak lupa kacamata hitam yang bertengger di hidung mancungnya mempertegas ketampanan pria berdarah campuran tersebut. Dewa pun pergi membawa mobilnya melesat keluar jauh dari jalanan Ibu kota.
Masih nunggu kelanjutan kisah Si Bibit premium sama Si Ladang gersang?
Mana nih suaranya?
Ditunggu ritualnya dulu dong Shay!!
__ADS_1
Like, komen, n Vote!!!