
Antara senang dan sedih, itulah yang kini Sandra rasakan hari itu. Ruby terlihat begitu tak berdaya, wajah cantiknya sedikit pucat. Bahkan untuk beranjak ke sofa pun Ruby harus berpegangan kepada suaminya.
"Makan siang dulu Sayang!" Ucap Sandra saat para pelayannya menyiapkan makan siang untuk Ruby dan putranya.
Sementara dua pelayan lain sibuk mengganti seprai dan selimut di ranjang yang telah menjadi saksi bisu pertempuran berdarah semalam.
Seorang pelayan yang lebih tua melirik ke arah Ruby saat melihat noda darah di seprei yang ia akan mereka ganti, dengan pandangan penuh tanya dia terus memperhatikan gerak-gerik Ruby yang terlihat selalu menggigit bibir bawahnya tiap kali ia bergerak. Seperti sedang menahan sakit.
Sedangkan Sandra terus saja menatap sinis sang pelaku yang telah membuat menantu kesayangannya itu. Walaupun sang pelaku tetap saja fokus pada gadgetnya.
"Kamu mau ini?" Dewa menawarkan menu olahan daging asam manis kepada istrinya setelah menyimpan gadgetnya di meja.
"Apa saja. Aku bisa memakan apapun." Jawab Ruby yang sudah sangat kelaparan.
"Aku lupa, jika istriku pemakan segala, bahkan makanan kambing pun kamu makan. Apalagi ini." Ejek Dewa sambil menyuapi makan istrinya.
"Aku bisa makan sendiri." Ruby tak enak hati kepada Sandra yang masih memperhatikan mereka yang dudukdi seberang meja. "Udah aku bilang itu namanya lalapan bukan makanan kambing." Ruby memprotes ucapan suaminya.
"Makan yang banyak Honey, karena mulai sekarang…" Dewa membisikkan kelanjutan ucapan yang membuat rona merah di wajahnya.
"Apa yang Si Bule sipit bisikan?" Cibir Sandra yang masih kesal dengan kelakuan putranya.
Memang ini yang telah lama dia inginkan. Putranya bisa memberikan nafkah batin kepada Ruby, tapi melihat Ruby seperti itu Sandra ikut merasa bersalah karenanya.
Tepat saat mereka menyelesaikan makan siangnya seorang pembantu masuk dan memberitahu bahwa ada Nathan yang sedang menunggu Dewa di lantai bawah.
"Aku ke bawah dulu." Sebuah kecupan mendarat di kening Ruby sebelum Dewa turun. "Mom, bisa temani Ruby sebentar kan?"
"Hemmm." Sandra masih malas melihat wajah putranya.
Selesai dua orang pembantu yang merapikan meja sisa makan siang, Sandra langsung mulai menginterogasi menantunya.
"Apa bagian itu kamu sakit?" Tanya Sandra sambil melirik ke bagian bawah perut Ruby.
Ruby mengangguk malu. "Bukan cuma bagian itu, tapi seluruh badan aku sakit mom." Keluh Ruby.
"Dasar Bule itu, kemarin-kemarin belagak sok suci, sekarang setelah mencoba sekali dia malah membuat kamu seperti ini. Mommy yakin kalian melakukannya bukan hanya sekali kan?" Ocehan ibu mertua tak beradab itu membuat Ruby malu.
"Apa semua perempuan seperti ini waktu mereka berhubungan untuk pertama kalinya? Sampai sekarang pun aku masih merasa tidak nyaman dengan bagian sensitifku." Rengek Ruby kepada mertuanya.
"Ya memang seperti itu, tapi entahlah mommy sudah lupa." Sandra tidak bisa memastikan jawabannya. "Jam berapa dia datang? Sepertinya dia datang malam."
"Sekitar jam 12 malam." Sambil menyeruput jus mangga yang tersedia di meja.
"Kalian langsung melakukannya?" Tanya Sandra penasaran.
__ADS_1
Ruby mengangguk kecil. Apa semua mertua seperti ini? Apa aku harus menceritakan semua yang terjadi semalam? Benar-benar memalukan.
"Kapan kalian tidur?" Tanya Sandra kemudian.
Ruby bernafas lega, karena dia tak harus menjabarkan kejadian panas semalam tadi.
"Jam 4." Jawab si lugu Ruby.
"Pantas saja kamu bisa sesakit itu. Dia memang turunan penjajah sejati. Dia benar-benar menjajahmu. Aku kira dia yang gengsinya setinggi Eiffel akan membuatnya sedikit arogan saat melakukan. Sekarang aku percaya semua ucapannya selama ini, si Sadeli memang sangat tangguh." Sandra berbicara pada dirinya sendiri.
"Sadewa Mom." Ruby membenarkan ucapan mertuanya.
"Itu panggilan sayangku kepada penjajah kecilnya Sayang."
Walaupun Ruby masih belum mengerti dengan apa yang Sandra ucapkan tapi Ruby lebih memilih diam.
•
Sementara itu Nathan melihat wajah Dewa begitu berseri-seri, dapat dipastikan olehnya ada kejadian yang membuat hatinya berbunga-bunga. Karena biasanya Dewa akan terlihat sangat kesal bila dia mengunjunginya untuk urusan pekerjaan di hari liburnya.
"Apa ada yang membuat Anda senang Pak?"
Dewa tak menjawab, hanya melirik tak suka dengan pertanyaan yang Nathan ajukan.
"Besok dan lusa sepertinya aku tak bisa masuk kerja. Istriku sakit." Ucap Dewa sambil menyerahkan map hitam tebal yang telah ia tanda tangani.
"Hanya sedikit lelah." Jawab Dewa dengan segaris senyum tipis saat mengucapkannya.
Jawaban singkat Dewa itu membuat Nathan menyimpulkan jika atasan sablengnya itu pelaku yang membuat Ruby lelah.
"Selamat untuk Anda pak!" Nathan menjulurkan tangannya.
"Untuk apa?" Dewa bingung, tiba-tiba Asisten durjananya memberi selamat.
"Karena Anda telah berhasil membuat Nona lelah." Lanjut Nathan. Sambil berjalan menjauh.
"Hei apa maksud ucapanmu itu?" Teriak Dewa karena Nathan terus berjalan menjauh.
"Karena saya pikir tadinya Anda akan memfermentasikan ****** Anda." Jawab Nathan kali ini sambil berlari.
"DASAR ASISTEN GADUNGAN!!!" Dewa melempar sandalnya ke arah bawahannya yang sudah berlari ke luar rumah orang tuanya.
Dia pikir benih premiumku ini susu apa yang bisa difermentasi.
•
__ADS_1
•
•
Sandra sedang merayu menantunya untuk membuka bajunya agar seorang terapis yang ia panggil untuk memijat seluruh tubuhnya bisa langsung melaksanakan tugasnya.
Sedang Dewa sedang pergi ke apartemennya untuk mengambil baju ganti untuk Ruby.
"Aku malu mom." Ruby menyilangkan tangannya di dada.
"Malu kenapa?" Tanya Sandra. "Bukannya kita sering pergi ke salon untuk lulur dan massage!"
"Tapi saat ini aku tidak bisa membuka bajuku." Ruby keukeuh.
"Kenapa? Apa suamimu membuat luka di tubuhmu?" Tanya Sandra dengan suara pelan agar terapis itu tak mendengar perbincangan mereka di ruang ganti. Dia begitu khawatir putranya mengalami kelainan seksual. "Apa Dewa bermain dengan cara kasar, dengan menyakitimu saat kalian berhubungan?"
Melihat wajah khawatir mertuanya akhirnya terpaksa Ruby membuka beberapa kancing kemeja Dewa yang saat itu ia pakai.
Banyak kissmark bertebaran di dada menantunya yang Sandra lihat, dan sudah bisa Sandra pastikan ada banyak lagi karya seni bibir putranya yang bertebaran di tubuh menantunya.
"Aku malu."
Sandra menghela nafas, dia tak percaya jika putranya yang tadinya begitu tak suka pada perempuan pilihannya itu berbuat seperti itu.
"Kalo begitu biar dia memijat bagian punggung dan kakimu saja. Supaya otot-otot tubuhmu rileks. Karena bisa dipastikan malam-malammu akan meletihkan setelah ini."
Akhirnya Ruby yang memang sangat membutuhkan pijatan mematuhi perintah mertuanya.
Ruby yang hanya di lilit kain merebahkan tubuhnya dengan posisi telungkup, sedangkan sedangkan Sandra duduk menemaninya di atas ranjang.
Belum apa-apa terapis itu langsung tersenyum saat melihat beberapa tanda cinta di punggung dan tengkuk bagian belakang Ruby.
Sandra langsung menempelkan jari telunjuknya di bibir agar orang tersebut bisa menahan senyumnya.
Dan saat dia mulai memberikan pijatan di kakinya dia kembali tersenyum saat melihat tanda itu lagi di bagian paha bagian dalam Ruby, sedangkan Sandra hanya bisa menggeleng-gelengkan kepalanya. Malu dengan kasih ciptaan putranya.
"Sadar Bule Sableng!" Gerutu Sandra.
"Kenapa mom?" Tanya Ruby yang bingung tiba-tiba Sandra mencaci suaminya.
"Sudah, pijat saja semua bagian tubuhmu. Kita sudah melihat semua cetakan suamimu di paha dan punggungmu. Kalo kamu malu tutup matamu saja, sampe pijatannya berakhir." Titah Sandra. "Ini juga untuk kebaikan kamu. Kami berjanji akan merahasiakan ini."
Seperti perintah Sandra Ruby terus memejamkan matanya selama dipijat, dia begitu malu untuk menatap wajah kedua orang yang sedang melihat karya seni suaminya.
Maafkan diriku yang baru nongol.
__ADS_1
Maaf juga Otor soleha mau ngasih tau kalo episode ehem-ehem harus direvisi, karena kata mimin itu terlalu vulgar, bikin mimin yang bacanya jadi pengen ikutan ehem-ehem juga. 🤭🤭🤭