
Memiliki keturunan adalah harapan dari setiap pasangan yang telah menikah. Anak menjadi alasan mereka dapat memperoleh kebahagian yang lebih dalam hubungan pernikahan mereka. Tapi sepertinya hal itu tidak berlaku bagi Dewa, dia terlihat tidak begitu menginginkan kehadiran sosok malaikat mungil diantara mereka.
Pola pikir Dewa terlihat kurang wajar di mata masyarakat bahkan mereka (pasangan yang tidak ingin memiliki anak) dihakimi dan dianggap egois karena tidak mau memberikan kebahagiaan tambahan pada anggota keluarga lain.
Benar-benar hal sangat bertolak belakang dengan istrinya, Ruby, karena niat awalnya menikah dengan Dewa adalah ingin memberikan cucu kepada wanita tua yang begitu ia sayangi, juga kadang kala pertanyaan “Kapan nih punya momongan?” atau pernyataan kerabatnya yang kadang membanding-bandingkan dirinya dengan pasangan yang menikah setelahnya tapi telah hamil, membuat Ruby minder, sehingga dia begitu menginginkan sosok makhluk mungil hasil dari buah cinta mereka selama ini.
"Dewa!" Seru Sandra saat melihat putranya berjingkat begitu saja setelah mendengar ucapan Sandra yang memberikan ide untuk melakukan program bayi tabung seperti yang telah Yuki lakukan.
Ruby sedikit berlari mengejar suaminya, begitupun dengan kedua orangtuanya yang ingin mendengar penjelasan mengapa dia terlihat tak begitu suka membahas soal kehadiran anak.
"Kamu kenapa?" tanya Ruby saat mereka tiba di dalam kamar.
"Kamu yang kenapa?" Bentak Dewa membuat Ruby sedikit terhenyak.
"Maksudnya?"
"Kenapa bahasan kita selalu melulu tentang seorang bayi? Apa mereka begitu penting?"
"Maksud kamu apa sih? Aku masih belum ngerti," ucap Ruby yang memang belum mengerti mengapa suaminya tiba-tiba marah kepadanya.
"Apa kehadiranku masih kurang cukup buat kamu bahagia, sampai-sampai kalian masih terus membahas tentang seorang bayi?" jelas Dewa, "Aku tak mengerti dengan jalan pikiran orang-orang di negara ini, memang ada hukum di negeri ini yang menyebutkan jika setiap pasangan yang menikah itu wajib memiliki keturunan?" Dewa berbicara penuh emosi.
Ruby mundur beberapa langkah dari suaminya, dia langsung mengerti maksud perkataan Dewa. "Maksudnya, kamu gak mau kita punya anak?" tanya Ruby hati-hati.
"Kalau aku jawab iya kenapa? Apa kamu akan meninggalkan aku dan pergi mencari laki-laki lain yang bisa memberikan kamu keturunan?" Dewa masih tidak menurunkan intonasi suaranya.
Jawaban Dewa membuat air mata Ruby meleleh, bukan karena perkataannya yang menyuruhnya mencari pria lain, tapi karena jawaban Dewa yang tidak menginginkan bayi.
"Kamu tau kan aku nikah sama kamu karena aku ingin memberi Mommy seorang cucu." Ruby salah memberi jawaban.
"Oh, begitu? Jadi sampai detik ini kamu bertahan denganku bukan karena kamu memiliki perasaan yang seorang istri miliki kepada suaminya?" Dewa terlihat merendahkan Ruby dengan tatapannya.
"Bukan begitu!" Tiba-tiba Ruby kehilangan kata-kata.
"Lalu apa?"
"Dewa, aku mencintaimu. Sungguh!" Lelehan air mata Ruby terus mengalir.
"Heh!" Lagi-lagi Dewa seperti meremehkan ucapan istrinya. "Cinta. Jangan sebut lagi kata itu di hadapanku kalau kamu masih memprioritaskan anak untuk kamu bangga-banggakan kepada mertuamu!"
__ADS_1
"Tapi bukankah sewajarnya jika sepasang suami-istri menginginkan bayi di kehidupan rumahtangga mereka?"
"Ternyata otak kamu juga sama primitifnya dengan mereka," sindir Dewa. "Setelah sekian banyak usaha aku untuk membahagiakan kamu, tapi tetap saja prioritas utamamu adalah ingin menginginkan keturunan. Sekarang cari olehmu pria mana yang bisa membahagiakanmu seperti yang telah aku perbuat kepadamu selama ini!" Dewa yang terpancing emosi pun ikut salah berucap.
"Jadi kamu sungguh-sungguh tidak menginginkan kehadiran seorang bayi?" Ruby memastikan ucapan suaminya sekali lagi.
"Sekarang jelaskan kepadaku, mengapa kita harus memiliki seorang bayi? Apa ada jaminan makhluk lemah itu bisa menambah kebahagiaan rumah tangga kita?" Dewa seperti menantang istrinya.
Ruby tak bisa menjawab, tapi hatinya begitu hancur mendengar ucapan suaminya. Lalu sikapnya kemarin yang begitu setia menemani setiap sesi pengobatan Ruby itu apa? Apa Dewa hanya pura-pura?
"Aku kira kamu juga mengharapkan seorang bayi, sampai kamu mau repot-repot menemani aku pengobatan."
"Karena aku hanya ingin kamu bahagia, apa kamu tidak tahu jika aku sama sakitnya melihat kamu harus merasakan semua sesi pemeriksaanmu? Kamu tau jika proses bayi tabung itu lebih rumit dan lebih menyakiti dirimu?"
Ruby terdiam, dia tidak tahu jika suaminya menuruti keinginannya hanya ingin membuatnya bahagia.
"Aku tanya kepadamu satu pertanyaan lagi," ucap Dewa masih dengan raut wajah penuh emosi. "Apa kamu menginginkan bayi untuk kebahagiaan kita, apa hanya untuk terbebas dari gunjingan-gunjingan negatif orang-orang tentangmu?"
Pertanyaan Dewa seperti menikam jantung Ruby.
"Aku—" Ruby bingung harus menjawab apa.
Sandra dan Akbar yang sejak tadi menguping di depan kamar mereka, tak bisa berbuat banyak. Lebih tepatnya Akbar yang melarang istrinya untuk ikut campur urusan rumah tangga putra mereka.
Hari mendekati senja saat Dewa menyuruh seorang pelayan untuk menyiapkan mobilnya.
"Bukannya kamu mau menginap semalam lagi disini?" tanya Sandra yang masih bersikap tak tahu apa-apa perihal pertengkaran mereka.
Dewa tak menjawab, dia seolah tak mendengar ucapan Mommynya.
"Ada urusan kantor yang harus Dewa kerjakan." Ruby yang menjawab dengan alasan yang terdengar umum. "Kami pulang dulu Mom." Ruby memberi pelukan perpisahan kepada mertuanya.
"Jaga dirimu Sayang!" Sandra memeluk erat dan mengusap lembut punggung menantu satu-satunya, berusaha menenangkan hatinya.
"Mommy sama Papi juga jaga diri ya!" ucap Ruby sebelum masuk ke dalam mobil.
Tak ada kata yang keluar dari kedua mulut sepasang suami-istri yang biasanya terlihat ceria itu di sepanjang perjalanan, mereka memilih membisu dengan pikiran mereka masing-masing.
Hingga sesampainya di apartemen pun sikap mereka masih sama, cuek, saling tak bertegur sapa.
__ADS_1
"Apa kamu gak mau makan malam?" tanya Ruby pada suaminya yang terlihat hanya menonton televisi.
"Pesan saja dari luar!" jawab Dewa singkat. "Untukmu saja! Aku akan keluar sebentar lagi." Lanjutnya, tapi tatapan matanya terus tertuju pada layar datar yang sedang ia tonton.
Ruby tak menjawab, tak mempertanyakan pula kemana Dewa akan pergi, dia memilih masuk ke dalam kamarnya, kembali menangis. Menangisi sikap Dewa yang begitu cuek terhadapnya kala itu.
Dewa masuk ke kamar mereka beberapa saat kemudian, dilihatnya Ruby sudah menyelimuti dirinya dengan gerak tubuh yang sepertinya sedang menangis. Tapi Dewa seolah tak melihatnya, dia memilih masuk ke kamar ganti untuk mengganti pakaiannya. Kemudian berlalu tanpa sebuah kata pamit.
Tangis Ruby semakin pecah, saat mendengar pintu apartemen mereka tertutup dari luar. Tak biasanya dia merasa begitu kesepian, ini bukan kali pertama baginya ditinggal seorang diri di apartemen, tapi entah mengapa untuk kali ini Ruby merasa amat sangat sedih dan kesepian.
Tak ada yang bisa ia telepon untuk mencurahkan isi hatinya, tak ada orang yang bisa mendengarkan keluh kesahnya saat itu. Untuk pertama kali ini, Ruby benar-benar tersiksa.
•
•
•
•
Ruby membuka mata saat suaminya telah siap dengan setelan kerjanya. Entah jam berapa dia datang, seingatnya saat fajar hampir menyingsing, Ruby masih menangisi suaminya.
"Kamu mau berangkat?" Ruby mulai mengajak suami berbicara.
"Hemmm." Sikap Dewa masih sama seperti kemarin.
Ruby dibuat salah tingkah dengan sikap Dewa, tak biasanya Dewa begitu dingin kepadanya. Air mata Ruby kembali membasahi pipinya saat Dewa berangkat tanpa pamit kepadanya.
...Nah lo, ternyata Mas Bule Sipit belum menginginkan akan kehadiran seorang malaikat kecil di kehidupannya....
...Bagaimana Ruby harus menyikapinya?...
...Jangan lupa ritualnya dulu gengs!!!...
...vote!...
...vote!!...
...vote!!!...
__ADS_1