Love Me Boy!

Love Me Boy!
Guling


__ADS_3

Sekitar 30 menit kemudian Ruby keluar dari kamar mandi. Dilihatnya Dewa sudah berada di atas ranjang pengantin mereka lengkap dengan piyama tidurnya. Tak bisa dipungkiri Ruby sedikit kecewa. 


Berbalut jubah handuk hotel Ruby berjalan melewati suaminya yang sedang menonton siaran televisi luar. Dia berjalan menuju koper miliknya untuk mengambil baju tidur yang ia siapkan kemarin. Rasa kecewanya terhadap Dewa membuatnya mengurungkan niatnya untuk mengenakan gaun tak beradab yang mertuanya berikan tadi. 


Tanpa Ruby sadari Dewa sedang mencuri pandang terhadapnya, bayangan lekuk tubuh indah Ruby masih teringat jelas di otak cerdasnya. Dewa menelan ludahnya saat melihat Ruby yang sedang memilih bajunya sambil membungkuk sehingga jubah mandi Ruby yang ia kenakan terangkat hingga hampir menampakkan pangkal pahanya yang putih mulus. 


Lagi senjata Dewa kembali meronta di balik celana yang ia kenakan. 


"Kenapa kamu pake baju disini?" Dewa terkejut melihat istrinya mengenakan piyama tidur di ruangan yang sama dengannya. 


"Apa salahnya? Bukannya walaupun aku telanjang pun kamu tidak pernah menganggapku seorang perempuan? Bukannya levelmu terlalu tinggi? Jadi walaupun aku telanjang di depanmu pun kamu gak akan pernah menyentuhku kan? Jadi kenapa aku harus takut dan malu?" Ruby benar-benar sedang menguji iman seorang Sadewa.


"Bagus kalo kamu ngerti. Aku cuma bingung aja kok ada ya  perempuan seperti kamu yang gak tau malu pake baju di sembarang tempat." Balas Dewa menutupi kegugupannya. 


"Ini bukan sembarang tempat. Aku ganti baju di kamar." Ruby membalas sindiran Dewa. 


"Tapi kamu pake baju di depan aku. Kenapa gak ganti baju di kamar mandi? Kamu sengaja menggoda pria sejuta pesona ini kan?" Dewa kembali menyanjung dirinya sendiri. 


"Kamu suamiku. Mau aku tidur dengan tidak menggunakan sehelai apapun di tubuhku itu sah-sah saja. Tak akan ada yang bisa melarang." Jawab Ruby sambil mengenakan celana tidurnya. 


"Kamu lupa jika kita menikah hanya sebatas perjanjian? Kamu lupa jika kamu dan aku hanyalah pihak pertama dan pihak kedua?"


"Aku ingat. Tapi sekarang semua orang sudah tau kalo aku ini istrimu. Jadi aku berhak dengan apa yang ada di tubuhmu." Ucap Ruby dengan kerlingan yang membuat Dewa menaikan selimutnya. 


Rasa lelahnya seusai pesta tadi membuat Ruby menghentikan perdebatannya dengan Dewa. Dia memilih naik ke atas ranjang pengantin mereka karena memang dia sudah sangat merindukan kasur. 

__ADS_1


"Ngapain lagi? Bukannya tadi bilang ngantuk? Jangan pernah mengharapkan malam pertama seperti layaknya sepasang pengantin baru Nyonya Sadewa!" Dewa seperti tak ada lelahnya menyindir Ruby. 


"Aku lagi cari guling. Kenapa disini cuma ada bantal? Setau aku ini kamar termahal yang mommy pesan buat kita. Tapi kok gak ada guling ya? Apa mereka lupa nyimpen guling di kamar ini?" Bahkan kini Ruby tengah mencari ke lantai karena siapa tau guling yang ia cari terjatuh ke lantai. 


Tiba-tiba saja Dewa terbahak-bahak setelah mendengar ucapan istrinya. Dia langsung dapat menyimpulkan jika ini adalah pengalaman pertama istrinya tidur di kamar hotel. 


"Dasar rakyat jelata. Hei kenapa kamu begitu kampungan sekali Nyonya Sadewa? Kamu benar-benar sangat tidak cocok untuk aku miliki." Mulut berbibir tipis itu kembali mengeluarkan sindirannya. 


Ruby mengerutkan keningnya, bingung mengapa suaminya berbicara seperti itu. 


"Ini hotel dengan standar internasional. Jadi mana ada guling di kamar ini. Aku yakin ini adalah pengalaman pertamamu tidur di hotel." Dewa masih tertawa. "Untung saja kamu bertanya pada suamimu yang sangat tampan, gagah dan dermawan ini, jadi tak ada yang mengetahui kebodohanmu."


"Cih. Tapi kenapa aku menyesal ya kamu yang tau duluan kalo aku kampungan? Andai mommy yang tau duluan, aku pasti  gak akan dikatain kampungan." Ruby sewot sambil memasukkan tubuhnya ke dalam selimut.


Ruby yang terbiasa tidur memeluk guling, membuatnya sulit tidur. Dia terus saja mencari posisi yang nyaman untuknya, walaupun dia sudah memeluk bantal sebagai pengganti guling tetap saja Ruby sulit tidur. 


Ruby langsung menghadap suaminya. Dia tidak menyangka jika Dewa pun masih terjaga.


"Kamu belum tidur?" Tanya Ruby. "Apa aku mengganggu tidurmu?" Ruby merasa bersalah. 


Dewa hanya mengangkat bahunya dengan pandangan masih tertuju ke layar televisi yang sedang menayangkan film action. 


"Aku belum mengantuk saja. Tidurlah jangan hiraukan suamimu ini. Aku tau pesonaku memang sulit untuk kamu hindari hingga kamu sulit tidur, ya kan?"


Ruby hanya menaikan sudut bibirnya mendengar ucapan narsis suaminya. 

__ADS_1


"Dewa!"


"Hmmm?"


"Dewa!"


"Hmmmm? Ada apa?"


"Aku ngantuk, tapi tak ada guling yang bisa aku peluk. Bisa pinjam tubuhmu sampai aku tidur?" Ruby mengiba sambil setengah merengek. 


Mendengar ucapan Ruby membuat Dewa menaikan sebelah alisnya sambil menatap sinis wajah istrinya, mencari keseriusan dari mata berbulu mata lentik itu.


"Apa Si Marimar yang menyuruhmu melakukan ini?" Dewa mulai curiga. 


"Tidak!" Ruby menggeleng cepat sambil menguap.


Dewa memperhatikan wajah istrinya, matanya sudah terlihat sangat merah menahan rasa kantuknya, bahkan wajah lelahnya tak bisa ia sembunyikan. 


Dia terlihat kesulitan memeluk bantal hotel yang besar dan lebar itu, menandakan jika Ruby memang tidak bisa tidur tanpa guling. 


"Hanya malam ini!" Ucap Dewa. "Kamu boleh meminjam tubuh penuh kehangatan ini hanya untuk malam ini." 


"Apa?" Ruby bingung dengan ucapan suami narsisnya itu.


"Aku mengijinkan kamu memelukku malam ini. Ingat hanya malam ini. Anggaplah ini adalah hadiah pengganti malam pengantinmu."

__ADS_1


Ruby langsung menggeser tubuhnya untuk mendekati tubuh suaminya. Dengan malu-malu melingkarkan tangannya di perut Dewa yang seksi dan menindih sebelah kaki Dewa dengan kakinya.


Mereka tidak tahu jika ini adalah awal keterkaitan mereka satu sama lain. 


__ADS_2